Wednesday, April 19, 2017

Tunanganku

19.00 WIB
Ai merasa menyesal terbujuk rayuan maut orangtuanya untuk menghadiri undangan makan malam sahabat orangtuanya.
Tepat dihadapannya duduk seorang pria yang sangat tidak asing baginya. Pria yang tampan dan berbadan seksi, Pria yang menjadi dosen di Fakultasnya, Dosen yang sedang menempuh S-3 di Universitas yang sama, Pria yang hampir setiap mahasiswanya membicarakannya. Dan yang paling penting adalah dia Pria yang menjadi dosen pembimbing skripsinya.
Jika ingat kejadian tadi sore....ingin sekali Ai berlari dari sini, tapi tampaknya kursi yang dia duduki serasa ada lem nya.

3 jam sebelumnya.
“Bapak...tidak punya kencan?”
Ai menangkap ekpresi kaget di wajah dosen pembimbingnya. Tapi Ai tidak peduli, sudah hampir 30 menit dia hanya disuruh duduk menghadapnya, Laporan Skripsinya tidak disentuhnya sama sekali, dan dia dengan tenangnya berkata kalau harus menyelesaikan kerjaannya sebentar dengan menatap laptopnya.
“Apa?”
“Saya tanya...bapak tidak punya kencan?”
Seketika jari jarinya yg bermain di laptopnya terhenti, kedua sikunya dia topangkan di meja depan laptopnya, ditautkan jemarinya, dan matanya menatap Ai tajam. Ai tersenyum, dia berhasil mendapat perhatiannya.
“Kamu sedang terburu-buru?ada kencan?”
“Kenapa Bapak balik bertanya?”
“Ini” ditunjuknya laporan skripsi Ai “ ini kepentinganmu kan?”
Ai mulai tidak suka. Seperti yang sudah sudah...mereka sering berdebat, tapi dalam hal mempertahankan opini pada skripsinya. Tapi ini...
“Iya...lalu?”
“Jika ini kepentinganmu, hanrusnya tidak apa-apa kan menunggu 30-60 menit lagi?dan harusnya tidak ada agenda kencan di hari bimbingan skripsimu.”
“Memang...tidak apa apa, tapi harusnya juga bapak sebagai pembimbing saya bisa menyisakan waktu sebentar di sela sela kesibukan bapak untuk mereview laporan skripsi saya sebagai wujud tanggungjawab dan amanah bapak sebagai pembimbing yang menghargai jerih payah mahasiswanya.”
Ai melihat ketengangan di wajah pembimbingnya. “dan jika hari ini saya ada kencan, itu bukan hal yang aneh. Ini weekend. Saya tanya apa bapak tidak ada kencan, itu tidak untuk mengejek bapak, tapi karena bukankah wajar...weekend seperti ini berkumpul dan bersantai dengan keluarga. Dan sudah tidak ada orang selain kita di ruangan ini pak.”
Seketika dosen itu melihat sekelilingnya, trus menghela nafas. Ai tersenyum lega ketika laporannya di pegang dosen itu.
“Oke...biar ku koreksi di rumah,silahkan pulang.”
Ai tidak harus bersikap bagaimana, dosen dihadapannya ini memang terkenal dingin, cuek, tanpa basa basi, dan menurut para kaum hawa yang mendekatinya dia sangat tidak berperasaan.

20.30 WIB
“Terima kasih untuk pengertian kalian dan mau mengabulkan permintaan kami ini.” Ucap ibu pria itu dengan senyum manisnya.
“Oke...kami pulang dulu, kalian setidaknya perlu berbicara berdua.” Ai hanya memandang kesal kedua orang tuanya yang langsung pergi begitu saja meninggalkan mereka berdua di restoran yang tidak banyak orang datang karena prestisenya.
Lama masing masing berkecamuk dengan pikirannya sendiri. Ai paling kesal dengan suasana yang seperti di kuburan ini meski ada  alunan musik.
“Jadi...ini acara kencanmu?”
Ai yang masih sibuk memikirkan cara pergi dari sini, cukup kaget...tidak menyangka makhluk itu berbicara. Dia kira dia akan pergi begitu saja.
“apa? Ah iya...aku tidak tahu ada acara ini.”
Ai menunduk ketika pria itu menatapnya tajam. Dia apa tidak merasa kalau tatapannya itu yang bikin menarik. Atau karena sadar betul pesonanya dia jadi seperti itu.
“Kenapa kamu menerima pertunangan ini?”
“menurutmu?”
Pria itu tersenyum sinis, menyilangkan tangan didadanya dan menyadarkan punggungnya ke kursi
“siapa sih yg menyiakan kesempatan untuk jadi tunanganku?”
Ai kesal mendengar jawaban yg sudah dia duga itu.
“orang tuaku sudah berjanji, dan janji adalah hutang, maka aku membantu melunasinya.itu saja. Dan juga...ini hanya status, dan hanya 3 bulan. Dan selama 3 bulan ini anggap saja kita tidak pernah ada pertemuan ini.”
Ai cukup puas senyum sinis di bibir seksi itu menghilang. Dia pikir dirinya sama seperti wanita wanita yang mengejarnya samapi ujung dunia.
“Bagus...itu yang kumau.” Ucapnya ketus. “aku paling tidak suka ibuku merengek...untuk itulah...aku menerimanya. Akan kulunasi hutangnya dalam 3 bulan.”
Pria itu beranjak dari duduknya “tapi...untuk melupakan kejadian malam ini, itu tidak mungkin, karena orang tua kita akan gigih mempertahankan hubungan ini.”


1 hari sebelumnya
“Apa??? Tunangan?!!”
Harry menatap kedua orang tuanya dengan tatapan tidak percaya. Sejak kapan mereka punya pikiran sekolot itu, apa mereka tidak sadar kalau mau pun sekarang dia bisa memilih calon pengantinnya. Apa mereka sedang bermimpi anaknya jadi perjaka tua, apa mereka lupa kalau anak mereka ini lelaki impian para wanita.
“tenanglah...biar kami jelaskan...” ucap ayahnya
“tenang? Oh tidak...apa aku tidak laku sampai ayah dan ibu menjodohkanku?”
Ibunya tersenyum...” sebenarnya karena kamu itu terlalu digemari wanita, jadi kami melakukan ini”
“apa? Ibu tidak percaya aku bisa memilih wanita yg pantas sebagai pendamping hidupku?”
“Percaya...”sahut ayahnya “tapi ini adalah hutang.”
“Hutang?”
Ayahnya mengangguk. “ibumu punya seorang sahabat sejak kecil hingga sekarang. Menikah saja hanya terpaut 1 bulan. Dan saat itu ibumu saling berjanji, untuk menjaga hubungan mereka, mereka akan saling menjodohkan anak-anak mereka. Dan kami para suami menyetujui, karena...suami sahabat ibumu adalah sahabatku juga.”
“oh..trus itu aku harus menyetujui janji kalian yg tidak masuk akal ini? Dan kenapa bukan kakak?”
“kami dulu berjanjinya anak pertama dapat anak pertama, anak kedua dapat anak kedua, begitu seterusnya. Karena anak pertama mereka laki-laki, tidak mungkin kami jodhnkan dengan kakakmu yg laki-laki juga kan?”
Harry makin kesal mendengar penjelasan ibunya. Mana ada jodoh di tangan orang tua...seenaknya saja membuat perjanjian jodoh menjodohkan.
“Jodoh ditangan Tuhan.”
“iya..dan manusia wajib berusaha.”
“dengan membuat perjanjian jodoh menjodohkan?” sahut Harry sinis.
“Harry...maafkan kami yang telah melakukan ini tanpa memikirkan perasaanmu, tapi tolong...jalani apa yang kami inginkan dalam 3 bulan ini...setelah itu...sudah lunas. Bahkan jika 3 bulan ini akhirnya kalian tidak berjodoh, kami mengerti.”
“ahhhh...” Harry memejamkan kedua matanya “ jadi ini hanya status kan?”
“Iya.” Sahut orang tuanya kompak.

