Hujan lagi...
Kutatap derai hujan yang mengguyur dari balik jendela restoran tempat kududuk. Entah kenapa aku suka mencari tempat duduk dimana aku bisa melihat leluasa keluar dari balik jendela, apalagi jika sendirian. Rasanya akan tidak enak jika kita sendirian di restoran dan tempat duduk kita menghadap ke dalam melihat orang-orang yg sedang makan dengan ngobrol. Parah lagi jika menghadap ke dinding. Wuih... gak oke banget.
Kuhirup kopi panasku, Kutopangkan tanganku ke dagu. Tatapanku keluar melihat jalanan yang cukup sibuk, pantas saja ini jam pulang sekolah juga sebagian kantor. Meski hujan cukup lebat, tampaknya tidak ada yg peduli kecuali keinginan cepat sampai tujuan. Tepat di depan restoran, di seberang jalan kulihat sebuah halte bus yg penuh sesak orang yang menunggu bus atau sekedar menunggu hujan.
Lalu diantara orang-orang yg menggerutu karena hujan, ada seorang pemuda yg cukup menarik perhatianku. Pemuda itu seakan tidak terjadi apa-apa, dia berdiri dengan badan disandarkan ke dinding halte , tangan kanannya memegang buku dan tangan kirinya dimasukkan ke kantong celananya, kedua kakinya disilangkan santai, sementara telinganya dipasangi headset, sesekali kepalanya bergoyang mengikuti alunan musik dari mp4 playernya.
Mirip sekali....
Aku benar-benar terpana dibuatnya. Pemuda itu telah memaksaku untuk membuka memori lama tentang seseorang yang sampai saat ini pun kadang masih membuatku tersenyum sendiri jika mengingatnya. Seseorang yg tak pernah tau hingga saat ini aku masih tertarik padanya.
Kala itu putih abu-abu masih melekat di badanku, yang kata orang masa yg paling menyenangkan, masa dimana seseorang beranjak dewasa dalam mengenal segala hal termasuk jatuh cinta. Saat itu pagi yang mengesalkan, gimana tidak, bangun kesiangan dan harus berlari ke halte bus agar tidak ketinggalan bus terakhir dalam batas waktu terlambat. Ini pertama kalinya aku naik bus. Biasanya aku bersama montor kesayanganku.
Aku tidak tahu sudah berapa kali aku duduk dan berdiri, melongok apa sudah nongol busnya, padahal dengan duduk pun juga bisa melihat dari kejauhan. Dan sudah tidak kehitung aku melirik sampai melototi arlojiku, aku merasa jarum jamnya berputar cepat sekali.
Untuk kesekian kali aku duduk dengan jengkel, makin jengkel ketika kumerasa hanya aku sendiri yg merasa panik diantara beberapa orang yg juga menunggu bus, termasuk orang yg duduk di sebelahku persis. Seorang cowok, berseragam sama sepertiku, dan kulihat dia tidak ada wajah panik sekali, matanya terpejam, kepalanya sesekali bergoyang mengikuti alunan musik dari mp3 playernya, sesekali bibirnya ikut bernyanyi.
Kuamati dia lebih seksama untuk tahu dia sekolah dimana kok jam segini masih cool aja, Rambutnya dipotong rapi, karena pakai jaket aku jadi tidak tahu label sekolahnya, lalu tampan...ya...dia tampan.
Tin... tinnnnn... SMA 1!!!
Aku terlonjak kaget, bus yg kutunggu-tunggu sudah di hadapanku, segera aku melesat naik ke dalam bus yg lumayan penuh itu. Setelah sedikit mengatur nafas, aku kaget cowok itu ikut bus yg sama. Dengan cueknya dia berdiri tak jauh dariku dengan mengeluarkan bukunya yg dari judulnya jenis-jenis buku psikologi. Aku masih menatapnya ketika dia menoleh ke arahku. Aku seperti kepiting rebus dalam seketika, tak tahu harus berekspresi seperti apa, aku pilih melengos ke arah depan. Gila....ketahuan...
Dan sejak saat itu...aku pensiunkan montorku. Aku pilih berkejar-kejaran dengan bus dan mencoba mencari sosoknya. Entah kenapa dia bisa memikat hatiku tanpa berkenalan...dan selama 2 tahun aku tahu dia satu tingkat di atasku dan sekolah di SMA favorit yg tak jauh dari sekolahku. Matanya indah, dan menjadi sangat tampan ketika berkacamata.Dia memiliki senyum yg indah ketika membaca buku yg nurut dia lucu, padahal buku yg dia baca kebanyakan buku psikologi. Dia suka band musik Scorpion karena hanya lagu dari band itu yg dia nyanyikan dengan pelan dan cuek meski jadi jelek ketika dia nyanyikan.
Menginjak tahun ke-3, dimana aku mulai disibukkan dengan berbagai les dan try out untuk menghadapi ujian nasional, aku masih bertemu dengan dia yg sudah tidak memakai seragam lagi. Aku jadi punya 1 pemikiran, kemungkinan dia kuliah di salah satu universitas favorit di kota kami, karena universitas itu masih sejalur dengan sekolahku.
