Sunday, February 8, 2009

Hobbyku Cintaku

Entah mengapa bagiku hari ini sangat panas. Di dalam bus tidak dapat tempat duduk, turun harus jalan kurang lebih satu kilometer lagi. Naik becak males, tukang becaknya kebanyakan sok jual mahal. Haus yg semakin menyerang membuatku makin mempercepat langkahku. Huff…matahari kejam nian dikau, atau manusia yang lebih kejam. Karena perbuatan makhluk yang disebut manusia itu, yang telah merusak ozon baik disengaja maupun tidak, mengakibatkan sinar ultraviolet makin bebas menembus atmosfer dan menyampaikan sinarnya dengan rasa bahagia yang berlebihan.
Huh..jadi makin panas saja!
“Maksud kamu apa sih,Vir!” Aku menoleh kaget. Ternyata Robby.
Kulempar tasku ke kursi. Kulepas sepatuku dan menghadapinya dengan berkacak pinggang seperti yg dia lakukan pula. “Ingin tahu maksudku. Makan, minum, dan tidur!”
“Maksudku bukan itu!!”serunya makin keras.
“Terserah, itu urusanmu. Seharusnya kamu menyambut orang yang baru datang dengan ramah, bukan dengan muka jelek dan berkacak pinggang seperti itu.”
Kumencoba menyingkirkan badannya yang menghalangi pintu masuk.
”Minggir Rob!”
“Dengan satu syarat…”
“Iya aku tahu. Aku harus segera menemuimu lagi untuk membicarakan sesuatu hal yang ada sangkutannya dengan sambutanmu yg tidak ramah tadi.”
“Bagus kalau kamu mengerti.” Sahutnya puas dengan duduk di kursi dekat pintu .
Dengan perasaan dongkol aku masuk. Baru saja aku senang mendapatkan cowok itu di rumahku, tapi sekarang? Huh! entah kemana hilangnya rasa rinduku karena tidak bertemu hampir satu bulan lamanya. Dasar cowok tidak tahu perasaan cewek. Telmi, kejam, tidak berperasaan! Jadi heran kenapa tadi aku masih sedikit ramah, seharusnya tidak usah.
“Dia sungguh-sungguh mencintaimu.” Kubolak-balik halaman majalahku. Aku masih jengkel dengan sikap dia yang norak tadi. ”Kamu telah mempermainkannya.”
Kali ini kulempar majalah itu ke meja. Berhasil juga cowok Leo itu memaksaku untuk menanggapi omongannya. ”Aku tidak pernah mempermainkannya. Dia sendiri yang terlalu GR!”
“Itu karena kamu selalu saja kirim salam untuk dia.”
“Memangnya kalau cewek kirim salam kepada cowok tandanya cewek itu suka, begitu ? iih…kolot banget. Aku titip salam karena aku pengen berteman, tidak lebih dan kamu tahu itu. Sudah terlalu sering kita membicarakannya. Apa tidak ada topik lain yang lebih membosankan dari ini.”
“Kamu bisa tidak sih menghentikan hobimu yang sukanya kirim salam buat cowok-cowok yang kamu anggap menarik?” tanyanya tidak menggubris usahaku untuk mengaihkan pembicaraan. Memang enak dikacangi!
“Sorry aku tidak bisa mengabulkannya. Kenapa sih kamu sesewot ini, kemarin-kemarin tidak.”
“Karena dia sahabatku Vir…”
“Dan sahabatku juga tentunya, lagian aku nitip salamnya lewat kamu. Kalau kamu memang keberatan, kamu tidak usah repot-repot menyampaikannya. Aku juga tidak pernah memaksa.”
“Karena aku pikir dia tidak akan jatuh cinta padamu.”.
“Nah selesai! berarti salah kamu sendiri yang terlalu PeDe menyampaikan salamku tanpa berpikir akibatnya.”