------------- Siang hari menjelang makan siang------------------
Ai sedang berjalan keluar dari ruang kelasnya ketika HP nya berbunyi, dilihatnya nomor tidak dikenal. Dan ini sudah ke 3 kalinya nomor itu menghubunginya. Dia memang paling malas mengangkat nomor yg tidak jelas seperti itu.  Tapi karena sudah 3 x , Ai mencoba mengangkatnya
“Halo...”
“Memangnya HP mu ditaruh di atap atau digantung di pohon kelapa yang paling tinggi sehingga tidak bisa mengangkat telp ku?”
Ai melongo tanpa ada angin langsung kena badai...dia mencoba mengingat suara yg marah marah tak karuan itu. Dan begitu mengingatnya dia ingin membuang HP nya ke atap atau menggantungnya di pohon kelapa yg paling tinggi seperti ucapan priia itu.
“aku tidak suka menerima telp nomor tidak jelas.”
“tidak jelas??? Di kampus ini Hanya kamu yg tidak tahu nomorku.”
“bagus donkkk...aku masih waras.”
“Apa? Ah...sial kenapa aku harus menuruti ibuku yg memintamu untuk datang makan siang sekarang.”
Ai menghentikan langkahnya.
“Aku ada kuliah sekarang. Beri saja alasan itu.”
“Kamu pikir ibuku percaya?dia memaksaku untuk menjemputmu juga. Benar-benar merepotkan.”
Ai kesal sekali “ ya itu tugasmu untuk membuatnya percaya...masa tidak bisa, memalukan status dosen pembimbing.”
“tidak ada hubungannya”
“seorang dosen pembimbing harusnya mempunya trik trik yang oke karena itulah dijadikan pembimbing...karena pengalamnanny yg diatas rata-rata. Jadi persoalan seperti ini harusnya bisa diatasi kan?”
Ai tidak tahu ekspresi Harry sangat sangat kesal.
“Keluar sekarang, aku sudah di depan gedung fakultas.”
Ai tidak mengerti dengan jalan pikiran pria itu.  Apa  dia suka sekali dijadikan trending topik. Menunggu di depan fakultasnya, Seperti pangeran kesiangan saja.
“Aku sudah ada janji makan siang, sampaikan maaf ke ibumu.”
Harry hampir mambanting HP nya kalau tidak ingat dia sedang berdiri di samping mobilnya yg dia parkir tepat di jalan depan pintu masuk fakultas teknik dan medapat lirikan banyak orang dengan segudang pertanyaan mereka yg hanya bisa disampaikan di hati atau bisik-bisik, bahkan terang terangan melototinya dari ujung rambut sampai ujung kaki seperti tidak pernah melihat orang seksi nan ganteng macam dirinya. Jadi untuk itu dia harus menjaga image di depan mereka.
“Bisakah kau menghargaiku sedikit. Aku selama ini tidak pernah berdiri di samping mobilku seperti ini kayak orang bego hanya menunggu orang yang sedang melunasi hutang orangtuanya selama 3 bulan.”
Ai tertegun, dia memang mungkin sedikit keterlaluan, tapi siapa suruh menunggunya di depan fakultas seperti itu, tapi tunggu dulu...Harry bukan orang yang akan melakukan hal-hal seperti itu. Karena penasaran Ai bergegas keluar. Dan memang...Harry dengan wajah kesalnya berdiri disamping mobilnya, punggunya disandarkan ke mobil dan tangannya bersedekap dengan jemarinya tangannya memainkan HP nya. Apalagi ketika dia melihatnya, ekspresinya sangat...tampan menurut Ai.
Ai kaget ketika HP nya berbunyi lagi. Dilihatnya Harry menunjuk HP nya yg ditempelkan di telinganya, Ai mengangkatnya sambil melihat pria itu yg berjalan masuk ke mobilnya.
“Apa aku harus berjalan menjemputmu kesana, menggandeng tanganmu dan membuka pintu mobil untukmu? Cepat kemari dan masuk mobil. “
Ai kembali ke alam sadarnya...apa pria ini memiliki otak terbalik balik sehingga kelakuannya sangat tidak bisa ditebak seperti ini.
“Kamu duluan...sms aku alamatnya, aku akan diantar seseorang,”
“Apa?terserah!”
Ai kaget ketika mobil Harry melaju kencang seperti itu. Tapi dia juga tidak bisa untuk mengabaikan seseorang yg sudah menunggunya di parkiran. Segera dia berlari menuju parkiran.

***Malam hari, rumah Harry***
“Sejuk sekali malam ini dengan melihat ibu menyiram tanaman seperti itu.”
Ibu Harry tersenyum melihat Harry yang langsung duduk di kursi taman dan menyadarkan punggungnya ke sandaran kursi, pakaiannya masih komplit dengan sepatunya.
“Ibu...apa ibu menyukai Airin?”
“Kenapa kau bertanya seperti itu?”
“jika iya...apa ibu sudah ganti selera menyukai wanita yg datang ke makan siang keluarga tunangannya dengan diantar lelaki lain, bahkan terang terangan lelaki itu mencium pipi wanita itu.”
Ibu harry tersenyum tetap menyirami tanamannya.
“jika dibanding wanita yg pernah jadi pacarku, dia benar benar tidak sopan.”
“cemburu?”
Harry kaget mendengar pertanyaan ibunya .”cemburu? ayolah bu...ini tidak lucu...aku hanya berfikir kenapa orang tuaku sangat ingin membayar hutang janji tanpa menghiraukan sifat dan kelakuan wanita yg akan ditunangkan dengan anaknya.”
“yang menciumnya itu pacarnya.”
“ha?pacar?dia punya pacar?”
Ibu Harry beralan ke kran air dan mematikannya. Lalu menghampiri anaknya yang masih berekspresi terkejut.
“Ibu, jika sudah mengetahui sejak awal kenapa masih semangat menjodohkan kami, dan Airin ...kenapa dia mau, jelas jelas itu akan menganggu hubungan mereka. Dan jika seperti itu makin jelas kan  kalau Airin tidak menyukai pacarnya..oh ibu kenapa aku dijodohkan dengan wanita seperti itu?”
Ibunya tersenyum, duduk di samping Harry.
“mereka sudah pacaran selama 7 tahun.” Harry makin terkejut mendengarnya “dibanding dengan hubungan yang kau jalani dengan para wanita yang paling lama hanya 3 bulan, bisa kaupikirkan apa artinya itu? Alasan kenapa Ai menerima pertunangan ini kau sudah mendengarnya sendiri kan? Bagi dia pertunangan ini hanya sebagai status cicilan membayar hutang yang jangkanya 3 bulan. Dia tidak akan melihatmu sebagai pria yg pantas disisinya. “
Ibu Harry menegelus kepala Harry lembut. “ selain alasan hutang janji itu, aku dan ayahmu menyukainya dan menurut kami dia pantas menjadi orang yang selalu disisimu. Dia bukan seperti wanita wanita yang selama ini kau ajak kencan.”
“ibu ingin aku merusak hubungan mereka?”
Ibunya tertawa geli ...meski sudah sedewasa ini kadang Harry berpikir sangat polos.
“tidak...ini hanya karena hutang janji. Yang ibu maksud disini, kau tidak perlu kawatir hubungan 3 bulan ini akan membuatmu tersiksa, karena toh dia tidak tertarik padamu. Mungkin...kalian bisa berteman.”
Ada yang menusuk hati Harry,Ai tidak tertarik padanya?oh itu akan menurunkan reputasinya. “
 “Bagaimana jika dia menyukaiku?”
“dan bagaimana jika kau menyukainya?” tanya ibu Harry balik “bagaimana jika kalian saling jatuh cinta?3 bulan itu singkat tapi bisa akan banyak terjadi peristiwa bukan?”
Harry beranjank dari duduknya, mengela nafasnya sebentar. Lalu menatap ibunya”aku tidak mungkin jatuh cinta padanya. Dia wanita yg sangat keras kepala dan sama sekali tidak menghargaiku.”
“dan dia telah membuat anak ibu datang langsung kesini mencari ibunya dengan masih bersepatu untuk membicarakannya. Anak ibu ini...sangat penasaran bukan?”
Harry memalingkan muka dan langsung pergi begitu saja. Ibunya tersenyum geli. Selama ini meski punya pacar, Harry tidak pernah mengeluhkan hubungan mereka, dia merasa bisa mengontrol semuanya. Bagi dia pacar seperti sebuah aset yg dia kelola. Jika aset itu akhirnya dirasa tidak cocok lagi, maka dia bisa menjual dan menggantinya dengan aset yg lain. Dia tidak pernah kehilangan kontrol akan dirinya jika menyangkut wanita. Tapi hari ini, dia merasa seperti mengenal wanita dari luar angkasa. Wanita ini seperti puzzle baginya.

