Sunday, February 8, 2009

Pelukan Untuk Tiara

Kuhisap rokokku dalam-dalam…lalu kuhembuskan dengan harapan bisa mengurangi kepenatan otakku. Malam ini begitu dingin, kurapatkan jaket kulitku. Kupandangi taman tengah kota yg sepi, hanya beberapa orang yg berseliweran dan juga beberapa pasang manusia yg aku yakin bukan suami istri. Akhir-akhir ini aku sering mendatangi tempat ini, bagiku tempat ini memberi ketenangan sendiri bagiku. Hanya terdengar hembusan angin dan gemericik air dari pancuran sebelah.

“Mama tidak mau tahu, Besok kamu harus mau dijodohkan dengan Nela.”

“Mau sampe kapan kamu jadi perjaka?umur kamu sudah kepala 4 bos!”

“Aku gak ngerti apa yg jadi kriteriamu mencari istri…”

Banyak lagi kalimat-kalimat memojokkanku terulang lagi di lamunanku. Semua seolah menutup mata kejadian 20 tahun yg lalu. Semua menganggap kejadian itu hanya kerikil kecil yg ditendang saja sudah tidak kembali.

Kulempar rokokku yang sudah habis, dan kuinjak dengan sepatuku. Kulirik arlojiku, sudah hampir tengah malam…tapi entah kenapa aku seperti baru 5 menit berada disini. Kesunyian ini menjadi teman akrabku akhir-akhir ini.

“Sendirian mas?” Aku tersentak kaget. Seorang gadis cantik bertubuh molek dan berpakain seksi sudah duduk di sampingku entah sejak kapan. Dengan santainya dia menyilangkan kakinya menampakkan pahanya yang terlalu seksi.

Sejenak aku terpesona melihat makhluk secantik ini, aku tidak pernah tertarik kecuali dengan Tari. Tapi sosok di depanku ini mampu membuat magnet tersendiri bagiku. Ya…dia tlah membuatku terpesona seperti aku terpesona dengan Tari…lalu aku merasa dadaku sakit…aku merasakan sesuatu yg luar biasa…

Tidak ! ini tidak mungkin….

“Kesepian mas?aku mau menemani…tapi dengan harga yg cocok” ucapnya dengan tersenyum menggoda, di mulutnya keluar bau rokok.

Aku masih terpana dengan apa yg kulihat.

“Mas?” aku kaget jemari lentik itu menyentuh bahuku.

“Oh maaf maaf…” aku mengusap wajahku…ini tidak mungkin…aku melihat wajah Tari di wajah nya…

“Tidak apa-apa, mungkin mas baru banyak masalah ya? aku bisa bantu dengan menyenangkan hati mas.”

Hatiku sakit mendengar itu semua….

Kusandarkan badanku ke belakang, kuhela nafasku, lalu kuambil rokokku lagi.

“Siapa nama kamu?” Tanyaku setelah sekian menit saling terdiam, entah kenapa dia membiarkanku tenang.

“Tiara.”

“Umur kamu?”

“19 tahun mas.”

Aku tertegun…sama dengan umur anakku, itu jika masih hidup…

“Ayo mas…kita ngobrol di hotel saja…”

“Berapa tarifnya jika semalam di hotel dengan servis bagus ?”

“300 ribu.”

“Murah sekali…” wajah gadis itu merah padam, aku tersenyum ” 500 ribu menemaniku ngobrol disini…mau?”

Gadis itu tampak kebingungan tapi akhirnya mengangguk juga.

“Kamu menyukai kerjaan seperti ini?”

Gadis itu tersenyum hambar “Tidak…”

“Lalu kenapa kamu lakukan?”

Gadis itu tertawa, tawa yg sangat hambar…wajah cantiknya kelihatan begitu sedih dan kecewa…

“Mas pikir karena apa?”

“Uang”

Gadis itu tertawa “Aku tidak butuh uang….ibuku menyediakan banyak uang untukku.”

“Lalu? kesenangan?”

