Sesaat aku terpesona melihat wajahnya yang luarbiasa tampan. Dengan tenang dia menyantap makan malamnya. Dia terlihat begitu sangat menikmatinya. Baju yang dia kenakan sangat serasi dengan wajah dan gayanya.
"Kuperhatikan kamu belum menyentuh makananmu."
Kutersentak kaget disapa seperti itu olehnya. Tergagap aku menyentuh sendok dan garpuku. Kulihat kekawatiran di wajahnya.
"Kamu sakit?"
Aku menggeleng. "Tidak, aku hanya..." kugigit bibirku. Aku tidak mau mengakui hari ini dia tampak sempurna di mataku.
"Hanya apa Rel?" tanyanya lembut membujuk.
Aku menatapnya. Mencoba kembali ke logika, mencoba kembali menegur diri sendiri bahwa pria di depanku ini tidak berhak kucintai dan tidak berhak hidup.
"Aku hanya merasa malam ini kamu sedikit berbeda. Tidak biasanya kamu menelfonku akan pulang cepat dan ingin makan masakanku."
Adit tersenyum dan entah kenapa kumelihat kesenduan di senyum itu.
"Aku lelah berlari, Rel..."
Aku mengernyitkan dahi "Maksud kamu ?"
Adit tidak menjawab, dengan tenang dia menyingkirkan piringnya yg sudah kosong ke samping dan mengambil jus jeruk kesukaannya. Diaduk-aduknya jus tersebut. Lalu menatapku, tiba-tiba dia menyentuh jemariku dan menggenggam tanganku lembut.
"Aurelia...apakah kamu mencintaiku?"
Aku berusaha menutupi kekagetanku mendengar pertanyaan tiba-tiba seperti itu.
"Itu sudah jelas..."
Adit tersenyum menggeleng "Aku tidak pernah bertanya ini padamu...jadi tolong jawablah...."
"Aku tidak akan mau menikah dengan orang yg aku tidak mencintainya."
Adit menarik tanganku dan mencium jemariku lembut.
"Terima kasih..." lalu dia melepas tanganku dan kembali pada jusnya. Dia memandang gelas itu lama.
"Kamu kenapa?tidak enak badan?atau tidak suka jus itu?" Tanyaku tidak sabar.
Dia menggeleng "Tidak, aku suka kok." Lalu dia menatapku lagi " Aurelia...kamu bahagia?"
"Pertanyaan apalagi ini Dit?"
"Aku hanya ingin tahu Rel...apa kamu bahagia?"
Aku mendesah pelan "Iya...aku bahagia. Cukup?"
Dia beranjak dari duduknya dan menghampiriku, Tiba-tiba mengecup keningku lembut dan lama, lalu berbisik di telingaku " Aku sangat mencintai dan menyayangimu Aurelia...dan untuk semuanya tolong maafkan aku Aurelia..."
"Apa maksudmu mengatakan ini semua Adit? kamu seperti bukan dirimu sendiri!" kataku kesal. Tapi dia hanya tersenyum dan kembali ke kursinya, dan dengan tenang meminum jusnya hingga habis.
Dalam hitungan detik aku melihatnya jatuh dari kursi. Tanpa perlu melihat keadaannya, kuberanjak dari dudukku dan menyambar tasku di meja ruang tamu dan melangkah keluar rumah. Kutersenyum melihat mobil Rado sudah di depan. Segera aku masuk ke mobilnya.
"Beres?" tanyanya penasaran.
Aku tersenyum "Tentu. dia sudah tidur nyenyak selamanya."
Rado mencium pipiku "Bagus."