*Sore hari, kampus*
Ai melirik arlojinya. Ini kedua kalinya Harry menyuruhnya duduk manis di depannya, sementara dia asik dengan kerjaan dia. Bahkan ketika Ai terang-terangan menatapnya tanpa kedip pun, dia hanya membalas menatapnya sekilas.
“apa semua yang bimbingan denganmu selalu kau perlakukan seperti ini?menunggu di depanmu tanpa ada kejelasan apa laporan mereka akan langsung kau koreksi atau kau bawa pulang?”
Harry mendongak, tersenyum sekilas “tidak, hanya orang orang tertentu yg dapat apes aja, ketika bimbingan pas aku banyak kerjaan.ya...seperti dirimu saat ini.”
Ai mengeluh kesal. Lalu tiba tiba HP nya berbunyi, senyumnya mengembang dan itu sempat ditangkap Harry.
“Halo...aku masih bimbingan.” Ai melirik Harry dengan mendengar ucapan di seberang HP nya. “Oke kalau kau mau nunggu, iya...daaa”
Ai menutup telp nya.
“Dari siapa?”
Ai bersedekap tidak langsung menjawab, menatap Harry tajam,
“Aku tunanganmu 3 bulan...jadi sebagai seorang tuna..”
“Pacarku.” Potong Ai, Harry menghentikan kerjaannya dan menatap Ai kaget “ Iya...yg telp tadi pacarku.”
Harry langsung menyandarkan punggungnya ke kursi “mengatakan itu telp dari pacarmu ke tunanganmu? Tidak bisakah kau berbohong sedikit?meski tunangan ini hanya 3 bulan, tapi di depan tunangan mengatakan telp dari pacarnya...kau pikir...siapa yg lebih tidak berperasaan?”
Ai tidak langsung menjawab. Dia mencoba mencerna apa yg dikatakan Harry, tapi semakin dia cerna dia semakin tidak mengerti dengan jalan pikiran pria ini.
“aku tidak merasa melakukan kesalahan. Aku sudah mempunyai pacar jauh sebelum kita bertunanngan, dn bagiku jika kau pun punya pacar juga bukan hal aneh, mengingat tunangan ini hanya untuk peluanasan hutang janji.”
Harry tersenyum sinis, tapi entah kenapa hatinya merasa sesak sekali mendengar perkataan Ai. Dia tidak pernah merasa seperti ini seblumnya.
“Oke...terserah.” diambilnya laporan skripsi Ai. Di bacanya sekilas, pikirannya sama sekali tidak fokus. Tapi dia mencoba berpura pura mengkoreksi halaman demi halaman. Dan tiba tiba dia mendengar HP Ai berbunyi lagi, dan jelas dari pacarnya.
“aku akan membacanya di rumah, kerjaanku masih banyak.” Ucap Harry begitu Ai menutup telp nya, tampaknya pacar kesayangannya itu sudah menunggu di depan ruang dosen. Dia penasaran sekali ingin mengenal lebih dekat pacar tunangannya itu sampai Ai sama sekali tidak sedikitpun memalinkan wajahnya ke dia. Tapi jika melihat usia pacaran mereka, Harry jadi iri dengan pria itu.
“Ha...oke deh, kebetulan Dika udah menungguku.”
“Aku akan mengembalikan laporan ini...dengan satu syarat.” Ucap Harry buru-buru karena ucapan Ai barusan makin membuatnya sesak.
“Apa?”
“Besok malam ada pesta penyambutan kakakku. Dan aku ingin kau menemaniku.”
Ai melongo “Apa kau...”
“tidak bisa, ini perintah...dan apa kau menyuruhku membawa wanita lain sementara ada tunanganku? Oh aku tidak seperti dirimu yang dnegan polosnya berkata sedang ditunggu pacarnya di depan tunangannya.”
Ai terdiam, dia ingin sekali menolaknya, tapi yg terjadi perdebatan akan semakin panjang, dan HP nya berbunyi lagi.
“Oke. “ Ai beranjak dari duduknya”permisi, aku duluan.”
Harry hanya memandang Ai yg tergesa gesa keluar ruangan, bahkan hampir menubruk orang yg mau masuk ke ruangan. Selama ini dia tidak pernah merasakan hati yg sangat sesak seperti ini.
*Malam, kamar Harry*
“Harry...gimana? sukses mengajaknya?”
Harry yang hampir terlelap agak kesal ibunya malah masuk kamarnya dan menayakan usahanya untuk mengajak Ai pergi ke pesta. Dianggukkan kepalanya, dan ibunya langsung tepuk tangan dan menepuk bahu Harry senang
“langsung setuju?” tanya ibunya penasaran.
“siapa sih bu, yg menolak ajakanku.”
Ibunya tersenyum “Ibu tidak percaya, kau pasti memakai trik, enatah ancaman apa memohon.tapi Ai tidak segampang itu.”
Harry kesal sekali yg mendengar. Tapi dia tidak bisa membantah, karena itu benar.”
“Ya sudah kalo tahu...”
“trus triknya gimana?”
Harry pilih tidak menjawab, pura pura tertidur. Dia sendiri tidak tahu kenapa rela menggunakan cara seperti itu untuk mengajak wanita, padahal tanpa dia minta banyak wanita yg ingin berjalan disampingnya dengan bergandengan tangan.

*pagi, gedung s2 teknik*
“Harry!!!”
Tanpa basi basi, seorang wanita cantik memeluk Harry. Dan sebelum Harry memintanya melepas pelukannnya dia sudah melepasnya , tapi langsung menggandeng tangan Harry
“Pagi ini sibuk tidak? Ayo kita jalan-jalan.”
“Aku ada acara.”
“Oh ayolahhh...sekali ini saja, akhir akhir ini kamu jarang nongol di sini, waktumu tersita di gedung sarjana teknik, dan perusahaanmu.”
“Rita...” cewek yang memeluk Harry tadi menoleh, tampak Ronan berlari menghampiri mereka berdua. “pagi pagi sudah membuat berisik.”
Rita mencibir “aku mau merayu Harry, nanti malam akan ada pesta kan? Kutemani ya...?”
Entah kenapa Harry merasa jengah dengan kelakuan Rita. Di lepaskan tangan Rita
“Kali ini kamu harus gigit jari Rit...Harry sudah memilih dengan siapa nanti dia akan datang.” Ucap Ronan, dianggukin Harry. Dan jelas ada shock di mata Rita.
“Siapa?”
Ronan menepuk bahu Rita “aku lapar...ayo kita makan Rit...” tapi Rita tetap mematung dan menatap Harry tajam. Ronan yg tahu itu jadi melempar pandang ke Harry.
“Siapa Harry?”
Harry menghela nafas lalu membalas tatapan Rita “ aku tidak punya kewajiban untuk menjwab pertanyaanmu kan? “ lalu dipangdangnya Rona “aku duluan ya Ron...”
Sebelum dia melihat kemarahan Rita, dia pilih segera menyingkir jauh jauh. Diantara semua wanita yg mendekatinya, Rita yang paling dia tidak bisa menanganinya, kecuali Ronan. Ibarat Rita api, Ronan itu airnya. Meski begitu Harry tidak habis pikir kenapa Ronan tidak berterus terang saja dengan Rita.

