Sesaat aku terpesona melihat wajahnya yang luarbiasa tampan. Dengan tenang dia menyantap makan malamnya. Dia terlihat begitu sangat menikmatinya. Baju yang dia kenakan sangat serasi dengan wajah dan gayanya.
"Kuperhatikan kamu belum menyentuh makananmu."
Kutersentak kaget disapa seperti itu olehnya. Tergagap aku menyentuh sendok dan garpuku. Kulihat kekawatiran di wajahnya.
"Kamu sakit?"
Aku menggeleng. "Tidak, aku hanya..." kugigit bibirku. Aku tidak mau mengakui hari ini dia tampak sempurna di mataku.
"Hanya apa Rel?" tanyanya lembut membujuk.
Aku menatapnya. Mencoba kembali ke logika, mencoba kembali menegur diri sendiri bahwa pria di depanku ini tidak berhak kucintai dan tidak berhak hidup.
"Aku hanya merasa malam ini kamu sedikit berbeda. Tidak biasanya kamu menelfonku akan pulang cepat dan ingin makan masakanku."
Adit tersenyum dan entah kenapa kumelihat kesenduan di senyum itu.
"Aku lelah berlari, Rel..."
Aku mengernyitkan dahi "Maksud kamu ?"
Adit tidak menjawab, dengan tenang dia menyingkirkan piringnya yg sudah kosong ke samping dan mengambil jus jeruk kesukaannya. Diaduk-aduknya jus tersebut. Lalu menatapku, tiba-tiba dia menyentuh jemariku dan menggenggam tanganku lembut.
"Aurelia...apakah kamu mencintaiku?"
Aku berusaha menutupi kekagetanku mendengar pertanyaan tiba-tiba seperti itu.
"Itu sudah jelas..."
Adit tersenyum menggeleng "Aku tidak pernah bertanya ini padamu...jadi tolong jawablah...."
"Aku tidak akan mau menikah dengan orang yg aku tidak mencintainya."
Adit menarik tanganku dan mencium jemariku lembut.
"Terima kasih..." lalu dia melepas tanganku dan kembali pada jusnya. Dia memandang gelas itu lama.
"Kamu kenapa?tidak enak badan?atau tidak suka jus itu?" Tanyaku tidak sabar.
Dia menggeleng "Tidak, aku suka kok." Lalu dia menatapku lagi " Aurelia...kamu bahagia?"
"Pertanyaan apalagi ini Dit?"
"Aku hanya ingin tahu Rel...apa kamu bahagia?"
Aku mendesah pelan "Iya...aku bahagia. Cukup?"
Dia beranjak dari duduknya dan menghampiriku, Tiba-tiba mengecup keningku lembut dan lama, lalu berbisik di telingaku " Aku sangat mencintai dan menyayangimu Aurelia...dan untuk semuanya tolong maafkan aku Aurelia..."
"Apa maksudmu mengatakan ini semua Adit? kamu seperti bukan dirimu sendiri!" kataku kesal. Tapi dia hanya tersenyum dan kembali ke kursinya, dan dengan tenang meminum jusnya hingga habis.
Dalam hitungan detik aku melihatnya jatuh dari kursi. Tanpa perlu melihat keadaannya, kuberanjak dari dudukku dan menyambar tasku di meja ruang tamu dan melangkah keluar rumah. Kutersenyum melihat mobil Rado sudah di depan. Segera aku masuk ke mobilnya.
"Beres?" tanyanya penasaran.
Aku tersenyum "Tentu. dia sudah tidur nyenyak selamanya."
Rado mencium pipiku "Bagus."
Aku mengangguk. Ya...ini semua memang pantas untuk Adit. Tiga tahun lalu dia dengan cara yg sama telah membunuh ayah demi ambisinya untuk memiliki jabatan ayah. Dia telah membuatku yatim piatu dan aku tidak bisa melupakan tawa jahatnya ketika dia akhirnya diangkat menggantikan ayah. Dia tidak pernah tahu wanita yg dia cintai dan akhirnya jadi istrinya adalah anak pemilik perusahaan yg telah dia bunuh karena aku telah merubah semua identitasku termasuk wajahku begitu tahu Ayah meninggal karena dibunuh. Aku yg harus sendirian merayakan kelulusanku di salah satu universitas terkenal di Inggris tanpa ayahku, dan langsung terbang ke Indonesia untuk menengok makam ayah setelah aku selesai merubah semua wajah dan identitasku.
Aku benar-benar membencinya.
***
"Apa ini Pak Har?" tanyaku penasaran ketika menerima amplop dan buku semacam buku harian dari pengacara Adit.
"Selain warisan yg diberikan untuk anda, Pak Adit berpesan pada saya jika beliau sudah meninggal, beliau ingin andan mengantar amplop tersebut ke ibunya.
"Ibunya?!" tanyaku kaget. "Ibunya kan sudah meninggal."
"Tidak bu, Ibu Pak Adit masih hidup. Disitu ada alamat tempat ibu Pak Adit tinggal."
Aku membaca alamat yg tertera di pojok kanan amplop tersebut. Tidak jauh dari kantor ini. Sialll...sudah meninggal masih merepotkan juga. Tapi kesal juga dibohongi kalau ibunya sudah tiada.
"Baiklah...akan aku antar."
Pak Hari tersenyum "Satu lagi Bu. Pak Adit bekata kemungkinan ibunya tidak bisa membaca. Jadi tolong anda yg membacakannya nanti."
Gila! aneh-aneh banget sih! Batinku kesal. "Oke-oke, kalau begitu aku mau ngantar surat ini dulu. terima kasih pak Har."
Tanpa menanti jawabannya aku sudah melesat keluar ruangan menuju mobilku.
***
Berulang kali aku melototi dan membaca alamat yg tertera di amplop itu dengan bangunan besar terkesan sunyi di depanku.
"Tidak mungkin." ucapku sendirian.
"Ada yg bisa dibantu mbak?" Aku kaget tiba-tiba sudah ada satpam di depanku.
"Oh ya...aku mau tanya Pak, apa alamat ini benar disini tempatnya?" Pak Satpam membaca amplop yg aku bawa.
"Iya, benar sekali."
Aku masih tidak percaya. tapi mungkin saja benar, dan mungkin karena alasan inilah Adit berbohong padaku kalau ibunya sudah meninggal. Dia pasti malu sekali mengetahui kenyataan ibunya di rumah sakit jiwa.
"Mbak mau bertemu siapa?"
Sapaan pak satpam mengagetkanku. "mmm...dengan Ibu Melati."
"Oh...Ibu Melati, Ibunya Pak Adit ya...?" Aku mengangguk heran. Lumayan aneh seorang satpam kenal betul siapa Adit.
"Tumben bukan Pak Adit yg datang?"
"Baru ke luar negeri pak." ucapku berbohong.
"oh...kalau begitu, mari saya antar ke Ibu Melati."
"Iya, terima kasih."
Aku mengikuti Pak Satpam dengan lumayan takut melihat begitu banyak orang tidak waras berjalan-jalan bebas di taman utama bangunan rumah sakit itu. Lalu aku dibawa Pak Satpam ke seorang ibu yg memakai baju merah jambu yang duduk dengan tenang di bawah pohon mangga. Disampingnya ada seorang suster yg menemani.
"Nah ini Ibu Melati" Kenal pak Satpam padaku. Suster itu langsung berdiri "Mbak ini mau bertemu Ibu Melati." Suster itu mengangguk dan menyalamiku.
"Silahkan mbak, saya awasi dari sana." Suster tersebut menunjuk bangku kosong yg lumayan jauh dari tempatnya sekarang.
"Iya...terima kasih."
Suster itu tersenyum "Saya senang ada orang lain selain Pak Adit yg mau mengunjungi Ibu Melati."
Aku tersenyum mengangguk. Setelah Pak Satpam dan suster itu pergi, aku menatap Ibunya Adit, wajah tanpa ekspresi, hanya menatap kosong kedepan. Kuberanikan diri duduk di sebelahnya...masih menatapnya. Wajah yg cantik dan mempunyai kulit dan tubuh yg cantik pula.
"Hai Ibu..." aku merasa tenggorakanku tercekat, Entah kenapa ada perasaan sedih menyelinap di hatiku. Untuk pertama kalinya aku merasa tidak benar telah membunuh Adit.
"Ibu...aku diminta Adit untuk menyerahkan surat ini untuk ibu..."
Masih sama tanpa ekspresi, bahkan seakan tidak peduli aku sedang bicara padanya.
"Dan ternyata...aku memang harus membacakannya untuk ibu."
Lalu kubuka amplop itu. aku ingin segera membacanya dan keluar dari tempat mengerikan ini.
Ada tiga lembar, dan aku merasa seperti orang bodoh, membacakan surat untuk orang tidak waras. Ku menghelai nafas sebelum mulai membaca
Hai Ibu...apa kabar? Ibu...jika surat ini sudah dibaca berarti aku sudah tidak bisa menengok ibu lagi, menemani ibu duduk dalam sunyi. Ibu...maafkan aku ibu...aku sudah lelah berlari menghindar. Ibu maafkan aku jika aku mengambil keputusan keputusan tanpa meminta pertimbangan ibu.
Maafkan aku ibu jika aku aku telah membunuh ayah...itu karena aku tidak tahan melihat ibu menjadi seperti ini karena ditinggal ayah dan lebih memilih menikahi wanita keparat itu dan mengambil anak ibu yg baru lahir, adikku...
Ibu...Maafkan aku jika aku merasa berdosa membuat anak perempuan ibu menjadi tidak berayah dan menaruh dendam pada pembunuhnya...sampai rela merubah wajah dan statusnya.
Ibu...aku tidak tahan melihat kebenciannya yg mendalam padaku sampai rela mau aku nikahi hanya karena ingin balas dendam...Ibu...saat itu aku tidak tahu harus bagaimana melindunginya dan menebus dosaku selain menikahinya.
tapi ibu...aku tidak pernah menyentuhnya. aku hanya ingin melindunginya dan mendapatkan pria yg tepat untuknya.
Ibu...aku terus bermain dengannya ibu...aku selalu menang satu langkah darinya sehingga aku masih hidup dan selalu menjenguk ibu...
Ibu...aku senang sekali dia dekat dengan Rado, sahabatku sendiri. Aku yakin Rado bisa membahagiakan adikku.
Ibu...satu-satunya yg kuinginkan adalah melihat ibu sembuh, dan Ibu bisa sembuh hanya dengan bertemu buah hati ibu....
Ibu...maafkan aku jika aku tidak bisa mendampingi ibu lagi...Tapi lihatlah ibu...ada penggantiku, dan dia baru membacakan suratku ini untuk ibu...
Dia orang yg paling ibu rindukan dan ibu sayangi melebihi aku...Dia orang yg paling ingin ibu peluk dan menciumnya...
Panggilah namanya dengan lembut Ibu...
Amelia...
Entah sejak kapan aku menjatuhkan kertas-kertas ditanganku...Airmataku deras mengalir. Tangisku memecah...
Apa yang telah kulakukan...Apa?!!! Kulihat kedua tanganku....aku...aku...dengan tangan ini aku telah memebunuh kakak kandungku sendiri...
Aku...
Aku tersentak, ada tangan lembut mengusap air mataku. Tangan yg telah berkeriput itu menyentuh pipiku. Kulihat wajah cantik disampingku tersenyum penuh kasih...
"Amelia...akhirnya kamu datang anakku..."
Read More
Tuesday, June 23, 2009
Surat Untuk Ibu
Monday, April 20, 2009
Pengakuan Terlambat
Hujan lagi...
Kutatap derai hujan yang mengguyur dari balik jendela restoran tempat kududuk. Entah kenapa aku suka mencari tempat duduk dimana aku bisa melihat leluasa keluar dari balik jendela, apalagi jika sendirian. Rasanya akan tidak enak jika kita sendirian di restoran dan tempat duduk kita menghadap ke dalam melihat orang-orang yg sedang makan dengan ngobrol. Parah lagi jika menghadap ke dinding. Wuih... gak oke banget.
Kuhirup kopi panasku, Kutopangkan tanganku ke dagu. Tatapanku keluar melihat jalanan yang cukup sibuk, pantas saja ini jam pulang sekolah juga sebagian kantor. Meski hujan cukup lebat, tampaknya tidak ada yg peduli kecuali keinginan cepat sampai tujuan. Tepat di depan restoran, di seberang jalan kulihat sebuah halte bus yg penuh sesak orang yang menunggu bus atau sekedar menunggu hujan.
Lalu diantara orang-orang yg menggerutu karena hujan, ada seorang pemuda yg cukup menarik perhatianku. Pemuda itu seakan tidak terjadi apa-apa, dia berdiri dengan badan disandarkan ke dinding halte , tangan kanannya memegang buku dan tangan kirinya dimasukkan ke kantong celananya, kedua kakinya disilangkan santai, sementara telinganya dipasangi headset, sesekali kepalanya bergoyang mengikuti alunan musik dari mp4 playernya.
Mirip sekali....
Aku benar-benar terpana dibuatnya. Pemuda itu telah memaksaku untuk membuka memori lama tentang seseorang yang sampai saat ini pun kadang masih membuatku tersenyum sendiri jika mengingatnya. Seseorang yg tak pernah tau hingga saat ini aku masih tertarik padanya.
Kala itu putih abu-abu masih melekat di badanku, yang kata orang masa yg paling menyenangkan, masa dimana seseorang beranjak dewasa dalam mengenal segala hal termasuk jatuh cinta. Saat itu pagi yang mengesalkan, gimana tidak, bangun kesiangan dan harus berlari ke halte bus agar tidak ketinggalan bus terakhir dalam batas waktu terlambat. Ini pertama kalinya aku naik bus. Biasanya aku bersama montor kesayanganku.
Aku tidak tahu sudah berapa kali aku duduk dan berdiri, melongok apa sudah nongol busnya, padahal dengan duduk pun juga bisa melihat dari kejauhan. Dan sudah tidak kehitung aku melirik sampai melototi arlojiku, aku merasa jarum jamnya berputar cepat sekali.
Untuk kesekian kali aku duduk dengan jengkel, makin jengkel ketika kumerasa hanya aku sendiri yg merasa panik diantara beberapa orang yg juga menunggu bus, termasuk orang yg duduk di sebelahku persis. Seorang cowok, berseragam sama sepertiku, dan kulihat dia tidak ada wajah panik sekali, matanya terpejam, kepalanya sesekali bergoyang mengikuti alunan musik dari mp3 playernya, sesekali bibirnya ikut bernyanyi.
Kuamati dia lebih seksama untuk tahu dia sekolah dimana kok jam segini masih cool aja, Rambutnya dipotong rapi, karena pakai jaket aku jadi tidak tahu label sekolahnya, lalu tampan...ya...dia tampan.
Tin... tinnnnn... SMA 1!!!
Aku terlonjak kaget, bus yg kutunggu-tunggu sudah di hadapanku, segera aku melesat naik ke dalam bus yg lumayan penuh itu. Setelah sedikit mengatur nafas, aku kaget cowok itu ikut bus yg sama. Dengan cueknya dia berdiri tak jauh dariku dengan mengeluarkan bukunya yg dari judulnya jenis-jenis buku psikologi. Aku masih menatapnya ketika dia menoleh ke arahku. Aku seperti kepiting rebus dalam seketika, tak tahu harus berekspresi seperti apa, aku pilih melengos ke arah depan. Gila....ketahuan...
Dan sejak saat itu...aku pensiunkan montorku. Aku pilih berkejar-kejaran dengan bus dan mencoba mencari sosoknya. Entah kenapa dia bisa memikat hatiku tanpa berkenalan...dan selama 2 tahun aku tahu dia satu tingkat di atasku dan sekolah di SMA favorit yg tak jauh dari sekolahku. Matanya indah, dan menjadi sangat tampan ketika berkacamata.Dia memiliki senyum yg indah ketika membaca buku yg nurut dia lucu, padahal buku yg dia baca kebanyakan buku psikologi. Dia suka band musik Scorpion karena hanya lagu dari band itu yg dia nyanyikan dengan pelan dan cuek meski jadi jelek ketika dia nyanyikan.
Menginjak tahun ke-3, dimana aku mulai disibukkan dengan berbagai les dan try out untuk menghadapi ujian nasional, aku masih bertemu dengan dia yg sudah tidak memakai seragam lagi. Aku jadi punya 1 pemikiran, kemungkinan dia kuliah di salah satu universitas favorit di kota kami, karena universitas itu masih sejalur dengan sekolahku.
Akhirnya tahun ke-4, aku tidak bertemu dia lagi. Aku kuliah di luar kota...dan yang kusesalkan, selama 4 tahun itu banyak sekali kesempatan untuk berkenalan dengannya, tapi rasanya aku seperti mati gaya ketika dia berdiri di sampingku, atau duduk di sampingku ketika di dalam bus.
Dimana ya... dia sekarang...sudah punya istrikah? atau malah sudah punya anak 2...entahlah...
"Menunggu lama?"
Aku terlonjak kaget. Bos ku tersenyum dan menarik kursi di depanku.
"Sudah melamun sampai mana?"
Kutersenyum keki "Sampai Kutub Utara dan membayangkan apa kamu cocok jika dilempar kesana..."
Dia tertawa "Jahat sekali...aku Bos kamu loh..."
"Oh ya? bukannya yg namanya Bos itu kasih contoh yg baik buat anak buahnya, semisal datang on time. Begitu kan Pak Farel?"
Farel tertawa "anggap aja sebagai hukuman."
Kumengernyit "hukuman?"
Farel mengangguk "Lupakan...hei tumben kamu belum pesan makan?"
Aku tak menjawab, menatapnya lama. Aku tahu Farel tadi tidak bercanda, tapi sudahlah...meski diancam mau ditembak pun dia tidak akan ngomong kalo nurut dia belum tepat waktunya.
"Masih kenyang" tidak mungkin kukatakan aku terlampau asyik mengingat seseorang yg sekarang entah dimana.
"Aku yg pesan." Lalu dia memanggil pelayan restoran dan memesan beberapa makanan tanpa minta pendapatku suka atau tidak. Tapi dia sudah memilih menu yg tepat untukku, dan aku tidak heran, karena akupun tahu persis menu yg dia suka. Meski hubungan kami sebagai atasan dan bawahan, tapi itu sama sekali bukan penghalang bagi kami untuk jadi teman baik. Aku sendiri heran, pasalnya aku sendiri baru beberapa bulan bekerja padanya, tapi kami seperti teman lama yg tidak pernah bertemu, yg langsung begitu cepat akrabnya, ditambah status kami yg masih single. Sudah pasti hubungan kami ini menjadi gosip hangat di kantor. Kami kadang membicarakan gosip ini dan menertawakannya, karena kami tahu diantara kami tidak akan pernah ada cerita saling jatuh cinta.