Kuraih majalahku lagi. Sudah sering aku ribut dengan dia hanya karena soal hobi baruku ini. Aku suka banget kirim salam sama cowok yang menurutku menarik. Tapi salamku bukan bermakna dalam tanda petik Aku hanya ingin berteman dan mungkin bersahabat. Tapi kebanyakan cowok salah tafsir, mereka ke-GR-an dulu. Alasanku ini selalu tidak pernah bisa di terima Robby. Aku tidak menyalahkannya karena selain alasan itu aku juga mempunyai satu alasan lagi yaitu karena aku ingin tahu apa dia cemburu. Sasaranku semuanya adalah teman-teman dia, sahabat dia, saudara dia, bahkan musuhnya pun kena juga. Aku sengaja minta bantuan dia untuk menyampaikan semua salam-salamku itu. Lumayan heran sih mereka semua rata-rata langsung tertarik, bahkan begitu ketemu langsung minta jadian. Ngeri!! Aku lebih heran lagi sama Robby. Kalau keberatan kenapa juga di sampein salamku. Alasannya karena itu sebuah utang. Lucu khan. Dan sekarang, alasan dia ganti. Aku pikir cowok di depanku ini menyembunyikan banyak sesuatu dariku, tapi yang jelas belum ada sangkutannya dengan penyelidikanku tentang perasaan dia, karena kelihatan banget tidak ada respon seperti tanda-tanda kalau dia cemburu. Matanya yang tajam itu kadang memandangku dengan cara yang sangat menarik, membuat hatiku jatuh bangun. Tapi kebanyakan dalam kesehariannya bisa di bilang dia cowok amburadul, tidak jelas dan kasar.
***
“Happy B-day Ron!” Robby menepuk punggung Ronan, sehingga cowok itu perlu membulatkan bola matanya yang bagus.
“Apa tidak ada yang lebih sakit lagi ?” ketusnya “Hai…siapa cewek di sampingmu ini, jangan katakan dia Viri karena tadi dia telpon tidak bisa hadir karena di rumahnya ada acara juga.”
“Ooo…bukan. Dia Airin.” Kusalami Ronan dengan menahan tawa. Bagaimanapun juga ada untungnya dia belum tahu wajahku. Jadi menyamar dikit boleh kan. Sekilas kulirik Robby yang tampak kesal sekali mau mengikuti permainanku.
“Wah roti pertama untuk dia gagal donk…”
“Yah…tak apalah. Aku pikir aku terlalu berharap. Dia sebenarnya sudah punya cowok belum sih?”
Pertanyaan yang sulit buat Robby. Aku beri dia senyuman mengejek. Cowok kece itu hanya menghendikan bahunya, lalu dia pamit mau mencari tempat duduk. Pintar juga dia memilih tempat karena begitu strategis, tidak terganggu kalau ingin ngomongin hal yang agak pribadi, tapi juga bisa memandang seluruh orang yang datang tanpa terganggu.
“Kamu dengar sendiri, dia sangat menyukaimu.”
“Tapi aku tidak menyukainya.”
“Vir…”
“Apa aku harus bilang aku tergila-gila padanya. Itu yg kamu mau ? Aku tidak menyuruhmu menjemputku ke pestanya. Kamu tahu aku sudah menelponnya kalau aku tidak bisa datang.”
“Itu karena aku ingin menunjukkan padamu kalau dia itu terlalu menyukaimu, sampai-sampai ingin memberikan potongan kue pertamanya untukmu.”
“Lalu kenapa tidak kamu bongkar saja identitasku di depan dia tadi?!”
Emosiku mulai meledak. Dalam hati aku sangat senang untuk sesaat tadi tidak ada pertengkaran diantara kami. Tapi tampaknya aku ketemu dia hanya untuk bertengkar dan bertengkar.
“Karena aku tidak ingin dia kaget kalau kamu datang bersamaku, aku bilang akan datang bersama cewekku.”
Sekian detik aku tertegun tapi kutepiskan anganku tentang cowok itu.
”Oooo…begitu? Jadi karena cewek kamu itu tidak bisa, kamu terpaksa menjemputku. Bagus! aku dijadikan penggantinya atau cadangan?!” ketusku. Aku benar-benar merasa tubuhku lumpuh seketika.