Menjelang siang, mall
Harry hanya mengikuti ibunya yang berjalan kesana kesini memilih baju. Sebenarnya dia malas, tapi entah kenapa hari ini dia dengan senang hati mengikutinya. Mungkin karena dia merasa perlu menghirup udara segar, akhir akhir ini hatinya  selalu sesak.
“Perasaan baru kemarin beli baju.”
“ini bukan buat ibu, ini buat Ai.”
Harry terkejut, Ibunya meliriknya setengah kesal.
“Kamu itu jadi lelaki peka sedikit kenapa, perhatian donk...hampir sebulan mengenal AI, harusnya tahu donk Ai tidak punya waktu untuk hal-hal seperti ini, atau lebih tepatnya dia jarang mengunjungi pertemuan pertemuan resmi.”
“Trus?”
Ibunya geleng geleng kepala “ ngakunya pengalaman soal wanita?” Ibunya menarik satu gaun “hmmm...ini bagus.”
Harry menatapa gaun yg dibawa ibunya, berfikir sebentar “menurutku tidak cocok untuk Ai.”
Ibunya meliriknya kesal “ kalau bisa ngomong seperti itu, ya ikut milih donk...baju yg cocok buat AI, toh nanti dia akan mendampingimu di pesta.”
Harry cemberut, “males.” Dia nyelonong ke temapat lain, tapi tetap saja matanya melihat gaun gaun yang dipajang, sampai akhirnya dia mengambil salah satu baju, dilihatnya dari atas sampai bawah, senyumnya terbias di wajahnya.
“Bagus juga seleranya.”
Harry kaget melihat ibunya sudah di belakangnya, “oke kita ambil itu saja.” Ibunya mengambil alih gaun di tangan Harry.
“Ukurannya?”
Ibunya tersenyum lebar, menepuk bahu Harry “tenang...ibu sudah memikirkan itu, dan ibu sudah berhasil tahu ukurannya.”
Harry kaget tidak percaya. Sebelum ini ibunya tidak pernah sangat bersemangat seperti ini. Mungkin jika hubungan ini tidak berhasil, ibunya lah yg akan paling sedih.

*siang hari, food court*
Harry melirik arlojinya, dilihat ibunya masih asik makan. “bisa agak cepat bu? Masih ada dokumen yg harus aku tanda tangani di kantor.”
Ibunya melirik kesal  tapi kemudian dia tersenyum ketika melihat sesuatu di belakang Harry
“Apa kamu tidak tertarik dengan orang di belkangmu, pojok?”
Harry menatap ibunya , ibunya mengkode dengan dagunya, Harry mengikuti padangan ibunya. Dan ternyata dia melihat Rita sedang ngobrol asik dengan seorang pria.
“Rita?kan sudah biasa Rita dengan laki laki lain.”
Ibunya menggeleng “yang kamu sebut laki laki lain itu, kamu merasa tidak pernah kenal?”
Harry menengok diam diam lagi, diamatinya pria itu yg kini tangannya sedang memegang jemari Rita mesra. Memang setelah diperhatikan dia pernah melihat pria itu sebelumnya, tapi dimana ya...
“Sepertinya kenal...”
Mamanya geleng geleng kepala menghadapi kecuekan anaknya “ iya kenal...pas dia mencium pipi tunanganmu”
Harry kaget, dan menoleh lagi. Ya benar! Dia Dika pacar Ai
Ibu memperhatikan ekspresi Harry yang sangat surprise dengan apa yang barusan dia lihat. “mungkin anak ibu ini pengen duduk disini sedikit lebih lama lagi, ibu masih ada urusan, nanti ibu naik taksi saja, dan oh ya...kau harus membawa Ai ke salon, oke?”
Harry mengangguk seakan pikirannya sedang di angkasa, lalu mendongak menatap ibunya “ibu sudah tahu ya?”
Ibunya tersenyum, dia memang tidak menutupi kalau dia tidak terkejut melihat pasangan itu.
“sejak kapan?”
“sejak Rita mendekatimu dan kamu tidak ada penolakan.”
“Hah?” Harry mengusap wajahnya “apa ibu selalu melakukan ini?”
“tidak...tapi Rita sangat gigih mendekatimu, dan kamu menerimanya...kamu tidak pernah menolaknya. Jika memang dia wanita yg pantas, ibu akan setuju. Tapi ibu melihat dia berciuman dengan laki laki lain. Ciuman yang sangat mesra. Ibu tidak pernah melupakan wajah laki laki itu sampai Ibu melihatnya lagi mencium Ai.”
Harry terdiam ingin mendengar kelanjutannya
“Tadinya ibu masih tidak percaya, tapi...kemudian ibu memastikan.”
Harry menghela nafasnya. “kenapa ibu menunjukkannya padaku?”
Ibunya beranak dari duduknya, menepuk bahu anaknya sayang “karena ibu ingin melihat reaksimu...dan ibu mengerti dan lega. Oke, ibu duluan...”
Harry tidak mengehntikan ibunya. Dia masih duduk dengan diam diam kembali menengok ke belakang, orang yg diperhatikannya seakan dunia milik berdua saling menyuapi, dan akhirnya, berciuman tanpa meihat sedang dimana. Gila.
Harry jijik melihatnya dan langsung beranjak pergi. Dia tidak peduli dengan Rita, yang ada di pikirannya adalah bagaimana perasaan Ai jika tahu pacar kesayangannya selingkuh.

16.00, kantor Ai
Ai baru mau menelfon ketika ada sms dari Dika yang bilang tidak bisa menemaninya membeli gaun untuk pesta nanti malam. Ai ngakunya pesta ulang tahun kakak tunangannya jadi tidak mungkin mengajaknya. Apa karena itu dia marah? Semalam setelah acara tunangan, Ai sudah menceritakan semuanya. Bahwa ini hanya untuk melunasi janji hutang, dan saat itu sampai hari ini tidak masalah, dia malah menyukai kejujurannya dan dengan mesranya bilang kalau itu tidak mempengaruhi hubungan mereka.
Tadinya Ai ingin tidak menceritakan tunangan ini, tapi entah kenapa dia merasa dia akan mengkhianati hubungan yg sudah 7 tahun berjalan ini jika dia tidak cerita.
Ai mendesah ... berarti hari ini dia pulang naik angkutan umum, karena tadi pagi diantar Dika.
Semoga tidak mendengar omelan panjang dari Harry karena mungkin akan sedikit terlambat.
Tiba tiba Hpnya berbunyi, dia kira Dika berubah pikiran, tapi yg muncul ternyata nama Harry. Ogah ogahan dia mengangkatnya.
“Halo..”
“Dimana kamu?”
“Kantor, dan mau pulang. Tenang saja aku tidak lupa acara nanti malam.”
“Baguslah.”
“Tapi...mungkin aku sedikit terlambat, aku pulang naik angkutan umum, Dika tidak bisa menjemputku, ada rapat mendadak di kantornya, dan harus lembur katanya.”
Ai mendengar desahan kesal.
“Keluar.”
Ai melongo “apa?”
“aku sudah di depan kantormu.apa aku harus masuk ke ruangmu dan membopongmu?”
Ai merasa wajahnya memanas seketika. Sejak kapan Harry sampai kantornya, tapi dari pada dia makin menggerutu tidak jelas, Ai langsung menyambar tas nya dan pamitan ke kepanya dan berlari ke luar kantor. Dilihatnya mobil Harry memang sudah nongkrong disitu. Dengan masih rasa tidak percayanya dia masuk ke mobil, Harry menatapnya kesal.
“lama sekali sih.”
Ai pilih tidak menjawab, dia masih mengatur nafasnya yang ngos-ngos an.Harry sendiri seperti tidak membutuhkan jawaban langsung tancap gas menuju rumah Ai.
Sesampainya di rumah Ai, dengan santainya Harry ikut turun.
“Kamu bukannya tergesa gesa.”
“ya karena itu, aku mandi di rumahmu, tidak apa apa kan, aku tunanganmu bukan ornag lain.dan itu bisa menghemat waktu, karena kita masih ahrus ke salon.” Ucap Harry tenang dengan membuka bagasinya dan mengambil tas yg pasti berisi pakaian dan alat mandi dia, dan sebuah kotak segi panjang.
“salon?”
Harry menyangklong tasnya di bahunya, mendekati Ai “iya salon, ibu memintaku untuk membuatmu cantik, dan malam ini kamu memakai ini. Ibu yg membelikan.”
Harry menyodorkan kotak itu, Ai ragu ragu menerimanya. “ Oke..aku mau mandi dulu.”
Ai memandang kotak di tangannya. Dan menatap harry yg masuk ke rumahnya seakan akan rumah dia.

