Sunday, February 8, 2009

Sang Presiden

Dia … Dia bisa membuat hariku begitu aneh, dia bisa membuatku tersenyum canggung dan menyapanya dengan keringat dingin. Dia bahkan mampu memaksaku untuk mengakui kalau dia memang mempesona. Kupikir aku tlah jatuh cinta. Gila ! seorang yg tak peduli akan cinta harus mengalami semua perasaan sentimentil ini.

“ Nulis apa ?” Kututup seketika bukuku. Kuberi senyum manis untuk tatapan curiga Nicko. “ Boleh aku tahu ?”
“Lebih baik tidak usah. Sudah selesai rapat BEM nya?”
“Sudah. Dan aku harus berdebat lagi dengan Presiden itu!” Kutersenyum. Presiden ! yah…dia memang pantas dipanggil seperti itu. Dan presiden itu terlalu sayang untuk dilewatkan oleh semua kaum hawa di universitas ini.
“Hei…apa sih yg kamu tulis?” Masih penasaran juga
”Bukan hal yg istimewa, yuk ke kantin…lapar nih…”
”Oke oke.”
Nicko menarik tanganku lembut dan kutepis dengan lembut pula, Bersamaan dengan itu sang Presiden melewati kami, tersenyum sinis pada Nicko dan melirikku sinis pula seakan-akan aku ini hanya orang yg gak selevel dengannya. Huh…dasar cowok dingin !! gerutuku dalam hati.
”Hei..tunggu!” panggil Nicko. Presiden itu berhenti menunggu kami mendekatinya dengan memasang tampang angkuh, tapi entah kenapa itu malah membuatnya kelihatan lebih menarik di mataku. Sudah benar-benar tidak waras otakku.
”Ya?”
” Urusan antara kita belum selesai.”
”Begitu? Aku kira memang tidak akan pernah selesai.” sahutnya dingin dan ngeloyor begitu saja. Aku benar-benar terpesona!

***
Pagi ini cukup cerah, tapi tidak membuat badanku sedikit bersemangat. Kepalaku pusing.Jam 2 malam baru bisa tidur. Nicko benar-benar nyebelin, nelpon hampir 3 jam, telinga ini rasanya udah tidak bisa mendengar apa-apa lagi, Huhhh ada gak ya profesi tukang pijet spesialis telinga. Tadinya mau ku stop, capek aku mendengar keluhannya, tapi karena dia mengeluh tentang Presiden ganteng itu, jadi agak toleransi deh. Tapi akibatnya yg jadi begini nih…Huahem…ini adalah ke-5 kalinya aku menguap dalam setengah jam.

Bruk!!
Aku tidak bisa menahan keseimbangan tubuhku sehingga harus jatuh, Aku yang salah sih, saking pusing dan ngantuknya jadi tidak lihat-lihat jalan, sedangkan orang yg kutubruk tampaknya terburu-buru kayak mau ketinggalan kereta terakhir.
”Kalau jalan lihat-lihat donk!!”
Duh!gila. keras banget suaranya. Kuberusaha berdiri dan menghadapinya. Selanjutnya aku cuma bisa melongo. Aku menubruk Dia!!Oh Tuhan ini benar-benar anugerah. Seketika pusing dan ngantukku hilang melarikan diri.
”Oh…kamu.” Aku tersenyum keki, senang sih dia tahu aku, tapi sebel juga dia seakan mengolokku dengan caranya bicara barusan dan tatapan mata angkuhnya. Memangnya dia siapa berani-beraninya memandangku seperti itu.
”Maaf …”ucapku datar, karena dia menatapku tanpa kedip. Dia gak tahu seketika tanganku berkeringat dan jantungku berdegup kencang. Oh…jahat sekali dia.
”Gara-gara kamu. Aku telat tahu?!!”
Aku melotot, meski aku mengalami badai terpesona, keringat dingin, dsb dsb…tapi dia tidak berhak membentakku.
”Begitu ? kamu akan semakin telat kalau masih mau mendakwaku habis-habisan disini tuan Hakim.” Oh…aku pikir aku tlah jatuh cinta dengan orang yg salah.
Dia melotot ”Kamu!!” Kutersenyum sinis menunjuk arlojiku. Wajah dia makin memerah karena marah ”Sialan. Pantas kamu mau jadi cewek Nicko”
Dia berlari ninggalin aku. Memang sudah jadi gosip umum kalau aku dan Nicko pacaran. Tapi kalau sampai Presiden itupun termakan gosip juga baru gawat namanya. Tapi setidaknya aku cukup senang bisa ngobrol dengannya. Ngobrol? Ha ha ha … ridak bisa disebut seperti itu kan?