“Bukan itu maksudku…”
“So what?! Bilang ke cewekmu aku menyesal mau menjadi penggantinya.”
Kuberanjak dari dudukku.
“Mau kemana ?” Robby mencekal tanganku erat.
“Pulang! aku muak sama kamu!” Kutepiskan tangannya dan bergegas keluar.
“OK aku juga pulang.” Ucapnya setelah berhasil mengejarku “Ayo ke parkiran.” Ajaknya karena aku menghentikan langkahku.
“Aku tunggu disini.”
“Baik, tapi jangan pergi dari situ.” Aku melengos dan begitu dia menghilang aku segera menyetop taksi. Aku tidak ingin semobil sama cowok nyebelin kayak dia. Aku tidak ingin bertengkar lagi dengannya. Dia telah menyakiti hatiku dengan mengatakan kalau dia sudah ada yang punya. Lengkap sudah penderitaan ini.
Tapi tampaknya derita akan dimulai lagi pagi harinya. Aku belum bangun ketika dia sudah nongol di rumah, wangi lagi. Wajahnya pun fresh. Aku curiga dia belum mandi, pasti tadi cuma gosokan pake minyak wangi saja. Aku sengaja membiarkannya untuk menungguku lebih dari dua jam. Siapa suruh jemput sekolah. Aku yakin dia pasti ingin melanjutkan pertengkaran semalam.
Benar dugaanku, belum ada seratus meter meninggalkan rumah dia sudah menanyakan kenapa aku nekat kabur semalam.
“Kamu marah ya?”
“Belagu! jelas aku marah. Bahkan berharap untuk selamanya tidak melihatmu lagi.” cerocosku membuat wajahnya jadi sedikit tegang.
“Ok-ok, maaf. Tapi Vir…aku jadi tidak mengerti jalan pikiranmu. Sesama kaum cowok aku sedikit tidak rela juga.”
“Apa kamu lupa aku sudah menjelaskan semuanya.”
“Huff…sebenarnya kamu maunya apa sih? maksudku kamu tahu khan?”
Aku mendelik ternyata dia masih juga belum mau menerima alasanku yang sudah ribuan kali aku teriakkan ke telinganya. Ternyata dia pantang menyerah juga.
“Aku mau punya teman yang banyak yang menyayangiku dan cowok yang berkepribadian yang menarik. Maka dari itu aku mengadakan seleksi.”
“Menarik seperti apa misalnya?” aku tersenyum menangkap ketertarikan di suara Robby.
“Dia punya pribadi yang cuek, cool, sedikit angkuh, tidak berperasaan dan kadang teganya minta ampun, tapi dia mandiri, smart, baik hati dan disukai banyak teman.”
“Hah?! kamu suka cowok yang seperti itu? yang benar saja. Tidak ada cewek yang suka cowok sepert itu.”
“Ada. Contohnya aku.” sahutku kalem
“Jadi maksud dari hobimu selama ini hanya untuk mencari cowok tipemu itu?”
“Bisa jadi…”
Robby menggelengkan kepalanya “ Aduh Vir…mana ada cowok seperti itu.” Robby menghentikan Balenonya di depan sekolah. Aku tersenyum dan membuka pintu mobil.
“Ada tuh, dan aku sudah lama menemukannya.”
“Oh ya?”
“Iya. Kamu tahu tidak, saking cueknya, dia sampai tidak sadar kalau aku sangat menyukainya meskipun berada tepat di hadapannya. Benar-benar cowok yang tidak bisa dibilang care, peka terhadap lingkungan di sekitarnya.”
“Trus ngomong-ngomong siapa cowok itu?”
