Sunday, February 8, 2009

Kesempatan Kedua

“Oke…kita bertemu lagi.”

Seketika aku merasa bintang-bintang berputar mengelilingi kepalaku. Kerongkonganku yang baru diisi jus jeruk, kering dengan begitu cepatnya. Aku cuma mampu menampilkan senyumku yang kuyakin tidak menarik.

“Iya…tidak kusangka”.

”Oh ya? Aku kira kamu sudah tahu.” Kugigit bibirku melihat senyum yang sama seperti tiga tahun yang lalu. Senyum yang hampir membuatku berucap aku suka padanya.

“Jangan terlalu GR, tidak baik akibatnya.” Aku tahu telah membuatnya sedikit mati kutu. “Asisten nih?” sindirku.

“Kaget?”

“Lumayan…baguslah, setidaknya aku tidak menemukan sang penggoda lagi.” Mukanya seketika memerah, membuatku ingin mengoloknya lagi kalau saja Mr evans tidak nongol.

“Terpesona” Bisik Nela mengagetkanku yang tanpa sadar mengamati Ronan yang sibuk menjawab pertanyaan teman-teman tentang tugas yg akan dikumpul minggu depan.

“Tidak.” Kuberesi bukuku begitu Mr Evans menutup kuliahnya.

“Lalu kenapa pandanganmu tidak pernah lepas darinya?”

“Kaget” Kulirik Nela yang menatapku tak percaya. Iya juga sih mana ada yg mau percaya kalau sikapku tadi karena kaget. “Iya bener…” Kuacungin dua jariku tanda swear, habis pandangan Nela seperti mau menjatuhiku hukuman penjara seumur hidup.

“Lucu sekali…”

“Memang. lucu sekali. Aku pikir aku tidak akan pernah ketemu dia lagi, tapi ternyata Tuhan terlalu baik padaku.” Nela meyambar tanganku, menatapku tajam.

“Dhea…apa orang itu…” Kumengangguk “Ronan?”

“Memang ada yang lain?”

Kudengar helaan napas Nela “Apa…cerita yg sama akan dimulai. Dia sampai hari ini masih pacaran dengan Tita.” Aku tak menyahut, kupandang pintu senat yang terbuka, kutersenyum melihat Riel yang berlari kecil menghampiriku.

“Tidak sama…” Ucapku dengan menatap Nela “Ada Riel ”

“Hei sudah selesai?” Kutersenyum mengangguk, ada gurat kecapean di wajah Riel.

“Capek ya”

“Sedikit, yuk balek…” Kubiarkan Riel menggandengku “Duluan ya, Nel…” Kutatap Nela yg menggiyakan dengan setengah hati. Aku tahu dia masih ingin membicarakan soal Ronan, tapi saat ini yang aku inginkan hanyalah menghapus tentangnya. Ada seorang Riel yang begitu baek di sampingku, menggandengku lembut, membuatku percaya dia tak pantas disakiti.

***

Apalagi ini. Batinku ketika Ronan menghentikan montornya tepat didepanku. ”Hai Dhea…” Kutersenyum mengangguk “Masih sama seperti dulu, menunggu bus.”

“Dan…apa kamu mau mengantarku?” Jika bisa, aku ingin menarik ucapanku barusan. Entah kenapa aku sendiri tidak tahu kenapa aku bisa seberani ini, mungkin karena aku sedang sedikit kesal. Riel tanpa dosa bilang tidak bisa balik bareng setelah hampir dua jam aku sendirian menunggunya rapat.

“Akan aku pikirkan dulu.” Seharusnya aku sudah bisa menebak tanggapannya akan seperti itu.

“Oke…tapi waktumu sedikit sekali. Busnya sudah datang. Aku tidak mau menunggu 15 menit lagi.”

“Bagaimana kalau kamu biarkan busnya lewat dan beri aku 15 menit untuk berpikir sebelum busnya datang lagi ?”

Kutersenyum. Meski sudah tiga tahun tidak ketemu, cowok ini tidak berubah, tetap angkuh dan mau menang sendiri. Selain itu dia paling senang bermain seperti ini. “Sorry aku tidak punya tenaga untuk 15 menit. Lain kali saja kita bahas.” Segera kucegat busnya. Kulambaikan tanganku ketika busnya bergerak, dia tidak tahu aku bukan Dhea yg dulu.