Kulihat ada yg tidak biasa pada dirinya hari ini, dandannya sedikit awut-awutan dan ada sebuah kotak berukuran sedang di pangkuannya.
"Ada masalah ya...kok sampai gak sempet menyisir rambut dan bajumu agak acak-acakan."
Dia tersenyum "Hmm... tidak juga sih."
"Lalu...kotak apaan tuh?jimat kamu ya?" tanyaku penasaran
"Oh ini..." dia melatakan kotak itu di meja, menatapnya lama lalu disodorin ke aku "untuk kamu"
Aku menunjuk diriku sendiri "Aku?" Farel mengangguk.
"Buka saja."
Kuamati kotak dari kayu itu lama, lalu dengan rasa penasaran kubuka kotak itu. Isinya ternyata 3 bendel buku, kenapa kubilang bendel, karena terdiri dari kumpulan kertas yang berbeda ukuran dan warnanya yg dijadikan satu.
"Apa ini Rel...?"
Farel tersenyum "Buka saja..."
"Sebanyak ini?"
"Apa susahnya tinggal membaca sambil menunggu makan siang datang."
Kumenatapnya tidak mengerti " Tapi..." tidak kulanjutkan bantahanku ketika kulihat wajahnya mengeras dan menatapku tajam, kepalanya menggeleng tegas.
"Jangan membantah."
Kumelotot...kalau itu berhubungan dengan pekerjaan aku akan menurut dan diam. "Pemaksaan." tapi kubuka juga buku jilid pertama yg berada di paling atas.
Lalu kubaca buku itu dengan penasaran, semakin ke belakang aku semakin tidak percaya dengan apa yg tertulis disitu. Ini...tidak mungkin...
Kutatap Farel yg tersenyum " Farel...ini..."ucapku terbata ketika sudah menyelesaikan satu jilid.
"Masih ada 2 jilid yang belum kamu baca Vir..."
Sementara makanan datang, kami sama-sama diam. Farel menatap ke luar jendela dan aku menatapnya.
"Rel..." ucapku ketika pelayan sudah pergi, dia menatapku. Kumenggeleng " aku ingin mendengar cerita 2 jilid ini dari bibirmu sendiri"
Dia tersenyum, meminum es jeruknya, lalu menatap keluar jendela...
"Bagiku tidak ada yg lebih menarik selain buku dan musik, sampai pagi itu aku melihat cewek yang kuyakin sangat telat meski aku sendiri lebih telat. Melihatnya yang setangah kesal, duduk dan berdiri kayak setrika itu membuat pagi itu tidak membosankan."
Farel menatapku untuk tahu ekspresiku, tapi aku sendiri tidak tahu harus berekspresi seperti apa.
"Lanjut..." ujarku pendek dengan berekpresi wajar atau setidak-tidaknya itulah menurutku.
"Cara cewek itu menatapku membuatku tertarik, cara senyumnya yg memikat, tawanya yg menarik ketika bercanda dengan teman-temannya di dalam bus membuatku ingin mengenalnya...Tapi...sampai tahun ke empat aku masih belum tahu caranya berkenalan, Lidahku kelu, tidak tahu harus mulai dari mana, harus bersikap gimana, ketika cewek itu di dekatku, duduk disampingku...aku merasa konyol sekali...dan bodoh sekali ketika kusadari kami tidak akan bertemu lagi..."
Kembali Farel menatapku, dan aku melengos.
"Aku sendiri kaget bisa menulis tentang dia sampai sebanyak itu."
Aku tidak bisa berkata-kata lagi...
"Aku tidak menyangka akan bertemu dengan dia lagi. Waktu sekian lama tidak bisa mengubah dia sepenuhnya. Dia masih sama ketika duduk di sampingku atau berdiri tak jauh dariku. Senyum dan tawanya begitu nyata dan membuat hatiku sesak...dan kupikir aku harus ungakapkan ini semua....Iya kan Viri?"
Aku gelagapan...tidak tahu harus berkata apa "Aku..."
"Apa kamu mau bilang kamu tidak mengerti apa yang aku bicarakan Vir ? apa kamu mau berkata dengan wajah polos bahwa kamu tidak menyangka aku terlalu pengecut hanya untuk menyapa saja tidak berani...atau kamu akan bertanya siapa cewek ini...?
Kutatap Farel, wajahnya terlihat kesal dan sedih campur aduk, sama seperti diriku saat ini. Aku harus bersikap bagaimana ketika tahu cowok yg sampai hari ini masih memenuhi pikiranku dan baru beberapa menit lalu aku memikirkannya, muncul di depanku. Pengakuannya seperti bintang dan batu yg jatuh bersamaan dari langit ke kepalaku.
"Kenapa kamu memberikan ini semua padaku?"
"Anggap saja pengakuan yg terlambat...atau pernyataan cinta yg terlambat. Viri...apa kamu masih bertahan untuk berpura-pura tidak tahu siapa cewek itu?"
"Kenapa kamu seyakin itu..." Ya kenapa dia bisa seyakin itu kalau aku cewek itu... pdahal aku saja sudah tidak mengenalinya lagi. Sosok di depanku ini sudah jauh berubah.
Farel tertawa " Viri..Viri... Baca jilid 2 halaman 3. Disitu jelas tertulis nama kamu. Halaman 5 tertulis ulang tahunmu."
Aku bengong...iya benar. Tapi dari mana dia tahu...lalu kubaca lebih lanjut, ternya pas aku bersama teman-temanku dan dia berada di belakangku ketika mereka menyebut namaku dan pas mereka mengucapakan met ultah dia berdiri di sampingku. tapi tunggu...padahal dia kan selalu memakai headset sampai-sampai temen-temenku bilang dia cowok sombong meski tampan.
"Sejak tertarik denganmu, kalo beruntung pas berada di dekatmu, kumatikan mp3 playerku tapi headsetku tetap kupasang biar tidak dikira nguping. itu boleh kamu tambahkan di halaman itu." jelasnya seakan tahu apa yg ada di benakku.
Kehela nafasku...semakin sesak kurasa. Mati-matian kutahan air mataku...aku tidak pernah menyangka akan ada cerita seperti ini...
"Farel...ini..."
"Sangat Terlambat? aku tahu." Wajahku memerah ketika dia mengeluarkan undangan pernikahanku "Kamu tahu, begitu kuterima ini aku langsung balik ke rumah dengan menelponmu untuk janjian makan siang di sini. Di ruang rapat aku tidak fokus dan begitu sampai rumah aku hampir gila ketika tahu kotak itu sudah tidak berada di tempatnya...setelah kuobrak abrik lemariku, ternyata kotak itu ada di lemari kamar adikku. Gak tahu kenapa bisa sampai disitu, aku tidak peduli, dan aku langsung meluncur kesini...yang ada di pikiranku, aku harus menyelesaikan ini...aku harus buat pengakuan."
Aku jadi tahu kenapa rambut dia awut-awutan dan baju dia kusut seperti itu.
"Maaf...."
Farel tersenyum "maaf? belum kumaafkan sebelum aku tahu apa perasaan kita sama saat itu..." Kemenatapnya "mungkin itu tidak penting bagimu...tapi ini penting bagiku Vir..."
Kutersenyum. Kuulurkan tanganku "Hai...aku Viri dan aku pikir aku tertarik padamu."
Farel menatapku lalu tersenyum menyambut uluran tanganku "Aku Farel, dan aku juga tertarik padamu."
Lalu kami tertawa bersama...dan 30 menit kemudian Elang menjemputku untuk foto pre wedding.
Read More
Sunday, February 8, 2009
Pelukan Untuk Tiara
Kuhisap rokokku dalam-dalam…lalu kuhembuskan dengan harapan bisa mengurangi kepenatan otakku. Malam ini begitu dingin, kurapatkan jaket kulitku. Kupandangi taman tengah kota yg sepi, hanya beberapa orang yg berseliweran dan juga beberapa pasang manusia yg aku yakin bukan suami istri. Akhir-akhir ini aku sering mendatangi tempat ini, bagiku tempat ini memberi ketenangan sendiri bagiku. Hanya terdengar hembusan angin dan gemericik air dari pancuran sebelah.
“Mama tidak mau tahu, Besok kamu harus mau dijodohkan dengan Nela.”
“Mau sampe kapan kamu jadi perjaka?umur kamu sudah kepala 4 bos!”
“Aku gak ngerti apa yg jadi kriteriamu mencari istri…”
Banyak lagi kalimat-kalimat memojokkanku terulang lagi di lamunanku. Semua seolah menutup mata kejadian 20 tahun yg lalu. Semua menganggap kejadian itu hanya kerikil kecil yg ditendang saja sudah tidak kembali.
Kulempar rokokku yang sudah habis, dan kuinjak dengan sepatuku. Kulirik arlojiku, sudah hampir tengah malam…tapi entah kenapa aku seperti baru 5 menit berada disini. Kesunyian ini menjadi teman akrabku akhir-akhir ini.
“Sendirian mas?” Aku tersentak kaget. Seorang gadis cantik bertubuh molek dan berpakain seksi sudah duduk di sampingku entah sejak kapan. Dengan santainya dia menyilangkan kakinya menampakkan pahanya yang terlalu seksi.
Sejenak aku terpesona melihat makhluk secantik ini, aku tidak pernah tertarik kecuali dengan Tari. Tapi sosok di depanku ini mampu membuat magnet tersendiri bagiku. Ya…dia tlah membuatku terpesona seperti aku terpesona dengan Tari…lalu aku merasa dadaku sakit…aku merasakan sesuatu yg luar biasa…
Tidak ! ini tidak mungkin….
“Kesepian mas?aku mau menemani…tapi dengan harga yg cocok” ucapnya dengan tersenyum menggoda, di mulutnya keluar bau rokok.
Aku masih terpana dengan apa yg kulihat.
“Mas?” aku kaget jemari lentik itu menyentuh bahuku.
“Oh maaf maaf…” aku mengusap wajahku…ini tidak mungkin…aku melihat wajah Tari di wajah nya…
“Tidak apa-apa, mungkin mas baru banyak masalah ya? aku bisa bantu dengan menyenangkan hati mas.”
Hatiku sakit mendengar itu semua….
Kusandarkan badanku ke belakang, kuhela nafasku, lalu kuambil rokokku lagi.
“Siapa nama kamu?” Tanyaku setelah sekian menit saling terdiam, entah kenapa dia membiarkanku tenang.
“Tiara.”
“Umur kamu?”
“19 tahun mas.”
Aku tertegun…sama dengan umur anakku, itu jika masih hidup…
“Ayo mas…kita ngobrol di hotel saja…”
“Berapa tarifnya jika semalam di hotel dengan servis bagus ?”
“300 ribu.”
“Murah sekali…” wajah gadis itu merah padam, aku tersenyum ” 500 ribu menemaniku ngobrol disini…mau?”
Gadis itu tampak kebingungan tapi akhirnya mengangguk juga.
“Kamu menyukai kerjaan seperti ini?”
Gadis itu tersenyum hambar “Tidak…”
“Lalu kenapa kamu lakukan?”
Gadis itu tertawa, tawa yg sangat hambar…wajah cantiknya kelihatan begitu sedih dan kecewa…
“Mas pikir karena apa?”
“Uang”
Gadis itu tertawa “Aku tidak butuh uang….ibuku menyediakan banyak uang untukku.”
“Lalu? kesenangan?”
Gadis itu menggeleng “Pelukan…”
Aku mengernyitkan dahiku, dia menatapku dengan mata berkaca-kaca lalu menunduk
“Aku ingin pelukan…” ucapnya lirih hampir tak terdengar. Aku merasakan hatiku makin sakit…wajah sedihnya itu mirip sekali dengan Tari.
“Aku tidak butuh uang itu, aku tidak butuh semua barang mewah itu…aku tidak butuh semua fasilitas itu…ak…aku…”
Tiba-tiba gadis itu menangis dan terus menangis…aku hanya diam memandangnya menangis, persis seperti dulu aku memandang Tari menangis karena mengetahui dirinya hamil…Tangis sendu yg antara harapan dan putus asa.
Mungkin hampir satu jam dia menangis… “Maaf…aku malah tidak menghibur mas.”
Aku tersenyum, pelan kuhapus air matanya. Entah kenapa aku mempunyai rasa sayang padanya.
“Tapi ini jalan yg salah…”
Dia tersenyum getir “aku orang yg sejak lahir harus belajar sendiri mana yg benar dan mana yg salah…dan aku tahu ini jalan yg salah ketika aku sudah terlanjur memasukinya…kunci pintu itu hilang…aku tidak bisa keluar…”
Kuberanjak dari dudukku “Ayo kuantar kamu pulang…”
“Kenapa mas begitu baik tidak menyentuhku…”
Kumenatapnya, tersenyum…”Aku punya kesalahan besar…dan aku tidak mau mengulanginya. Aku mungkin sudah menemukan kesalahan itu…dan sekuat mungkin aku akan menjaganya meski tinggal puing sekalipun.”
Di perjalanan menuju rumahnya kami tidak saling bicara. Dia hanya membuka suara untuk menunujukkan kemana arah rumahnya.
Aku terpana melihat rumah megah di depanku. Inikah rumah gadis yg pilih menjual dirinya…
“Kaget?” aku tersenyum dan mengangguk
Tiba-tiba sebuah mobil berhenti di depan gerbang rumah mewah itu, seorang wanita cantik turun dan membunyikan bel, lalu balik ke mobilnya. aku terkesiap melihatnya.
Tari…
“Dia ibuku…”
“Oh…” aku tidak mampu bicara apa-apa lagi “Ayahmu…”
“Aku tidak punya ayah…kata ibu ayah sudah meninggal. Aku tidak tahu apa akan berbeda jika ayah masih hidup, apa ibu akan berada di rumah sebelum malam dan mengajakku bercanda…Aku mengerti Ibu bekerja sekeras ini untuk aku dan untuk menghindari mengingat ayah. Ibu selalu saja bilang kita harus kaya dan kaya lagi biar orang tidak memandang sebelah mata…biar orang mengharagai kita.Aku tidak mengerti…aku tidak mau mengerti, yang kumengerti aku butuh pelukan ibu…”
Aku menunduk…kuhapus air mata yg tiba-tiba mengalir di pipiku. Tari menjadi seperti itu karena kepengecutanku, Tari menjadi seperti itu karena Keluarga besarku yg tidak mau menerimanya dan mengusirnya secara kasar dan aku saat itu hanya melihat…Begitu bodoh, pengecut, dan gobloknya aku…
Dan sekarang…di sebelahku duduk anakku…anak kandungku… apa yang harus kulakukan….
“Mas…aku turun dulu ya, terima kasih atas semuanya. dan tidak perlu membayar.Pelayanan tadi gratis.” ucapnya dengan memaksakan sebuah senyuman di bibirnya.
“Tunggu.” cegahku ketika dia mau membuka pintu mobil
“Besok mau aku jemput? aku butuh teman jalan-jalan.”
“Biayanya mahal loh…”
Kutersenyum “tidak masalah”
“Oke. Kutunggu jam 9 tepat.”
Kumengangguk dan menunggunya sampai menghilang di balik rumah megah itu. Kali ini aku tidak mau mengulangi kesalahanku untuk yg kedua kalinya. Pecahan-pecahan tercecer itu akan ku rangkai lagi meski tanganku berdarah sekalipun dan kujuga dengan jiwa dan ragaku.
Tunggu aku Tiara
Untuk Amelia
Ruangan gelap itu tampak menyeramkan bagi Hari yang baru saja tersadar dari pingsannya. Dia mencoba mengenali ruangan itu tapi sia-sia, ruangan itu hanya mempunyai cahaya dari jendela atas yg ter letak di sampingnya.
” Sudah sadar?” Hari kaget tidak menyangka ada orang lain disitu, Kepalanya yg pusing akibat pukulan membuatnya tidak konsentrasi untuk memaksakan matanya terbiasa dengan kegelapan ini.
“Siapa kamu…dimana aku?!” tanyanya setengah teriak. Dia paling tidak suka dengan kegelapan. Tiba-tiba ada nyala api sekitar beberapa meter darinya. Dia mencoba mengenali api itu dan ternyata itu api dari sebatang rokok, yang tentu saja milik orang itu.
“Kamu takut Hari?” tanyanya tak menggubris pertanyaan Hari.
“Apa maksud semua ini? lepaskan aku! aku harus rapat” Hari merasakan perih di tangannya karena kencangnya ikatan di tangannya.
“Apa?Rapat?” Hari terhenyak, pria itu tertawa keras sekali…dan dia merasa suara pria itu tak asing baginya
“Rapat sudah selesai Hari, kamu kalah.”
“Sialan!” umpat Hari karena baginya rapat dengan calon klien hari ini sangat penting baginya. ” Bukan begini caranya kalau ingin bersaing, Apa maumu hah?!!”
Tidak ada sahutan, hanya kepulan asap dari bibir lelaki dan rokok itu yang berbicara. Hari lalu ingat, hari ini dia berjanji dengan Selia untuk mencoba baju pengantin.
“Kamu terlihat resah…” Hari tersentak, bagaimana mungkin di keadaan segelap ini dia bisa mengetahui keresahannya.
“Aku benci sekali gelap Hari…tapi aku selalu dipaksa untuk berteman dengan kegelapan itu Hari…”
“Siapa kamu…”
“Waktu itu aku senang sekali karena akan melamar Amelia, Lalu kamu datang Hari dan berkata dengan wajah polos dan tanpa dosa kalau kamu sudah melamar Amelia dan Amelia setuju….”
“Kamu….”
Seperti tidak menedengar kekagetan di suara Hari, pria itu trus berbicara
“Aku maafkan kamu yg sudah membunuh hati sahabatmu sendiri dengan menghamili Amelia. Yang aku inginkan dari dulu dan sekarang adalah kebahagiaan Amelia…dan kamu sudah berjanji untuk itu…Apa kamu ingat Hari?”
Ada senyum sinis terbias di bibir Hari
” Kamu boleh ambil Amelia, aku tidak butuh dia.” Hari kaget tiba-tiba putung rokok itu jatuh dan ruangan semakin gelap dan tiba-tiba sebuah tamparan mendarat di pipinya. ” Sialan kamu Ar!”
