Dengan perasaan hancur Dena menutup teleponnya. Matanya tampak berkaca-kaca. Dadanya terasa sesak. Pemilik mata sayu itu menangis. Dia merasa bodoh dan marah. Sesaat kemudian dia beranjak menuju jendela kamarnya. Menatapi derai hujan dengan pandangan kosong tanpa kedip. Sejenak dia mengusap mukannya, lalu berbalik dan terpaku melihat sesosok wajah cute yang tersenyum menggoda di atas meja belajarnya. Tangannya terulur pelan membanting bingkai foto itu. Tak terelakkan lagi, bingkai itu berubah menjadi keping-keping berserakan, persis seperti hatinya saat ini.
Teringat kembali semua yang Restu ucapkan di benak Dena. Awalnya dia tidak percaya satu kata pun yang diucapkannya tentang Aditya yang ngelaba dengan cewek lain. Dia pikir Restu berkata seperti itu karena kecewa dia tolak cintannya. Dena tidak percaya cowok sebaik Aditya tega menyakiti hatinya.
Sampai akhirnya Dena merasa Aditya berubah. Tadinya dia pikir terpengaruh omongan Restu, jadi mengira Aditya yang tidak-tidak. Tapi dari hari ke hari dia makin yakin kalau Aditya memang berubah. Dia jadi super cuek, egois, dan pemarah. Dan yg paling berubah dalam dirinya adalah dia menjadi hobby pergi ke sirkuit, entah cuma nonton atau ikut di dalamnya. Padahal, Aditya paling benci yang namanya balapan. Dulu gara-gara balapan dia hampir kehilangan nyawanya.
“Dia suka cewek lain. Dia balik ke sirkuit karena dia.”
“So why….?”
“Ya ampun Dena…..mengapa kamu tidak percaya sedikit pun padaku. Maksudku itu baik. Tidak ada maksud untuk memisahkan kalian, karena aku tahu itu tidak ada gunannya. Aku hanya tidak rela cewek yang aku sayangi disakiti.”
Restu mengeluarkan secarik kertas dari sakunya. “Ini nomor HP cewek itu. Dapat dari mana kamu tidak perlu tahu. Jika kamu memang ingin membuktikan ucapanku, telepon saja.”
Dena mengusap mukannya kembali. Dia harus mengakui apa yang selama ini dia sangkal. Dia harus terima kenyataan, semua ucapan Restu benar. Terbukti, setelah dia menjadi sahabat Mita dan berhasil memancingnya untuk bercerita tentang cowoknya, saat itu Dena merasa dirinya bodoh telah menyayangi orang macam Aditya.
***
Dena menatap cowok di depannya dengan tajam. Cowok itu sendiri cuma tersenyum-senyum tanpa dosa.
“Doain aku ya, supaya bisa menang.” Aditya menaiki motor balapnya.
Dena tersenyum sinis. “Doain kamu?”
“Iya. Apa salah ?”
Dena makin memasang senyum sinisnya untuk membalas senyum Aditya yang tampak begitu memuakkan di matanya.
“Heh.doain supaya kamu cepat mati ?”
Mata Aditya terbelalak kaget. Dia tidak percaya cewek sebaik Dena bisa bicara sekasar itu padanya.
“Dena! Kamu kenapa sih!”
“Seharusnya aku yang tanya kamu.”
“Sejak kapan penyakit gila balapmu itu kambuh ?. Apa sejak kamu yakin aku tidak akan melarangmu lagi karena kita udah pacaran hampir 5 tahun ini atau karena kamu lagi jatuh cinta?”
Aditya tidak menyahut, lalu….”Ya, aku lagi jatuh cinta…..sama kamu!”
“Gombal! Aditya yang menyukaiku adalah Aditya yang tidak suka dengan yang namanya balap. Aditya yang menyayangiku adalah Aditya yang berjanji padaku tidak akan balek ke sirkuit lagi!”
Dena mengatur napasnya yang memburu. “Kamu kira aku suka kamu perlakukan begini?”
“Aku tidak mengerti apa yang kamu maksud.”
Dena tertawa pahit. “Aku kira kamu sangat mengerti apa maksudku.” Dena melangkah pergi. Tidak peduli Aditya memanggilnya.
***
Dena tahu muka Aditya berubah warna ketika melihatnya di rumah Mita. Tampak keterkejutan yang luar biasa di wajahnya. Dena ingin sekali bersorak untuk itu. Untuk kepuasannya, kemenangannya. Tapi tidak, yang terjadi justru sebaliknya. Dia ingin teriak, menangis. Karena sejujurnya, semenit yang lalu dia masih berdoa Aditya pacar Mita bukanlah Aditya yang selama ini dia sayangi. Harapan tinggal harapan. Aditya milik Mita adalah Aditya yang menjadi miliknya selama hampir 5 tahun ini.