Akhirnya tahun ke-4, aku tidak bertemu dia lagi. Aku kuliah di luar kota...dan yang kusesalkan, selama 4 tahun itu banyak sekali kesempatan untuk berkenalan dengannya, tapi rasanya aku seperti mati gaya ketika dia berdiri di sampingku, atau duduk di sampingku ketika di dalam bus.
Dimana ya... dia sekarang...sudah punya istrikah? atau malah sudah punya anak 2...entahlah...
"Menunggu lama?"
Aku terlonjak kaget. Bos ku tersenyum dan menarik kursi di depanku.
"Sudah melamun sampai mana?"
Kutersenyum keki "Sampai Kutub Utara dan membayangkan apa kamu cocok jika dilempar kesana..."
Dia tertawa "Jahat sekali...aku Bos kamu loh..."
"Oh ya? bukannya yg namanya Bos itu kasih contoh yg baik buat anak buahnya, semisal datang on time. Begitu kan Pak Farel?"
Farel tertawa "anggap aja sebagai hukuman."
Kumengernyit "hukuman?"
Farel mengangguk "Lupakan...hei tumben kamu belum pesan makan?"
Aku tak menjawab, menatapnya lama. Aku tahu Farel tadi tidak bercanda, tapi sudahlah...meski diancam mau ditembak pun dia tidak akan ngomong kalo nurut dia belum tepat waktunya.
"Masih kenyang" tidak mungkin kukatakan aku terlampau asyik mengingat seseorang yg sekarang entah dimana.
"Aku yg pesan." Lalu dia memanggil pelayan restoran dan memesan beberapa makanan tanpa minta pendapatku suka atau tidak. Tapi dia sudah memilih menu yg tepat untukku, dan aku tidak heran, karena akupun tahu persis menu yg dia suka. Meski hubungan kami sebagai atasan dan bawahan, tapi itu sama sekali bukan penghalang bagi kami untuk jadi teman baik. Aku sendiri heran, pasalnya aku sendiri baru beberapa bulan bekerja padanya, tapi kami seperti teman lama yg tidak pernah bertemu, yg langsung begitu cepat akrabnya, ditambah status kami yg masih single. Sudah pasti hubungan kami ini menjadi gosip hangat di kantor. Kami kadang membicarakan gosip ini dan menertawakannya, karena kami tahu diantara kami tidak akan pernah ada cerita saling jatuh cinta.
Kulihat ada yg tidak biasa pada dirinya hari ini, dandannya sedikit awut-awutan dan ada sebuah kotak berukuran sedang di pangkuannya.
"Ada masalah ya...kok sampai gak sempet menyisir rambut dan bajumu agak acak-acakan."
Dia tersenyum "Hmm... tidak juga sih."
"Lalu...kotak apaan tuh?jimat kamu ya?" tanyaku penasaran
"Oh ini..." dia melatakan kotak itu di meja, menatapnya lama lalu disodorin ke aku "untuk kamu"
Aku menunjuk diriku sendiri "Aku?" Farel mengangguk.
"Buka saja."
Kuamati kotak dari kayu itu lama, lalu dengan rasa penasaran kubuka kotak itu. Isinya ternyata 3 bendel buku, kenapa kubilang bendel, karena terdiri dari kumpulan kertas yang berbeda ukuran dan warnanya yg dijadikan satu.
"Apa ini Rel...?"
Farel tersenyum "Buka saja..."
"Sebanyak ini?"
"Apa susahnya tinggal membaca sambil menunggu makan siang datang."
Kumenatapnya tidak mengerti " Tapi..." tidak kulanjutkan bantahanku ketika kulihat wajahnya mengeras dan menatapku tajam, kepalanya menggeleng tegas.
"Jangan membantah."
Kumelotot...kalau itu berhubungan dengan pekerjaan aku akan menurut dan diam. "Pemaksaan." tapi kubuka juga buku jilid pertama yg berada di paling atas.
Lalu kubaca buku itu dengan penasaran, semakin ke belakang aku semakin tidak percaya dengan apa yg tertulis disitu. Ini...tidak mungkin...
Kutatap Farel yg tersenyum " Farel...ini..."ucapku terbata ketika sudah menyelesaikan satu jilid.
"Masih ada 2 jilid yang belum kamu baca Vir..."
Sementara makanan datang, kami sama-sama diam. Farel menatap ke luar jendela dan aku menatapnya.
"Rel..." ucapku ketika pelayan sudah pergi, dia menatapku. Kumenggeleng " aku ingin mendengar cerita 2 jilid ini dari bibirmu sendiri"
Dia tersenyum, meminum es jeruknya, lalu menatap keluar jendela...
"Bagiku tidak ada yg lebih menarik selain buku dan musik, sampai pagi itu aku melihat cewek yang kuyakin sangat telat meski aku sendiri lebih telat. Melihatnya yang setangah kesal, duduk dan berdiri kayak setrika itu membuat pagi itu tidak membosankan."
Farel menatapku untuk tahu ekspresiku, tapi aku sendiri tidak tahu harus berekspresi seperti apa.