“Tutup mulut penuh bisamu itu Har…kamu pikir aku tidak tahu bahwa kehamilan Amelia bukan karena kecelakaan tapi karena kamu rencana?Kamu pikir dengan mendapatkan Amelia aku akan gila dan kamu bisa merebut jabatanku?Tidak Hari…aku tidak sebodoh yg kau duga.”
“Aku sangat mencintai Amelia, dan aku ingin dia bahagia meski aku tidak mendapatkannya. Tapi apa yg kulihat Hari…kamu meninggalkannya begitu saja demi wanita pelacur itu.”
“Jangan sebut Selia pelacur?!”
“Kenapa?kamu jatuh cinta pada perempuan itu? Apa kamu tahu apa yg dia lakukan selama kamu pingsan disini?”
“Apa yg kamu lakukan padanya Ar?”
Ardi terkekeh…”Aku hanya menemani wanita yg sedang marah dan kesepian, Dia yg datang padaku Hari…”
Hati Hari merasa panas dan sesak. dia benar-benar marah “Sialan kamu Ar…akan kubunuh kamu!”
“Dengan apa kamu membunuhku Har?Lihat kondisimu sekarang Har…menyedihkan!”
“Aku tidak akan memafkan perbuatanmu ini…”
Ardi tersenyum menyentuh dahi Hari dengan pistol yang sudah disiapkan sejak tadi. “Aku juga tidak memafkanmu atas semua perlakuanmu pada Amelia. “
Hari yang tahu bahwa sudah tidak ada jalan selamat untuknya, dia terlambat menyadari bahwa pria di depannya ini bisa melakukan apapun untuk Amelia
“Ar…dengar Ar…aku tidak meninggalkan Amelia…sungguh! aku akan meninggalkan Selia…aku janji Ar…”
Wajah Ardi mengeras dan menggeleng keras ” Har…kita sudah kenal berapa tahun sih?Aku tahu kamu akan meninggalkan Selia, tapi kamu akan mencari Selia yang lain.Selamat tinggal Hari.”
Dorrr…
***
Wanita itu sangat cantik dengan pakaian putihnya, dengan tenang dia duduk di bangku bawah pohon beringin. Kedua tangannya memeluk boneka perempuan. Merasa diperhatikan, wanita itu mendongak.
“Hai Hari…lihat bayi kita Hari…dia sudah bisa bilang mama padaku….”
Ardi duduk disamping Amelia, senyumnya begitu sedih. “Iya Amel…dia cantik seperti ibunya…”
Amelia tersenyum kosong seakan tidak mendengar ucapan Ardi, dia trus bernyanyi nina bobo untuk anaknya…Anaknya yg sudah meninggal karena dibunuh ayahnya sendiri, yang menjadi gila karena perbuatan suaminya…dan yang akhirnya hampir berhasil menikah dengan pujaan hatinya…
Ardi tersenyum. Dia merasa telah melakukan perbuatan yg benar dengan membuat cowok itu bisa menghilang untuk selamanya
“Ayo kita mulai dari awal Amelia.”
Sang Presiden
Dia … Dia bisa membuat hariku begitu aneh, dia bisa membuatku tersenyum canggung dan menyapanya dengan keringat dingin. Dia bahkan mampu memaksaku untuk mengakui kalau dia memang mempesona. Kupikir aku tlah jatuh cinta. Gila ! seorang yg tak peduli akan cinta harus mengalami semua perasaan sentimentil ini.
“ Nulis apa ?” Kututup seketika bukuku. Kuberi senyum manis untuk tatapan curiga Nicko. “ Boleh aku tahu ?”
“Lebih baik tidak usah. Sudah selesai rapat BEM nya?”
“Sudah. Dan aku harus berdebat lagi dengan Presiden itu!” Kutersenyum. Presiden ! yah…dia memang pantas dipanggil seperti itu. Dan presiden itu terlalu sayang untuk dilewatkan oleh semua kaum hawa di universitas ini.
“Hei…apa sih yg kamu tulis?” Masih penasaran juga
”Bukan hal yg istimewa, yuk ke kantin…lapar nih…”
”Oke oke.”
Nicko menarik tanganku lembut dan kutepis dengan lembut pula, Bersamaan dengan itu sang Presiden melewati kami, tersenyum sinis pada Nicko dan melirikku sinis pula seakan-akan aku ini hanya orang yg gak selevel dengannya. Huh…dasar cowok dingin !! gerutuku dalam hati.
”Hei..tunggu!” panggil Nicko. Presiden itu berhenti menunggu kami mendekatinya dengan memasang tampang angkuh, tapi entah kenapa itu malah membuatnya kelihatan lebih menarik di mataku. Sudah benar-benar tidak waras otakku.
”Ya?”
” Urusan antara kita belum selesai.”
”Begitu? Aku kira memang tidak akan pernah selesai.” sahutnya dingin dan ngeloyor begitu saja. Aku benar-benar terpesona!
***
Pagi ini cukup cerah, tapi tidak membuat badanku sedikit bersemangat. Kepalaku pusing.Jam 2 malam baru bisa tidur. Nicko benar-benar nyebelin, nelpon hampir 3 jam, telinga ini rasanya udah tidak bisa mendengar apa-apa lagi, Huhhh ada gak ya profesi tukang pijet spesialis telinga. Tadinya mau ku stop, capek aku mendengar keluhannya, tapi karena dia mengeluh tentang Presiden ganteng itu, jadi agak toleransi deh. Tapi akibatnya yg jadi begini nih…Huahem…ini adalah ke-5 kalinya aku menguap dalam setengah jam.
Bruk!!
Aku tidak bisa menahan keseimbangan tubuhku sehingga harus jatuh, Aku yang salah sih, saking pusing dan ngantuknya jadi tidak lihat-lihat jalan, sedangkan orang yg kutubruk tampaknya terburu-buru kayak mau ketinggalan kereta terakhir.
”Kalau jalan lihat-lihat donk!!”
Duh!gila. keras banget suaranya. Kuberusaha berdiri dan menghadapinya. Selanjutnya aku cuma bisa melongo. Aku menubruk Dia!!Oh Tuhan ini benar-benar anugerah. Seketika pusing dan ngantukku hilang melarikan diri.
”Oh…kamu.” Aku tersenyum keki, senang sih dia tahu aku, tapi sebel juga dia seakan mengolokku dengan caranya bicara barusan dan tatapan mata angkuhnya. Memangnya dia siapa berani-beraninya memandangku seperti itu.
”Maaf …”ucapku datar, karena dia menatapku tanpa kedip. Dia gak tahu seketika tanganku berkeringat dan jantungku berdegup kencang. Oh…jahat sekali dia.
”Gara-gara kamu. Aku telat tahu?!!”
Aku melotot, meski aku mengalami badai terpesona, keringat dingin, dsb dsb…tapi dia tidak berhak membentakku.
”Begitu ? kamu akan semakin telat kalau masih mau mendakwaku habis-habisan disini tuan Hakim.” Oh…aku pikir aku tlah jatuh cinta dengan orang yg salah.
Dia melotot ”Kamu!!” Kutersenyum sinis menunjuk arlojiku. Wajah dia makin memerah karena marah ”Sialan. Pantas kamu mau jadi cewek Nicko”
Dia berlari ninggalin aku. Memang sudah jadi gosip umum kalau aku dan Nicko pacaran. Tapi kalau sampai Presiden itupun termakan gosip juga baru gawat namanya. Tapi setidaknya aku cukup senang bisa ngobrol dengannya. Ngobrol? Ha ha ha … ridak bisa disebut seperti itu kan?
***
Hari ini aku harus menunggu Nicko rapat BEM lagi. Bisa sih pulang sendiri, tapi aku minta Nicko nemenin aku ke Gramedia. Kulirik arlojiku, masih setengah jam lagi. Kuteguk juice jambuku hingga tersisa setengah.
”Nunggu Nicko? Setia amat.” Aku bengong tiba-tiba sang Presiden sudah di depanku membawa piring penuh nasi dan lauk plus es jeruk. ”Baru satu jam lagi dia nongol” ucapnya dengan mengambil duduk di depanku dan langsung melahap nasinya tanpa menatapku.
”Kamu sendiri ?”
”Sekali-kali bolos, aku sudah serahin ke Andre. Lagian aku baru males debat ama Nicko.”
”Oooo…begitu.”
Kuteguk lagi juice ku. Masing-masing dari kami sibuk dengan pikiran sendiri.Sesekali aku menatap ke piringnya yg hapir habis. Dia makan dengan santai dan menikmatinya. Beda dengan Nicko yang selalu serba terburu-buru, Bahkan aku belum sempat minum juiceku dia udah ke kasir.
”Betah banget kamu ama tukang ngotot itu.” ucapnya memecah keheningan yg tercipta diantara kami
”siapa?”
”Nicko, sapa lagi.”
”Oh…” kutersenyum ” mungkin karena dia tidak sedingin dan seangkuh kamu.”
Presiden memandangku sekilas lalu meminum es jeruknya
”begitu…Jadi kalau aku gak dingin dan angkuh, kamu pasti suka aku ?”
Kutersenyum ”mungkin.”
”sori aja ya non, gak ngaruh kamu suka aku apa enggak, masih banyak kok yang suka aku.”
Aku baru sadar ternyata cowok ini sombong juga dan sangat menyadari banyak cewek yg memujanya.
”Akupun berdoa agar aku tidak punya cowok seperti kamu.”
” Ooo…jelas…kamu punya cowok seperti Nicko.”
”Iri?”pancingku. Entah dari mana keberanian itu nongol.
”Ha?Iri?cewek seperti kamu banyak dalam kehidupan aku. Kalau mau aku tinggal milih.”
Kutersenyum ”Tapi bukan aku.” Aku berusaha melawan matanya yg menatapku tajam. ” Iya kan ? Banyak cewek seperti aku, tapi bukan aku.”
”Nantang nih?”
”Untuk?”
”Aku bisa naklukin kamu. Nicko aja bisa, masa aku gak bisa.”
Aku bersedekap tanpa melapas tatapanku padanya. ” Oh ya…mau buktiin?”
”Oke!berapa bulan?”
”satu minggu.”
”masuk akal. Oke kita buktikan.”
***
Sekarang, hidupku seakan-akan benar-benar hidup. Bayangkan, idolaku ngejar-ngejar aku kayak orang kesetanan. Nicko tahu lagi, meski dia gak tahu kalau itu hanya pembuktian ego seorang Presiden yang yakin bisa naklukin orang yg diinginkannya. Tapi apapun alasannya Nicko kayak cacing kepanasan dan aku sendiri kayak di atas awan!
Seperti hari ini, sang presiden sudah nongol dengan rapi dan wangi di depan rumahku, dimana aku baru bangun tidur dan rela menunggu aku siap-siap hampir 2 jam. Memang kusengaja, tidak kupedulikan nyokap marah-marah, tapi cowok itu pun sudah berbuat seakan-akan dialah sang pemenang.
”Hari ini Nicko nggak jemput kamu?” tanyanya ketika dalam perjalanan
”aku tolak.”
”Oh ya…sudah mulai nih. Padahal baru hari ke-3.”
”bukan begitu…karena aku pengen ganti suasana aja, boleh donk?” aku tersenyum melihat wajahnya yg super keki. ”Aku kasihan udah menolak kebaikanmu selama 2 hari ini. Itu saja.”
”kasihan ? heh nggak usah munafik !”
”Aku tidak munafik”ucapku santai ”Hanya diri kita yg tahu siapa yg munafik.” Kugigit bibir bawahku kelu…aku memang suka dia…itu tidak bisa dipungkiri. Tapi dia tidak boleh tahu…tidak boleh.
”Oke ! aku mau menegaskan, kalu aku menang ada yg aku minta, karena kamu tahu sendiri kan bukan kebiasaan aku ngejar-ngejar cewek, apalagi cewek orang.”
”Apa yang kamu minta?”
”Belum kuputuskan.”
”Oke, dan kalo aku yang menang kamu mau jadi cowok aku. ” Gile…aku nekat banget nih…habisnya aku gemes sekali sama cowok satu ini.
”Oke..no problem, karena aku yakin aku yang menang. Kamu siap-siap aja.”
Kutersenyum…dia tidak tahu sejak dulu pun dia sudah jadi pemenang bagi hatiku, tapi aku tidak suka dikalahkan terang-terangan oleh cowok sombong ini.
***
”kamu bisa nolak dia kan.?!” kututup telingaku, sejak tahu sang Presiden ngejar-ngejar aku, Nicko jadi sering uring-uringan dan over protected.
”Kenapa aku harus nolak dia? Posisi dia sama dnegan kamu kan?”
”Tapi…”
”Tapi apa?kamu yg lebih dulu mngenalku gitu? Dalam soal urusan cinta tidak ada perjanjian siapa yg dulu. Kamu harus terima kenyataan sainganmu sang Presiden.”
”Oke!aku gak mau kalah, sekarang kamu kuantar.”
”sayang sekali…dia sudah menungguku.” Nicko melotot, aku ngeloyor pergi menemui sang Presiden yg lagi sibuk di perpustakaan.
***
Sedih rasanya. Gimana enggak, ini hari ke-6 dan aku harus terbaring di kasur!nyebelin kan….Badanku demam tinggi, flu lagi. Pokoknya udah gak kuat keluar dari kasur. Barusan aku tolak Nicko dan sang Presiden yang mau jemput . Aku tidak mau mereka tahu aku sakit. Pertama, pasti mereka berebut untuk mencari perhatianku, Nicko mungkin tulus, tapi dia? Pasti dia menghalalkan segala cara untuk menghiburku karena gengsi dia bukan karena suka aku…karena dia masih bermain….dan permainan ini membuatku makin sakit hati karena aku makin menyukainya, dan dia tidak memandangku meski sebelah mata sekalipun. Memikirkannya membuat badanku makin sakit saja.
”Viri…ada tamu nih.” Kubuka mataku pelan-pelan, sebenarnya aku malas karena aku baru mengingat hari-hari dimana aku menghabiskan waktu bersama dia untuk mengurangi rasa sakit di kepalaku. Besok hari terakhir dan jelas aku yang kalah…
”siapa..?” aku tak perlu jawaban. Dia tersenyum sempurna untukku, aku kira aku bermimpi… ”Oh…kamu…” saat itu aku benar-benar ingin menangis. Dia duduk disampingku tempat tidurku, menggenggam tanganku erat dan tak mau melepaskannya meski aku berusaha melepasnya. Jahat sekali dia…masih saja ingin mempertahankan segala gengsinya di hadapanku yg lemah ini.
”Lepasin…”
Dia hanya menggeleng tersenyum ” dengar…aku tadi bertemu Nicko, dia kelihatan marah dan berucap : sialan kamu ! hari ini juga kamu bisa memaksanya untuk bareng kamu.” Aku melengos ” kamu bohongi kami berdua ya…”
”Untuk apa aku bilang, aku gak butuh belas kasihan kalian.” Mukaku memerah, dia menyentuh dahiku dengan tenangnya ”jangan sok perhatian deh.”
Tapi dia seakan-akan tidak mendengar ucapanku ” Panas sekali….gara-gara kamu bertengkar dengan Nicko di tengah hujan lebat kemarin ya ?” aku menatapnya lekat-lekat, entah imajinasiku atau nyata aku melihat kekawatiran di mata bagus itu. Tapi itu tidak mungkin. Tapi kenapa dia bisa tahu, apa dia mengikutiku? Kemaren aku dan Nicko memang bertengkar hebat, dan tadi dia minta maaf dan mau menjemputku. Kemaren dia tidak peduli aku sudah begitu menggigil karena marah dan dingin, tapi Nicko Cuma meninggalkanku begitu saja tanpa peduli. Untung aku bertemu Andre dan mengantarku pulang. Jika saat itu Presiden di depanku ini tahu kenapa tidak menghampiriku ? oh ya tentu saja aku tahu , mana peduli dia denganku, dan sekarang dia pura-pura memperhatikanku, memperdulikanku. Cowok macam apa dia ini???
”Bukan urusan kamu. Sekarang apa yg mau kamu lakukan? Menungguiku siang malam sampai besok?hari terakhir permainan kan?”tanyaku ketus.
Dia tersenyum menatapku dan mengacak rambutku lembut ” aku ke belakang dulu ya”
”Hei!!jawab pertanyaanku !!” aku kesal sekali, sama sekali omonganku nggak dianggap, bahkan tadi aku sempat tertegun oleh kelembutan senyum dan tangannya yg mengacak rambutku. Oh tidak…ini gak adil. Tiba-tiba ibu masuk nyodorin telefon ” Dari?”
”Nicko.” Kuambil telfon itu ogah-ogahan
”Hai…” sapaku malas
”Hai juga, kemana aja kamu? Aku mencarimu di seluruh kapus kayak orang gila. Kamu sama dia ya?” aku diam, saat itu sang Presiden masuk membawa bubur ayam, makanan favoritku.
”Iya aku ama dia, kenapa?”
”Kenapa?!! Aku pengen nonjok mukanya!! Udah ah aku mau rapat dulu. Nanti aku telpon.” Belum sempat kujawb udah ditutup. Bener-bener kesal kayaknya.
”Maem dulu ya…aku suapin.” ucap tuan Presiden dengan menatapku penuh mohon. ”Aku tahu dari ibumu, kamu belum makan sejak pagi.. kamu mau sembuh enggak sih?”
”Bukan urusan kamu kan?”
”Vir…aku mohon…”
”Rayuanmu gak ngaruh.”
”Vir, please…aku gak peduli kamu ngaruh atau enggak, tapi kamu harus makan. Wajahmu pucat.”
”Perhatian sekali..” Kupalingkan wajahku karena ditatap sedemikian rupa olehnya ”Aku kenyang”
”Aku gak percaya. Bukan untuk aku, tapi ini untuk kebaikan kamu…oke?”
Sebenarnya aku ingin memakannya, tapi aku tidak bisa melihatnya bersandiwara sejauh ini…menyedihkan sekali. Tapi akhirnya aku pilih menyerah, meski perhatian dia palsu aku ingin menikmatinya, karena besok aku tidak akan merasakannya lagi, aku tidak bisa menatapnya sedekat ini lagi, dan aku tidak bisa merasakan dia milikku lagi. Dia menyuapiku pelan-pelan, memperlakukanku seperti bayi, begitu hangat sampai aku tidak percaya dia hanya pura-pura.
”Sudah malam, sebaiknya kamu pulang.” pintaku, ketika dia asyik banget mengupas jeruk untukku. Seharian dia di rumahku, melayaniku tanpa lelah…sebegitu seriusnyakah dia ingin memenangkan permainan ini…
”Baru jam 8, satu jam lagi.”