“Dena…..” Dena menyalami tangan Aditya dengan hati yang bergemuruh hebat. Pemilik wajah manis itu merasakan eratnya genggaman Aditya ketika membalas salam kenalnya. Dia mencoba tegar menatap mata elang itu. Mata elang yang ingin tahu apa yang terjadi pada dirinya saat ini. Senyum getir nan gemetar menahan matanya yang hampir terlihat berkaca-kaca.
“Mit, aku pulang dulu ya.” Dena melepas dengan paksa genggaman tangan Aditya. Dia tidak mau terlalu lama di rumah Mita. Dia tidak mau kalau akhirnya dia membongkar kebusukan Aditya di depan Mita yg begitu baik dan lembut.
“Hujan-hujan begini ?. Tunggu sampai hujannya reda. Nanti kamu bisa sakit!” Cegah Mita.
“Tapi…”
“Biar kuantar!” Tawar Aditya. Dena merasa dia ingin mencari kesempatan darinya untuk membicarakan hubungan mereka. Satu kesempatan yang tidak ingin Dena berikan meskipun Aditya memohon.
“Tidak usah. Merepotkan saja.”
“Sama sekali tidak.”
Mita menepuk pundak Dena lembut “Biarkan dia mengantarkanmu”
“Kamu ikut juga, kan?” tanya Dena dengan tatap penuh mohon.
“Maaf…aku disuruh jaga rumah. Lain kali saja aku ke rumahmu dengan Adit.” Pupus sudah harapan Dena untuk menghindari kesempatan berdua dengan Aditya.
“Ternyata kamu kenal Mita.” Aditya memecah keheningan.
“Kaget ? dia sering cerita tentang kamu. Dia pengagummu nomor satu. Aku tidak tahu bagaimana jadinya jika dia tahu hanya mengagumi seorang buaya darat.”
Aditya menatap cewek berkulit bersih itu tajam,lalu dipalingkan mukanya. Sejenak dihela napasnya pelan.
“Kamu marah dengan ucapanku tadi ? silahkan saja. Tidak ada yg melarang kok. Jangan ditahan, nanti hatimu sakit seperti hatiku saat ini.” Sindirnya tajam.
“Den…bukan maksudku…”
“Bukan maksudmu apa?!” potong Dena “Kamu kira aku cewek apaan ! kamu kira aku suka diduain. Kamu kira aku suka sikap sembunyi-sembunyimu itu. Kalau memang kamu sudah bosan denganku, katakan saja langsung. Jangan main petak umpet seperti ini!!” Emosi yg lama ditahan Dena meledak juga. Aditya terdiam. Tatapannya begitu resah.
“Aku tidak bisa putus denganmu. Aku tidak mau.”
Dena melotot. Ditatapnya lekat-lekat cowok Aries yg duduk tepat di sebelahnya itu.
“Apa mau kamu ? Tidak mau putus tapi menjalin cinta dengan Mita. Cowok macam apa kamu ini.”
“Aku berkata sungguh-sungguh.Aku masih sayang dan cinta kamu, Den…”
“Bohong!! jika benar rasa itu masih ada, kamu tidak akan menyakitiku. Tapi kenyataannya kamu menghianatiku.”
Dena mencoba mengatur napasnya yg memburu seiring emosinya yg meledak.
“Tidak ada gunanya kita lanjutkan hubungan ini…”
“Mita cewek baik, cantik, dan sangat menyukaimu.”
“Cukup! aku tidak mau mendengarnya. Aku sama sekali tidak menyukainya. Aku hampir stres harus berpacaran dengannya.”
Dena tertegun. Dia tidak percaya dengan pendengarannya sendiri. “Kenapa kamu masih mengelak? mengakulah. Itu semua benar adanya. Jangan bilang kamu tidak menyukainya dan tidak mau kehilangan aku. Terus terang itu semakin menyakitiku. Kamu kira aku akan terbujuk rayuan gombal seorang cowok yg sudah di ujung tanduk sepertimu ?”
Tanpa diduga Aditya menghentikan laju Kristanya. Sejenak dia menutup matanya.Dia sadar dia tidak boleh ikut terbawa emosi.
“Ingat baik-baik, Aku bukan cowok seperti itu.”
“Atas dasar apa aku harus mengigatnya?”
“Atas dasar bahwa aku sungguh-sungguh menyayangimu lebih dari apapun. Atas dasar aku pacaran dengan Mita karena terpaksa.”
“Terpaksa? gombal!. Sekarang bukan jamannya main paksa, Dit…”
“Aku tidak bohong. Aku pacaran dengannya karena kasihan. Dia anak temen ayahku. Dia mengidap kanker paru-paru. Umurnya tinggal dua tahun lagi. Sejak dulu dia menyukaiku karena itu aku tidak bisa menolak permohonan ayahnya untuk membahagiakannya di saat-saat terakhirnya.”
