Sore yang indah kurasa. Hujan baru saja berhenti, tetes-tetes air masih bergemericik jatuh dari atap rumahku, udara yang sejuk menyentuh kulitku, dan tampak sinar matahari mulai mengepakkan kehangatan sayapnya meski hampir tenggelam. Kumenelengkan kepalaku ke kanan, menatap Anteriumku yang kurasa perlu sedikit dirapikan.
“Selia !! “
Kutersentak kaget, gunting ditanganku sampai terjatuh. Keberbalik melototi
Andrea yang malah tertawa karena sukses ngagetin aku.
“Maap Non…disengaja…”Kuterima gunting yang diambilkan Andrea masih dengan sisa-sia tawanya. Lalu aku tersadar Andrea gak sendirian, ada dua cowok yang menemaninya.
“Siapa ? “ Pertanyaan yang sebetulnya tak perlu. Aku tahu sekali jawabnya.
Seperti diingatkan, Andrea menarik cowok yang berdiri disampingnya untuk makin mendekat padanya. “Dia Ryan, temen chatiing dan email aku yang sering kuceritakan ke kamu itu lho…”Ucapnya dengan mengedipkan sebelah matanya.
Kutersenyum dan aku tak yakin senyumku tulus melihat Andrea dengan santainya merangkul lengan Ryan.
“ Oh…hai…. Andrea senang sekali mau bertemu kamu.”
Ryan tersenyum tipis, memandang Andrea dengan lembut terkesan terpesona “Aku juga senang, dan dia juga tidak mengecewakan…” ucapnya dengan menatapku sekilas.
Aku tahu maksud perkataan itu…dan entah kenapa aku merasa sedih, padahal itu tak perlu karena ini sudah keputusanku sejak Ryan mengirimkan email untuk ngajak temu darat…Ya , akulah cewek yang seharusnya berdiri disampingnya saat ini…karena ketidak beranianku dan ketidak percayadirianku, aku memaksa Andrea menggantikan aku untuk menemui Ryan…Tidak perlu repot nyamar nama karena sejak awal aku pakai nama Andrea.
“Dan dia Farel, temennya. Mereka butuh tempat untuk tidur selama 1 bulan, ada kamar kosong gak ?” ucap Andrea membuyarkan alam pikirku dalam sekejap.
Kumenghendikkan bahu, aku tidak bisa berpikir jernih, Ryan tak mau mengalihkan matanya ke Andrea, Dia hanya melihatku sekilas seakan aku ini semut yang tak perlu dipedulikan…Andrea memang cantik, hampir sempurna menurutku, tapi tak bisakah untuk bersikap ramah kepada sepupunya ini…meski dudduk di kursi roda.
“Soal sewa kamar kos ibu yang kelola, Tanya saja, Ibu dibelakang.”
“Oke.” Kumendesah sedih melihat mereka berjalan berdampingan sangat akrabnya. Kuberbalik ke Anteriumku lagi, tapi entah kenapa aku sudah tak berminat lagi untuk mempercantik tanaman hiasku ini. Wajah Ryan dan keakraban yang terjadi diantara dia dan Andrea memenuhi ruang-ruang kepalaku…
“Tampaknya mereka sangat serasi bukan ?”
Aku kaget, Farel masih berada di belakangku. Dia tersenyum mengambil kursi dan disejajarkan disampingku dan mendudukinya “ Tampaknya kamu agak iri…”
“Kenapa harus iri ?” sahutku ketus, baru kali ini ada cowok yang begitu terang-terangan merasa benar membaca perasaanku.
“Ryan memang tampan, dan beruntung sekali Andrea jika berhasil meruntuhkan hatinya…tidakkah kau bermimpi yang sama ?”
“Tidak…aku tidak peduli.”
“Lalu kenapa matamu tak lepas menatapnya ?”
Aku benar-benar kesal dengan cowok sok tau ini. Lebih kesal karena kepergok dan itu benar sekali…
“Hanya heran saja…”
“Heran ? kenapa ?”
Dia tampak tertarik dan aku tidak suka.