***

Hari ini aku harus menunggu Nicko rapat BEM lagi. Bisa sih pulang sendiri, tapi aku minta Nicko nemenin aku ke Gramedia. Kulirik arlojiku, masih setengah jam lagi. Kuteguk juice jambuku hingga tersisa setengah.
”Nunggu Nicko? Setia amat.” Aku bengong tiba-tiba sang Presiden sudah di depanku membawa piring penuh nasi dan lauk plus es jeruk. ”Baru satu jam lagi dia nongol” ucapnya dengan mengambil duduk di depanku dan langsung melahap nasinya tanpa menatapku.
”Kamu sendiri ?”
”Sekali-kali bolos, aku sudah serahin ke Andre. Lagian aku baru males debat ama Nicko.”
”Oooo…begitu.”
Kuteguk lagi juice ku. Masing-masing dari kami sibuk dengan pikiran sendiri.Sesekali aku menatap ke piringnya yg hapir habis. Dia makan dengan santai dan menikmatinya. Beda dengan Nicko yang selalu serba terburu-buru, Bahkan aku belum sempat minum juiceku dia udah ke kasir.
”Betah banget kamu ama tukang ngotot itu.” ucapnya memecah keheningan yg tercipta diantara kami
”siapa?”
”Nicko, sapa lagi.”
”Oh…” kutersenyum ” mungkin karena dia tidak sedingin dan seangkuh kamu.”
Presiden memandangku sekilas lalu meminum es jeruknya
”begitu…Jadi kalau aku gak dingin dan angkuh, kamu pasti suka aku ?”
Kutersenyum ”mungkin.”
”sori aja ya non, gak ngaruh kamu suka aku apa enggak, masih banyak kok yang suka aku.”
Aku baru sadar ternyata cowok ini sombong juga dan sangat menyadari banyak cewek yg memujanya.
”Akupun berdoa agar aku tidak punya cowok seperti kamu.”
” Ooo…jelas…kamu punya cowok seperti Nicko.”
”Iri?”pancingku. Entah dari mana keberanian itu nongol.
”Ha?Iri?cewek seperti kamu banyak dalam kehidupan aku. Kalau mau aku tinggal milih.”
Kutersenyum ”Tapi bukan aku.” Aku berusaha melawan matanya yg menatapku tajam. ” Iya kan ? Banyak cewek seperti aku, tapi bukan aku.”
”Nantang nih?”
”Untuk?”
”Aku bisa naklukin kamu. Nicko aja bisa, masa aku gak bisa.”
Aku bersedekap tanpa melapas tatapanku padanya. ” Oh ya…mau buktiin?”
”Oke!berapa bulan?”
”satu minggu.”
”masuk akal. Oke kita buktikan.”

***
Sekarang, hidupku seakan-akan benar-benar hidup. Bayangkan, idolaku ngejar-ngejar aku kayak orang kesetanan. Nicko tahu lagi, meski dia gak tahu kalau itu hanya pembuktian ego seorang Presiden yang yakin bisa naklukin orang yg diinginkannya. Tapi apapun alasannya Nicko kayak cacing kepanasan dan aku sendiri kayak di atas awan!

Seperti hari ini, sang presiden sudah nongol dengan rapi dan wangi di depan rumahku, dimana aku baru bangun tidur dan rela menunggu aku siap-siap hampir 2 jam. Memang kusengaja, tidak kupedulikan nyokap marah-marah, tapi cowok itu pun sudah berbuat seakan-akan dialah sang pemenang.