***

“Gila! tugas apaan nih!! apa tidak ada yg lebih banyak dari ini?!” teriak Nela hampir histeris. Dijatuhkannya buku-buku yang dipinjamnya di perpus ke meja, lalu mengambil duduk di sebelahku. ”Kok kamu bisa santai ?”

Kumendongak. Menghentikan sebentar keasikanku menyalin catatan “Trus? Apa harus bunuh diri?”

“Ya tidak sedramatis itu.” Sungut Nela. Kubalik ke catatanku. Memang ini bulan-bulan stres dimana sang dosen lagi suka memberi tugas. “Hei..kemaren aku lihat kamu asyik ngobrol sama Ronan”

“Trus kenapa? kamu jadi bisulan?” sahutku tanpa mengalihkan perhatianku, maklum nyalin hampir 50 lembar.

“Bukan seperti itu…” Kulirik Nela yang jadi resah “Sebaiknya jauhi dia, kasihan Riel.”

“Bisa saja aku menjauhinya, tapi tetap saja tidak ada gunanya. Dia asdos kita.”

“Iya sih…duh, kok bisa begitu ya…”

“Takdir kali.” sahutku asal sehingga mampu membuat muka Nela kayak lampu lalu lintas.

“Kamu menikmatinya kan…ngaku!”

Kututup bukuku, semangatku tuk menyelesaikan catatanku hari ini jadi menguap. “Memang, dan itu salah?” aku sedikit menyesal dengan ucapanku. Muka Nela makin keliatan marah.

“Ya! itu salah. Kamu harus bertindak, kasihan Riel.”

Kukatupkan bibirku. Cukup sudah aku meladeninya. “Oke…kasihan Riel, demi Riel. Apa tidak ada kata-kata yang sedikit menghiburku, tidak menyudutkanku seperti itu!!” Kumasukkan bukuku ke tas dan beranjak keluar.

“Hei…pelajaran mau dimulai”

“Bodo’!” Kubanting pintu klas. Tidak peduli beribu pasang mata melihatku keheranan dan tak sedikit yang melotot karena merasa terganggu. Aku tidak habis fikir harus menghadapi protes berkepanjangan Nela sejak bertemu Ronan. Aku tidak pernah meminta bertemu dengannya, apalagi harus satu falkutas dan satu jurusan, aku pun tidak pernah bermimpi Ronan menjadi asisten tetapku untuk semester ini.

***

“Dhea kamu tinggal dulu, pekerjaanmu masih ada yg perlu dibenahi.” Aku tidak jadi memasukkan bukuku, tak kuhiraukan tatapan sinis Nela.

“Nah, apa yg perlu kubenahi?” Tanyaku ketika hanya tinggal aku dan Ronan. Bukannya menjawab, malah tersenyum manis menghampiriku dan duduk di depanku.

”Tidak ada yg salah…cuma aku sudah memikirkan untuk mengantarmu hari ini.”

“Ya?” setengahnya aku tidak tahu maksud cowok cool ini.

“Itu…soal aku mau atau tidak mengantarmu waktu itu…”

“So…” aku tidak tahu kenapa jantungku menjadi berdetak lebih cepat dari biasanya.

“Aku antar kamu hari ini.”

Kutersenyum. Aku tidak tahu harus senang atau malah sedih. Kubangkit dari dudukku. ”Waktu itu…aku sudah memberimu cukup waktu, dan aku bukan orang yang suka menunggu lebih dari yang direncanakan” Kutersenyum puas. Belum pernah kumelihat wajahnya sejelek itu, dan aku yakin aku yang pertama menolak permintaannya.

“Jadi..kamu menolakku?”

“Sorry…tapi memang seperti itulah…dan satu hal yg perlu kamu tahu, aku waktu itu cuma bercanda. Aku tidak menyangka kamu akan memikirkannya. Aku jadi ingin tahu bagaimana caranya kamu memikirkan hal ini sementara disampingmu ada Tita. Luar biasa!” kutinggalkan ruangan itu dengan perasaan puas. Tapi aku tidak menyangka Ronan mengejarku dan menghadangku ”Apa lagi?”

“Aku tidak akan kalah”

“Untuk apa? Kita tidak sedang kampanye kan?” Ronan melotot. Kutersenyum “Aku duluan “

***

Sudah tidak dapat kuhitung berapa kali kutengok arlojiku. Hampir satu jam aku menunggu di depan ruang senat ini kayak orang bego. Sudah begitu perutku tidak mau diajak kompromi lagi. Sudah meminta haknya.