“Karena kudengar dari Andrea, Ryan bukan cowok yang seangkuh itu, aku mengira Ryan cowok yang sedikit cuek tapi baik hati dan menghargai orang, bukan berlagak senorak tadi…”
Farel tersenyum, senyum yang menurutku sangat menarik.Dan baru kusadari, dia jauh lebih tampan dari Ryan.
“Kecewa ?”
“Kecewa ? kenapa harus kecewa, itu bukan urusanku.”
Ya.. aku memang kecewa, lebih kecewa dari yang kuduga, dan rasanya sakittt…
***
Aku lumayan terkejut malihat Farel pagi-pagi udah nongol dengan pakaian rapi. Kulihat sekeliling, Ryan tidak tampak batang hidungnya.
“Hai, mau kemana ?” tanyaku basa-basi meski males kalau mengingat pembicaraan kemarin sore.
Lagi-lagi dia tersenyum sangat menarik,,,
“Jalan-jalan. Mumpung sampai disini. “
“Sama Ryan ?”
“Sendiri.”
“Oh…aku duluan ya, mau kuliah.” Ya…mana mungkin Ryan melewatkan satu hari dengan Farel kalau ada Andrea yang jauh lebih menarik.
“Aku antar.”
“Tidak usah, Pak Min yang antar kok.”
“Pak Min tiba-tiba perutnya mules, mau ngelahirin kali, dan dia nyerahin amanatnya ke aku.”
Aku menatapnya curiga, Pak Min pasti bilang ke aku meski mendadak sekalipun. Tapi untuk apa juga Farel bohong.
“Kamu gak boong kan ? “
“Ngapain juga aku boong, ayolah ntar telat lho..”
“Bukannya kamu tadi mau jalan-jalan ?”
“Ya, habis antar kamu.” Sahutnya gak sabaran dengan bukain pintu mobil disampingnya. Aku pilih menyerah saja, aku juga tak mau gara-gara debat gak berguna harus ketinggalan kuliah Mr. Evan yang sangat tampan. Aku mendekatinya dan kaget tiba-tiba dia menggendongku dan mendudukkanku ke jok mobil.
Mukaku merah padam karena kesal “Kamu…”
“Kenapa ? nunggu Mbok Inem bantuin duduk ? Mbok Inem udah kepasar disuruh mendadak ama ibu kamu.”
Memang selama ini Mbok Inemlah yang bantuin aku naik ke mobil. Kadang aku merasa kesal sendiri karena harus selalu meminta bantuan orang lain untuk melakukan hal sebetulnya bisa kulakukan sendiri jika tak ada kursi roda ini….
“Kok ibu gak bilang aku ?” pagi ini semua serba ada urusan mendadak dan jadi orang pelupa semua untuk memberi tahuku.
“Lupa kali…” sahutnya enteng “ Dan ternyata kamu cukup berat…”
Kumenatapnya kesal “Kamu pernah ketemu orang nyebelin, sok tahu dan suka sekali memaksa ?”
“Belum…”
Kutersenyum sinis “Ngaca saja.” Dia mendelik “Pagi begini jalanan rame, jadi kosentrasilah jika gak ingin didemo keluargaku. ”Lanjutku sebelum dia berkomentar. Dan dia pilih diam sampai kampus.
“Tolong bantu aku turun .” pintaku begitu mobil berhenti. Dia menatapku penuh senyum, sesaat tadi kukira dia tersinggung dengan ucapanku, ternyata dia anggap angin lalu.
“Oke dengan satu syarat ?”
Aku menghela nafas “Apa ?”
“Ikut kuliah kamu, gimana ?”
Aku melotot “ Kamu…”
“Nyebelin? Sok tahu ? suka memaksa ? memang. Kamu mau menolak ? silahkan tetap duduk manis disini. “
“Ada apa dengan otakmu ? katanya kamu mau jalan-jalan ..”
“Ikut kuliah di universitas lain tampaknya lebih menarik. Gimana ?”