”Sudah cukup…kamu sudah cukup membuktikannya padaku.”
”Bagi aku belum…” Aku gak percaya ada orang seperti ini di dunia ini…Akhirnya kubiarkan dia menemaniku sampai jam 9 malam. Kami berbicara banyak hal, dan aku benar2 menikmatinya.
”Sudah jam 09.00 lebih…” sang Presiden menengok jamnya.
“Oh ya…oke, aku balik ya. Pagi-pagi besok aku kesini lagi. Met bobok.” Badanku meriang seketika, dia menggenggam tanganku lembut dan mencium lembut keningku.. “Aku janji besok kesini.”
“Aku tahu, karena besok kita akan tentukan siapa pemenangnya.” Sang presiden hanya tersenyum, keluar dari kamarku dengan meninggalkan kehangatan yg menyesakkan. Meski ini semua palsu, aku tidak peduli, aku memilikinya dan sudah kuputuskan besok…aku kaget, tiba-tiba air mataku menetes dan trus menetes dengan derasnya…
***
Kubuka mataku dan segera kututup lagi, sinar matahari masuk menembus jendela kamarku. Kulirik arloji disampingku, jam 07.oo. Gila ! siang banget. Kubalikan badanku dan bengong seketika. Presiden itu sudah duduk manis menyambutku.
”Pagi Vir…”
Gila! Kayaknya dia tidak sabar ingin mengakhiri permainan ini, sampai rela kesini pag-pagi
”Jam berapa kamu kesini?”
”Jam 06.00” Ku melotot, melirik kembali jam wekerku ”Ya…satu jam aku duduk disini melihatmu tidur” ucapnya seakan-akan tahu apa yg ada di otakku. ”Oke…ayo cepet mandi, aku mau kebelakang bantuin ibu kamu buat sarapan.” Aku bengong aja ngelihat dia ngacir ke belakang. Dia bener-bener gila ya. Kuambil baju dan handuk menuju kamar mandi, selintas kudengar tawa ibu mendengar lelucon sang Presiden.Ibu tidak tahu ini hari terakhir tuh cowok menginjak di rumahnya.
”Hei kok malah nonton tv, badan kamu tuh belum sehat .”sapa sang Presiden dengan menarik tanganku lembut.”Ayo balik ke tempat tidurmu.” kulihat tangan yg satunya sudah membawa sarapan ”Ya…sarapan untuk kamu.”
Cukup Sudah!!
”Aku gak lapar, ayo kita selesaikan ini, tuan Presiden…”
”Itu gampang, tapi kamu makan dulu.”
”Males. Cukup sudah! Ayo kita putuskan !!” teriakku, aku kesal sekali dengan semua kepura-puraan di depanku. Sang Presiden duduk di depanku, menaruh sarapan untukku di atas meja disampingnya.
”Oke…jika kamu memang pengen cepat-cepat ya sudah, mau apa lagi.”
Sombong! Dia benar-benar yakin dengan dirinya sendiri
”Nah … apa keputusanmu?”
”Aku menolakmu…aku menang kan?”
”Oke…jadi sekarang aku jadi cowok kamu.”
Kutersenyum pedih, dia mengucapkannya sinis sekali. ” Iya…perjanjiannya memang seperti itu. Tapi kamu tidak perlu repot-repot jadi cowokku.” Wajah cakep itu kaget, dia pasti tidak menyangka aku bakal ngomong seperti itu.
”Kamu tahu kenapa? Karena sama saja. Kamu tidak suka aku, Pacaran seperti itu tidak ada dalam kamusku.”
Cowok itu tersenyum. Pasti dia senang sekali…
”Begitu…bagaimana kalau aku benar-benar ingin menjadi cowok kamu?”
Aku sukses melongo. Ku sentuh dahinya, biasa saja.
”Aku serius.”
”Cukup sudah permainan ini…”
”Kamu pikir ini permaianan? Aku asli serius…oke, taruhan lagi!”
”Taruhan?”
”Iya taruhan! Dalam seminggu aku akan buktiin kalau aku benar-benar sayang kamu.” Aku bengong. Aku tidak pernah membayangkan seperti ini jadinya. ”Kuakui aku yang kalah, aku bukannya membuatmu bertekuk lutut, tetapi malah aku yg bertekuk lutut.. dan sekarnag tampaknya aku harus membuktikan sekali lagi ke kamu. Aku nggak peduli apa akhirnya kamu suka aku enggak, aku hanya ingin kamu tahu…aku suka kamu.”
Kau menatapnya lekat-lekat…ini adalah kalimat yg begitu indah yg pernah kudengar dari bibir sang Presiden. Ibu kemarin bilang , sikap yang ditunjukkan dia bukanlah sikap penuh pura-pura. Jika benar-benar suka tidak mungkin serela itu. Tapi dia beda…dia sang Presiden, dia bisa melakukan apapun demi harga dirinya.
”Gimana Vir?”
”1 minggu?”
”Ya! Satu minggu.” Tegas sekali…aku tersenyum. Sampai seperti ini, mungkin dia memang serius, tapi aku ingin melihatnya sekali lagi. Aku suka pembuktiannya itu.
“oke!satu minggu.”
Dan…hari-hari indahku baru saja dimulai…dia tidak perlu tahu bahwa sejak dulu aku sudah kalah…aku sudah jatuh cinta sebelum dia jatuh cinta padaku…tapi biarlah ini jadi rahasiaku…
Oh ya…nama sang Presiden itu Farel.
**************
Hobbyku Cintaku
Entah mengapa bagiku hari ini sangat panas. Di dalam bus tidak dapat tempat duduk, turun harus jalan kurang lebih satu kilometer lagi. Naik becak males, tukang becaknya kebanyakan sok jual mahal. Haus yg semakin menyerang membuatku makin mempercepat langkahku. Huff…matahari kejam nian dikau, atau manusia yang lebih kejam. Karena perbuatan makhluk yang disebut manusia itu, yang telah merusak ozon baik disengaja maupun tidak, mengakibatkan sinar ultraviolet makin bebas menembus atmosfer dan menyampaikan sinarnya dengan rasa bahagia yang berlebihan.
Huh..jadi makin panas saja!
“Maksud kamu apa sih,Vir!” Aku menoleh kaget. Ternyata Robby.
Kulempar tasku ke kursi. Kulepas sepatuku dan menghadapinya dengan berkacak pinggang seperti yg dia lakukan pula. “Ingin tahu maksudku. Makan, minum, dan tidur!”
“Maksudku bukan itu!!”serunya makin keras.
“Terserah, itu urusanmu. Seharusnya kamu menyambut orang yang baru datang dengan ramah, bukan dengan muka jelek dan berkacak pinggang seperti itu.”
Kumencoba menyingkirkan badannya yang menghalangi pintu masuk.
”Minggir Rob!”
“Dengan satu syarat…”
“Iya aku tahu. Aku harus segera menemuimu lagi untuk membicarakan sesuatu hal yang ada sangkutannya dengan sambutanmu yg tidak ramah tadi.”
“Bagus kalau kamu mengerti.” Sahutnya puas dengan duduk di kursi dekat pintu .
Dengan perasaan dongkol aku masuk. Baru saja aku senang mendapatkan cowok itu di rumahku, tapi sekarang? Huh! entah kemana hilangnya rasa rinduku karena tidak bertemu hampir satu bulan lamanya. Dasar cowok tidak tahu perasaan cewek. Telmi, kejam, tidak berperasaan! Jadi heran kenapa tadi aku masih sedikit ramah, seharusnya tidak usah.
“Dia sungguh-sungguh mencintaimu.” Kubolak-balik halaman majalahku. Aku masih jengkel dengan sikap dia yang norak tadi. ”Kamu telah mempermainkannya.”
Kali ini kulempar majalah itu ke meja. Berhasil juga cowok Leo itu memaksaku untuk menanggapi omongannya. ”Aku tidak pernah mempermainkannya. Dia sendiri yang terlalu GR!”
“Itu karena kamu selalu saja kirim salam untuk dia.”
“Memangnya kalau cewek kirim salam kepada cowok tandanya cewek itu suka, begitu ? iih…kolot banget. Aku titip salam karena aku pengen berteman, tidak lebih dan kamu tahu itu. Sudah terlalu sering kita membicarakannya. Apa tidak ada topik lain yang lebih membosankan dari ini.”
“Kamu bisa tidak sih menghentikan hobimu yang sukanya kirim salam buat cowok-cowok yang kamu anggap menarik?” tanyanya tidak menggubris usahaku untuk mengaihkan pembicaraan. Memang enak dikacangi!
“Sorry aku tidak bisa mengabulkannya. Kenapa sih kamu sesewot ini, kemarin-kemarin tidak.”
“Karena dia sahabatku Vir…”
“Dan sahabatku juga tentunya, lagian aku nitip salamnya lewat kamu. Kalau kamu memang keberatan, kamu tidak usah repot-repot menyampaikannya. Aku juga tidak pernah memaksa.”
“Karena aku pikir dia tidak akan jatuh cinta padamu.”.
“Nah selesai! berarti salah kamu sendiri yang terlalu PeDe menyampaikan salamku tanpa berpikir akibatnya.”
Kuraih majalahku lagi. Sudah sering aku ribut dengan dia hanya karena soal hobi baruku ini. Aku suka banget kirim salam sama cowok yang menurutku menarik. Tapi salamku bukan bermakna dalam tanda petik Aku hanya ingin berteman dan mungkin bersahabat. Tapi kebanyakan cowok salah tafsir, mereka ke-GR-an dulu. Alasanku ini selalu tidak pernah bisa di terima Robby. Aku tidak menyalahkannya karena selain alasan itu aku juga mempunyai satu alasan lagi yaitu karena aku ingin tahu apa dia cemburu. Sasaranku semuanya adalah teman-teman dia, sahabat dia, saudara dia, bahkan musuhnya pun kena juga. Aku sengaja minta bantuan dia untuk menyampaikan semua salam-salamku itu. Lumayan heran sih mereka semua rata-rata langsung tertarik, bahkan begitu ketemu langsung minta jadian. Ngeri!! Aku lebih heran lagi sama Robby. Kalau keberatan kenapa juga di sampein salamku. Alasannya karena itu sebuah utang. Lucu khan. Dan sekarang, alasan dia ganti. Aku pikir cowok di depanku ini menyembunyikan banyak sesuatu dariku, tapi yang jelas belum ada sangkutannya dengan penyelidikanku tentang perasaan dia, karena kelihatan banget tidak ada respon seperti tanda-tanda kalau dia cemburu. Matanya yang tajam itu kadang memandangku dengan cara yang sangat menarik, membuat hatiku jatuh bangun. Tapi kebanyakan dalam kesehariannya bisa di bilang dia cowok amburadul, tidak jelas dan kasar.
***
“Happy B-day Ron!” Robby menepuk punggung Ronan, sehingga cowok itu perlu membulatkan bola matanya yang bagus.
“Apa tidak ada yang lebih sakit lagi ?” ketusnya “Hai…siapa cewek di sampingmu ini, jangan katakan dia Viri karena tadi dia telpon tidak bisa hadir karena di rumahnya ada acara juga.”
“Ooo…bukan. Dia Airin.” Kusalami Ronan dengan menahan tawa. Bagaimanapun juga ada untungnya dia belum tahu wajahku. Jadi menyamar dikit boleh kan. Sekilas kulirik Robby yang tampak kesal sekali mau mengikuti permainanku.
“Wah roti pertama untuk dia gagal donk…”
“Yah…tak apalah. Aku pikir aku terlalu berharap. Dia sebenarnya sudah punya cowok belum sih?”
Pertanyaan yang sulit buat Robby. Aku beri dia senyuman mengejek. Cowok kece itu hanya menghendikan bahunya, lalu dia pamit mau mencari tempat duduk. Pintar juga dia memilih tempat karena begitu strategis, tidak terganggu kalau ingin ngomongin hal yang agak pribadi, tapi juga bisa memandang seluruh orang yang datang tanpa terganggu.
“Kamu dengar sendiri, dia sangat menyukaimu.”
“Tapi aku tidak menyukainya.”
“Vir…”
“Apa aku harus bilang aku tergila-gila padanya. Itu yg kamu mau ? Aku tidak menyuruhmu menjemputku ke pestanya. Kamu tahu aku sudah menelponnya kalau aku tidak bisa datang.”
“Itu karena aku ingin menunjukkan padamu kalau dia itu terlalu menyukaimu, sampai-sampai ingin memberikan potongan kue pertamanya untukmu.”
“Lalu kenapa tidak kamu bongkar saja identitasku di depan dia tadi?!”
Emosiku mulai meledak. Dalam hati aku sangat senang untuk sesaat tadi tidak ada pertengkaran diantara kami. Tapi tampaknya aku ketemu dia hanya untuk bertengkar dan bertengkar.
“Karena aku tidak ingin dia kaget kalau kamu datang bersamaku, aku bilang akan datang bersama cewekku.”
Sekian detik aku tertegun tapi kutepiskan anganku tentang cowok itu.
”Oooo…begitu? Jadi karena cewek kamu itu tidak bisa, kamu terpaksa menjemputku. Bagus! aku dijadikan penggantinya atau cadangan?!” ketusku. Aku benar-benar merasa tubuhku lumpuh seketika.
“Bukan itu maksudku…”
“So what?! Bilang ke cewekmu aku menyesal mau menjadi penggantinya.”
Kuberanjak dari dudukku.
“Mau kemana ?” Robby mencekal tanganku erat.
“Pulang! aku muak sama kamu!” Kutepiskan tangannya dan bergegas keluar.
“OK aku juga pulang.” Ucapnya setelah berhasil mengejarku “Ayo ke parkiran.” Ajaknya karena aku menghentikan langkahku.
“Aku tunggu disini.”
“Baik, tapi jangan pergi dari situ.” Aku melengos dan begitu dia menghilang aku segera menyetop taksi. Aku tidak ingin semobil sama cowok nyebelin kayak dia. Aku tidak ingin bertengkar lagi dengannya. Dia telah menyakiti hatiku dengan mengatakan kalau dia sudah ada yang punya. Lengkap sudah penderitaan ini.
Tapi tampaknya derita akan dimulai lagi pagi harinya. Aku belum bangun ketika dia sudah nongol di rumah, wangi lagi. Wajahnya pun fresh. Aku curiga dia belum mandi, pasti tadi cuma gosokan pake minyak wangi saja. Aku sengaja membiarkannya untuk menungguku lebih dari dua jam. Siapa suruh jemput sekolah. Aku yakin dia pasti ingin melanjutkan pertengkaran semalam.
Benar dugaanku, belum ada seratus meter meninggalkan rumah dia sudah menanyakan kenapa aku nekat kabur semalam.
“Kamu marah ya?”
“Belagu! jelas aku marah. Bahkan berharap untuk selamanya tidak melihatmu lagi.” cerocosku membuat wajahnya jadi sedikit tegang.
“Ok-ok, maaf. Tapi Vir…aku jadi tidak mengerti jalan pikiranmu. Sesama kaum cowok aku sedikit tidak rela juga.”
“Apa kamu lupa aku sudah menjelaskan semuanya.”
“Huff…sebenarnya kamu maunya apa sih? maksudku kamu tahu khan?”
Aku mendelik ternyata dia masih juga belum mau menerima alasanku yang sudah ribuan kali aku teriakkan ke telinganya. Ternyata dia pantang menyerah juga.
“Aku mau punya teman yang banyak yang menyayangiku dan cowok yang berkepribadian yang menarik. Maka dari itu aku mengadakan seleksi.”
“Menarik seperti apa misalnya?” aku tersenyum menangkap ketertarikan di suara Robby.
“Dia punya pribadi yang cuek, cool, sedikit angkuh, tidak berperasaan dan kadang teganya minta ampun, tapi dia mandiri, smart, baik hati dan disukai banyak teman.”
“Hah?! kamu suka cowok yang seperti itu? yang benar saja. Tidak ada cewek yang suka cowok sepert itu.”
“Ada. Contohnya aku.” sahutku kalem
“Jadi maksud dari hobimu selama ini hanya untuk mencari cowok tipemu itu?”
“Bisa jadi…”
Robby menggelengkan kepalanya “ Aduh Vir…mana ada cowok seperti itu.” Robby menghentikan Balenonya di depan sekolah. Aku tersenyum dan membuka pintu mobil.
“Ada tuh, dan aku sudah lama menemukannya.”
“Oh ya?”
“Iya. Kamu tahu tidak, saking cueknya, dia sampai tidak sadar kalau aku sangat menyukainya meskipun berada tepat di hadapannya. Benar-benar cowok yang tidak bisa dibilang care, peka terhadap lingkungan di sekitarnya.”
“Trus ngomong-ngomong siapa cowok itu?”
“Ha ha ha…rahasia .” Kutatap wajahnya yang seringkali mampir di mimpiku itu.” Tapi aku kasih tahu satu hal. Kamu tahu tidak kalau kamu itu cowok tercuek, terangkuh, terjahat yang pernah aku kenal. Kamu kadang tidak peduli sama perasaan orang, tidak pernah bisa sedikit saja lembut…”
Aku sudah tidak berani menatapnya lagi tapi itulah yang seharusnya aku lakukan sejak dulu. Aku tahu dia tidak menyukai cewek yang menyatakan cintanya lebih dulu. Dia memang penganut ajaran kuno itu. Tapi aku sendiri sudah tidak tahan untuk meneruskan permainanku sendiri. Aku juga benci melakukan ini. Bukan prinsip hidupku untuk nembak duluan. Tapi cowok didepanku ini cowok yang terlalu pasif. Dia terlalu mempertimbangkan banyak hal dan terlalu penakut untuk menerima sebuah penolakan yang mungkin saja akan terjadi. Satu hal lagi yang membuatku melakukan ini, dia selalu melihat apa yang terlihat, tidak pernah sedikitpun mencoba mencari tahu apa yang ada di balik itu semua dengan sedikit keberaniannya.
Aku merasa dia menatapku tanpa kedip di balik kaca mata hitamnya. Aku mencoba mengumpulkan keberanianku sekali lagi
“Ok, sampai jumpa.” bergegas aku keluar dari mobilnya, tapi tanpa perasaan dia menarik tanganku. Membuatku terduduk lagi. Ternyata dalam hal seperti ini dia cekatan. Mungkin sudah belajar dari kaburku kemarin malam.
“Tahu tidak, aku paling gondokan kalau kamu nitip salam untuk cowok-cowok yang kamu sukai. Meski kamu bilang sebagai salam persahabatan tapi aku tetap saja merasa ketakutan kamu akan benar-benar menyukai salah satu di antara mereka dan kamu menerima cintanya. Tiap hari kamu membuatku hampir gila karena cemburu.”