“Hai…nunggu siapa? Aku ya? gak heran.” Aku tidak mengerti kenapa disaat aku sangat kesal harus ditambah bertemu Ronan, memang tidak ada makhluk lainnya yg sedikitnya bisa diajak bercanda?

“GR”

“Memang ada yg lain, mau bahas soal kemaren lagi? Aku sudah selesai juga nih…mo kuantar balek?”

Kumencibir ”Gak minat” Sekali lagi kubuat mukanya yg cakep jadi jelek banget.

“Dhea!!!! sorry…lama banget ya nunggunya?” Terpaksa kutersenyum melihat muka ketakutan Riel yang menghambur begitu saja begitu pintu senat terbuka, gak peduli beberapa temannya jadi terjatuh. Bahkan hampir nubruk Ronan.

“Baru satu jam”

“Maaf…habis ini rapat akbar tuk buat agenda baru…” Suara Riel penuh mohon, jadi tidak tega mendengarnya. “Yuk balek”

“Tunggu dulu…” kutarik tangannya “Kenalin temenku, dia tadi sudah nemenin aku.”

Riel tersenyum canggung mengulurkan tangannya ”Hei…gue Riel”

“Ronan” Ronan menjabat tangan Riel. Kutersenyum. Keliatan banget Ronan ogah-ogahan

“Thanks ya nemenin Dhea.”

“Tidak masalah…bahkan kalau diminta mengantar aku tidak keberatan. Karena…dia cukup maniz…” Kumelotot, cowok ini bener-bener cari masalah.

”Ayo Dhea..” tanganku ditarik Riel, dan dia menggenggam tanganku begitu erat seakan takut kehilanganku. Kulihat mukanya tampak tegang, Ronan memang suka cari gara-gara. Tapi aku tak pernah bermimpi aku yg jadi korbannya.

“Menyedihkan!!!maunya apa sih tuh cowok!” komentar Nela begitu kuselesai cerita. Marahnya dia memang tidak pernah lama .”Kamu harus jauh-jauh”

“Nela cayang…berapa kali kubilang, aku tidak bisa?”

Nela mencibir “Kamu tidak niat sih. Riel kemarin curhat ke aku. Dia bilang akhir-akhir ini kamu aneh., seakan sudah tidak peduli sama dia lagi.”

“Perasaan dia saja.”

“Tapi mungkin benar…Ronan terlalu sempurna di matamu. Itu masalahnya.”

Kumenghelai napasku…”Kapan sih kamu berpihak padaku.”

“Sampai Ronan tidak ada di muka bumi ini.”

“Bunuh aja dia.” Ketusku

“Andai bisa.”

“Tergantung niat.”

“Jangan membalikkan pembicaraan…” ucap Nela galak.

“Dan jangan mengajariku apa yg harus kulakukan.”

“Kamu tidak tahu apa yang…”

Brak! aku menggebrak meja di depanku. Aku sudah gak tahan denger lebih banyak lagi “Aku bukan anak TK, jelas?” aku tidak peduli Nela kelihatan sangat kaget. Aku sudah setengah mati kesal Nela yang terus memaksaku untuk ini dan itu, seakan aku tidak pernah ada benarnya. Dan kalau Mr. Dani tidak segera masuk, mungkin akan berlanjut konfrontasinya. Kuangkut tasku dan pindah di belakang sendiri.

Kuakui akhir-akhir ini aku sering bersama Ronan, aku sendiri heran kenapa bisa sering bertemu dengannya. Ditambah Riel akhir-akhir ini sering banyak alasan kalau aku ingin ketemuan. Alasannya dari A-Z keluar semua, yang intinya tidak mau. Aku malah yg merasa dia yg semakin menjahuiku. Aku tidak tahu apa aku masih punya rasa percaya lagi padanya. Dan kembali ke Ronan…dia punya segudang cara tuk memaksaku mengabulkan permohonannya. Jadi bukan salahku, keadaan yang membentuk jadi seperti ini.

***

Aku tidak heran melihat Ronan nongol di rumahku, tapi melihatnya dengan muka babak belur baru sekali ini. Benar-benar supraise.

“Hai…” sapanya berusaha tersenyum, tapi malah lebih mirip meringis kesakitan.