*18.00, salon”
Harry melirik arlojinya, masih memiliki waktu 1 jam untuk pergi ke pesta, dia sendiri sudah berganti pakaian dengan jas. Tinggal menunggu Ai yang masih di make over oleh ahli rias wajah di salon langganan ibunya ini. Dia kembli dnegan majalah di tangannya untuk mengusir bosan, dia tidak pernah menunggu wanita lain sebelum ini kecuali mamanya. Jika disuruh ngantar ke salon dia hanya akan mengantar saja dan dia tinggal. Tapi setelah kejadian siang tadi, dia jadi mulai mengerti apa yang terjadi dengan dirinya.
“Ayo...”
Suara ini, Harry mendongak, dia kaget setengah mati melihat makhluk di depannya. Hampir dia tidak mengenalnya, dalam hati dia berterima kasih sama mamanya. Dan gaun itu...seperti tercipta untuk dia.
Ai mengibaskan tangannya di depan mata Harry yg tidak berkedip “Hei...aku sebegitu cantiknya ya...sampai kamu hampir pingsan meihatku?”
Harry pilih tidak mendebat, dia beranjak dari duduknya. “Cuma tidak percaya saja...kamubisa juga jadi cantik.”
Ai mencibir . tapi entah kenapa Ai merasa senang sekali Harry terpesona melihatnya.

*19.00, pesta”
“Sebelum kamu keluar dari mobil, aku ingin mengatakan sesuatu padamu.”
Ucap Harry ketika mereka sudah parkiran gedung tempat dimana diadakan pesta.
Ai menatapnya “apa?”
“Kamu pasti belum tahu alasa aku menerima pertunagan ini?’
“karena tidak mau mendengar rengekan ibumu kan?” kata Ai.
“orang seperti aku snagat berat dengan pertunangan ini, untuk itu aku mengajukan persyaratan.”
Ai tertarik mendengarnya, dia ingin tahu apa ulah Harry kali ini
“meski hanya untuk melunasi hutang jani, tapi...yang namanya tunangan tetap tunangan, jadi selama 3 bulan ini, jika aku menginginkanmu untk bersamaku kamu tidak boleh menolakku.”
Ai melotot, dan Harry melihat Ai melotot seperti itu, dia malah ingin menciumnya. Karena wajahnya jadi begitu menggemaskan di mata Harry.
“Kamu gila ?”
“Tidak, gimana? Jika kamu tidka mau kamu bisa berhenti sekarang.”
Ai sadar jika dia berhenti sekarang maka akan hanya mengecewakan kedua orang tuanya“kamu...tidak akan melewati batas kan?’
Harry tersenyum melihat kekawatiran Ai, jika itu wanita lain pasti tidak akan berfikir dua kali, bahkan sampai mengatakan dia gila.
“Batas yang bagaimana?kita bercinta?” Ai mendelik yang mendengar, Harry tertawa “kamu pikir seperti itu karena aku suka gonta ganti wanita ?”
“Bisa jadi..”
Tangan Harry memegang sadaran kursi Ai, dan mencondongkan tubuhnya ke Ai sampai Ai mencium aroma maskulin Harry yang di matanya saat ini memang terlihat sangat tampan.
“mereka sering mengundangku untuk ke arah itu, apa sekarang kau ingin aku mengundangmu...”
“benar benar gila otakmu.”
Harry tersenyum “kamu boleh mengatakan batas batasmu, kukira itu fair untuk sisa waktu hanya hanya tinggal 2 bulan. Gimana, setuju?”
“Oke.” Sahut Ai pelan, Harry tersenyum menang, segera dia turun dari mobilnya dan diikuti Ai, yang langsung meminta Ai untuk melingkarkan tangannya ke lengannya.
Dan begitu smapai ruangan, Ai bersyukur dia tadi akhirnya mau di makeover dan memakai gaiun dari ibunya Harry, karena pestanya buat kaum elit. Dia makin erat memegang lengan Harry, sama sekali tidak ada yg dia kenal kecuali ketika dia melihat orang tua Harry yang berjalan menghampiri mereka.
“Ai...cantik sekali kamu...”Ibu harry langsung memeluk dan menciumnya, Ayah Harry menyalami Ai dengan wajah ramahnya
“Cantik sekali kau nak...”
“Terima kasih om, tante...”
“Meski hanya tinggal kurang lebih 2 bulan, memanggil kami dengan sebutan ibu dan ayah rasanya tidak ada jeleknya nak...” ucap ayah Harry hangat...Harry hanya tersenyum mendengarnya. Ai hanya mengangguk canggung.
“Oh...ini toh...tunangan adikku tersayangggg...”
Ai melihat seorang pria tampan yg tiba tiba sudha diantara mereka “Hai...aku Farel, kakak cowok bandel ini.”
Ai menyambut uluran tangan Farel “Airin.”
“Jika aku belum punya istri dan anak...pasti aku akan menang dari Harry untuk mendapatkanmu. Aku rela jadi tunanganmu.”
“Lebay...tuh diurusi tuh bayi mu...”ucap harry kesal.
Ai melihat seorang wanita sebaya kakak Harry sednga menggendong bayi yang snagat lucu.
“Ayo Ai kita kesana, biar mereka berdua memberi sambutan dulu.” Ibu Harry menggandeng tangan Ai mengajaknya ke tempat istri Farel berada. Ai menatap Harry yg tersenyum mengangguk dan bersma kakaknya langsung menuju ke atas panggung.
Dan Ai sangat kaget ketika tahu bahwa pesta ini bukan pesta penyambutan kakak Harry, tapi pesta pelantikan direktur perusahaan ternama yaitu Harry dan Kakaknya.
“Kau benar benar cantik sekali memakai gaun ini.” Bisik Ibu Harry
Ai tersipu malau. Dia lupa belum mengucapkan terima kasih karena leah dibelikan gaun seindah ini.”Terima kasih untuk gaunnya Ibu...”
Ibu Harry menatap Ai tersenyum “yang memilih dan membelikan gaun itu Harry.” Ai terkejut, “Ibu hanya menemani...”tambah Ibu Harry dnegan sedikit berbisik, karena cucunya sednag digendongnya dan terdtidur pulas takut membangunkannya.
Ai merasa hari ini dipenuhi kejutan oleh Harry, dan saat menatapnya yg sednag disalami banyak orang, dia sempat melihat Harry memandang ke arahnya. Segera dia memalingkan wajahnya. Dia tidak mau Harry melihat perasaan gugup yang tiba-tiba datang menghampirinya.
“Kamu tidak memberiku ucapan selamat?”
Ai yang asik memilih roti terkejut melihat Harry sudah di belakangnya, dan seenaknya mengambil garpu ditangannya dan roti yg di piringnya.
“Hmmm..enak juga rotinya.”
Ai tersenyum diulurkan tangannya “selamat ya...untuk posisi barunya, pak direktur Harry.”
Harry tersenyum menyambutnya dan menarik tangan Ai sehingga badan mereka berdekatan “bukan begitu cara mengucapkan selamat kepada tunangannya.”
Ai menunduk “Batas pertama...tidak boleh kontak fisik yg terlalu berdekatan” ucap Ai terbata bata. Harry terkejut mendengarnya. Dan mendekatkan bibirnya ke telingan Ai
“Oke dan terima kasih untuk ucapan selamatnya.” Bisik harry “bibir dan telinga...tidak akan menimbulkan efek apa apa kan?”
Ai memalingkan wajahnya,Harry tersenyum.
“Oh...jadi wanita ini yang jadi pasanganmu malam ini.”
Harry menoleh kebelakang. Rita.
Ai menatap wanita itu tanda tanya, dan gaun yg dikenakannya sangat menggoda denga bagian dada dan punggung yang terbuka lebar seperti itu. Jangan jangan pacar Harry.
“tidak lebih cantik dan seseksi aku.” Ucapnya spontan membuat wajah Ai memerah. “kamu tidak serius kan dengannya? Dia akan membuatmu bosan.”
Ai menatap wanita itu, tidak ada yg pernah dia melihat wanita sepercaya diri seperti itu. Benar benar luar biasa, dia seperti wanita yang harus mendapatkan apa yg dia inginkan.
Harry menggandeng tangan Ai “menurutmu?”
Ai berusaha mau melepaskan tapi Harry makin erat menggenggamnya.
“Yang paling mencintaimu itu aku...” ucap Rita dengan melingkarkan kedua tangannya ke leher Harry. “aku tidak suka ada wanita lain disampingmu. Apalagi dia tidak bisa dibandingkan dengan ku.” Ai melotot, rasanya menadi panas dihina seperti itu, apalagi ketika wanita itu menatapanya sinis. Ini sudah benar benar keterlaluan. Dia datang kesini bukan untuk mendapat perlakuan seperti ini.
“Lepaskan tanganmu dari leher tunanganku.”
Harry menoleh kaget, tadinya dia mau menarik tangan Rita secara paksa. Dan makin kaget melihat kemarahan di mata Ai.
“Apa?”
“apa pendengaranmu berkurang? Aku bilang lepaskan tanganmu, atau aku yg akan menarik tanganmu?pasti akan langsung jadi headline di surat kabar bukan?Direktur yang baru dilantik menjadi rebutan antara tunangannya dan....wanita tidak waras.”
“Apa?!” serunya dengan tangannya terlepas dari leher Harry.
“Kamu benar benar perlu memeriksakan telingamu ke THT. Dan benar...aku tidak bisa dibandingkan denganmu yang sebagai wanita penggoda tunangan orang. Kau bilang kau mencintainya? Apa sikapmu ini menunjukan kau mencintainya?jika kau benar benar mencintainya, maka kau akan menghargainya, dan jika kau menghargainya, maka kau tidak aka berbuat hal yg memalukan di acara yang dimana Harry sebagai pemeran utamanya. Seharusnya kamu malu.”
Harry menatap Ai kagum. Dia bahkan ingin menciumnya saat itu juga. Dia detik ini tersadar...dia jatuh cinta pada wanita ini.
Rita menatap penuh amarah ke Ai dan tiba tiba melayangkan tangannya ke wajah Ai tapi Ai langsung ditarik ke belakang oleh Harry, sehingga tamparan itu mendarat di pipi Harry.
“Harry...”ucap Rita kaget. Dia tidak percaya Harry menjadi tameng untuk wanita itu.
Harry mengusap pipinya. “Puas?” ucap Harry menahan marah “bisa kau pergi dari sini?”
“Harry...ada masalah?”
Farel sudah berada di tengah mereka, untung tamu tamu pada asik sendiri sendiri jadi hampir tidak ada yg melihat kejadian itu. Rita melotot kesal dan langsung pergi.
Ai langsung menarik tubuh Harry untuk menghadapnya. Pipi harry tampak merah.
“sudah kubilang sejak awal untuk tidak berhubungan dengan dia. “ucap Farel dengan ikut memeriksa pipi Harry. “sudah malam, ayo kita pulang.”
Farel menepuk pundak Ai “ aku duluan ya.”
Ai melihat Farel berlari menghampiri istrinya dan menggendong anaknya. Orang tua Farel melambaikan tangannya seakan tahu apa yg terjadi tapi bukan saatnya dibahas di sini. Benar benar sangat memikirkan reputasi anaknya. Ai tahu benar mereka pasti kawatir.
*21.00, depan rumah Ai*
“Apa aku masih bermimpi.”
Ai yang sedang melepas sabuk pengamannya menoleh “tentang apa?”
“Pembelaanmu...aku suka sekali.”
Ai tersenyum “jangan salah paham, aku berlaku seperti itu karena aku tidak mau diremehkan seperti itu. Aku datang ke pesta itu bersamamu bukan untuk menjadi bahan olokan seperti itu. Aku tidak terima.”
Harry tersenyum, dia tahu..tidak akan gampang mengambil hati wanita ini, karena dia sangat setia dengan pacarnya yg tukang selingkuh itu.
“Oke aku tahu itu, dan dia tidak akan terima dengan perlakuanmu hari ini.”
Ai menghela nafasnya kesal. “masalah ini terjadi karena kamu, jadi karena kamu tunanganku maka kamu yg selanjutnya menangani ini. Aku tidak suka ikut campur seperti itu lagi.”
Harry tersenyum lebar, manatap Ai lembut “kamu tidak penasaran hubunganku dengan Rita?”
“Tidak, itu bukan urusanku.” Ai menatap Harry dan kaget saat melihat tatapan Harry yg lembut tapi tajam itu. Benar-benar sangat menarik, segera dia memalingkan mukanya dan keluar dari mobil. Harry membuka jendela di sisi penumpang,
“sampai jumpa Ai...tidur nyeyak ya...”
Ai hanya mengangguk dan melihat mobil itu melaju pergi. Lalu dia ingat sesuatu, segera dia sms.
Bibirnya terbias senyum ketika melihat smsnya terkirim.