Aku menatapnya tidak percaya. Robby cemburu. Berarti selama ini usahaku berhasil. Hebat.
“Dan perlu kamu tahu sejak awal aku memang sudah berniat untuk menjemputmu ke pesta Ronan kemarin malam untuk mengenalkan padanya siapa cewekku.”
Lama kami terdiam. Aku sendiri masih tidak mempercayai ini semua. Aku pikir dia akan memakiku atau mengolokku bahkan mungkin meninggalkanku begitu saja dan tidak mau menjalin hubungan lagi meskipun hanya sebagai teman. Aku berpikir jelek seperti ini karena pernah kejadian dia memutuskan persahabatan begitu saja hanya karena tumbuh rasa cinta di hati sahabatnya. Kasusnya hampir sama denganku tapi mungkin aku agak beruntung.
Tiba-tiba Robby meraih tanganku. Dalam beberapa detik saja tanganku sudah berkeringat. Robby tersenyum dan makin mempererat genggamannya. Dia pikir ini lucu!
“Ok…nanti sepulang sekolah kita makan ke tempat manapun yang kamu suka.”
“Tumben.”
“Lho…untuk merayakan hari jadi kita, boleh kan?.”
“Hari jadi kita? kapan? ”
“Hari ini. Gimana sih Vir.”
“Oooo….hari ini kita jadian tho…Ya…sudahlah, daripada kamu nangis.” Aku tertawa melihat mukanya yang keki berat. Bisa juga aku buat dia mati kutu. “Oke-oke serius nih. Aku kasih tahu sesuatu.”
“Apa?” Geli juga dia langsung pasang muka serius. Tapi sedetik kemudian aku perlu extra kaget melihat jarum jam yang ditunjukkan arloji milik Robby.
”Vir…”
“Aku telat nihhhh!!” Secepat kilat aku keluar dari mobil dan membanting pintunya. Aku tidak peduli wajah lalu lintas menghiasi muka Robby. Yang aku pikirkan sekarang bahwa aku harus mengerjakan soal-soal hukuman karena telat masuk. Dan makin merinding begitu tahu aku harus berhadapan dengan Fisika. Pulang-pulang perlu memberi Robby sedikit kuliah siang nih. Hufff…..sampai kapan kami berhenti bertengkar ya…atau karena itulah yang mendekatkan kita? tak tahulahhhh.
***
Read More
Untitled
Sore yang indah kurasa. Hujan baru saja berhenti, tetes-tetes air masih bergemericik jatuh dari atap rumahku, udara yang sejuk menyentuh kulitku, dan tampak sinar matahari mulai mengepakkan kehangatan sayapnya meski hampir tenggelam. Kumenelengkan kepalaku ke kanan, menatap Anteriumku yang kurasa perlu sedikit dirapikan.
“Selia !! “
Kutersentak kaget, gunting ditanganku sampai terjatuh. Keberbalik melototi
Andrea yang malah tertawa karena sukses ngagetin aku.
“Maap Non…disengaja…”Kuterima gunting yang diambilkan Andrea masih dengan sisa-sia tawanya. Lalu aku tersadar Andrea gak sendirian, ada dua cowok yang menemaninya.
“Siapa ? “ Pertanyaan yang sebetulnya tak perlu. Aku tahu sekali jawabnya.
Seperti diingatkan, Andrea menarik cowok yang berdiri disampingnya untuk makin mendekat padanya. “Dia Ryan, temen chatiing dan email aku yang sering kuceritakan ke kamu itu lho…”Ucapnya dengan mengedipkan sebelah matanya.
Kutersenyum dan aku tak yakin senyumku tulus melihat Andrea dengan santainya merangkul lengan Ryan.
“ Oh…hai…. Andrea senang sekali mau bertemu kamu.”
Ryan tersenyum tipis, memandang Andrea dengan lembut terkesan terpesona “Aku juga senang, dan dia juga tidak mengecewakan…” ucapnya dengan menatapku sekilas.
Aku tahu maksud perkataan itu…dan entah kenapa aku merasa sedih, padahal itu tak perlu karena ini sudah keputusanku sejak Ryan mengirimkan email untuk ngajak temu darat…Ya , akulah cewek yang seharusnya berdiri disampingnya saat ini…karena ketidak beranianku dan ketidak percayadirianku, aku memaksa Andrea menggantikan aku untuk menemui Ryan…Tidak perlu repot nyamar nama karena sejak awal aku pakai nama Andrea.
“Dan dia Farel, temennya. Mereka butuh tempat untuk tidur selama 1 bulan, ada kamar kosong gak ?” ucap Andrea membuyarkan alam pikirku dalam sekejap.
Kumenghendikkan bahu, aku tidak bisa berpikir jernih, Ryan tak mau mengalihkan matanya ke Andrea, Dia hanya melihatku sekilas seakan aku ini semut yang tak perlu dipedulikan…Andrea memang cantik, hampir sempurna menurutku, tapi tak bisakah untuk bersikap ramah kepada sepupunya ini…meski dudduk di kursi roda.
“Soal sewa kamar kos ibu yang kelola, Tanya saja, Ibu dibelakang.”
“Oke.” Kumendesah sedih melihat mereka berjalan berdampingan sangat akrabnya. Kuberbalik ke Anteriumku lagi, tapi entah kenapa aku sudah tak berminat lagi untuk mempercantik tanaman hiasku ini. Wajah Ryan dan keakraban yang terjadi diantara dia dan Andrea memenuhi ruang-ruang kepalaku…
“Tampaknya mereka sangat serasi bukan ?”
Aku kaget, Farel masih berada di belakangku. Dia tersenyum mengambil kursi dan disejajarkan disampingku dan mendudukinya “ Tampaknya kamu agak iri…”
“Kenapa harus iri ?” sahutku ketus, baru kali ini ada cowok yang begitu terang-terangan merasa benar membaca perasaanku.
“Ryan memang tampan, dan beruntung sekali Andrea jika berhasil meruntuhkan hatinya…tidakkah kau bermimpi yang sama ?”
“Tidak…aku tidak peduli.”
“Lalu kenapa matamu tak lepas menatapnya ?”
Aku benar-benar kesal dengan cowok sok tau ini. Lebih kesal karena kepergok dan itu benar sekali…
“Hanya heran saja…”
“Heran ? kenapa ?”
Dia tampak tertarik dan aku tidak suka.
“Karena kudengar dari Andrea, Ryan bukan cowok yang seangkuh itu, aku mengira Ryan cowok yang sedikit cuek tapi baik hati dan menghargai orang, bukan berlagak senorak tadi…”
Farel tersenyum, senyum yang menurutku sangat menarik.Dan baru kusadari, dia jauh lebih tampan dari Ryan.
“Kecewa ?”
“Kecewa ? kenapa harus kecewa, itu bukan urusanku.”
Ya.. aku memang kecewa, lebih kecewa dari yang kuduga, dan rasanya sakittt…
***
Aku lumayan terkejut malihat Farel pagi-pagi udah nongol dengan pakaian rapi. Kulihat sekeliling, Ryan tidak tampak batang hidungnya.
“Hai, mau kemana ?” tanyaku basa-basi meski males kalau mengingat pembicaraan kemarin sore.
Lagi-lagi dia tersenyum sangat menarik,,,
“Jalan-jalan. Mumpung sampai disini. “
“Sama Ryan ?”
“Sendiri.”
“Oh…aku duluan ya, mau kuliah.” Ya…mana mungkin Ryan melewatkan satu hari dengan Farel kalau ada Andrea yang jauh lebih menarik.
“Aku antar.”
“Tidak usah, Pak Min yang antar kok.”
“Pak Min tiba-tiba perutnya mules, mau ngelahirin kali, dan dia nyerahin amanatnya ke aku.”
Aku menatapnya curiga, Pak Min pasti bilang ke aku meski mendadak sekalipun. Tapi untuk apa juga Farel bohong.
“Kamu gak boong kan ? “
“Ngapain juga aku boong, ayolah ntar telat lho..”
“Bukannya kamu tadi mau jalan-jalan ?”
“Ya, habis antar kamu.” Sahutnya gak sabaran dengan bukain pintu mobil disampingnya. Aku pilih menyerah saja, aku juga tak mau gara-gara debat gak berguna harus ketinggalan kuliah Mr. Evan yang sangat tampan. Aku mendekatinya dan kaget tiba-tiba dia menggendongku dan mendudukkanku ke jok mobil.
Mukaku merah padam karena kesal “Kamu…”
“Kenapa ? nunggu Mbok Inem bantuin duduk ? Mbok Inem udah kepasar disuruh mendadak ama ibu kamu.”
Memang selama ini Mbok Inemlah yang bantuin aku naik ke mobil. Kadang aku merasa kesal sendiri karena harus selalu meminta bantuan orang lain untuk melakukan hal sebetulnya bisa kulakukan sendiri jika tak ada kursi roda ini….
“Kok ibu gak bilang aku ?” pagi ini semua serba ada urusan mendadak dan jadi orang pelupa semua untuk memberi tahuku.
“Lupa kali…” sahutnya enteng “ Dan ternyata kamu cukup berat…”
Kumenatapnya kesal “Kamu pernah ketemu orang nyebelin, sok tahu dan suka sekali memaksa ?”
“Belum…”
Kutersenyum sinis “Ngaca saja.” Dia mendelik “Pagi begini jalanan rame, jadi kosentrasilah jika gak ingin didemo keluargaku. ”Lanjutku sebelum dia berkomentar. Dan dia pilih diam sampai kampus.
“Tolong bantu aku turun .” pintaku begitu mobil berhenti. Dia menatapku penuh senyum, sesaat tadi kukira dia tersinggung dengan ucapanku, ternyata dia anggap angin lalu.
“Oke dengan satu syarat ?”
Aku menghela nafas “Apa ?”
“Ikut kuliah kamu, gimana ?”
Aku melotot “ Kamu…”
“Nyebelin? Sok tahu ? suka memaksa ? memang. Kamu mau menolak ? silahkan tetap duduk manis disini. “
“Ada apa dengan otakmu ? katanya kamu mau jalan-jalan ..”
“Ikut kuliah di universitas lain tampaknya lebih menarik. Gimana ?”
Aku hanya bisa menyerah lagi, baru kali ini aku ketemu cowok yang tak bisa kumengerti jalan pikirannya seperti ini. Tapi aku tak ada pilihan lain…
“Terserah…”
“Begitu donk..” Dia lalu turun dan membukakan pintu mobil, mengeluarkan kursi rodaku, lalu membopongku keluar dan didudukkan ke kursi roda. Dia melakukannya dengan sangat hati-hati sekali seakan takut kalo aku kesakitan. Pelan-pelan dia mendorong kursi rodaku. Semua mata memandangku heran. Ya, selama ini aku slalu memutar kursi rodaku sendiri, tapi sekarang seorang cowok tampan tanpa pemaksaan membantuku dengan alasan yang tak masuk akal.
“Kamu tidak malu mendorong kursi rodaku dan duduk disampingku seperti ini ?” tanyaku ketika sudah duduk di ruang kuliah nunggu Mr. Evan datang .
“Kenapa malu ? “
“Karena aku tidak normal…”
“Siapa yang bilang kamu tidak normal ? kamu sangat normal. Dan aku tidak suka membahasnya lagi.”
“Siapa kamu ? kita baru bertemu kemarin, apa kamu orang yang terlau merasa kasihan pada orang lain dengan otak terbalik-balik ?”
Farel tersenyum “Aku hanya ingin nemenin cewek yang baru cemburu ama sodara sepupunya.”
“Aku tidak cemburu.!”
“Oke-oke..Cuma..”
“Cukup, Rel…kalo kamu mengolokku terus dengan hal yang sama sekali gak benar, mending kamu keluar saja.” Potongku kesal, tiba-tiba Farel menyentil hidungku
“Tukang ngambek.”
“Ternyata benar, Selia ditemani cowok.” Aku yang mau membalas omongan Farel, noleh. Doni menatapku dan Farel gantian dengan menyunggingkan senyumnya yang membuatku muak sejak dengan cara tersenyum itu pula dia meninggalkan aku begitu tahu aku harus di kursi roda.
“Cowokmu ?” Tanyanya datar.
“Bukan urusanmu. Apa kamu tidak cukup dengan semua yang tlah kamu lakukan padaku ?” sahutku gusar
“Aku cukup merasa bersalah ninggalin kamu, tapi tampaknya sekarang aku bisa tenang.”
“Dan aku tidak bisa tenang kalau kamu masih berdiri di depanku. “ Komentar Farel datar. Matanya menatap Dony tidak suka. Yang ditatap memalingkan muka ke arahku. Dan tanpa berkata apa-apa lagi meninggalkan kami berdua. Bersamaan dengan itu Mr. Evan nongol.
“Kamu tidak perlu bicara seketus itu pada Dony.” Aku heran sendiri dengan yang kukatakan, harusnya aku berucap terima kasih, tapi kalimat itu seakan nyangkut di tenggorokanku.
Aku menunduk dipelototi Farel, dengan sedikit menundukkan wajahnya dia berbisik padaku : “ Kamu itu gak manis. “
Kuangkat mukaku sehingga wajah kami begitu dekat sampai kudengar desah napasnya dan mencium harum parfum maskulinnya.
“Bukan urusan kamu. “
Dia tersenyum manis dan menyentil hidungku lagi, lalu kembali mendongak tanpa berusaha membalas ucapanku. Aku menunduk…entah kenapa ada yang terasa aneh di hati ini ketika ditatapnya seperti itu…dia seakan tahu benar apa dan bagaimana yang kurasakan…apa dia peramal ? atau cenayang ? atau dia hanya orang yang sok tahu … entahlah…
***
“Apa kamu tidak punya teman lain untuk diajak jalan-jalan ?” ucapku kesal karena sekali lagi aku kalah menuruti kemauannya untuk menemaninya jalan-jalan ke malioboro. Ini bukan kali pertama dia berhasil memaksaku untuk menemani kemanapun dia ingin pergi. Entah sekedar nongkrong di boulevard atau mencoba jalan diantara dua pohon beringin alun-alun kidul dengan mata tertutup. Padahal menurut pengakuannya dia punya saudara sepupu di kota gudeg ini.
“Ryan pacaran, sepupuku sibuk. “
“Alasan kuno, apa kamu gak kreatif dikit ?” entah kenapa mendengar ucapan Ryan pacaran tidak membuatku sedih seperti dulu.
“ Dengan alasan itu saja kamu mau kuajak, ngapain repot-repot bikin alasan lain.” Aku mendongak melototi dia dan dia cuma nyengir, mendorong kursi rodaku sedikit lebih cepat. Ada perasaan sedikit bahagia melihat orang-orang disekitarku menatapku iri. Mungkin mereka mengira Farel cowokku, padahal tak mungkin ada cerita seperti itu diantara kami.
“Kamu cuek banget sudah satu minggu ninggalin kuliah. Padahal kamu gak perlu melakukannya, Ryan sudah lupa kamu kesini karena solidaritas sebagai seorang teman.”
Dia yang sibuk memilih-milih baju menatapku sebentar, tersenyum dan kembali sibuk memilih. “ Iya juga sih…tapi kupikir gak ada salahnya disini sebentar lagi, anggap aja pergantian cuaca, sudah lama aku pengen ke jogja dan baru kesampaian. “
“Memangnya kapan terakhir kau ke jogja ?”
”10 tahun yang lalu. “ Aku melongo dan tampaknya dia tahu. “Jangan heran gitu,
kamu sendiri kapan terakhir ke Jakarta ? atau malah belum pernah ?” kuternyum. Dia ada benarnya. Ku memutar rodaku menuju ke baju cewek. Kuambil sepotong baju dengan model yang sederhana tapi tampak elegan, warnanya yang biru mengesankan eksklusif.
“Pilihan bagus. “
Aku kaget dia udah disampingku. “Thanks…”
Dia tersenyum “Welcome, dan bagaimana dengan ini ?” dia menunjukkan t-shirt biru dongker dengan corak yang cukup simple tapi keren
“Oke juga.” Ucapku jujur, dan untuk pertama kalinya aku melihat wajahnya tampak begitu gembira. Ternyata waktu seminggu belum cukup mengenal tentang seorang Farel…
***
“Kamu gak ingin bisa berjalan kembali ?” aku yang mau melahap nasiku, menatapnya. Hari ini kami mencoba masakan asli jogja di pinggiran malioboro, dan lagi-lagi aku menyerah menurutinya…
“Kenapa kamu bertanya seperti itu ?
“Bukankah itu pertanyaan yang wajar ?”
“Untuk orang yang tahu betul jawabnya, itu menyakitkan.” Kulahap nasiku dengan resah.
“Aku tidak tahu jawabnya, untuk itulah aku bertanya. “
Kuhela napasku resah “Aku ingin tapi itu tak mungkin…kakiku lumpuh permanen…”
“Salah..kakimu lumpuh sementara, kamu ingin tapi tidak mau.”
Kutatap dia tajam “Apa maksudmu ?”
“Ayolah Selia…semua orang yang menyayangimu mengatakan kamu sebenarnya bisa berjalan kalau kamu mau….”
“Sejak kapan kamu tertarik urusan pribadiku ?” ucapku ketus. Aku tidak suka diinterogasi seperti ini.
“Mereka cerita sendiri tanpa kuminta. Ibumu, adikmu, pak min, mbok inem, juga Andrea…”
“Wah senang sekali mereka gosipin aku, apa mereka juga mengatakan apa alasanku?” Tanyaku sinis.
“Tidak, dan aku ingin mendengarnya sendiri dari kamu.”
Kutersenyum masam, kuletakkan sendokku. Aku sudah tak berminat lagi dengan nasi gudeg di depanku.
“Sampai kiamat aku tak akan bilang, dan sekarang antarkan aku pulang, tapi jika kamu masih ingin disini, aku akan balik sendiri naik taksi.”
Kami saling manatap dan kupastikan kali ini aku tak akan menyerah begitu saja…akhirnya tanpa banyak omong dia menurutiku.
***
Aku menatap Farel tidak suka ketka melihatnya berdiri di depan pintu gerbang fakultas, jelas sekali dia menunggu seseorang. Begitu melihatku dia langsung berlari ke arahku.
“Hai..”
“Kenapa kesini ? aku tidak berminat menemanimu kemanapun keinginanmu saat ini.” Ucapku dingin.
“Kalau ini demi kebaikanmu gimana ?”