”Berantakan ya…”

“Kenapa kamu? Ciuman sama kuda?”

“Bukan kuda lagi…buaya.” Ku melotot “Boleh aku masuk?” Seakan disadarkan aku memberinya jalan, dia langusung masuk dan duduk.

“Sebentar ya…” aku masuk ke dalam mengambil P3K dan baskom berisi air panas. Segera ku balik ke tempatnya.

“Biar aku obati sendiri.” Cegahnya ketika aku mau membersihkan lukanya.

“Jangan konyol. Kamu bisa melihat lukamu tanpa kaca?” Kutersenyum dia menyerah membiarkanku mengobati lukanya.” Kamu kerja part time memberi makan buaya ya…sampai kacau begini. Kalo iya bego bener.” Ronan tidak menjawab, memilih diam. Dan itu makin membuatku penasaran. “Kenapa tidak sekalian saja kamu jadi baby sisternya, mungkin bisa jadi temen baek.”

“Tidak mungkin…”

“Oh ya… kenapa?

“Karena dia mencium Tita.” Seketika kuhentikan kesibukanku memberi perban di keningnya. Kutatap matanya yang langsung melengos

“Hadap sini… kalau kamu ingin aku mengobati lukamu.” Dia kembali meghadapiku. “Jadi dia selingkuh…”

“Aku sudah lama mengetahuinya…”

“Dan kamu membiarkannya…bagus.”

“Karena dia berjanji akan berubah.”

“Lalu…kenapa sekarang berantem sama selingkuhannya? bukannya lebih baik kamu putusin cewekmu. Habis perkara” Kutempelin tensoplast di pipinya.

“Tidak sesederhana itu…”

“Oh ya…apa karena harga diri cowok? Merasa sangat malu ceweknya selingkuh di depan hidungnya.” Kutipuk lukanya yg sudah kutempel tensoplast. Tidak heran kalau dia langsung menjerit.

“Gila…tega bener sih kamu..”

Kutersenyum. Jika masih bisa menjerit sekeras itu berarti dia tidak sedih-sedih amat. “Aku kira tidak sakit.” Dia melotot kesal, mengelus pipinya yg kutepuk tadi.

“Trus..kenapa kamu kesini? Mau pamer ya?”

“Kapan kamu mau berprasangka baik sama aku?”

“Kapan-kapan” Melihat mukanya aku tahu dia menyesel dengan apa yang diucapkannya barusan.

“Karena kamu temen dekatku.”

Aku menatapnya tidak percaya, kusentuh dahinya, biasa saja. ”Apa pukulan-pukulan di wajahmu membuat otakmu terbalik juga?”

“Terserah mau ngomong apa. Itulah kenyataannya…”

Kutersenyum, kumasukkan kembali obat-obatnya ke kotak. ”Sayang ya…aku tidak terkesan” Dia tersenyum “Kamu itu selera public. Tidak pernah kulihat kamu tanpa cewek. Jangan buat aku tertawa”

“Semuanya hanya teman, kecuali kamu…”

“Oh ya ? Jadi aku beruntung.”

“Bisa dibilang begitu.”

“Tapi aku tidak bangga”

“Tidak perlu…”

Kutersenyum. Mungkin inilah senyumku yg paling manis untuknya “Bagus…”

***

“Kamu dijemput dia kan?”

Kutersenyum ketus “Hari ini? tidak!” bahkan menurut pendapatku dia tidak berangkat dengan muka babak belur seperti itu.

“Oh ya, tumben…”

“Jangan mengolokku seperti itu. Sebaiknya sekarang kamu telepon sahabatmu, hari ini dia tidak bisa menjemputku dengan alasan yang tidak jelas. Tidak peduli aku sudah menunggunya sampai kesemutan.”

“Itu pasti karena dia kecewa sama kamu.”

“Oh ya…aku tidak peduli!” aku benar-benar jengkel. Kuberanjak dari dudukku

“Mau kemana?”

“Bukan urusanmu” ternyata aku belum bisa bernapas lega begitu keluar dari kelas, dengan muka tanpa dosanya Ronan berlari kecil menghampiriku, sebelum aku sempat memikirkan cara untuk menghilang agar hariku tidak bertambah buruk.

“Kok tidak masuk? jamnya Mr Denny kan?”

“Sejak kapan kamu tahu jadwalku.”