*23.00, kamar Harry*
Harry memandang HP nya, entah sudah berapa kali dia membaca sms itu.’ Oh ya aku lupa bilang,kompres pipimu dengan handuk hangat, terima kasih telah melindungiku tadi.’
Pipinya memang perih, dan handuk hangat yg disarankan memang mujarab., dan jantungnya masih berdetak 2 x lebih cepat setiap membaca sms itu.

*12.00, makan siang*
Ai menatap Dika yang hanya terdiam. “kamu marah Dik?”
Dika menatap Ai tajam “jelas donk, kamu menghadiri pesta dimana kamu bersama tunangan palsumu itu. Pasti kamu menikmatinya.”
Ai tidak suka dipojokkan seperti itu “bukankah sebelumnya aku minta pendapatmu?aku izin padamu?tapi kamu tidak melarangku.”
“aku bisa apa? Jika aku melarangmu, aku harus berhadapan dengan orangtuamu.kan mereka yg menjodohkanmu.”
Ai yg tadinya mau memasukan makanan ke mulutnya jadi eneg, di letakkannya sendok di piringnya.
“apa selama ini orangtuaku menolakmu?”
Dika terdiam.lalu mengusap wajahnya kesal “aku ingin bertemu dnegan tunangan palsumu.”
“Boleh. Hari ini aku ada janji untuk mengambil laporan skripsiku. Kau mau mengantarku?”
“Hatiku masih sakit, aku tidak mau bertemu dia dulu,karena jika bertemu pasti kami akan berkelahi sangat hebat.” Ai memang sudha mengatakan kalo tunangannya itu adalah dosen pembimbingnya, tapi dia belum mengatakan kalo tunanangannya itu juga seorang direktur perusahaan terbesar di Indonesia
“Kalau begitu jika hanya mengantarku? Karena dia sukanya on time, meski begitu sampai sana kadang dicuekin bermmenit menit.”
“Hari ini aku ada rapat.”

*14.00, kantor Ai*
Ai hanya menatap laptopnya tanpa gairah, jika ingat kejadian makan siang tadi rasanya makin malas. Amedesah kesal, bebrapa hari ini Dika tidak seperti biasanya. Apa marahnya akan berkepanjangan seperti ini., tiba tiba sms nya berbunyi, ternyata dari Harry ‘aku tidak ada jam kuliah, jadi ambil laporan skripsiku di kantor ya.’ Ai makin kesal.
Lalu dibalasnya sms itu ‘dimana alamat kantormu?’
Ai merasa baru saja mengirim tidak sampai 5 detik, Harry menelfonnya.
“Halo...”
“Hanya kamu yg tidak tahu alamat kantor tunangannya sendiri.!”
Ai cemberut, apa dia lupa baru kemarin dia tahu kalau tunangannya itu seorang direktur perusahaan yang cabangnya di seluruh Indonesia. Dan juga...dia tidak memikirkan itu.
“Kenapa memangnya, aku kan tidak perlu bermain main ke kantormu, jadwalku sendiri padat.”
“jangan jangan kamu juga tidak tahu nama perusahaanku?” tanya Harry curiga
Ai berdehem, dia memilih tidak menjawab “sms alamat kantormu.”
Langsung ditutup HP nya, dia baru malas mendengar protes Harry, hatinya galau mengingat Dika yang mengantarnya saja tidak mau.