Aku mengangguk. Ya...ini semua memang pantas untuk Adit. Tiga tahun lalu dia dengan cara yg sama telah membunuh ayah demi ambisinya untuk memiliki jabatan ayah. Dia telah membuatku yatim piatu dan aku tidak bisa melupakan tawa jahatnya ketika dia akhirnya diangkat menggantikan ayah. Dia tidak pernah tahu wanita yg dia cintai dan akhirnya jadi istrinya adalah anak pemilik perusahaan yg telah dia bunuh karena aku telah merubah semua identitasku termasuk wajahku begitu tahu Ayah meninggal karena dibunuh. Aku yg harus sendirian merayakan kelulusanku di salah satu universitas terkenal di Inggris tanpa ayahku, dan langsung terbang ke Indonesia untuk menengok makam ayah setelah aku selesai merubah semua wajah dan identitasku.
Aku benar-benar membencinya.
***
"Apa ini Pak Har?" tanyaku penasaran ketika menerima amplop dan buku semacam buku harian dari pengacara Adit.
"Selain warisan yg diberikan untuk anda, Pak Adit berpesan pada saya jika beliau sudah meninggal, beliau ingin andan mengantar amplop tersebut ke ibunya.
"Ibunya?!" tanyaku kaget. "Ibunya kan sudah meninggal."
"Tidak bu, Ibu Pak Adit masih hidup. Disitu ada alamat tempat ibu Pak Adit tinggal."
Aku membaca alamat yg tertera di pojok kanan amplop tersebut. Tidak jauh dari kantor ini. Sialll...sudah meninggal masih merepotkan juga. Tapi kesal juga dibohongi kalau ibunya sudah tiada.
"Baiklah...akan aku antar."
Pak Hari tersenyum "Satu lagi Bu. Pak Adit bekata kemungkinan ibunya tidak bisa membaca. Jadi tolong anda yg membacakannya nanti."
Gila! aneh-aneh banget sih! Batinku kesal. "Oke-oke, kalau begitu aku mau ngantar surat ini dulu. terima kasih pak Har."
Tanpa menanti jawabannya aku sudah melesat keluar ruangan menuju mobilku.
***
Berulang kali aku melototi dan membaca alamat yg tertera di amplop itu dengan bangunan besar terkesan sunyi di depanku.
"Tidak mungkin." ucapku sendirian.
"Ada yg bisa dibantu mbak?" Aku kaget tiba-tiba sudah ada satpam di depanku.
"Oh ya...aku mau tanya Pak, apa alamat ini benar disini tempatnya?" Pak Satpam membaca amplop yg aku bawa.
"Iya, benar sekali."
Aku masih tidak percaya. tapi mungkin saja benar, dan mungkin karena alasan inilah Adit berbohong padaku kalau ibunya sudah meninggal. Dia pasti malu sekali mengetahui kenyataan ibunya di rumah sakit jiwa.
"Mbak mau bertemu siapa?"
Sapaan pak satpam mengagetkanku. "mmm...dengan Ibu Melati."
"Oh...Ibu Melati, Ibunya Pak Adit ya...?" Aku mengangguk heran. Lumayan aneh seorang satpam kenal betul siapa Adit.
"Tumben bukan Pak Adit yg datang?"
"Baru ke luar negeri pak." ucapku berbohong.
"oh...kalau begitu, mari saya antar ke Ibu Melati."
"Iya, terima kasih."
Aku mengikuti Pak Satpam dengan lumayan takut melihat begitu banyak orang tidak waras berjalan-jalan bebas di taman utama bangunan rumah sakit itu. Lalu aku dibawa Pak Satpam ke seorang ibu yg memakai baju merah jambu yang duduk dengan tenang di bawah pohon mangga. Disampingnya ada seorang suster yg menemani.
"Nah ini Ibu Melati" Kenal pak Satpam padaku. Suster itu langsung berdiri "Mbak ini mau bertemu Ibu Melati." Suster itu mengangguk dan menyalamiku.
"Silahkan mbak, saya awasi dari sana." Suster tersebut menunjuk bangku kosong yg lumayan jauh dari tempatnya sekarang.
"Iya...terima kasih."
Suster itu tersenyum "Saya senang ada orang lain selain Pak Adit yg mau mengunjungi Ibu Melati."