“Aku tidak peduli…”
“Ayolah Sel…sekali ini saja…”
Kutatap wajahnya, tak ada wajah main-main disana. Aku sendiripun sebenarnya penasaran, baru kali ini dia mengajakku untuk kebaikannku…atau sebagai pengganti ucapan maaf…entahlah…dan akhirnya aku kembali pilih menyerah.
Dan baru kali ini aku merasa kecewa tlah menyerah ikut Farel dan merasa sangat marah begitu tahu apa yang dimaksud demi kebaikanku.
“Selia..” kuangkat tanganku, dia terdiam.
“Lebih baik kita balik tak ada gunanya disini.”
“Tapi Sel…kamu belum mencobanya, mana kamu tahu itu berguna ataau tidak ?
“Karena aku tidak berminat.” sahutku pendek dengan memandang sekilas kembali gedung pusat terapi berjalan. Lalu menatap Farel kesal..
“Karena dengan berjalan mengingatkanmu pada kecelakaan yang membuat ayahmu meninggal ?”
“Oh…jadi kamu telah berhasil tahu alasannya ? siapa yang kasih tahu ? kamu sogok berapa dia ?”
“Selia…mereka ingin kamu kembali seperti dulu…ceria, energik dan penuh semangat.”
“Tahu apa mereka tentang yang kurasakan? mereka tidak tahu apa-apa…” Ya…apa hak mereka memberitahu Farel alasan kenapa aku tidak ingin berjalan…aku memang tidak ingin teringat saat dimana aku mengganggu ayahku menstir dengan maksud bercanda, tapi aku tak tahu itulah saat terakhir aku bisa bercanda dengan ayahku…gara-gara aku, ayah tidak bisa mengendalikan mobilnya bahkan tak sempat menghindari sebuah truk besar dengan kecepatan tinggi dari arah yang berlawanan…
Dengan duduk di kursi roda aku bisa menghukum diriku atas kesalahanku ini…dan mereka seenaknya saja bicara seperti itu…
“Selia…”
”Cukup Rel…cukup…”
Akhirnya Farel membawaku balik ke rumah. Kutolak dia saat ingin membantuku mendorong sampai ke ruang tamu. Dengan sisa-sisa kekuatan aku menahan air mataku, memutar rodaku menuju ruang tamu.
“Kukira selama ini kamu orang yang tegar dan kuat…ternyata kamu hanya cewek cengeng yang tak mau kembali hidup untuk dirimu sendiri hanya karena rasa bersalah yang ingin kamu tanggung sendiri. “Kuhentikan rodaku demi mendengar ucapan Farel “Kamu kira dengan berada di kursi roda kamu bisa menghidupkan ayahmu lagi? Ayahmu pun pasti akan sedih melihat kamu tak mau bangun dan bergerak maju…Ayahmu pasti sangat sedih…” Kuputar kursi rodakuku, kutatap dia tajam. Berani sekali dia bicara seperti itu padaku. Dia pikir dia siapa…
“Aku ini mungkin bukan siapa-siapa bagimu, tapi perlu kamu tahu satu hal, aku sangat menyayangimu…” Tanpa tersenyum Farel berbalik pergi, dan aku hanya terdiam menatap punggungnya…kata-katanya barusan membuatku seakan tak punya daya untuk melawannya. Kukira aku sedang bermimpi.
***
Aku tidak tahu sudah berapa lama aku termangu di depan kamar Farel. Semalaman aku tidak bisa tidur memikirkan kejadian kemarin. Ketika kusadar aku harus minta maaf padanya. Tapi…untuk mengetuk pintunya saja aku tak punya keberanian, lebih tak terbayangkan lagi kalau harus melihat reaksinya. Kuhelai napasku, bagaimanapun aku harus bicara dengannya. Kuulurkan tanganku ke daun pintu kamarnya. Tiga kali kuketuk, dan tak ada sahutan, tidak biasanya dia belum bangun sesiang ini, atau dia sudah tahu kalau aku yang mengetuk pintunya, tapi…gak mungkin.
“Dia sudah balik. “
Aku kaget, menoleh. Ryan berdiri tak jauh dariku dengan senyum datarnya. Entah kenapa, aku tidak merasa apapun seperti pertama kali bertemu.
“Kapan ?”
“Tadi pagi, dia baru ingat besok harus mengajukan bab IV skripsinya.”
“Oh…apa dia tidak pesan apa-apa?” Aku tidak siap dengan kepergiannya yang mendadak seperti ini. Aku seperti kehilangan sisi lain dari hatiku, sisi yang selama ini datang tak diundang tapi begitu memikat, sisi yang akhir-akhir ini sering kutelaah sendiri…sisi yang aku sendiri tak pernah berpikir untuk melepasnya…
“Tidak, cuma dia bilang siapapun yang mencarinya tidak perlu repot-repot mengejarnya, tak kusangka kamu yang mencarinya.”
Kumendesah resah…apakah dia begitu marah ? padahal begitu banyak pertanyaan di benakku untuknya…lalu apa harus kubiarkan pertanyaan-pertanyaan ini tetap menjadi pertanyaan tanpa jawaban…
“Tolong beri tahu alamat rumah dia.”
Ada senyum sinis di wajah Ryan “Dengan keadaanmu sekarang bukankah akan lebih banyak merepotkan orang lagi ?”
Ku menatap Ryan tajam. Jadi inilah orang yang dulu begitu kurindukan ingin bertemu. Aku jadi mengerti ucapan Farel, dan aku makin bertekad untuk menemuinya meski harus memakan bertahun-tahun untuk mencapainya. Ku beri Ryan senyum termanisku.
“Kita lihat saja.”
***
Aku tahu hampir semua pasang mata menatapku tanpa kedip. Penuh percaya diri aku menghampiri meja sekretaris di dekat pintu ruang direktur utama perusahaan tempat kuingin membuktikan pada diriku sendiri.
“Bapak Farel ada ?” sekretaris cantik itu sesaat menatapku canggung kemudian tersenyum.
“Bapak baru rapat, Mbak udah punya janji ?”
“Sudah.”
“Kalau begitu silahkan tunggu di dalam, Mbak.”
Kutersenyum mengangguk “Terima kasih.”
Ruang tempat Farel bekerja ternyata sangat luas. Tadinya aku tak percaya cowok sok tahu itu direktur perusahaan besar kalau tidak melihat fotonya di meja paling besar di ruangan ini. Aku tertarik melihat komputer yang masih menyala di mejanya, kuhampiri computer itu. Makin tertarik saat kutahu dia ternyata baru mau menyelesaikan emailnya untuk seseorang. Dasar ceroboh…Lalu aku terkejut sendiri saat tahu untuk siapa email itu akan dikirim. Aku langsung mengecek email-email yang telah lalu. Saat itu rasanya aku seperti dihempas ke tanah tanpa sempat bernapas…Ini tidak mungkin!
“Aku merasa tidak janjian dengan siapapun !”
Suara itu, belum sempat aku beranjak berdiri pintu sudah terbuka. Wajah tampan yang begitu kurindukan itu menatapku tanpa kedip.
“Selia…?” tanyanya seolah meyakinkan dirinya sendiri bahwa dia tak salah lihat. Dia lalu menutup pintu tanpa melepas tatapannya. Aku sendiri seakan tersihir tak mampu memalingkan muka atau menunuduk.
“Hai Farel, sudah 1 tahun tak bertemu.” Sapaku mencoba tersenyum untuk menghilangkan atmosfer kekakuan yang tercipta tiba-tiba karena dia hanya berdiri di depan pintu tanpa berminat menghampiriku.
“Untuk apa kamu kesini?” belum sempat kujawab dia tiba-tiba melototi komputernya “Apa yang kamu lakukan?!” dia berlari mendekatiku, segera aku beranjak dari mejanya, seketika dia menghentikan langkahnya menatapku tanpa kedip dengan keterkejutan luar biasa di wajahnya. Jarak diantara kami kini hanya beberapa cm saja.
“Selia…kamu…”
“Ya Farel…aku sudah bisa berjalan di atas kedua kakiku lagi.” Ucapku tersenyum “Soal komputermu, itu salahmu sendiri meninggalkan dalam keadaan menyala.”
Seperti diingatkan dia langsung menghampiri komputernya, ekspresinya saat itu tidak bisa diduga. Aku hanya diam menunggu. Dia terduduk dikursinya, menatapku dengan pandangan yang tak kumengerti.
“Sejak kapan kamu tahu akulah pengirim email itu ?” tanyaku tanpa mencoba melawan tatapannya.
“Sejak pertama bertemu kamu.”
“Kenapa Rel…kenapa tidak beri tahu aku kalau kamulah orang yang selama ini yg mengirimi email aku ? kenapa kamu biarkan aku menganggap Ryan orangnya sampai hari ini ?”
“Karena saat itu aku ingin mengenalmu apa adanya…mungkin sama seperti kamu ingin mengenal sosok pengirim emailmu yang sebenarnya ” Dia beranjak dari duduknya, menghampiriku, menatapku, apa dia tak tahu alasanku hanya karena aku tak punya cukup keberanian. “Selamat untuk keberhasilanmu.” Dia menatap kakiku.
“Hanya itu ?” tanyaku tercekat.
“Itu tujuanmu kesini bukan ? untuk mendapatkan selamat dari aku ?”
Kumenggeleng, air mataku hampir jatuh. Aku tak menyangka Farel masih menganggap aku sama seperti dulu.
“Aku kesini karena begitu banyak pertanyaan dibenakku yang harus kutemukan jawabnya dengan kedua kakiku ini sendiri, Aku kesini karena ingin berterima kasih dan minta maaf padamu atas kelakuanku dulu.Aku kesini untuk meyakinkan pada diriku sendiri”
“Lalu…sudah kau dapatkan semua itu?”
“Iya…ternyata waktu satu tahun tak bisa menghapus perasaanku padamu, dan ternyata aku tidak bisa membuatmu memaafkan aku atau sekedar menerima ucapan terima kasihku. Aku ingin mengatakan aku menyukaimu dengan berdiri di atas kakiku sendiri. Tapi ternyata aku terlambat untuk menanyakan apa ucapan kamu menyayangiku itu sungguh-sungguh. Kamu sudah begitu membenciku.”
Dia terdiam, tapi matanya tak mau melepasku. Aku sudah cukup senang dengan pertemuan ini. Dan aku bahagia saat tahu cowok yang kusukai dulu bukan Ryan…pangeranku dulu dan sekarang orang yang sama.
“Lebih baik aku pergi sekarang.” Ku berbalik menuju pintu, Pintu sudah terbuka sedikit saat tiba-tiba sebuah tangan kokoh memegang handle pintu yang masih kupegang dan menutup pintunya kembali. Aku tidak tahu apa yang harus kulakukan saat itu…
“Kamu slalu begitu, tukang ngambek…” aku mau menjawab, tapi jari Farel menempel di bibirku. Desah nafasnya terdengar jelas di telingaku “Kamu slalu menyimpulkan sendiri tanpa bertanya. “
“Aku…”
“Aku sayang kamu, baik dulu sekarang atau yang akan datang.”
Kuterdiam, tak tahu harus berkata apa.
“Sudah tidak terhitung berapa kali aku ingin ungkapkan semua lewat email slalu saja kuhapus, lewat telepon slalu kututup. Aku saat itu pergi mendadak karena aku tahu jika aku bertemu kamu maka yang terjadi aku akan memelukmu. Aku hampir gila setiap kali memikirkanmu.”
Aku menurut ketika dia membalikkan badanku “Hei…kamu menangis…?” aku sendiri tak tahu sejak kapan aku menangis, dengan lembutnya dia menghapus air mataku. Kutatap dia yang tersenyum begitu lembut, air mataku makin deras mengalir, aku begitu bahagia, Tuhan begitu baik mengirimkan seorang seperti Farel dalam hidupku.
“Selain tukang ngambek ternyata kamu cengengnya minta ampun ya…”
“Sok tahu.”
Dia tertawa, tawa yang begitu manis dan sempurna di mataku.
***
Read More
Setelah Hujan Reda
Dengan perasaan hancur Dena menutup teleponnya. Matanya tampak berkaca-kaca. Dadanya terasa sesak. Pemilik mata sayu itu menangis. Dia merasa bodoh dan marah. Sesaat kemudian dia beranjak menuju jendela kamarnya. Menatapi derai hujan dengan pandangan kosong tanpa kedip. Sejenak dia mengusap mukannya, lalu berbalik dan terpaku melihat sesosok wajah cute yang tersenyum menggoda di atas meja belajarnya. Tangannya terulur pelan membanting bingkai foto itu. Tak terelakkan lagi, bingkai itu berubah menjadi keping-keping berserakan, persis seperti hatinya saat ini.
Teringat kembali semua yang Restu ucapkan di benak Dena. Awalnya dia tidak percaya satu kata pun yang diucapkannya tentang Aditya yang ngelaba dengan cewek lain. Dia pikir Restu berkata seperti itu karena kecewa dia tolak cintannya. Dena tidak percaya cowok sebaik Aditya tega menyakiti hatinya.
Sampai akhirnya Dena merasa Aditya berubah. Tadinya dia pikir terpengaruh omongan Restu, jadi mengira Aditya yang tidak-tidak. Tapi dari hari ke hari dia makin yakin kalau Aditya memang berubah. Dia jadi super cuek, egois, dan pemarah. Dan yg paling berubah dalam dirinya adalah dia menjadi hobby pergi ke sirkuit, entah cuma nonton atau ikut di dalamnya. Padahal, Aditya paling benci yang namanya balapan. Dulu gara-gara balapan dia hampir kehilangan nyawanya.
“Dia suka cewek lain. Dia balik ke sirkuit karena dia.”
“So why….?”
“Ya ampun Dena…..mengapa kamu tidak percaya sedikit pun padaku. Maksudku itu baik. Tidak ada maksud untuk memisahkan kalian, karena aku tahu itu tidak ada gunannya. Aku hanya tidak rela cewek yang aku sayangi disakiti.”
Restu mengeluarkan secarik kertas dari sakunya. “Ini nomor HP cewek itu. Dapat dari mana kamu tidak perlu tahu. Jika kamu memang ingin membuktikan ucapanku, telepon saja.”
Dena mengusap mukannya kembali. Dia harus mengakui apa yang selama ini dia sangkal. Dia harus terima kenyataan, semua ucapan Restu benar. Terbukti, setelah dia menjadi sahabat Mita dan berhasil memancingnya untuk bercerita tentang cowoknya, saat itu Dena merasa dirinya bodoh telah menyayangi orang macam Aditya.
***
Dena menatap cowok di depannya dengan tajam. Cowok itu sendiri cuma tersenyum-senyum tanpa dosa.
“Doain aku ya, supaya bisa menang.” Aditya menaiki motor balapnya.
Dena tersenyum sinis. “Doain kamu?”
“Iya. Apa salah ?”
Dena makin memasang senyum sinisnya untuk membalas senyum Aditya yang tampak begitu memuakkan di matanya.
“Heh.doain supaya kamu cepat mati ?”
Mata Aditya terbelalak kaget. Dia tidak percaya cewek sebaik Dena bisa bicara sekasar itu padanya.
“Dena! Kamu kenapa sih!”
“Seharusnya aku yang tanya kamu.”
“Sejak kapan penyakit gila balapmu itu kambuh ?. Apa sejak kamu yakin aku tidak akan melarangmu lagi karena kita udah pacaran hampir 5 tahun ini atau karena kamu lagi jatuh cinta?”
Aditya tidak menyahut, lalu….”Ya, aku lagi jatuh cinta…..sama kamu!”
“Gombal! Aditya yang menyukaiku adalah Aditya yang tidak suka dengan yang namanya balap. Aditya yang menyayangiku adalah Aditya yang berjanji padaku tidak akan balek ke sirkuit lagi!”
Dena mengatur napasnya yang memburu. “Kamu kira aku suka kamu perlakukan begini?”
“Aku tidak mengerti apa yang kamu maksud.”
Dena tertawa pahit. “Aku kira kamu sangat mengerti apa maksudku.” Dena melangkah pergi. Tidak peduli Aditya memanggilnya.
***
Dena tahu muka Aditya berubah warna ketika melihatnya di rumah Mita. Tampak keterkejutan yang luar biasa di wajahnya. Dena ingin sekali bersorak untuk itu. Untuk kepuasannya, kemenangannya. Tapi tidak, yang terjadi justru sebaliknya. Dia ingin teriak, menangis. Karena sejujurnya, semenit yang lalu dia masih berdoa Aditya pacar Mita bukanlah Aditya yang selama ini dia sayangi. Harapan tinggal harapan. Aditya milik Mita adalah Aditya yang menjadi miliknya selama hampir 5 tahun ini.
“Dena…..” Dena menyalami tangan Aditya dengan hati yang bergemuruh hebat. Pemilik wajah manis itu merasakan eratnya genggaman Aditya ketika membalas salam kenalnya. Dia mencoba tegar menatap mata elang itu. Mata elang yang ingin tahu apa yang terjadi pada dirinya saat ini. Senyum getir nan gemetar menahan matanya yang hampir terlihat berkaca-kaca.
“Mit, aku pulang dulu ya.” Dena melepas dengan paksa genggaman tangan Aditya. Dia tidak mau terlalu lama di rumah Mita. Dia tidak mau kalau akhirnya dia membongkar kebusukan Aditya di depan Mita yg begitu baik dan lembut.
“Hujan-hujan begini ?. Tunggu sampai hujannya reda. Nanti kamu bisa sakit!” Cegah Mita.
“Tapi…”
“Biar kuantar!” Tawar Aditya. Dena merasa dia ingin mencari kesempatan darinya untuk membicarakan hubungan mereka. Satu kesempatan yang tidak ingin Dena berikan meskipun Aditya memohon.
“Tidak usah. Merepotkan saja.”
“Sama sekali tidak.”
Mita menepuk pundak Dena lembut “Biarkan dia mengantarkanmu”
“Kamu ikut juga, kan?” tanya Dena dengan tatap penuh mohon.
“Maaf…aku disuruh jaga rumah. Lain kali saja aku ke rumahmu dengan Adit.” Pupus sudah harapan Dena untuk menghindari kesempatan berdua dengan Aditya.
“Ternyata kamu kenal Mita.” Aditya memecah keheningan.
“Kaget ? dia sering cerita tentang kamu. Dia pengagummu nomor satu. Aku tidak tahu bagaimana jadinya jika dia tahu hanya mengagumi seorang buaya darat.”
Aditya menatap cewek berkulit bersih itu tajam,lalu dipalingkan mukanya. Sejenak dihela napasnya pelan.