Gadis itu menggeleng “Pelukan…”

Aku mengernyitkan dahiku, dia menatapku dengan mata berkaca-kaca lalu menunduk

“Aku ingin pelukan…” ucapnya lirih hampir tak terdengar. Aku merasakan hatiku makin sakit…wajah sedihnya itu mirip sekali dengan Tari.

“Aku tidak butuh uang itu, aku tidak butuh semua barang mewah itu…aku tidak butuh semua fasilitas itu…ak…aku…”

Tiba-tiba gadis itu menangis dan terus menangis…aku hanya diam memandangnya menangis, persis seperti dulu aku memandang Tari menangis karena mengetahui dirinya hamil…Tangis sendu yg antara harapan dan putus asa.

Mungkin hampir satu jam dia menangis… “Maaf…aku malah tidak menghibur mas.”

Aku tersenyum, pelan kuhapus air matanya. Entah kenapa aku mempunyai rasa sayang padanya.

“Tapi ini jalan yg salah…”

Dia tersenyum getir “aku orang yg sejak lahir harus belajar sendiri mana yg benar dan mana yg salah…dan aku tahu ini jalan yg salah ketika aku sudah terlanjur memasukinya…kunci pintu itu hilang…aku tidak bisa keluar…”

Kuberanjak dari dudukku “Ayo kuantar kamu pulang…”

“Kenapa mas begitu baik tidak menyentuhku…”

Kumenatapnya, tersenyum…”Aku punya kesalahan besar…dan aku tidak mau mengulanginya. Aku mungkin sudah menemukan kesalahan itu…dan sekuat mungkin aku akan menjaganya meski tinggal puing sekalipun.”

Di perjalanan menuju rumahnya kami tidak saling bicara. Dia hanya membuka suara untuk menunujukkan kemana arah rumahnya.

Aku terpana melihat rumah megah di depanku. Inikah rumah gadis yg pilih menjual dirinya…

“Kaget?” aku tersenyum dan mengangguk

Tiba-tiba sebuah mobil berhenti di depan gerbang rumah mewah itu, seorang wanita cantik turun dan membunyikan bel, lalu balik ke mobilnya. aku terkesiap melihatnya.

Tari…

“Dia ibuku…”

“Oh…” aku tidak mampu bicara apa-apa lagi “Ayahmu…”

“Aku tidak punya ayah…kata ibu ayah sudah meninggal. Aku tidak tahu apa akan berbeda jika ayah masih hidup, apa ibu akan berada di rumah sebelum malam dan mengajakku bercanda…Aku mengerti Ibu bekerja sekeras ini untuk aku dan untuk menghindari mengingat ayah. Ibu selalu saja bilang kita harus kaya dan kaya lagi biar orang tidak memandang sebelah mata…biar orang mengharagai kita.Aku tidak mengerti…aku tidak mau mengerti, yang kumengerti aku butuh pelukan ibu…”

Aku menunduk…kuhapus air mata yg tiba-tiba mengalir di pipiku. Tari menjadi seperti itu karena kepengecutanku, Tari menjadi seperti itu karena Keluarga besarku yg tidak mau menerimanya dan mengusirnya secara kasar dan aku saat itu hanya melihat…Begitu bodoh, pengecut, dan gobloknya aku…

Dan sekarang…di sebelahku duduk anakku…anak kandungku… apa yang harus kulakukan….

“Mas…aku turun dulu ya, terima kasih atas semuanya. dan tidak perlu membayar.Pelayanan tadi gratis.” ucapnya dengan memaksakan sebuah senyuman di bibirnya.

“Tunggu.” cegahku ketika dia mau membuka pintu mobil

“Besok mau aku jemput? aku butuh teman jalan-jalan.”

“Biayanya mahal loh…”

Kutersenyum “tidak masalah”

“Oke. Kutunggu jam 9 tepat.”

Kumengangguk dan menunggunya sampai menghilang di balik rumah megah itu. Kali ini aku tidak mau mengulangi kesalahanku untuk yg kedua kalinya. Pecahan-pecahan tercecer itu akan ku rangkai lagi meski tanganku berdarah sekalipun dan kujuga dengan jiwa dan ragaku.

Tunggu aku Tiara

No comments:

Post a Comment