*16.00, kantor Harry*
Setelah tanya sana sini dimana ruang direktur Harry, sampailah di di depan seorang sekretaris seksi yang melihatnya dari atas sampai bawah.
Ai tahu dia sangat berantakan, perjalanan dari kantor ke kantor Harry tidaklah dekat, hari ini sangat panas, dan pakaian dia pasti sangat kusut karena tadi dia memakai jaket naik montor.
“Mencari pak Harry?”
“Iya.” Sahut Ai tegas. Apa sekretaris ini tidak ikut pesta kemarin, sehingga tidak mengenali wajahnya. Meski sedikit kusut tapi kan tetap saja kelihatan.
“ apa sudah bikin janji?”
“dia yang memintaku datang kesini, hubungi saja dia. Katakan Ai sudah disini.”
Ucap Ai kesal karena sekretaris itu kesannya bertele tele
Ragu ragu sekretris itu menelfon, dan begitu tersambung langsung ke Harry, wajahnya terlihat kaget, dan menjawab terbata bata. Ai melihat sekretaris itu meletakkkan gagang telp nya.
“maaf saya tidka mengenali anda sebagai tunangan Pak Harry.” Gantian Ai kaget, jadi wajah kaget sekretaris tadi karena dikasih tahu Harry kalau dia tunangannya, tapi kenapa Harry melakukan itu, seharusnya cukup mengijinkannya masuk ke ruangan.
“tidak apa-apa, “ Sekretaris itu membuka pintu ruang direktur, Ai melangkah masuk, tapi tidak ada Harry di situ.
“Pak Harry sedang rapat, mbak disminta menunggu sebentar.” Ai menatap sekretaris itu dan mengangguk. Begitu pintu ditutup, Ai bersiul pelan meilhat ruang kerja Harry. Beginilah ruang direktur, besar, luas, bersih dan wangi...Ai duduk di sofa panjang dan menyalakan TV. Lalu direbahkan punggugnya ke belakang...
‘Hmmm...tempat ini sangat tenang’ batin Ai. Dan dia berfikir akan sesekali datang kesini untuk menenangkan diri, itu pun dengan syarat penghuninya pas tidak ada.karena meski ini ruangannya, tapi dia perusak suasana juga.


*19.00, ruang Harry*
Harry keluar dari ruang rapat dengan menekuk nekuk lehernya, rasanya badannya capek sekali.
“besok siang kita ada pertemuan lagi.” Farel menepuk bahu Harry yang hanya menggiyakan. “sebaiknya status dosenmu kau tinggalkan, jika kemarin kau masih dicabang masih bisa santai, tapi sekarang kau direktur utama.”
“Iya ...aku tahu.”
Harry ngeloyor pergi ke ruangnya, dilihatnya sekretarisnya belum pulang.
“kok masih disini?”
Sekretaris itu tersenyum kikuk “saya ingi pulang sih pak, tapi tunangan bapak masih menunggu di dalam.” Harry kaget, dia langsung membuka pintu ruangannya, dan gelap, segera dia hidupkan lampunya. Dia melihat Ai sedang tertidur pulas di sofa. Dihampirinya wanita itu, dan duduk di tepi sofa, dilihatnya wajah Ai yg sedang tertidur, senyum terbias di bibir Harry.
Tadinya dia menduga Ai akan pulang karena menunggunya lama. Tapi malah tertidur disini, dilihat laptop Ai yg masih menyala.
‘hmmm...sibuk juga dia.’ Gumam Harry. Lalu dibuka jas nya dan di selimutkan ke badan Ai, dan terlihat makin pulas saja. Harry jadi geli, kemudian dia duduk di mea kerjanya dan mulai membuat persentasi untuk bahan rapat besok dan sesekali melihat Ai yg tidur.

*1 jam berlalu*
Ai menggerakan bdannya, dan membuka matanya, sejenak dia mengingat ngingat dimana dia, begitu ingat dia langsung bangun.dan ketika tangannya menyentuh jas Harry dia makin panik, bia bisanya dia tertidur.
“sudah bangun?” Ai menoleh ke asal suara. Dilihatnya Harry duduk di meja kerjanya dengan tangannya masih meegang kertas dan matanya menatap Ai geli.
“kenapa tidak membangunkanku?”
Harry tersenyum, beranjank dari duduknya dan menghampiri Ai, duduk di meja menghadap ke Ai.
“aku sudah membangunkanmu dnegan berbagai cara, tapi tidak ada yg mempan.”
“berbagai cara?”
Harry mengangguk, “dan aku suka caraku terakhir”
Ai menatap Harry curiga “apa?”
Harry mendekatkan wajahnya ke wajah Ai “menciummu”
Ai langsung menutup mulutnya “Ha?!!!”
Harry tertawa, lalu mengacak lembut rambut Ai “aku senang ada yg menemaniku bekerja, meski sedikit menganggu dengan dengkurannya.”
“Apa?!!”
Harry beranjak berdiri “ayo kita makan trus pulang. Aku lapar sekali.”
Ai menatap Harry. Entah kenapa sentuhannya tadi membuat jantungnya berdetak 2x lebih cepat. Dan apa benar dia susah dibangunkan, duh...malu sekali rasanya. Dan jas ini...dengan tergesa segera dilepaskannya jas itu.
“apa aku perlu menggendongmu?”
Ai melihat Harry yang sudah di depan pintu. Ai beranjak dari duduknya dengan membawa jas Harry, diserahkan jas nya “ terima kasih.”
Harry hanya melihatnya dan berjalan mendahului Ai “ kalau mengembalikan barang pinjaman bukannya harus dalam keadaan bersih?”
Ai melotot kesal, siapa juga yang menyuruhnya untuk meminjami jas nya. Tapi dia baru malas berdebat, perutnya lapar sekali.  Jadi dia pilih mengikuti Harry.