"Lanjut..." ujarku pendek dengan berekpresi wajar atau setidak-tidaknya itulah menurutku.
"Cara cewek itu menatapku membuatku tertarik, cara senyumnya yg memikat, tawanya yg menarik ketika bercanda dengan teman-temannya di dalam bus membuatku ingin mengenalnya...Tapi...sampai tahun ke empat aku masih belum tahu caranya berkenalan, Lidahku kelu, tidak tahu harus mulai dari mana, harus bersikap gimana, ketika cewek itu di dekatku, duduk disampingku...aku merasa konyol sekali...dan bodoh sekali ketika kusadari kami tidak akan bertemu lagi..."
Kembali Farel menatapku, dan aku melengos.
"Aku sendiri kaget bisa menulis tentang dia sampai sebanyak itu."
Aku tidak bisa berkata-kata lagi...
"Aku tidak menyangka akan bertemu dengan dia lagi. Waktu sekian lama tidak bisa mengubah dia sepenuhnya. Dia masih sama ketika duduk di sampingku atau berdiri tak jauh dariku. Senyum dan tawanya begitu nyata dan membuat hatiku sesak...dan kupikir aku harus ungakapkan ini semua....Iya kan Viri?"
Aku gelagapan...tidak tahu harus berkata apa "Aku..."
"Apa kamu mau bilang kamu tidak mengerti apa yang aku bicarakan Vir ? apa kamu mau berkata dengan wajah polos bahwa kamu tidak menyangka aku terlalu pengecut hanya untuk menyapa saja tidak berani...atau kamu akan bertanya siapa cewek ini...?
Kutatap Farel, wajahnya terlihat kesal dan sedih campur aduk, sama seperti diriku saat ini. Aku harus bersikap bagaimana ketika tahu cowok yg sampai hari ini masih memenuhi pikiranku dan baru beberapa menit lalu aku memikirkannya, muncul di depanku. Pengakuannya seperti bintang dan batu yg jatuh bersamaan dari langit ke kepalaku.
"Kenapa kamu memberikan ini semua padaku?"
"Anggap saja pengakuan yg terlambat...atau pernyataan cinta yg terlambat. Viri...apa kamu masih bertahan untuk berpura-pura tidak tahu siapa cewek itu?"
"Kenapa kamu seyakin itu..." Ya kenapa dia bisa seyakin itu kalau aku cewek itu... pdahal aku saja sudah tidak mengenalinya lagi. Sosok di depanku ini sudah jauh berubah.
Farel tertawa " Viri..Viri... Baca jilid 2 halaman 3. Disitu jelas tertulis nama kamu. Halaman 5 tertulis ulang tahunmu."
Aku bengong...iya benar. Tapi dari mana dia tahu...lalu kubaca lebih lanjut, ternya pas aku bersama teman-temanku dan dia berada di belakangku ketika mereka menyebut namaku dan pas mereka mengucapakan met ultah dia berdiri di sampingku. tapi tunggu...padahal dia kan selalu memakai headset sampai-sampai temen-temenku bilang dia cowok sombong meski tampan.
"Sejak tertarik denganmu, kalo beruntung pas berada di dekatmu, kumatikan mp3 playerku tapi headsetku tetap kupasang biar tidak dikira nguping. itu boleh kamu tambahkan di halaman itu." jelasnya seakan tahu apa yg ada di benakku.
Kehela nafasku...semakin sesak kurasa. Mati-matian kutahan air mataku...aku tidak pernah menyangka akan ada cerita seperti ini...
"Farel...ini..."
"Sangat Terlambat? aku tahu." Wajahku memerah ketika dia mengeluarkan undangan pernikahanku "Kamu tahu, begitu kuterima ini aku langsung balik ke rumah dengan menelponmu untuk janjian makan siang di sini. Di ruang rapat aku tidak fokus dan begitu sampai rumah aku hampir gila ketika tahu kotak itu sudah tidak berada di tempatnya...setelah kuobrak abrik lemariku, ternyata kotak itu ada di lemari kamar adikku. Gak tahu kenapa bisa sampai disitu, aku tidak peduli, dan aku langsung meluncur kesini...yang ada di pikiranku, aku harus menyelesaikan ini...aku harus buat pengakuan."
Aku jadi tahu kenapa rambut dia awut-awutan dan baju dia kusut seperti itu.
"Maaf...."
Farel tersenyum "maaf? belum kumaafkan sebelum aku tahu apa perasaan kita sama saat itu..." Kemenatapnya "mungkin itu tidak penting bagimu...tapi ini penting bagiku Vir..."
Kutersenyum. Kuulurkan tanganku "Hai...aku Viri dan aku pikir aku tertarik padamu."
Farel menatapku lalu tersenyum menyambut uluran tanganku "Aku Farel, dan aku juga tertarik padamu."
Lalu kami tertawa bersama...dan 30 menit kemudian Elang menjemputku untuk foto pre wedding.
Read More
Monday, April 20, 2009
Pengakuan Terlambat
Subscribe to:
Posts (Atom)