“Bukan begitu…aku mengulang mata kuliahnya, jadi masuk ke klasmu.”

“Ya sudah masuk saja.”

”Kamu?”

“Aku males. Mau balik.” Aku kaget tiba-tiba dia meraih tanganku ”Apa lagi?” sekuat mungkin kutahan getaran hebat yg melandaku.

“Kamu kenapa? sakit ya?”

Kumenggeleng. Ada sedikit rasa tersanjung melihat kekawatiran di matanya. “Aku malas. Mau balik. Apa aku perlu 100 kali mengulanginya.”

“Tidak percaya.”

“Sayang sekali kamu harus percaya. Sekarang lepaskan tanganku”

“Kamu pikir aku mau?” Aku benar-benar tidak tahu jalan pikirannya ”Sekali-sekali bolos, boleh juga ya…” Belum sempet menolak, dia sudah menarik tanganku menuju parkiran.

“Mau kemana?”

“Mengantar kamu.”

“Aku tidak langsung balek.”

“Ya sudah, aku antar.”

“Sampai sore.”

“No problem”

”Tapi…”

”Sudahlah…aku lapar. Kita ke warung dulu ya…” potong Ronan tanpa mau mendengarkan penjelasanku. Bahkan memakaikan helm ke kepalaku. ”Ayo naik”

“Aku naik bus saja…”

Badanku lemas seketika melihat gelengan kepalanya. “Terserah deh…, sana naik bus. Tapi setelah kamu mencopot helmmu, aku langsung turun dari montor dan menggendongmu, lalu mendudukanmu di sini.” Ditunjukkanya boncengannya. ”Gimana? sekali-sekali bikin tontonan gratis.”

Kumenatapnya tidak percaya “Kamu tidak akan melakukannya.” aku tidak menyangka Ronan akan berbuat sejauh itu. Apa sangat penting aku harus ikut dengannya.

“Boleh dicoba” kumelotot, sementara kulihat semakin banyak orang berlalu lalang . Jam segini memang jam sibuk perkuliahan. Dan aku tahu betul dia suka tantangan. ”Gimana?”

“Ok…kamu menang!” sewotku “Puas?!” aku naik kemontornya.

Dia tersenyum manis. “Puas sekali”

“Hanya kali ini kamu menang” sungutku kesal. Jelas dia yang mambuat hariku akhir-akhir ini makin tidak karuan, tapi dia sengaja pura-pura tidak tahu.

“Kita lihat saja nanti.”

Aku jadi tambah bete melihat keyakinannnya. Kubiarkan dia ngomong sendiri, males nanggepinnya, boro-boro nanggepin dengerin saja males. Meski begitu aku penasaran juga nih cowok mau makan dimana kok gak sampai-sampai.

“Aku mau balik.” Ketusku ketika Ronan memakir kendaraannya di mall. “Bukannya menemani tukang bohong seperti kamu. Ngapain kesini, katanya makan”

“Iya makan…sekalian refreshing. Kamu memerlukannya.”

“Sok tahu” Kulepas helmku.

“Memang tahu. Keliatan sih…”

“Aku tidak butuh refreshing kalau saja kamu tidak mengikutiku terus.”

“Jadi karena aku?”

”Jelas!”

“Oke…setidaknya aku sudah menebusnya dengan mengajakmu kesini. Ngobatin stress kamu.”

“Tapi…jalan-jalan sama kamu? Yg bener saja! Bukannya ngurangi malah nambah.”

“Oh ya…” Aku kesal sekali mendengar nadanya yg menggoda itu.

“Ya! Jalan di belakangku dengan jarak 10 langkah.”

Ronan menatapku gak percaya. “Jangan bercanda”

“Siapa bilang aku bercanda. Cepat mundur atau aku akan teriak kamu mencopet uangku.”

“Kamu…”

“Kenapa? kamu kira hanya kamu yg bisa mengancam? Aku juga bisa senekat kamu.”

“Oke…oke…” Dia mengangkat kedua tangannnya, lalu berjalan mundur 10 langkah.

Kulanjutkan langkahku yg sempat tertunda. Sengaja aku masuk keluar toko tanpa menoleh kebelakang. Bahkan aku pun sengaja naik turun escalator.

“Dhe…laper nih…” aku yang asik melihat-lihat boneka pura-pura tidak dengar. “Dhea…”

“Mundur sepuluh langkah” Ucapku tanpa menatapnya.