Aku hanya bisa menyerah lagi, baru kali ini aku ketemu cowok yang tak bisa kumengerti jalan pikirannya seperti ini. Tapi aku tak ada pilihan lain…
“Terserah…”
“Begitu donk..” Dia lalu turun dan membukakan pintu mobil, mengeluarkan kursi rodaku, lalu membopongku keluar dan didudukkan ke kursi roda. Dia melakukannya dengan sangat hati-hati sekali seakan takut kalo aku kesakitan. Pelan-pelan dia mendorong kursi rodaku. Semua mata memandangku heran. Ya, selama ini aku slalu memutar kursi rodaku sendiri, tapi sekarang seorang cowok tampan tanpa pemaksaan membantuku dengan alasan yang tak masuk akal.
“Kamu tidak malu mendorong kursi rodaku dan duduk disampingku seperti ini ?” tanyaku ketika sudah duduk di ruang kuliah nunggu Mr. Evan datang .
“Kenapa malu ? “
“Karena aku tidak normal…”
“Siapa yang bilang kamu tidak normal ? kamu sangat normal. Dan aku tidak suka membahasnya lagi.”
“Siapa kamu ? kita baru bertemu kemarin, apa kamu orang yang terlau merasa kasihan pada orang lain dengan otak terbalik-balik ?”
Farel tersenyum “Aku hanya ingin nemenin cewek yang baru cemburu ama sodara sepupunya.”
“Aku tidak cemburu.!”
“Oke-oke..Cuma..”
“Cukup, Rel…kalo kamu mengolokku terus dengan hal yang sama sekali gak benar, mending kamu keluar saja.” Potongku kesal, tiba-tiba Farel menyentil hidungku
“Tukang ngambek.”
“Ternyata benar, Selia ditemani cowok.” Aku yang mau membalas omongan Farel, noleh. Doni menatapku dan Farel gantian dengan menyunggingkan senyumnya yang membuatku muak sejak dengan cara tersenyum itu pula dia meninggalkan aku begitu tahu aku harus di kursi roda.
“Cowokmu ?” Tanyanya datar.
“Bukan urusanmu. Apa kamu tidak cukup dengan semua yang tlah kamu lakukan padaku ?” sahutku gusar
“Aku cukup merasa bersalah ninggalin kamu, tapi tampaknya sekarang aku bisa tenang.”
“Dan aku tidak bisa tenang kalau kamu masih berdiri di depanku. “ Komentar Farel datar. Matanya menatap Dony tidak suka. Yang ditatap memalingkan muka ke arahku. Dan tanpa berkata apa-apa lagi meninggalkan kami berdua. Bersamaan dengan itu Mr. Evan nongol.
“Kamu tidak perlu bicara seketus itu pada Dony.” Aku heran sendiri dengan yang kukatakan, harusnya aku berucap terima kasih, tapi kalimat itu seakan nyangkut di tenggorokanku.
Aku menunduk dipelototi Farel, dengan sedikit menundukkan wajahnya dia berbisik padaku : “ Kamu itu gak manis. “
Kuangkat mukaku sehingga wajah kami begitu dekat sampai kudengar desah napasnya dan mencium harum parfum maskulinnya.
“Bukan urusan kamu. “
Dia tersenyum manis dan menyentil hidungku lagi, lalu kembali mendongak tanpa berusaha membalas ucapanku. Aku menunduk…entah kenapa ada yang terasa aneh di hati ini ketika ditatapnya seperti itu…dia seakan tahu benar apa dan bagaimana yang kurasakan…apa dia peramal ? atau cenayang ? atau dia hanya orang yang sok tahu … entahlah…
***
“Apa kamu tidak punya teman lain untuk diajak jalan-jalan ?” ucapku kesal karena sekali lagi aku kalah menuruti kemauannya untuk menemaninya jalan-jalan ke malioboro. Ini bukan kali pertama dia berhasil memaksaku untuk menemani kemanapun dia ingin pergi. Entah sekedar nongkrong di boulevard atau mencoba jalan diantara dua pohon beringin alun-alun kidul dengan mata tertutup. Padahal menurut pengakuannya dia punya saudara sepupu di kota gudeg ini.
“Ryan pacaran, sepupuku sibuk. “
“Alasan kuno, apa kamu gak kreatif dikit ?” entah kenapa mendengar ucapan Ryan pacaran tidak membuatku sedih seperti dulu.