”Hari ini Nicko nggak jemput kamu?” tanyanya ketika dalam perjalanan
”aku tolak.”
”Oh ya…sudah mulai nih. Padahal baru hari ke-3.”
”bukan begitu…karena aku pengen ganti suasana aja, boleh donk?” aku tersenyum melihat wajahnya yg super keki. ”Aku kasihan udah menolak kebaikanmu selama 2 hari ini. Itu saja.”
”kasihan ? heh nggak usah munafik !”
”Aku tidak munafik”ucapku santai ”Hanya diri kita yg tahu siapa yg munafik.” Kugigit bibir bawahku kelu…aku memang suka dia…itu tidak bisa dipungkiri. Tapi dia tidak boleh tahu…tidak boleh.
”Oke ! aku mau menegaskan, kalu aku menang ada yg aku minta, karena kamu tahu sendiri kan bukan kebiasaan aku ngejar-ngejar cewek, apalagi cewek orang.”
”Apa yang kamu minta?”
”Belum kuputuskan.”
”Oke, dan kalo aku yang menang kamu mau jadi cowok aku. ” Gile…aku nekat banget nih…habisnya aku gemes sekali sama cowok satu ini.
”Oke..no problem, karena aku yakin aku yang menang. Kamu siap-siap aja.”
Kutersenyum…dia tidak tahu sejak dulu pun dia sudah jadi pemenang bagi hatiku, tapi aku tidak suka dikalahkan terang-terangan oleh cowok sombong ini.

***
”kamu bisa nolak dia kan.?!” kututup telingaku, sejak tahu sang Presiden ngejar-ngejar aku, Nicko jadi sering uring-uringan dan over protected.
”Kenapa aku harus nolak dia? Posisi dia sama dnegan kamu kan?”
”Tapi…”
”Tapi apa?kamu yg lebih dulu mngenalku gitu? Dalam soal urusan cinta tidak ada perjanjian siapa yg dulu. Kamu harus terima kenyataan sainganmu sang Presiden.”
”Oke!aku gak mau kalah, sekarang kamu kuantar.”
”sayang sekali…dia sudah menungguku.” Nicko melotot, aku ngeloyor pergi menemui sang Presiden yg lagi sibuk di perpustakaan.

***

Sedih rasanya. Gimana enggak, ini hari ke-6 dan aku harus terbaring di kasur!nyebelin kan….Badanku demam tinggi, flu lagi. Pokoknya udah gak kuat keluar dari kasur. Barusan aku tolak Nicko dan sang Presiden yang mau jemput . Aku tidak mau mereka tahu aku sakit. Pertama, pasti mereka berebut untuk mencari perhatianku, Nicko mungkin tulus, tapi dia? Pasti dia menghalalkan segala cara untuk menghiburku karena gengsi dia bukan karena suka aku…karena dia masih bermain….dan permainan ini membuatku makin sakit hati karena aku makin menyukainya, dan dia tidak memandangku meski sebelah mata sekalipun. Memikirkannya membuat badanku makin sakit saja.