“Kamu marah dengan ucapanku tadi ? silahkan saja. Tidak ada yg melarang kok. Jangan ditahan, nanti hatimu sakit seperti hatiku saat ini.” Sindirnya tajam.
“Den…bukan maksudku…”
“Bukan maksudmu apa?!” potong Dena “Kamu kira aku cewek apaan ! kamu kira aku suka diduain. Kamu kira aku suka sikap sembunyi-sembunyimu itu. Kalau memang kamu sudah bosan denganku, katakan saja langsung. Jangan main petak umpet seperti ini!!” Emosi yg lama ditahan Dena meledak juga. Aditya terdiam. Tatapannya begitu resah.
“Aku tidak bisa putus denganmu. Aku tidak mau.”
Dena melotot. Ditatapnya lekat-lekat cowok Aries yg duduk tepat di sebelahnya itu.
“Apa mau kamu ? Tidak mau putus tapi menjalin cinta dengan Mita. Cowok macam apa kamu ini.”
“Aku berkata sungguh-sungguh.Aku masih sayang dan cinta kamu, Den…”
“Bohong!! jika benar rasa itu masih ada, kamu tidak akan menyakitiku. Tapi kenyataannya kamu menghianatiku.”
Dena mencoba mengatur napasnya yg memburu seiring emosinya yg meledak.
“Tidak ada gunanya kita lanjutkan hubungan ini…”
“Mita cewek baik, cantik, dan sangat menyukaimu.”
“Cukup! aku tidak mau mendengarnya. Aku sama sekali tidak menyukainya. Aku hampir stres harus berpacaran dengannya.”
Dena tertegun. Dia tidak percaya dengan pendengarannya sendiri. “Kenapa kamu masih mengelak? mengakulah. Itu semua benar adanya. Jangan bilang kamu tidak menyukainya dan tidak mau kehilangan aku. Terus terang itu semakin menyakitiku. Kamu kira aku akan terbujuk rayuan gombal seorang cowok yg sudah di ujung tanduk sepertimu ?”
Tanpa diduga Aditya menghentikan laju Kristanya. Sejenak dia menutup matanya.Dia sadar dia tidak boleh ikut terbawa emosi.
“Ingat baik-baik, Aku bukan cowok seperti itu.”
“Atas dasar apa aku harus mengigatnya?”
“Atas dasar bahwa aku sungguh-sungguh menyayangimu lebih dari apapun. Atas dasar aku pacaran dengan Mita karena terpaksa.”
“Terpaksa? gombal!. Sekarang bukan jamannya main paksa, Dit…”
“Aku tidak bohong. Aku pacaran dengannya karena kasihan. Dia anak temen ayahku. Dia mengidap kanker paru-paru. Umurnya tinggal dua tahun lagi. Sejak dulu dia menyukaiku karena itu aku tidak bisa menolak permohonan ayahnya untuk membahagiakannya di saat-saat terakhirnya.”
Dena tidak bereaksi. Dia tidak menyangka itu semua. Mita yg ceria dan selalu bersemangat mengidap penyakit yg dari hari ke hari menggerogoti nyawanya.
Melihat Dena terdiam, Aditya menjalankan kembali Kristanya di tengah-tengah hujan deras yg mengguyur bumi Yogyakarta.
“Aku sengaja tidak memberitahumu karena aku takut kehilanganmu. Tapi aku baru sadar itu salah. Setiap kali aku mencoba menceritakan padamu, tapi aku tidak pernah bisa.”
“Maaf aku balik ke sirkuit yg begitu kamu benci. Aku melakukannya karena Mita menyukainya. Aku harap kamu mau mengerti dan…”
“Aku sangat mengerti.” potong Dena ”Yang aku sesalkan kamu terlambat menjelaskan semua ini. Aku terlanjur membencimu.”
“Aku tidak bisa memaafkannmu meski kamu patut mendapatkannya. Biarlah hubungan kita sampai disini saja. Jagalah Mita dan jangan menggangguku lagi.”
“Jadi…kamu tidak memaafkanku?”
Dena menggeleng pelan. ”Untuk saat ini belum. Sekarang kita jalani hidup kita masing-masing. Mungkin aku egois, kamu sudah begitu menderita dan aku tidak bisa memaafkanmu hanya karena ketidak jujuranmu.”
Aditya merasakan apa yg namanya mimpi buruk.
“Aku belum siap untuk menerima kenyataan ini…” keluhnya
“Kamu kira aku siap? Tapi kita berdua harus mencoba. Aku rela kamu dengannya. Dia lebih baik dariku. Tidak seegois aku.”
“Tapi aku suka kamu.” Senyum pilu menghias bibir Dena. ”Akankah kamu melupakanku…?”
Dena menggeleng” Itu tidak mungkin karena aku terlalu menyayangimu sekaligus sangat membencimu.” Kepalanya menunduk. Matanya berkaca-kaca.
“Terima kasih…” Hanya itu yg mampu keluar dari bibir Aditya untuk menutupi ketidakrelaannya. Dia menghentikan mobilnya di depan rumah Dena. Sesaat lamanya mereka membisu. Cowok Indo itu sibuk memaki dirinya yg begitu bodoh tidak jujur sejak awal hanya karena takut kehilangan dan mungkin tidak harus berpisah seperti ini.
“Aku tidak akan pernah melupkanmu. Kamu yg tersayang untuk pertama dan selamanya.” Ucapnya lirih dan mengecup manis pipi Dena yg mampu membuat tubuh Dena gemetar. Baginya kecupan itu begitu hangat mendamaikan hatinya. Sama ketika pertama kali Aditya mengungkapkan perasaannya.
Entah sejak kapan cewek periang itu menangis. Dengan lembutnya tangan Aditya mengusap air matanya. Mereka bersitatap lama. Tidak ada yg menyangkal jika masing-masing hati inginkan keromantisan seperti dulu. Tapi Dena sadar itu sudah tidak mungkin. Dia ingin semuanya jelas. Dipeluknya Aditya erat. Seerat Aditya menyambut pelukannya.
“Aku sayang kamu…” Aditya makin mempererat pelukannya demi mendengar bisikan Dena yg mungkin tidak akan pernah dia dengar lagi.
Dena melepas pelukannya pelan. Dicobanya tersenyum untuk membalas tatapan Aditya yg begitu dikaguminya. ”Kamu masih ingat, kita pertamakali bertemu disaat hujan seperti ini dan sekarangpun kita berpisah disaat hujan. Tampaknya kita dipertemukan dan dipisahkan oleh hujan,ya…” Adit mengangguk resah. ”Terima kasih untuk semuanya.”
Dena keluar dari Krista diikuti Aditya yg kemudian menghadangnya di depan pagar. Sementara itu hujan sudah mulai reda.
“Den…masihkah kita bisa bertemu dengan cinta kita masing-masing untuk mengulang yg lebih baik. Bertemu di saat hujan mulai reda. Disaat matahari mulai bersinar.”
Sesaat Dena terdiam, Lalu dia mengangguk pelan. Aditya tersenyum lega, lalu masuk ke mobilnya dan pergi menjauh…
Dena masih terdiam di tempatnya. Dirasakannya sinar matahari yg begitu hangat menyentuhnya, sehangat pelukan Aditya yg untuk terakhir kalinya dia rasakan. Ditutupnya matanya pelan, lalu dibukanya lagi. Sejenak dia merasa kehilangan, tapi dicobanya untuk mengerti memang harus berakhir seperti ini.
“Ya Adit…aku juga ingin kita bertemu kembali disaat sinar yg begitu hangat ini menyentuhku. Masih ada harapan untuk kembali mengulang, seperti matahari yg kembali bersinar setelah hujan reda. Semoga…”
**************************************************
Kesempatan Kedua
“Oke…kita bertemu lagi.”
Seketika aku merasa bintang-bintang berputar mengelilingi kepalaku. Kerongkonganku yang baru diisi jus jeruk, kering dengan begitu cepatnya. Aku cuma mampu menampilkan senyumku yang kuyakin tidak menarik.
“Iya…tidak kusangka”.
”Oh ya? Aku kira kamu sudah tahu.” Kugigit bibirku melihat senyum yang sama seperti tiga tahun yang lalu. Senyum yang hampir membuatku berucap aku suka padanya.
“Jangan terlalu GR, tidak baik akibatnya.” Aku tahu telah membuatnya sedikit mati kutu. “Asisten nih?” sindirku.
“Kaget?”
“Lumayan…baguslah, setidaknya aku tidak menemukan sang penggoda lagi.” Mukanya seketika memerah, membuatku ingin mengoloknya lagi kalau saja Mr evans tidak nongol.
“Terpesona” Bisik Nela mengagetkanku yang tanpa sadar mengamati Ronan yang sibuk menjawab pertanyaan teman-teman tentang tugas yg akan dikumpul minggu depan.
“Tidak.” Kuberesi bukuku begitu Mr Evans menutup kuliahnya.
“Lalu kenapa pandanganmu tidak pernah lepas darinya?”
“Kaget” Kulirik Nela yang menatapku tak percaya. Iya juga sih mana ada yg mau percaya kalau sikapku tadi karena kaget. “Iya bener…” Kuacungin dua jariku tanda swear, habis pandangan Nela seperti mau menjatuhiku hukuman penjara seumur hidup.
“Lucu sekali…”
“Memang. lucu sekali. Aku pikir aku tidak akan pernah ketemu dia lagi, tapi ternyata Tuhan terlalu baik padaku.” Nela meyambar tanganku, menatapku tajam.
“Dhea…apa orang itu…” Kumengangguk “Ronan?”
“Memang ada yang lain?”
Kudengar helaan napas Nela “Apa…cerita yg sama akan dimulai. Dia sampai hari ini masih pacaran dengan Tita.” Aku tak menyahut, kupandang pintu senat yang terbuka, kutersenyum melihat Riel yang berlari kecil menghampiriku.
“Tidak sama…” Ucapku dengan menatap Nela “Ada Riel ”
“Hei sudah selesai?” Kutersenyum mengangguk, ada gurat kecapean di wajah Riel.
“Capek ya”
“Sedikit, yuk balek…” Kubiarkan Riel menggandengku “Duluan ya, Nel…” Kutatap Nela yg menggiyakan dengan setengah hati. Aku tahu dia masih ingin membicarakan soal Ronan, tapi saat ini yang aku inginkan hanyalah menghapus tentangnya. Ada seorang Riel yang begitu baek di sampingku, menggandengku lembut, membuatku percaya dia tak pantas disakiti.
***
Apalagi ini. Batinku ketika Ronan menghentikan montornya tepat didepanku. ”Hai Dhea…” Kutersenyum mengangguk “Masih sama seperti dulu, menunggu bus.”
“Dan…apa kamu mau mengantarku?” Jika bisa, aku ingin menarik ucapanku barusan. Entah kenapa aku sendiri tidak tahu kenapa aku bisa seberani ini, mungkin karena aku sedang sedikit kesal. Riel tanpa dosa bilang tidak bisa balik bareng setelah hampir dua jam aku sendirian menunggunya rapat.
“Akan aku pikirkan dulu.” Seharusnya aku sudah bisa menebak tanggapannya akan seperti itu.
“Oke…tapi waktumu sedikit sekali. Busnya sudah datang. Aku tidak mau menunggu 15 menit lagi.”
“Bagaimana kalau kamu biarkan busnya lewat dan beri aku 15 menit untuk berpikir sebelum busnya datang lagi ?”
Kutersenyum. Meski sudah tiga tahun tidak ketemu, cowok ini tidak berubah, tetap angkuh dan mau menang sendiri. Selain itu dia paling senang bermain seperti ini. “Sorry aku tidak punya tenaga untuk 15 menit. Lain kali saja kita bahas.” Segera kucegat busnya. Kulambaikan tanganku ketika busnya bergerak, dia tidak tahu aku bukan Dhea yg dulu.
***
“Gila! tugas apaan nih!! apa tidak ada yg lebih banyak dari ini?!” teriak Nela hampir histeris. Dijatuhkannya buku-buku yang dipinjamnya di perpus ke meja, lalu mengambil duduk di sebelahku. ”Kok kamu bisa santai ?”
Kumendongak. Menghentikan sebentar keasikanku menyalin catatan “Trus? Apa harus bunuh diri?”
“Ya tidak sedramatis itu.” Sungut Nela. Kubalik ke catatanku. Memang ini bulan-bulan stres dimana sang dosen lagi suka memberi tugas. “Hei..kemaren aku lihat kamu asyik ngobrol sama Ronan”
“Trus kenapa? kamu jadi bisulan?” sahutku tanpa mengalihkan perhatianku, maklum nyalin hampir 50 lembar.
“Bukan seperti itu…” Kulirik Nela yang jadi resah “Sebaiknya jauhi dia, kasihan Riel.”
“Bisa saja aku menjauhinya, tapi tetap saja tidak ada gunanya. Dia asdos kita.”
“Iya sih…duh, kok bisa begitu ya…”
“Takdir kali.” sahutku asal sehingga mampu membuat muka Nela kayak lampu lalu lintas.
“Kamu menikmatinya kan…ngaku!”
Kututup bukuku, semangatku tuk menyelesaikan catatanku hari ini jadi menguap. “Memang, dan itu salah?” aku sedikit menyesal dengan ucapanku. Muka Nela makin keliatan marah.
“Ya! itu salah. Kamu harus bertindak, kasihan Riel.”
Kukatupkan bibirku. Cukup sudah aku meladeninya. “Oke…kasihan Riel, demi Riel. Apa tidak ada kata-kata yang sedikit menghiburku, tidak menyudutkanku seperti itu!!” Kumasukkan bukuku ke tas dan beranjak keluar.
“Hei…pelajaran mau dimulai”
“Bodo’!” Kubanting pintu klas. Tidak peduli beribu pasang mata melihatku keheranan dan tak sedikit yang melotot karena merasa terganggu. Aku tidak habis fikir harus menghadapi protes berkepanjangan Nela sejak bertemu Ronan. Aku tidak pernah meminta bertemu dengannya, apalagi harus satu falkutas dan satu jurusan, aku pun tidak pernah bermimpi Ronan menjadi asisten tetapku untuk semester ini.
***
“Dhea kamu tinggal dulu, pekerjaanmu masih ada yg perlu dibenahi.” Aku tidak jadi memasukkan bukuku, tak kuhiraukan tatapan sinis Nela.
“Nah, apa yg perlu kubenahi?” Tanyaku ketika hanya tinggal aku dan Ronan. Bukannya menjawab, malah tersenyum manis menghampiriku dan duduk di depanku.
”Tidak ada yg salah…cuma aku sudah memikirkan untuk mengantarmu hari ini.”
“Ya?” setengahnya aku tidak tahu maksud cowok cool ini.
“Itu…soal aku mau atau tidak mengantarmu waktu itu…”
“So…” aku tidak tahu kenapa jantungku menjadi berdetak lebih cepat dari biasanya.
“Aku antar kamu hari ini.”
Kutersenyum. Aku tidak tahu harus senang atau malah sedih. Kubangkit dari dudukku. ”Waktu itu…aku sudah memberimu cukup waktu, dan aku bukan orang yang suka menunggu lebih dari yang direncanakan” Kutersenyum puas. Belum pernah kumelihat wajahnya sejelek itu, dan aku yakin aku yang pertama menolak permintaannya.
“Jadi..kamu menolakku?”
“Sorry…tapi memang seperti itulah…dan satu hal yg perlu kamu tahu, aku waktu itu cuma bercanda. Aku tidak menyangka kamu akan memikirkannya. Aku jadi ingin tahu bagaimana caranya kamu memikirkan hal ini sementara disampingmu ada Tita. Luar biasa!” kutinggalkan ruangan itu dengan perasaan puas. Tapi aku tidak menyangka Ronan mengejarku dan menghadangku ”Apa lagi?”
“Aku tidak akan kalah”
“Untuk apa? Kita tidak sedang kampanye kan?” Ronan melotot. Kutersenyum “Aku duluan “
***
Sudah tidak dapat kuhitung berapa kali kutengok arlojiku. Hampir satu jam aku menunggu di depan ruang senat ini kayak orang bego. Sudah begitu perutku tidak mau diajak kompromi lagi. Sudah meminta haknya.
“Hai…nunggu siapa? Aku ya? gak heran.” Aku tidak mengerti kenapa disaat aku sangat kesal harus ditambah bertemu Ronan, memang tidak ada makhluk lainnya yg sedikitnya bisa diajak bercanda?
“GR”
“Memang ada yg lain, mau bahas soal kemaren lagi? Aku sudah selesai juga nih…mo kuantar balek?”
Kumencibir ”Gak minat” Sekali lagi kubuat mukanya yg cakep jadi jelek banget.
“Dhea!!!! sorry…lama banget ya nunggunya?” Terpaksa kutersenyum melihat muka ketakutan Riel yang menghambur begitu saja begitu pintu senat terbuka, gak peduli beberapa temannya jadi terjatuh. Bahkan hampir nubruk Ronan.
“Baru satu jam”
“Maaf…habis ini rapat akbar tuk buat agenda baru…” Suara Riel penuh mohon, jadi tidak tega mendengarnya. “Yuk balek”
“Tunggu dulu…” kutarik tangannya “Kenalin temenku, dia tadi sudah nemenin aku.”
Riel tersenyum canggung mengulurkan tangannya ”Hei…gue Riel”
“Ronan” Ronan menjabat tangan Riel. Kutersenyum. Keliatan banget Ronan ogah-ogahan
“Thanks ya nemenin Dhea.”
“Tidak masalah…bahkan kalau diminta mengantar aku tidak keberatan. Karena…dia cukup maniz…” Kumelotot, cowok ini bener-bener cari masalah.
”Ayo Dhea..” tanganku ditarik Riel, dan dia menggenggam tanganku begitu erat seakan takut kehilanganku. Kulihat mukanya tampak tegang, Ronan memang suka cari gara-gara. Tapi aku tak pernah bermimpi aku yg jadi korbannya.
“Menyedihkan!!!maunya apa sih tuh cowok!” komentar Nela begitu kuselesai cerita. Marahnya dia memang tidak pernah lama .”Kamu harus jauh-jauh”
“Nela cayang…berapa kali kubilang, aku tidak bisa?”
Nela mencibir “Kamu tidak niat sih. Riel kemarin curhat ke aku. Dia bilang akhir-akhir ini kamu aneh., seakan sudah tidak peduli sama dia lagi.”
“Perasaan dia saja.”
“Tapi mungkin benar…Ronan terlalu sempurna di matamu. Itu masalahnya.”
Kumenghelai napasku…”Kapan sih kamu berpihak padaku.”