“Tapi Dhe, laper nih…”

“Kalau begitu makan sana”

“Jangan bercanda! aku tidak bisa meninggalkanmu sendirian”

“Suruh siapa ngajak kesini.”

“Ya Tuhan Dhea! Sekali saja kamu lembut sedikit sama aku.”

Aku meliriknya kesal, hampir aku mengoloknya kalau tidak melihat mukanya yg pucat .Mungkin aku agak keterlaluan. Dia punya masalah dengan perutnya. ”Mundur 10 langkah”

“Dhea…”

“Aku bilang mundur…atau aku tidak beranjak dari sini.”

Kutersenyum dia mengalah. Segera aku keluar menuju kelantai atas tempat aneka masakan dijual. Sekalipun aku tidak menoleh ke arahnya, aku tahu dia pasti tersenyum lega.

Aku hampir masuk ketika tak sengaja kumelihat yang tidak ingin kulihat seumur hidupku. Riel memegang tangan seorang gadis dan menciumnya lembut, bahkan mereka saling menyuapi, seakan dunia milik berdua. Lama kupandangi mereka, badanku lemas seketika…aku kenal gadis itu…dia Tita. Aku tidak percaya. Hampir aku tidak mau masuk, tapi…sisi hatiku yg lain seakan tidak mau menerima begitu saja. Pertengkaran hebat terjadi pada diriku, tapi akhirnya aku memilih masuk, menghampiri mereka yg asik makan es krim satu untuk berdua.

“Hai…” Sapaku setenang mungkin dan cukup berhasil membuat sendok yg berisi es krim di tangan Riel yg mau disuapin ke mulut Tita jadi jatuh begitu saja.

”Oh…eh..hai..Dhe…”

“Asik ya…” kupandang lekat-lekat wajahnya, dan baru kusadari mukanya kayak habis dipukuli orang.” Tiba-tiba aku merasa ada yg aneh…selintas aku teringat sesuatu, tapi itu tidak mungkin…”Kenapa mukamu?”

“Jatuh.”

Kutersenyum. Kulirik Tita ”Siapadia? pacar baru ya?”

“Eeee…itu…”

“Hai kenalin aku Dhea, pacarnya Riel.” Kutersenyum puas muka Tita tampak kaget sekali

“Lho kamu tidak tahu ya? Kasihan sekali…”

“Riel…apa maksud semua ini?” ucap Tita terbata.

“Tidak perlu.” sahutku melihat kebingungan di wajah baby face Riel “Biar kuperjelas.

“Kuambil gelas Riel, kusiramkan ke kepalanya sebelum dia menyadarinya. Kutumpahkan juga es krim dan spagethi yg belum sempat disentuhnya ke kepalanya. ”Kita putus. Selamat bersenang-senang” Aku berbalik pergi tanpa tergesa-gesa. Ku tersenyum pada Ronan yg berdiri di depan pintu. Menatapku tajam. ”Sepuluh langkah Ron…” Tergesa aku keluar dari mall begitu Ronan mundur, menuju tempat perhentian bus. Kakiku sudah naik satu ke dalam bus ketika ada tangan kokoh mengangkat tubuhku.

“Maaf Pak, tidak jadi…” Aku cuma bisa melihat bus itu berlalu dengan hampir seluruh penumpangnya melihatku termasuk kernetnya yg geleng-geleng kepala .

Kumelepaskan tangannya yg masih memelukku ”Mau apa kamu, hah!!” tapi dia punya tenaga 10 kali lipat dariku. Dia tidak mau melepas pelukannya, Malah makin erat. “Gila! lepasin! aku benci kamu! kamu kan yang berkelahi dengan Riel…kenapa kamu tidak memberitahuku…kamu pikir ini lucu!!!” Dia hanya terdiam tapi makin erat memelukku meski sudah kupukuli tubuhnya dengan sekuat tenagaku. ”Lepasin aku!!!!”

“Tidak…” Sahutnya tenang. Dia benar-benar tak tahu malu. Apa dia tidak sadar posisi kami di pinggir jalan. “Tidak akan kulepas sampai kamu menangis”

“Aku tidak perlu menangis”

“Kamu perlu “ Kutatap matanya penuh mohon ”Aku memang selalu membuatmu kesal, tapi aku bukan pembohong” Kumerasa mataku mulai berkaca-kaca, kenapa? kenapa aku harus mau menangis dihadapannya? tapi belum sempat aku berpikir, air mataku sudah mengalir dan semakin lama semakin deras.