”Viri…ada tamu nih.” Kubuka mataku pelan-pelan, sebenarnya aku malas karena aku baru mengingat hari-hari dimana aku menghabiskan waktu bersama dia untuk mengurangi rasa sakit di kepalaku. Besok hari terakhir dan jelas aku yang kalah…
”siapa..?” aku tak perlu jawaban. Dia tersenyum sempurna untukku, aku kira aku bermimpi… ”Oh…kamu…” saat itu aku benar-benar ingin menangis. Dia duduk disampingku tempat tidurku, menggenggam tanganku erat dan tak mau melepaskannya meski aku berusaha melepasnya. Jahat sekali dia…masih saja ingin mempertahankan segala gengsinya di hadapanku yg lemah ini.
”Lepasin…”
Dia hanya menggeleng tersenyum ” dengar…aku tadi bertemu Nicko, dia kelihatan marah dan berucap : sialan kamu ! hari ini juga kamu bisa memaksanya untuk bareng kamu.” Aku melengos ” kamu bohongi kami berdua ya…”
”Untuk apa aku bilang, aku gak butuh belas kasihan kalian.” Mukaku memerah, dia menyentuh dahiku dengan tenangnya ”jangan sok perhatian deh.”
Tapi dia seakan-akan tidak mendengar ucapanku ” Panas sekali….gara-gara kamu bertengkar dengan Nicko di tengah hujan lebat kemarin ya ?” aku menatapnya lekat-lekat, entah imajinasiku atau nyata aku melihat kekawatiran di mata bagus itu. Tapi itu tidak mungkin. Tapi kenapa dia bisa tahu, apa dia mengikutiku? Kemaren aku dan Nicko memang bertengkar hebat, dan tadi dia minta maaf dan mau menjemputku. Kemaren dia tidak peduli aku sudah begitu menggigil karena marah dan dingin, tapi Nicko Cuma meninggalkanku begitu saja tanpa peduli. Untung aku bertemu Andre dan mengantarku pulang. Jika saat itu Presiden di depanku ini tahu kenapa tidak menghampiriku ? oh ya tentu saja aku tahu , mana peduli dia denganku, dan sekarang dia pura-pura memperhatikanku, memperdulikanku. Cowok macam apa dia ini???
”Bukan urusan kamu. Sekarang apa yg mau kamu lakukan? Menungguiku siang malam sampai besok?hari terakhir permainan kan?”tanyaku ketus.
Dia tersenyum menatapku dan mengacak rambutku lembut ” aku ke belakang dulu ya”
”Hei!!jawab pertanyaanku !!” aku kesal sekali, sama sekali omonganku nggak dianggap, bahkan tadi aku sempat tertegun oleh kelembutan senyum dan tangannya yg mengacak rambutku. Oh tidak…ini gak adil. Tiba-tiba ibu masuk nyodorin telefon ” Dari?”
”Nicko.” Kuambil telfon itu ogah-ogahan
”Hai…” sapaku malas
”Hai juga, kemana aja kamu? Aku mencarimu di seluruh kapus kayak orang gila. Kamu sama dia ya?” aku diam, saat itu sang Presiden masuk membawa bubur ayam, makanan favoritku.
”Iya aku ama dia, kenapa?”
”Kenapa?!! Aku pengen nonjok mukanya!! Udah ah aku mau rapat dulu. Nanti aku telpon.” Belum sempat kujawb udah ditutup. Bener-bener kesal kayaknya.
”Maem dulu ya…aku suapin.” ucap tuan Presiden dengan menatapku penuh mohon. ”Aku tahu dari ibumu, kamu belum makan sejak pagi.. kamu mau sembuh enggak sih?”
”Bukan urusan kamu kan?”
”Vir…aku mohon…”
”Rayuanmu gak ngaruh.”
”Vir, please…aku gak peduli kamu ngaruh atau enggak, tapi kamu harus makan. Wajahmu pucat.”
”Perhatian sekali..” Kupalingkan wajahku karena ditatap sedemikian rupa olehnya ”Aku kenyang”
”Aku gak percaya. Bukan untuk aku, tapi ini untuk kebaikan kamu…oke?”
Sebenarnya aku ingin memakannya, tapi aku tidak bisa melihatnya bersandiwara sejauh ini…menyedihkan sekali. Tapi akhirnya aku pilih menyerah, meski perhatian dia palsu aku ingin menikmatinya, karena besok aku tidak akan merasakannya lagi, aku tidak bisa menatapnya sedekat ini lagi, dan aku tidak bisa merasakan dia milikku lagi. Dia menyuapiku pelan-pelan, memperlakukanku seperti bayi, begitu hangat sampai aku tidak percaya dia hanya pura-pura.
”Sudah malam, sebaiknya kamu pulang.” pintaku, ketika dia asyik banget mengupas jeruk untukku. Seharian dia di rumahku, melayaniku tanpa lelah…sebegitu seriusnyakah dia ingin memenangkan permainan ini…
”Baru jam 8, satu jam lagi.”
”Sudah cukup…kamu sudah cukup membuktikannya padaku.”
”Bagi aku belum…” Aku gak percaya ada orang seperti ini di dunia ini…Akhirnya kubiarkan dia menemaniku sampai jam 9 malam. Kami berbicara banyak hal, dan aku benar2 menikmatinya.
”Sudah jam 09.00 lebih…” sang Presiden menengok jamnya.

“Oh ya…oke, aku balik ya. Pagi-pagi besok aku kesini lagi. Met bobok.” Badanku meriang seketika, dia menggenggam tanganku lembut dan mencium lembut keningku.. “Aku janji besok kesini.”
“Aku tahu, karena besok kita akan tentukan siapa pemenangnya.” Sang presiden hanya tersenyum, keluar dari kamarku dengan meninggalkan kehangatan yg menyesakkan. Meski ini semua palsu, aku tidak peduli, aku memilikinya dan sudah kuputuskan besok…aku kaget, tiba-tiba air mataku menetes dan trus menetes dengan derasnya…