“ Dengan alasan itu saja kamu mau kuajak, ngapain repot-repot bikin alasan lain.” Aku mendongak melototi dia dan dia cuma nyengir, mendorong kursi rodaku sedikit lebih cepat. Ada perasaan sedikit bahagia melihat orang-orang disekitarku menatapku iri. Mungkin mereka mengira Farel cowokku, padahal tak mungkin ada cerita seperti itu diantara kami.
“Kamu cuek banget sudah satu minggu ninggalin kuliah. Padahal kamu gak perlu melakukannya, Ryan sudah lupa kamu kesini karena solidaritas sebagai seorang teman.”
Dia yang sibuk memilih-milih baju menatapku sebentar, tersenyum dan kembali sibuk memilih. “ Iya juga sih…tapi kupikir gak ada salahnya disini sebentar lagi, anggap aja pergantian cuaca, sudah lama aku pengen ke jogja dan baru kesampaian. “
“Memangnya kapan terakhir kau ke jogja ?”
”10 tahun yang lalu. “ Aku melongo dan tampaknya dia tahu. “Jangan heran gitu,
kamu sendiri kapan terakhir ke Jakarta ? atau malah belum pernah ?” kuternyum. Dia ada benarnya. Ku memutar rodaku menuju ke baju cewek. Kuambil sepotong baju dengan model yang sederhana tapi tampak elegan, warnanya yang biru mengesankan eksklusif.
“Pilihan bagus. “
Aku kaget dia udah disampingku. “Thanks…”
Dia tersenyum “Welcome, dan bagaimana dengan ini ?” dia menunjukkan t-shirt biru dongker dengan corak yang cukup simple tapi keren
“Oke juga.” Ucapku jujur, dan untuk pertama kalinya aku melihat wajahnya tampak begitu gembira. Ternyata waktu seminggu belum cukup mengenal tentang seorang Farel…
***
“Kamu gak ingin bisa berjalan kembali ?” aku yang mau melahap nasiku, menatapnya. Hari ini kami mencoba masakan asli jogja di pinggiran malioboro, dan lagi-lagi aku menyerah menurutinya…
“Kenapa kamu bertanya seperti itu ?
“Bukankah itu pertanyaan yang wajar ?”
“Untuk orang yang tahu betul jawabnya, itu menyakitkan.” Kulahap nasiku dengan resah.
“Aku tidak tahu jawabnya, untuk itulah aku bertanya. “
Kuhela napasku resah “Aku ingin tapi itu tak mungkin…kakiku lumpuh permanen…”
“Salah..kakimu lumpuh sementara, kamu ingin tapi tidak mau.”
Kutatap dia tajam “Apa maksudmu ?”
“Ayolah Selia…semua orang yang menyayangimu mengatakan kamu sebenarnya bisa berjalan kalau kamu mau….”
“Sejak kapan kamu tertarik urusan pribadiku ?” ucapku ketus. Aku tidak suka diinterogasi seperti ini.
“Mereka cerita sendiri tanpa kuminta. Ibumu, adikmu, pak min, mbok inem, juga Andrea…”
“Wah senang sekali mereka gosipin aku, apa mereka juga mengatakan apa alasanku?” Tanyaku sinis.
“Tidak, dan aku ingin mendengarnya sendiri dari kamu.”
Kutersenyum masam, kuletakkan sendokku. Aku sudah tak berminat lagi dengan nasi gudeg di depanku.
“Sampai kiamat aku tak akan bilang, dan sekarang antarkan aku pulang, tapi jika kamu masih ingin disini, aku akan balik sendiri naik taksi.”
Kami saling manatap dan kupastikan kali ini aku tak akan menyerah begitu saja…akhirnya tanpa banyak omong dia menurutiku.
***
Aku menatap Farel tidak suka ketka melihatnya berdiri di depan pintu gerbang fakultas, jelas sekali dia menunggu seseorang. Begitu melihatku dia langsung berlari ke arahku.
“Hai..”
“Kenapa kesini ? aku tidak berminat menemanimu kemanapun keinginanmu saat ini.” Ucapku dingin.
“Kalau ini demi kebaikanmu gimana ?”