***

“Apa?!! tidak mungkin!” Aku tidak heran Nela sehisteris itu tahu Riel selingkuh.

Kulanjutkan membaca pengumuman akademik. “Aku tidak salah dengar kan?”

”Telingamu normal kan?” Dia terdiam.

“Dhea please…aku ingin ngomong sama kamu.” Tiba-tiba Riel nongol dengan wajah penuh peluh dan bekas luka akibat berantem dengan Ronan. Sedikitnya aku sangat berterima kasih pada Ronan. ”Please…aku mau jelasin yg kemarin”

Kutersenyum “Oh ya? coba kudengarkan”

“Jangan disini”

“Kenapa? Malu?”

“Bukan begitu Dhe…”

“Ya sudah cepet ngomong. Waktumu 5 menit. ” Ucapku tidak sabaran”

“Tapi Dhe…ada Nela”

“Satu menit “ Kunikmati muka bingungnya.

“Dhea…”

“Dua menit”

“Oke-oke!!” Menyerah juga dia. “Kemarin aku ingin mutusin Kristin. Aku tidak tahu aku dijadiin selingkuhannya. Ternyata dia pacar Ronan.”

“Mutusin Tita? kapan jadian?”

Mukanya jadi makin tidak karuan “Eh..enggak..maksudku..aku mau nolak dia. Dia yg ngejar-ngejar aku. Oke..kuakui aku terhanyut. Tapi itu semua sudah berakhir, aku sadar, sungguh!aku sudah tidak ada apa-apa dengan Tita. Kamu percaya kan?”

“Percaya? jelas! Tita pasti juga tidak mau begitu tahu dia dijadiin selingkuhan. Tahu tidak…kalian sama – sama brengsek!!”

“Dhea please…maafin aku…”

“Sudah kumaafin, tapi keputusanku tidak berubah. Kita putus.”

“Aku tidak mau Dhe…”

Kutersenyum “Maafin aku” kutarik tangan Nela. Aku tidak ingin Riel sadar aku masih menyayanginya. Jika terus mendengar rengekannya, mungkin aku akan balik lagi dengannya. Dan itu tidak kuinginkan.

“Maafin aku ya…” Kutersenyum mengangguk. Lega rasanya persahabatanku dengan Nela tidak ikut berakhir. Karena mencari orang seperhatian Nela juga sangat sulit. Meski suka ikut campur, tapi aku tahu itu karena dia sayang aku.

“Tuh Andri…”

“Kamu bareng Ronan ?” Kumenggeleng ”Kenapa?”

“Sederhana saja, aku tidak tahu jadwal dia. Sudahlah…aku tidak apa-apa kok.”

“Benar?” Kumengangguk mantap “Kamu harus janji.”

“Aku janji.” Nela tersenyum lega dan berlari menghampiri Andri. Kutersenyum melambaikan tanganku sampai mereka tak terlihat di mataku, lalu kulangkahkan kakiku ringan menuju halte bus.

“Halo…” Aku kaget tiba-tiba Ronan sudah disampingku diatas montornya “Kalau jalan jangan pake ngelamun, disambar orang lho…kalau yg nyambar aku sih…gak pa-pa…”

Kutersenyum. ”Kamu itu…terlalu pede ya…”

Dia nyengir lalu ngulurin helmnya ”Kamu punya waktu 24 jam buat mutusin mau aku antar atau tidak. Busnya lagi mogok soalnya” Kumenatapnya gak percaya ”Aku tunggu.” Ucapnya dengan senyum yg membuatku mati kutu.

“Meski satu hari?”

“Satu minggu juga gak masalah.”

“Jangan terlalu hiperbolis.”

“Aku tidak pernah seperti itu. Kamu tahu itu.” Kumelotot kesal, tapi kupakai juga helmnya. Dia tidak tahu aku sudah kalah sejak tiga tahun yg lalu… ”Jangan GR aku cuma gak tega melihatmu menunggu seperti ini.”

Ronan tersenyum “Kamu tidak pernah manis ya..”

Kubalas senyumnya. ”Keberatan?”

“Tidak…karena kamu makin cantik kalo ketus begitu…”

“Thanks…”

*******************************

No comments:

Post a Comment