***

Kubuka mataku dan segera kututup lagi, sinar matahari masuk menembus jendela kamarku. Kulirik arloji disampingku, jam 07.oo. Gila ! siang banget. Kubalikan badanku dan bengong seketika. Presiden itu sudah duduk manis menyambutku.
”Pagi Vir…”
Gila! Kayaknya dia tidak sabar ingin mengakhiri permainan ini, sampai rela kesini pag-pagi
”Jam berapa kamu kesini?”
”Jam 06.00” Ku melotot, melirik kembali jam wekerku ”Ya…satu jam aku duduk disini melihatmu tidur” ucapnya seakan-akan tahu apa yg ada di otakku. ”Oke…ayo cepet mandi, aku mau kebelakang bantuin ibu kamu buat sarapan.” Aku bengong aja ngelihat dia ngacir ke belakang. Dia bener-bener gila ya. Kuambil baju dan handuk menuju kamar mandi, selintas kudengar tawa ibu mendengar lelucon sang Presiden.Ibu tidak tahu ini hari terakhir tuh cowok menginjak di rumahnya.
”Hei kok malah nonton tv, badan kamu tuh belum sehat .”sapa sang Presiden dengan menarik tanganku lembut.”Ayo balik ke tempat tidurmu.” kulihat tangan yg satunya sudah membawa sarapan ”Ya…sarapan untuk kamu.”
Cukup Sudah!!
”Aku gak lapar, ayo kita selesaikan ini, tuan Presiden…”
”Itu gampang, tapi kamu makan dulu.”
”Males. Cukup sudah! Ayo kita putuskan !!” teriakku, aku kesal sekali dengan semua kepura-puraan di depanku. Sang Presiden duduk di depanku, menaruh sarapan untukku di atas meja disampingnya.
”Oke…jika kamu memang pengen cepat-cepat ya sudah, mau apa lagi.”
Sombong! Dia benar-benar yakin dengan dirinya sendiri
”Nah … apa keputusanmu?”
”Aku menolakmu…aku menang kan?”
”Oke…jadi sekarang aku jadi cowok kamu.”
Kutersenyum pedih, dia mengucapkannya sinis sekali. ” Iya…perjanjiannya memang seperti itu. Tapi kamu tidak perlu repot-repot jadi cowokku.” Wajah cakep itu kaget, dia pasti tidak menyangka aku bakal ngomong seperti itu.
”Kamu tahu kenapa? Karena sama saja. Kamu tidak suka aku, Pacaran seperti itu tidak ada dalam kamusku.”
Cowok itu tersenyum. Pasti dia senang sekali…
”Begitu…bagaimana kalau aku benar-benar ingin menjadi cowok kamu?”
Aku sukses melongo. Ku sentuh dahinya, biasa saja.
”Aku serius.”
”Cukup sudah permainan ini…”
”Kamu pikir ini permaianan? Aku asli serius…oke, taruhan lagi!”
”Taruhan?”
”Iya taruhan! Dalam seminggu aku akan buktiin kalau aku benar-benar sayang kamu.” Aku bengong. Aku tidak pernah membayangkan seperti ini jadinya. ”Kuakui aku yang kalah, aku bukannya membuatmu bertekuk lutut, tetapi malah aku yg bertekuk lutut.. dan sekarnag tampaknya aku harus membuktikan sekali lagi ke kamu. Aku nggak peduli apa akhirnya kamu suka aku enggak, aku hanya ingin kamu tahu…aku suka kamu.”
Kau menatapnya lekat-lekat…ini adalah kalimat yg begitu indah yg pernah kudengar dari bibir sang Presiden. Ibu kemarin bilang , sikap yang ditunjukkan dia bukanlah sikap penuh pura-pura. Jika benar-benar suka tidak mungkin serela itu. Tapi dia beda…dia sang Presiden, dia bisa melakukan apapun demi harga dirinya.
”Gimana Vir?”
”1 minggu?”
”Ya! Satu minggu.” Tegas sekali…aku tersenyum. Sampai seperti ini, mungkin dia memang serius, tapi aku ingin melihatnya sekali lagi. Aku suka pembuktiannya itu.
“oke!satu minggu.”
Dan…hari-hari indahku baru saja dimulai…dia tidak perlu tahu bahwa sejak dulu aku sudah kalah…aku sudah jatuh cinta sebelum dia jatuh cinta padaku…tapi biarlah ini jadi rahasiaku…

Oh ya…nama sang Presiden itu Farel.

**************

No comments:

Post a Comment