“Aku tidak peduli…”
“Ayolah Sel…sekali ini saja…”
Kutatap wajahnya, tak ada wajah main-main disana. Aku sendiripun sebenarnya penasaran, baru kali ini dia mengajakku untuk kebaikannku…atau sebagai pengganti ucapan maaf…entahlah…dan akhirnya aku kembali pilih menyerah.
Dan baru kali ini aku merasa kecewa tlah menyerah ikut Farel dan merasa sangat marah begitu tahu apa yang dimaksud demi kebaikanku.
“Selia..” kuangkat tanganku, dia terdiam.
“Lebih baik kita balik tak ada gunanya disini.”
“Tapi Sel…kamu belum mencobanya, mana kamu tahu itu berguna ataau tidak ?
“Karena aku tidak berminat.” sahutku pendek dengan memandang sekilas kembali gedung pusat terapi berjalan. Lalu menatap Farel kesal..
“Karena dengan berjalan mengingatkanmu pada kecelakaan yang membuat ayahmu meninggal ?”
“Oh…jadi kamu telah berhasil tahu alasannya ? siapa yang kasih tahu ? kamu sogok berapa dia ?”
“Selia…mereka ingin kamu kembali seperti dulu…ceria, energik dan penuh semangat.”
“Tahu apa mereka tentang yang kurasakan? mereka tidak tahu apa-apa…” Ya…apa hak mereka memberitahu Farel alasan kenapa aku tidak ingin berjalan…aku memang tidak ingin teringat saat dimana aku mengganggu ayahku menstir dengan maksud bercanda, tapi aku tak tahu itulah saat terakhir aku bisa bercanda dengan ayahku…gara-gara aku, ayah tidak bisa mengendalikan mobilnya bahkan tak sempat menghindari sebuah truk besar dengan kecepatan tinggi dari arah yang berlawanan…
Dengan duduk di kursi roda aku bisa menghukum diriku atas kesalahanku ini…dan mereka seenaknya saja bicara seperti itu…
“Selia…”
”Cukup Rel…cukup…”
Akhirnya Farel membawaku balik ke rumah. Kutolak dia saat ingin membantuku mendorong sampai ke ruang tamu. Dengan sisa-sisa kekuatan aku menahan air mataku, memutar rodaku menuju ruang tamu.
“Kukira selama ini kamu orang yang tegar dan kuat…ternyata kamu hanya cewek cengeng yang tak mau kembali hidup untuk dirimu sendiri hanya karena rasa bersalah yang ingin kamu tanggung sendiri. “Kuhentikan rodaku demi mendengar ucapan Farel “Kamu kira dengan berada di kursi roda kamu bisa menghidupkan ayahmu lagi? Ayahmu pun pasti akan sedih melihat kamu tak mau bangun dan bergerak maju…Ayahmu pasti sangat sedih…” Kuputar kursi rodakuku, kutatap dia tajam. Berani sekali dia bicara seperti itu padaku. Dia pikir dia siapa…
“Aku ini mungkin bukan siapa-siapa bagimu, tapi perlu kamu tahu satu hal, aku sangat menyayangimu…” Tanpa tersenyum Farel berbalik pergi, dan aku hanya terdiam menatap punggungnya…kata-katanya barusan membuatku seakan tak punya daya untuk melawannya. Kukira aku sedang bermimpi.
***
Aku tidak tahu sudah berapa lama aku termangu di depan kamar Farel. Semalaman aku tidak bisa tidur memikirkan kejadian kemarin. Ketika kusadar aku harus minta maaf padanya. Tapi…untuk mengetuk pintunya saja aku tak punya keberanian, lebih tak terbayangkan lagi kalau harus melihat reaksinya. Kuhelai napasku, bagaimanapun aku harus bicara dengannya. Kuulurkan tanganku ke daun pintu kamarnya. Tiga kali kuketuk, dan tak ada sahutan, tidak biasanya dia belum bangun sesiang ini, atau dia sudah tahu kalau aku yang mengetuk pintunya, tapi…gak mungkin.
“Dia sudah balik. “
Aku kaget, menoleh. Ryan berdiri tak jauh dariku dengan senyum datarnya. Entah kenapa, aku tidak merasa apapun seperti pertama kali bertemu.