Dena tidak bereaksi. Dia tidak menyangka itu semua. Mita yg ceria dan selalu bersemangat mengidap penyakit yg dari hari ke hari menggerogoti nyawanya.
Melihat Dena terdiam, Aditya menjalankan kembali Kristanya di tengah-tengah hujan deras yg mengguyur bumi Yogyakarta.
“Aku sengaja tidak memberitahumu karena aku takut kehilanganmu. Tapi aku baru sadar itu salah. Setiap kali aku mencoba menceritakan padamu, tapi aku tidak pernah bisa.”
“Maaf aku balik ke sirkuit yg begitu kamu benci. Aku melakukannya karena Mita menyukainya. Aku harap kamu mau mengerti dan…”
“Aku sangat mengerti.” potong Dena ”Yang aku sesalkan kamu terlambat menjelaskan semua ini. Aku terlanjur membencimu.”
“Aku tidak bisa memaafkannmu meski kamu patut mendapatkannya. Biarlah hubungan kita sampai disini saja. Jagalah Mita dan jangan menggangguku lagi.”
“Jadi…kamu tidak memaafkanku?”
Dena menggeleng pelan. ”Untuk saat ini belum. Sekarang kita jalani hidup kita masing-masing. Mungkin aku egois, kamu sudah begitu menderita dan aku tidak bisa memaafkanmu hanya karena ketidak jujuranmu.”
Aditya merasakan apa yg namanya mimpi buruk.
“Aku belum siap untuk menerima kenyataan ini…” keluhnya
“Kamu kira aku siap? Tapi kita berdua harus mencoba. Aku rela kamu dengannya. Dia lebih baik dariku. Tidak seegois aku.”
“Tapi aku suka kamu.” Senyum pilu menghias bibir Dena. ”Akankah kamu melupakanku…?”
Dena menggeleng” Itu tidak mungkin karena aku terlalu menyayangimu sekaligus sangat membencimu.” Kepalanya menunduk. Matanya berkaca-kaca.
“Terima kasih…” Hanya itu yg mampu keluar dari bibir Aditya untuk menutupi ketidakrelaannya. Dia menghentikan mobilnya di depan rumah Dena. Sesaat lamanya mereka membisu. Cowok Indo itu sibuk memaki dirinya yg begitu bodoh tidak jujur sejak awal hanya karena takut kehilangan dan mungkin tidak harus berpisah seperti ini.
“Aku tidak akan pernah melupkanmu. Kamu yg tersayang untuk pertama dan selamanya.” Ucapnya lirih dan mengecup manis pipi Dena yg mampu membuat tubuh Dena gemetar. Baginya kecupan itu begitu hangat mendamaikan hatinya. Sama ketika pertama kali Aditya mengungkapkan perasaannya.
Entah sejak kapan cewek periang itu menangis. Dengan lembutnya tangan Aditya mengusap air matanya. Mereka bersitatap lama. Tidak ada yg menyangkal jika masing-masing hati inginkan keromantisan seperti dulu. Tapi Dena sadar itu sudah tidak mungkin. Dia ingin semuanya jelas. Dipeluknya Aditya erat. Seerat Aditya menyambut pelukannya.
“Aku sayang kamu…” Aditya makin mempererat pelukannya demi mendengar bisikan Dena yg mungkin tidak akan pernah dia dengar lagi.
Dena melepas pelukannya pelan. Dicobanya tersenyum untuk membalas tatapan Aditya yg begitu dikaguminya. ”Kamu masih ingat, kita pertamakali bertemu disaat hujan seperti ini dan sekarangpun kita berpisah disaat hujan. Tampaknya kita dipertemukan dan dipisahkan oleh hujan,ya…” Adit mengangguk resah. ”Terima kasih untuk semuanya.”
Dena keluar dari Krista diikuti Aditya yg kemudian menghadangnya di depan pagar. Sementara itu hujan sudah mulai reda.
“Den…masihkah kita bisa bertemu dengan cinta kita masing-masing untuk mengulang yg lebih baik. Bertemu di saat hujan mulai reda. Disaat matahari mulai bersinar.”
Sesaat Dena terdiam, Lalu dia mengangguk pelan. Aditya tersenyum lega, lalu masuk ke mobilnya dan pergi menjauh…
Dena masih terdiam di tempatnya. Dirasakannya sinar matahari yg begitu hangat menyentuhnya, sehangat pelukan Aditya yg untuk terakhir kalinya dia rasakan. Ditutupnya matanya pelan, lalu dibukanya lagi. Sejenak dia merasa kehilangan, tapi dicobanya untuk mengerti memang harus berakhir seperti ini.
“Ya Adit…aku juga ingin kita bertemu kembali disaat sinar yg begitu hangat ini menyentuhku. Masih ada harapan untuk kembali mengulang, seperti matahari yg kembali bersinar setelah hujan reda. Semoga…”
**************************************************

No comments:
Post a Comment