Aku tersenyum mengangguk. Setelah Pak Satpam dan suster itu pergi, aku menatap Ibunya Adit, wajah tanpa ekspresi, hanya menatap kosong kedepan. Kuberanikan diri duduk di sebelahnya...masih menatapnya. Wajah yg cantik dan mempunyai kulit dan tubuh yg cantik pula.
"Hai Ibu..." aku merasa tenggorakanku tercekat, Entah kenapa ada perasaan sedih menyelinap di hatiku. Untuk pertama kalinya aku merasa tidak benar telah membunuh Adit.
"Ibu...aku diminta Adit untuk menyerahkan surat ini untuk ibu..."
Masih sama tanpa ekspresi, bahkan seakan tidak peduli aku sedang bicara padanya.
"Dan ternyata...aku memang harus membacakannya untuk ibu."
Lalu kubuka amplop itu. aku ingin segera membacanya dan keluar dari tempat mengerikan ini.
Ada tiga lembar, dan aku merasa seperti orang bodoh, membacakan surat untuk orang tidak waras. Ku menghelai nafas sebelum mulai membaca
Hai Ibu...apa kabar? Ibu...jika surat ini sudah dibaca berarti aku sudah tidak bisa menengok ibu lagi, menemani ibu duduk dalam sunyi. Ibu...maafkan aku ibu...aku sudah lelah berlari menghindar. Ibu maafkan aku jika aku mengambil keputusan keputusan tanpa meminta pertimbangan ibu.
Maafkan aku ibu jika aku aku telah membunuh ayah...itu karena aku tidak tahan melihat ibu menjadi seperti ini karena ditinggal ayah dan lebih memilih menikahi wanita keparat itu dan mengambil anak ibu yg baru lahir, adikku...
Ibu...Maafkan aku jika aku merasa berdosa membuat anak perempuan ibu menjadi tidak berayah dan menaruh dendam pada pembunuhnya...sampai rela merubah wajah dan statusnya.
Ibu...aku tidak tahan melihat kebenciannya yg mendalam padaku sampai rela mau aku nikahi hanya karena ingin balas dendam...Ibu...saat itu aku tidak tahu harus bagaimana melindunginya dan menebus dosaku selain menikahinya.
tapi ibu...aku tidak pernah menyentuhnya. aku hanya ingin melindunginya dan mendapatkan pria yg tepat untuknya.
Ibu...aku terus bermain dengannya ibu...aku selalu menang satu langkah darinya sehingga aku masih hidup dan selalu menjenguk ibu...
Ibu...aku senang sekali dia dekat dengan Rado, sahabatku sendiri. Aku yakin Rado bisa membahagiakan adikku.
Ibu...satu-satunya yg kuinginkan adalah melihat ibu sembuh, dan Ibu bisa sembuh hanya dengan bertemu buah hati ibu....
Ibu...maafkan aku jika aku tidak bisa mendampingi ibu lagi...Tapi lihatlah ibu...ada penggantiku, dan dia baru membacakan suratku ini untuk ibu...
Dia orang yg paling ibu rindukan dan ibu sayangi melebihi aku...Dia orang yg paling ingin ibu peluk dan menciumnya...
Panggilah namanya dengan lembut Ibu...
Amelia...
Entah sejak kapan aku menjatuhkan kertas-kertas ditanganku...Airmataku deras mengalir. Tangisku memecah...
Apa yang telah kulakukan...Apa?!!! Kulihat kedua tanganku....aku...aku...dengan tangan ini aku telah memebunuh kakak kandungku sendiri...
Aku...
Aku tersentak, ada tangan lembut mengusap air mataku. Tangan yg telah berkeriput itu menyentuh pipiku. Kulihat wajah cantik disampingku tersenyum penuh kasih...
"Amelia...akhirnya kamu datang anakku..."
Read More
Tuesday, June 23, 2009
Surat Untuk Ibu
Subscribe to:
Posts (Atom)