“Kapan ?”
“Tadi pagi, dia baru ingat besok harus mengajukan bab IV skripsinya.”
“Oh…apa dia tidak pesan apa-apa?” Aku tidak siap dengan kepergiannya yang mendadak seperti ini. Aku seperti kehilangan sisi lain dari hatiku, sisi yang selama ini datang tak diundang tapi begitu memikat, sisi yang akhir-akhir ini sering kutelaah sendiri…sisi yang aku sendiri tak pernah berpikir untuk melepasnya…
“Tidak, cuma dia bilang siapapun yang mencarinya tidak perlu repot-repot mengejarnya, tak kusangka kamu yang mencarinya.”
Kumendesah resah…apakah dia begitu marah ? padahal begitu banyak pertanyaan di benakku untuknya…lalu apa harus kubiarkan pertanyaan-pertanyaan ini tetap menjadi pertanyaan tanpa jawaban…
“Tolong beri tahu alamat rumah dia.”
Ada senyum sinis di wajah Ryan “Dengan keadaanmu sekarang bukankah akan lebih banyak merepotkan orang lagi ?”
Ku menatap Ryan tajam. Jadi inilah orang yang dulu begitu kurindukan ingin bertemu. Aku jadi mengerti ucapan Farel, dan aku makin bertekad untuk menemuinya meski harus memakan bertahun-tahun untuk mencapainya. Ku beri Ryan senyum termanisku.
“Kita lihat saja.”
***
Aku tahu hampir semua pasang mata menatapku tanpa kedip. Penuh percaya diri aku menghampiri meja sekretaris di dekat pintu ruang direktur utama perusahaan tempat kuingin membuktikan pada diriku sendiri.
“Bapak Farel ada ?” sekretaris cantik itu sesaat menatapku canggung kemudian tersenyum.
“Bapak baru rapat, Mbak udah punya janji ?”
“Sudah.”
“Kalau begitu silahkan tunggu di dalam, Mbak.”
Kutersenyum mengangguk “Terima kasih.”
Ruang tempat Farel bekerja ternyata sangat luas. Tadinya aku tak percaya cowok sok tahu itu direktur perusahaan besar kalau tidak melihat fotonya di meja paling besar di ruangan ini. Aku tertarik melihat komputer yang masih menyala di mejanya, kuhampiri computer itu. Makin tertarik saat kutahu dia ternyata baru mau menyelesaikan emailnya untuk seseorang. Dasar ceroboh…Lalu aku terkejut sendiri saat tahu untuk siapa email itu akan dikirim. Aku langsung mengecek email-email yang telah lalu. Saat itu rasanya aku seperti dihempas ke tanah tanpa sempat bernapas…Ini tidak mungkin!
“Aku merasa tidak janjian dengan siapapun !”
Suara itu, belum sempat aku beranjak berdiri pintu sudah terbuka. Wajah tampan yang begitu kurindukan itu menatapku tanpa kedip.
“Selia…?” tanyanya seolah meyakinkan dirinya sendiri bahwa dia tak salah lihat. Dia lalu menutup pintu tanpa melepas tatapannya. Aku sendiri seakan tersihir tak mampu memalingkan muka atau menunuduk.
“Hai Farel, sudah 1 tahun tak bertemu.” Sapaku mencoba tersenyum untuk menghilangkan atmosfer kekakuan yang tercipta tiba-tiba karena dia hanya berdiri di depan pintu tanpa berminat menghampiriku.
“Untuk apa kamu kesini?” belum sempat kujawab dia tiba-tiba melototi komputernya “Apa yang kamu lakukan?!” dia berlari mendekatiku, segera aku beranjak dari mejanya, seketika dia menghentikan langkahnya menatapku tanpa kedip dengan keterkejutan luar biasa di wajahnya. Jarak diantara kami kini hanya beberapa cm saja.
“Selia…kamu…”
“Ya Farel…aku sudah bisa berjalan di atas kedua kakiku lagi.” Ucapku tersenyum “Soal komputermu, itu salahmu sendiri meninggalkan dalam keadaan menyala.”