“Ha ha ha…rahasia .” Kutatap wajahnya yang seringkali mampir di mimpiku itu.” Tapi aku kasih tahu satu hal. Kamu tahu tidak kalau kamu itu cowok tercuek, terangkuh, terjahat yang pernah aku kenal. Kamu kadang tidak peduli sama perasaan orang, tidak pernah bisa sedikit saja lembut…”
Aku sudah tidak berani menatapnya lagi tapi itulah yang seharusnya aku lakukan sejak dulu. Aku tahu dia tidak menyukai cewek yang menyatakan cintanya lebih dulu. Dia memang penganut ajaran kuno itu. Tapi aku sendiri sudah tidak tahan untuk meneruskan permainanku sendiri. Aku juga benci melakukan ini. Bukan prinsip hidupku untuk nembak duluan. Tapi cowok didepanku ini cowok yang terlalu pasif. Dia terlalu mempertimbangkan banyak hal dan terlalu penakut untuk menerima sebuah penolakan yang mungkin saja akan terjadi. Satu hal lagi yang membuatku melakukan ini, dia selalu melihat apa yang terlihat, tidak pernah sedikitpun mencoba mencari tahu apa yang ada di balik itu semua dengan sedikit keberaniannya.
Aku merasa dia menatapku tanpa kedip di balik kaca mata hitamnya. Aku mencoba mengumpulkan keberanianku sekali lagi
“Ok, sampai jumpa.” bergegas aku keluar dari mobilnya, tapi tanpa perasaan dia menarik tanganku. Membuatku terduduk lagi. Ternyata dalam hal seperti ini dia cekatan. Mungkin sudah belajar dari kaburku kemarin malam.
“Tahu tidak, aku paling gondokan kalau kamu nitip salam untuk cowok-cowok yang kamu sukai. Meski kamu bilang sebagai salam persahabatan tapi aku tetap saja merasa ketakutan kamu akan benar-benar menyukai salah satu di antara mereka dan kamu menerima cintanya. Tiap hari kamu membuatku hampir gila karena cemburu.”
Aku menatapnya tidak percaya. Robby cemburu. Berarti selama ini usahaku berhasil. Hebat.
“Dan perlu kamu tahu sejak awal aku memang sudah berniat untuk menjemputmu ke pesta Ronan kemarin malam untuk mengenalkan padanya siapa cewekku.”
Lama kami terdiam. Aku sendiri masih tidak mempercayai ini semua. Aku pikir dia akan memakiku atau mengolokku bahkan mungkin meninggalkanku begitu saja dan tidak mau menjalin hubungan lagi meskipun hanya sebagai teman. Aku berpikir jelek seperti ini karena pernah kejadian dia memutuskan persahabatan begitu saja hanya karena tumbuh rasa cinta di hati sahabatnya. Kasusnya hampir sama denganku tapi mungkin aku agak beruntung.
Tiba-tiba Robby meraih tanganku. Dalam beberapa detik saja tanganku sudah berkeringat. Robby tersenyum dan makin mempererat genggamannya. Dia pikir ini lucu!
“Ok…nanti sepulang sekolah kita makan ke tempat manapun yang kamu suka.”
“Tumben.”
“Lho…untuk merayakan hari jadi kita, boleh kan?.”
“Hari jadi kita? kapan? ”
“Hari ini. Gimana sih Vir.”
“Oooo….hari ini kita jadian tho…Ya…sudahlah, daripada kamu nangis.” Aku tertawa melihat mukanya yang keki berat. Bisa juga aku buat dia mati kutu. “Oke-oke serius nih. Aku kasih tahu sesuatu.”
“Apa?” Geli juga dia langsung pasang muka serius. Tapi sedetik kemudian aku perlu extra kaget melihat jarum jam yang ditunjukkan arloji milik Robby.
”Vir…”
“Aku telat nihhhh!!” Secepat kilat aku keluar dari mobil dan membanting pintunya. Aku tidak peduli wajah lalu lintas menghiasi muka Robby. Yang aku pikirkan sekarang bahwa aku harus mengerjakan soal-soal hukuman karena telat masuk. Dan makin merinding begitu tahu aku harus berhadapan dengan Fisika. Pulang-pulang perlu memberi Robby sedikit kuliah siang nih. Hufff…..sampai kapan kami berhenti bertengkar ya…atau karena itulah yang mendekatkan kita? tak tahulahhhh.
***

No comments:

Post a Comment