“Sampai Ronan tidak ada di muka bumi ini.”
“Bunuh aja dia.” Ketusku
“Andai bisa.”
“Tergantung niat.”
“Jangan membalikkan pembicaraan…” ucap Nela galak.
“Dan jangan mengajariku apa yg harus kulakukan.”
“Kamu tidak tahu apa yang…”
Brak! aku menggebrak meja di depanku. Aku sudah gak tahan denger lebih banyak lagi “Aku bukan anak TK, jelas?” aku tidak peduli Nela kelihatan sangat kaget. Aku sudah setengah mati kesal Nela yang terus memaksaku untuk ini dan itu, seakan aku tidak pernah ada benarnya. Dan kalau Mr. Dani tidak segera masuk, mungkin akan berlanjut konfrontasinya. Kuangkut tasku dan pindah di belakang sendiri.
Kuakui akhir-akhir ini aku sering bersama Ronan, aku sendiri heran kenapa bisa sering bertemu dengannya. Ditambah Riel akhir-akhir ini sering banyak alasan kalau aku ingin ketemuan. Alasannya dari A-Z keluar semua, yang intinya tidak mau. Aku malah yg merasa dia yg semakin menjahuiku. Aku tidak tahu apa aku masih punya rasa percaya lagi padanya. Dan kembali ke Ronan…dia punya segudang cara tuk memaksaku mengabulkan permohonannya. Jadi bukan salahku, keadaan yang membentuk jadi seperti ini.
***
Aku tidak heran melihat Ronan nongol di rumahku, tapi melihatnya dengan muka babak belur baru sekali ini. Benar-benar supraise.
“Hai…” sapanya berusaha tersenyum, tapi malah lebih mirip meringis kesakitan.
”Berantakan ya…”
“Kenapa kamu? Ciuman sama kuda?”
“Bukan kuda lagi…buaya.” Ku melotot “Boleh aku masuk?” Seakan disadarkan aku memberinya jalan, dia langusung masuk dan duduk.
“Sebentar ya…” aku masuk ke dalam mengambil P3K dan baskom berisi air panas. Segera ku balik ke tempatnya.
“Biar aku obati sendiri.” Cegahnya ketika aku mau membersihkan lukanya.
“Jangan konyol. Kamu bisa melihat lukamu tanpa kaca?” Kutersenyum dia menyerah membiarkanku mengobati lukanya.” Kamu kerja part time memberi makan buaya ya…sampai kacau begini. Kalo iya bego bener.” Ronan tidak menjawab, memilih diam. Dan itu makin membuatku penasaran. “Kenapa tidak sekalian saja kamu jadi baby sisternya, mungkin bisa jadi temen baek.”
“Tidak mungkin…”
“Oh ya… kenapa?
“Karena dia mencium Tita.” Seketika kuhentikan kesibukanku memberi perban di keningnya. Kutatap matanya yang langsung melengos
“Hadap sini… kalau kamu ingin aku mengobati lukamu.” Dia kembali meghadapiku. “Jadi dia selingkuh…”
“Aku sudah lama mengetahuinya…”
“Dan kamu membiarkannya…bagus.”
“Karena dia berjanji akan berubah.”
“Lalu…kenapa sekarang berantem sama selingkuhannya? bukannya lebih baik kamu putusin cewekmu. Habis perkara” Kutempelin tensoplast di pipinya.
“Tidak sesederhana itu…”
“Oh ya…apa karena harga diri cowok? Merasa sangat malu ceweknya selingkuh di depan hidungnya.” Kutipuk lukanya yg sudah kutempel tensoplast. Tidak heran kalau dia langsung menjerit.
“Gila…tega bener sih kamu..”
Kutersenyum. Jika masih bisa menjerit sekeras itu berarti dia tidak sedih-sedih amat. “Aku kira tidak sakit.” Dia melotot kesal, mengelus pipinya yg kutepuk tadi.
“Trus..kenapa kamu kesini? Mau pamer ya?”
“Kapan kamu mau berprasangka baik sama aku?”
“Kapan-kapan” Melihat mukanya aku tahu dia menyesel dengan apa yang diucapkannya barusan.
“Karena kamu temen dekatku.”
Aku menatapnya tidak percaya, kusentuh dahinya, biasa saja. ”Apa pukulan-pukulan di wajahmu membuat otakmu terbalik juga?”
“Terserah mau ngomong apa. Itulah kenyataannya…”
Kutersenyum, kumasukkan kembali obat-obatnya ke kotak. ”Sayang ya…aku tidak terkesan” Dia tersenyum “Kamu itu selera public. Tidak pernah kulihat kamu tanpa cewek. Jangan buat aku tertawa”
“Semuanya hanya teman, kecuali kamu…”
“Oh ya ? Jadi aku beruntung.”
“Bisa dibilang begitu.”
“Tapi aku tidak bangga”
“Tidak perlu…”
Kutersenyum. Mungkin inilah senyumku yg paling manis untuknya “Bagus…”
***
“Kamu dijemput dia kan?”
Kutersenyum ketus “Hari ini? tidak!” bahkan menurut pendapatku dia tidak berangkat dengan muka babak belur seperti itu.
“Oh ya, tumben…”
“Jangan mengolokku seperti itu. Sebaiknya sekarang kamu telepon sahabatmu, hari ini dia tidak bisa menjemputku dengan alasan yang tidak jelas. Tidak peduli aku sudah menunggunya sampai kesemutan.”
“Itu pasti karena dia kecewa sama kamu.”
“Oh ya…aku tidak peduli!” aku benar-benar jengkel. Kuberanjak dari dudukku
“Mau kemana?”
“Bukan urusanmu” ternyata aku belum bisa bernapas lega begitu keluar dari kelas, dengan muka tanpa dosanya Ronan berlari kecil menghampiriku, sebelum aku sempat memikirkan cara untuk menghilang agar hariku tidak bertambah buruk.
“Kok tidak masuk? jamnya Mr Denny kan?”
“Sejak kapan kamu tahu jadwalku.”
“Bukan begitu…aku mengulang mata kuliahnya, jadi masuk ke klasmu.”
“Ya sudah masuk saja.”
”Kamu?”
“Aku males. Mau balik.” Aku kaget tiba-tiba dia meraih tanganku ”Apa lagi?” sekuat mungkin kutahan getaran hebat yg melandaku.
“Kamu kenapa? sakit ya?”
Kumenggeleng. Ada sedikit rasa tersanjung melihat kekawatiran di matanya. “Aku malas. Mau balik. Apa aku perlu 100 kali mengulanginya.”
“Tidak percaya.”
“Sayang sekali kamu harus percaya. Sekarang lepaskan tanganku”
“Kamu pikir aku mau?” Aku benar-benar tidak tahu jalan pikirannya ”Sekali-sekali bolos, boleh juga ya…” Belum sempet menolak, dia sudah menarik tanganku menuju parkiran.
“Mau kemana?”
“Mengantar kamu.”
“Aku tidak langsung balek.”
“Ya sudah, aku antar.”
“Sampai sore.”
“No problem”
”Tapi…”
”Sudahlah…aku lapar. Kita ke warung dulu ya…” potong Ronan tanpa mau mendengarkan penjelasanku. Bahkan memakaikan helm ke kepalaku. ”Ayo naik”
“Aku naik bus saja…”
Badanku lemas seketika melihat gelengan kepalanya. “Terserah deh…, sana naik bus. Tapi setelah kamu mencopot helmmu, aku langsung turun dari montor dan menggendongmu, lalu mendudukanmu di sini.” Ditunjukkanya boncengannya. ”Gimana? sekali-sekali bikin tontonan gratis.”
Kumenatapnya tidak percaya “Kamu tidak akan melakukannya.” aku tidak menyangka Ronan akan berbuat sejauh itu. Apa sangat penting aku harus ikut dengannya.
“Boleh dicoba” kumelotot, sementara kulihat semakin banyak orang berlalu lalang . Jam segini memang jam sibuk perkuliahan. Dan aku tahu betul dia suka tantangan. ”Gimana?”
“Ok…kamu menang!” sewotku “Puas?!” aku naik kemontornya.
Dia tersenyum manis. “Puas sekali”
“Hanya kali ini kamu menang” sungutku kesal. Jelas dia yang mambuat hariku akhir-akhir ini makin tidak karuan, tapi dia sengaja pura-pura tidak tahu.
“Kita lihat saja nanti.”
Aku jadi tambah bete melihat keyakinannnya. Kubiarkan dia ngomong sendiri, males nanggepinnya, boro-boro nanggepin dengerin saja males. Meski begitu aku penasaran juga nih cowok mau makan dimana kok gak sampai-sampai.
“Aku mau balik.” Ketusku ketika Ronan memakir kendaraannya di mall. “Bukannya menemani tukang bohong seperti kamu. Ngapain kesini, katanya makan”
“Iya makan…sekalian refreshing. Kamu memerlukannya.”
“Sok tahu” Kulepas helmku.
“Memang tahu. Keliatan sih…”
“Aku tidak butuh refreshing kalau saja kamu tidak mengikutiku terus.”
“Jadi karena aku?”
”Jelas!”
“Oke…setidaknya aku sudah menebusnya dengan mengajakmu kesini. Ngobatin stress kamu.”
“Tapi…jalan-jalan sama kamu? Yg bener saja! Bukannya ngurangi malah nambah.”
“Oh ya…” Aku kesal sekali mendengar nadanya yg menggoda itu.
“Ya! Jalan di belakangku dengan jarak 10 langkah.”
Ronan menatapku gak percaya. “Jangan bercanda”
“Siapa bilang aku bercanda. Cepat mundur atau aku akan teriak kamu mencopet uangku.”
“Kamu…”
“Kenapa? kamu kira hanya kamu yg bisa mengancam? Aku juga bisa senekat kamu.”
“Oke…oke…” Dia mengangkat kedua tangannnya, lalu berjalan mundur 10 langkah.
Kulanjutkan langkahku yg sempat tertunda. Sengaja aku masuk keluar toko tanpa menoleh kebelakang. Bahkan aku pun sengaja naik turun escalator.
“Dhe…laper nih…” aku yang asik melihat-lihat boneka pura-pura tidak dengar. “Dhea…”
“Mundur sepuluh langkah” Ucapku tanpa menatapnya.
“Tapi Dhe, laper nih…”
“Kalau begitu makan sana”
“Jangan bercanda! aku tidak bisa meninggalkanmu sendirian”
“Suruh siapa ngajak kesini.”
“Ya Tuhan Dhea! Sekali saja kamu lembut sedikit sama aku.”
Aku meliriknya kesal, hampir aku mengoloknya kalau tidak melihat mukanya yg pucat .Mungkin aku agak keterlaluan. Dia punya masalah dengan perutnya. ”Mundur 10 langkah”
“Dhea…”
“Aku bilang mundur…atau aku tidak beranjak dari sini.”
Kutersenyum dia mengalah. Segera aku keluar menuju kelantai atas tempat aneka masakan dijual. Sekalipun aku tidak menoleh ke arahnya, aku tahu dia pasti tersenyum lega.
Aku hampir masuk ketika tak sengaja kumelihat yang tidak ingin kulihat seumur hidupku. Riel memegang tangan seorang gadis dan menciumnya lembut, bahkan mereka saling menyuapi, seakan dunia milik berdua. Lama kupandangi mereka, badanku lemas seketika…aku kenal gadis itu…dia Tita. Aku tidak percaya. Hampir aku tidak mau masuk, tapi…sisi hatiku yg lain seakan tidak mau menerima begitu saja. Pertengkaran hebat terjadi pada diriku, tapi akhirnya aku memilih masuk, menghampiri mereka yg asik makan es krim satu untuk berdua.
“Hai…” Sapaku setenang mungkin dan cukup berhasil membuat sendok yg berisi es krim di tangan Riel yg mau disuapin ke mulut Tita jadi jatuh begitu saja.
”Oh…eh..hai..Dhe…”
“Asik ya…” kupandang lekat-lekat wajahnya, dan baru kusadari mukanya kayak habis dipukuli orang.” Tiba-tiba aku merasa ada yg aneh…selintas aku teringat sesuatu, tapi itu tidak mungkin…”Kenapa mukamu?”
“Jatuh.”
Kutersenyum. Kulirik Tita ”Siapadia? pacar baru ya?”
“Eeee…itu…”
“Hai kenalin aku Dhea, pacarnya Riel.” Kutersenyum puas muka Tita tampak kaget sekali
“Lho kamu tidak tahu ya? Kasihan sekali…”
“Riel…apa maksud semua ini?” ucap Tita terbata.
“Tidak perlu.” sahutku melihat kebingungan di wajah baby face Riel “Biar kuperjelas.
“Kuambil gelas Riel, kusiramkan ke kepalanya sebelum dia menyadarinya. Kutumpahkan juga es krim dan spagethi yg belum sempat disentuhnya ke kepalanya. ”Kita putus. Selamat bersenang-senang” Aku berbalik pergi tanpa tergesa-gesa. Ku tersenyum pada Ronan yg berdiri di depan pintu. Menatapku tajam. ”Sepuluh langkah Ron…” Tergesa aku keluar dari mall begitu Ronan mundur, menuju tempat perhentian bus. Kakiku sudah naik satu ke dalam bus ketika ada tangan kokoh mengangkat tubuhku.
“Maaf Pak, tidak jadi…” Aku cuma bisa melihat bus itu berlalu dengan hampir seluruh penumpangnya melihatku termasuk kernetnya yg geleng-geleng kepala .
Kumelepaskan tangannya yg masih memelukku ”Mau apa kamu, hah!!” tapi dia punya tenaga 10 kali lipat dariku. Dia tidak mau melepas pelukannya, Malah makin erat. “Gila! lepasin! aku benci kamu! kamu kan yang berkelahi dengan Riel…kenapa kamu tidak memberitahuku…kamu pikir ini lucu!!!” Dia hanya terdiam tapi makin erat memelukku meski sudah kupukuli tubuhnya dengan sekuat tenagaku. ”Lepasin aku!!!!”
“Tidak…” Sahutnya tenang. Dia benar-benar tak tahu malu. Apa dia tidak sadar posisi kami di pinggir jalan. “Tidak akan kulepas sampai kamu menangis”
“Aku tidak perlu menangis”
“Kamu perlu “ Kutatap matanya penuh mohon ”Aku memang selalu membuatmu kesal, tapi aku bukan pembohong” Kumerasa mataku mulai berkaca-kaca, kenapa? kenapa aku harus mau menangis dihadapannya? tapi belum sempat aku berpikir, air mataku sudah mengalir dan semakin lama semakin deras.
***
“Apa?!! tidak mungkin!” Aku tidak heran Nela sehisteris itu tahu Riel selingkuh.
Kulanjutkan membaca pengumuman akademik. “Aku tidak salah dengar kan?”
”Telingamu normal kan?” Dia terdiam.
“Dhea please…aku ingin ngomong sama kamu.” Tiba-tiba Riel nongol dengan wajah penuh peluh dan bekas luka akibat berantem dengan Ronan. Sedikitnya aku sangat berterima kasih pada Ronan. ”Please…aku mau jelasin yg kemarin”
Kutersenyum “Oh ya? coba kudengarkan”
“Jangan disini”
“Kenapa? Malu?”
“Bukan begitu Dhe…”
“Ya sudah cepet ngomong. Waktumu 5 menit. ” Ucapku tidak sabaran”
“Tapi Dhe…ada Nela”
“Satu menit “ Kunikmati muka bingungnya.
“Dhea…”
“Dua menit”
“Oke-oke!!” Menyerah juga dia. “Kemarin aku ingin mutusin Kristin. Aku tidak tahu aku dijadiin selingkuhannya. Ternyata dia pacar Ronan.”
“Mutusin Tita? kapan jadian?”
Mukanya jadi makin tidak karuan “Eh..enggak..maksudku..aku mau nolak dia. Dia yg ngejar-ngejar aku. Oke..kuakui aku terhanyut. Tapi itu semua sudah berakhir, aku sadar, sungguh!aku sudah tidak ada apa-apa dengan Tita. Kamu percaya kan?”
“Percaya? jelas! Tita pasti juga tidak mau begitu tahu dia dijadiin selingkuhan. Tahu tidak…kalian sama – sama brengsek!!”
“Dhea please…maafin aku…”
“Sudah kumaafin, tapi keputusanku tidak berubah. Kita putus.”
“Aku tidak mau Dhe…”
Kutersenyum “Maafin aku” kutarik tangan Nela. Aku tidak ingin Riel sadar aku masih menyayanginya. Jika terus mendengar rengekannya, mungkin aku akan balik lagi dengannya. Dan itu tidak kuinginkan.
“Maafin aku ya…” Kutersenyum mengangguk. Lega rasanya persahabatanku dengan Nela tidak ikut berakhir. Karena mencari orang seperhatian Nela juga sangat sulit. Meski suka ikut campur, tapi aku tahu itu karena dia sayang aku.
“Tuh Andri…”
“Kamu bareng Ronan ?” Kumenggeleng ”Kenapa?”
“Sederhana saja, aku tidak tahu jadwal dia. Sudahlah…aku tidak apa-apa kok.”
“Benar?” Kumengangguk mantap “Kamu harus janji.”
“Aku janji.” Nela tersenyum lega dan berlari menghampiri Andri. Kutersenyum melambaikan tanganku sampai mereka tak terlihat di mataku, lalu kulangkahkan kakiku ringan menuju halte bus.
“Halo…” Aku kaget tiba-tiba Ronan sudah disampingku diatas montornya “Kalau jalan jangan pake ngelamun, disambar orang lho…kalau yg nyambar aku sih…gak pa-pa…”
Kutersenyum. ”Kamu itu…terlalu pede ya…”
Dia nyengir lalu ngulurin helmnya ”Kamu punya waktu 24 jam buat mutusin mau aku antar atau tidak. Busnya lagi mogok soalnya” Kumenatapnya gak percaya ”Aku tunggu.” Ucapnya dengan senyum yg membuatku mati kutu.
“Meski satu hari?”
“Satu minggu juga gak masalah.”
“Jangan terlalu hiperbolis.”
“Aku tidak pernah seperti itu. Kamu tahu itu.” Kumelotot kesal, tapi kupakai juga helmnya. Dia tidak tahu aku sudah kalah sejak tiga tahun yg lalu… ”Jangan GR aku cuma gak tega melihatmu menunggu seperti ini.”
Ronan tersenyum “Kamu tidak pernah manis ya..”
Kubalas senyumnya. ”Keberatan?”
“Tidak…karena kamu makin cantik kalo ketus begitu…”
“Thanks…”
******************************* Read More