Seperti diingatkan dia langsung menghampiri komputernya, ekspresinya saat itu tidak bisa diduga. Aku hanya diam menunggu. Dia terduduk dikursinya, menatapku dengan pandangan yang tak kumengerti.
“Sejak kapan kamu tahu akulah pengirim email itu ?” tanyaku tanpa mencoba melawan tatapannya.
“Sejak pertama bertemu kamu.”
“Kenapa Rel…kenapa tidak beri tahu aku kalau kamulah orang yang selama ini yg mengirimi email aku ? kenapa kamu biarkan aku menganggap Ryan orangnya sampai hari ini ?”
“Karena saat itu aku ingin mengenalmu apa adanya…mungkin sama seperti kamu ingin mengenal sosok pengirim emailmu yang sebenarnya ” Dia beranjak dari duduknya, menghampiriku, menatapku, apa dia tak tahu alasanku hanya karena aku tak punya cukup keberanian. “Selamat untuk keberhasilanmu.” Dia menatap kakiku.
“Hanya itu ?” tanyaku tercekat.
“Itu tujuanmu kesini bukan ? untuk mendapatkan selamat dari aku ?”
Kumenggeleng, air mataku hampir jatuh. Aku tak menyangka Farel masih menganggap aku sama seperti dulu.
“Aku kesini karena begitu banyak pertanyaan dibenakku yang harus kutemukan jawabnya dengan kedua kakiku ini sendiri, Aku kesini karena ingin berterima kasih dan minta maaf padamu atas kelakuanku dulu.Aku kesini untuk meyakinkan pada diriku sendiri”
“Lalu…sudah kau dapatkan semua itu?”
“Iya…ternyata waktu satu tahun tak bisa menghapus perasaanku padamu, dan ternyata aku tidak bisa membuatmu memaafkan aku atau sekedar menerima ucapan terima kasihku. Aku ingin mengatakan aku menyukaimu dengan berdiri di atas kakiku sendiri. Tapi ternyata aku terlambat untuk menanyakan apa ucapan kamu menyayangiku itu sungguh-sungguh. Kamu sudah begitu membenciku.”
Dia terdiam, tapi matanya tak mau melepasku. Aku sudah cukup senang dengan pertemuan ini. Dan aku bahagia saat tahu cowok yang kusukai dulu bukan Ryan…pangeranku dulu dan sekarang orang yang sama.
“Lebih baik aku pergi sekarang.” Ku berbalik menuju pintu, Pintu sudah terbuka sedikit saat tiba-tiba sebuah tangan kokoh memegang handle pintu yang masih kupegang dan menutup pintunya kembali. Aku tidak tahu apa yang harus kulakukan saat itu…
“Kamu slalu begitu, tukang ngambek…” aku mau menjawab, tapi jari Farel menempel di bibirku. Desah nafasnya terdengar jelas di telingaku “Kamu slalu menyimpulkan sendiri tanpa bertanya. “
“Aku…”
“Aku sayang kamu, baik dulu sekarang atau yang akan datang.”
Kuterdiam, tak tahu harus berkata apa.
“Sudah tidak terhitung berapa kali aku ingin ungkapkan semua lewat email slalu saja kuhapus, lewat telepon slalu kututup. Aku saat itu pergi mendadak karena aku tahu jika aku bertemu kamu maka yang terjadi aku akan memelukmu. Aku hampir gila setiap kali memikirkanmu.”
Aku menurut ketika dia membalikkan badanku “Hei…kamu menangis…?” aku sendiri tak tahu sejak kapan aku menangis, dengan lembutnya dia menghapus air mataku. Kutatap dia yang tersenyum begitu lembut, air mataku makin deras mengalir, aku begitu bahagia, Tuhan begitu baik mengirimkan seorang seperti Farel dalam hidupku.
“Selain tukang ngambek ternyata kamu cengengnya minta ampun ya…”
“Sok tahu.”
Dia tertawa, tawa yang begitu manis dan sempurna di mataku.
***
Sunday, February 8, 2009
Untitled
Subscribe to:
Post Comments (Atom)

No comments:
Post a Comment