*13.00, kantor Farel*
Harry menatap tanpa kedip orang yang sedang presentasi di depannya. Dan kakaknya juga menatap tanpa kedip Harry, tanpa pemberitahuan langsung mengalihkan rapat di kantornya. Dia memang sudah pernah dikaish tahu kalau Harry ingin mengadakan rapat di kantornya, tapi sifat mendadak seperti ini bukan Harry. Apalagi setelah presentasi anak buahnya selesai, dia mencecar dengan banyak pertanyaan, biasanya Harry akan mempelajarinya dulu baru akan bertanya jika diperlukan.
“Harry...karena rapatmu yang mendadak ini, aku belum sempat mengenalkanmu pada kepala bagian produksi kita.” Ucap Farel begitu rapatnya ditutup, dan Harry sudah mau beranjak pergi. Harry tersenyum, dia tahu kakaknya ini pasti snagat kesal dengan perlakuannya tadi.
“Kenalkan, Dika. Kepala bagian produksi.” Harry menatap tangan yang terulur di depannya, dan menatap Dika lama, tapi Harry pilih menyambutnya.
Dika tersenyum “saya sudah banyak mendengar tentang anda, senang sekali bisa bertemu langsung.”
Harry tersenyum angkuh, dan Farel melihatnya, dia jadi penasaran sekali.
“Mungkin kita akan banyak bertemu, karena meski anda di bawah kakakku, tapi bagian produksi semuanya di bawah kendaliku.”
“Iya, saya mengerti.”
Harry menatap kakaknya “aku tidak ada maksud apa-apa dengan rapat mendadak ini. Aku hanya ingin tahu sejauh mana bagian produksi tiap cabang bekerja.”
Harry melangkah keluar, dia tidak perlu ijin keluar.
“Harry...bisa kita bicara sebentar?”
Farel menepuk bahunya dan mendahuluinya masuk ke ruangnya. Harry menghela nafasnya, lalu mausk ke dalam dan langsung mengambil duduk.
Farel menyilangkan tangannya ke dadanya.
“apa yg terjadi? Jika kau bukan adikku, aku pasti akan snagat marah.”
Harry tersenyum. “apa aku berlebihan?”
“mencercarnya dengan pertanyaan seperti itu...dia bukannya tidak bisa, dia tidak siap karena sangat mendadak, apa kamu tidak memaklumi hal seperti ini?”
“itu kesalahan dia.” Harry ingat ketika Ronan memberinya biodata tentang Dika, Dia saat itu sangat surprise mengetahui Dika bekerja di perusahaannya dan sebagai kepala bagian pula.dia jadi penasaran sekali, makanya dia melakukan rapat dadakn ini.
“apa kesalhannya?”
“apa menurut kakak, dia...seorang yg bisa kita pertahankan di perusahaan?”
Farel kesal sekali Harry tidak menggubris pertanyaannya.
“iya...sangat berkompeten.” Sahut kakaknya tegas.
Harry beranjak dari duduknya “oke...suruh dia perbaiki presnetasinya, dan laporkan padaku.” Harry membuka pintu tapi dia terdiam lalu menoleh ke kakaknya “aku sangat tertarik pada Dika. Jika kakak ingin tahu kenapa...kakak boleh mencoba mencari tahu.”
Farel menatap Harry tidak mengerti.
Harry cukup terkejut ketika dia harus satu lift dengan Dika. Dia lihat Dika tampak kaget juga, Harry hanya tersenyum sekilas dan berdiri di depannya. Lalu didengarnya ada hP bebrunyi
Dan diliriknya itu milik Dika.
Meski berbisik, Harry cukup jelas mendengar pembicaraan Dika.
‘sori aku tidak memberitahumu, tapi ini sangat mendadak. Aku harus lembur malam ini.kau bisa pulang sendiri kan? Naik bis atau taksi. Oh ya di luar tampaknya hujan, kau bawa payung kan? I love u’
Harry tersenyum kesal mendengar itu semua. Ketika lift terbuka dia berjalan secepat mungkin menuju depan, hari ini dia diantar sopir.
“saya duluan pak...”pamit Dika ketika berjalan mendahului Harry. Harry hanya mengnagguk meliriknya.  Dan masuk ke mobilnya.
“menyuruhnya pulang naik angkutan umum di tengah hujan lebat begini dan masih mengatakan I love U, dia itu gila atau apa” gumam Harry kesal. “kita menjemput Ai dulu pak.”
Pak dahlan sopir dan sekaligus asisten pribadi Harry mengangguk.
Sesampainya di kantor Ai, Harry melihat Ai sedang berjalan ke halte bus, langkahnya tampak lambat seperti sedang berfikir, bahkan dia hampir jatuh karena tersandung, sepertinya pikirannya tidak di temaptnya. Dan Harry yang mengikutinya dengan mobil dari belakgan merasa kesal.

*30 menit, halte bus*
Ai menatap gemricik air yg turun di halte bus, sudah bus ke 4 dia lewati, tapi entah kenapa dia seakan tidak ingin berdiri, kakinya serasa lumpuh. Dia seperti tidak mengenal Dika lagi.
Tiba tiba HP nya berbunyi,Harry.
Ai mengangkatnya “halo”
“dimana?”
“halte bus.”
“jam segini?”
Ai memejamkan matanya “bisakah kita tidak berdebat hari ini?aku capek.”
“Oke, keluarlah dari halte.” Ai kaget lalu melihat sekeliling dan di luar di lihatnya Harry sedngan berdiri di samping mobilnya dengan memakai payung. Ai beranak dari duduknya dan menghampiri Harry
“ayo masuk...aku tidak suka basah” Harry membuka pintu mobil belakangnya.Ai masuk saja.dia tadinya ingin menolak, tapi baguslah...sampai rumah tidak harus berdesak desakkan di dalam bus.
“apa acaramu setelah ini?” tanya Harry begitu mobil berjalan , Ai moleh sekilas menatap Harry, lalu membuang wajahnya menatap keluar lewat jendela mobil.
“Mandi dan tidur.”
“Ah...membosankan sekali, kita nonton film dulu.” Ai menoleh kaget “tidak boleh menolakku, kau ingat aturannya kan?”
Ai mengeluh kesal . kenapa pria ini selalu memancingnya untuk berdebat.

*sore, bioskop*
Ai benar benar tidak mengerti, Harry mengajaknya ke bioskop, dan minta dia yg memilih filmnya, memilih tempat duduk, memilh cemilan dan minuman. Bukannya dia yg semngat ke bioskop.
“kau benar benar menyukai film ini?”tanya Harry penasaran ketika tahu Ai memilih film action
“ya...kenapa?” tanya Ai dengn memasukan popcorn ke mulutnya dan mata fokus ke depan, karena filmnya baru seru serunya. Dia tidak tahu Harry memeandangnya dengan senyum yg sulit diartikan.
“tidak apa-apa” ucap Harry yg tiba tiba menyandarkan kepalanya di bahu Ai, membuat Ai terlonjak kaget.
“Harry...bisakah kau ...”ucap Ai dengan menatap Harry yg memamkan matanya dengan kepalanya tetap dengan santainya berada di bahunya.
“Tidak bisa, kumohon jangan berdebat, oke...aku hari ini lelah sekali.”
“Tapi tidak perlu menyandarkan kepalamu ke bahuku kan...” protes Ai dengan berbisik
“Aku bilang jangan mendebatku, bahu dan kepala kan tidak melanggar batas yg kau berikan.”
Ai mendesah...dia jadi tidak konsentrasi dengan film di depannya. Wangi maskulin Harry sangat membuat hatinya berdebar debar 2 x lebih cepat.
“jika lelah kenapa kau tidka pulang dan tidur?”
Harry pilih membenahi kepalanya di bahu Ai “itu...membosankan, ah...tidak bisakah kau berhenti mendebatku dan membiarkanku tidur sebentar?”
Ai melirik Harry, lalu pilih melihat film di depannya dan menikmati popcornnya. Dia sendiri mersa berterima kasih, karena secara tidak langsung Harry telah menghiburnya. Dan ketika filmnya selesai Ai tersenyum melihat Harry yg masih tertidur, dan entah kenapa dia merasa bahunya tidak lelah, dan merasa nyaman...rasa kesal dan lelahnya menguap. Ai tidak bisa mendefinisikan
“siapa menghibur siapa...kau yg ngotot pengen nonton, tapi aku yg menikmati.” Gumam Ai geli.

*malam, kamar Ai*
Ai memandang HP nya lama, ada satu nama disitu. Cukup lama dia memutuskan apakah dia ingin menelfonnya atau tidak. Tapi akhirnya dia pilih menu kirim pesan
‘terima kasih untuk hari ini, meski kau yg ingin refresing, tapi aku yg menikmatinya.’
Ai menekan tombol send,dan langsung merebahkan badannya, tidur. Dia tidak berharap sms nya dibalas, dia pasti sudah ngimpi entah kemana.

*malam, kantor Harry*
Harry sedang sibuk membaca dokumennya, ketika HP nya berbunyi, dilihatny dari Ai,
‘terima kasih untuk hari ini, meski kau yg ingin refresing, tapi aku yg menikmatinya.’
Harry tersenyum menyandarkan punggungnya, dia dari mengantar Ai memang langsung menuju kantor, karena dia nonton bioskop tadi Cuma untuk menghibur Ai, dan tidur seenak di bahunya tadi...cukup efektif merilekskan saraf otaknya,dan mengajaknya ke bioskop tadi sebenarnya karena dia tidak suka Ai terus terusan memikirkan pria itu.  Dan...sms nya itu...
“ah ...benar benar tidak peka dia.” Gumam Harry
Tangannya mulai bekerja menulis sms.
‘tidurlah...’ lalu menekan tombol send
Tiba tiba ada yg mengetuk ruangnya, Harry melihat Dika masuk ruangannya dan duduk di depannya dengan membawa setumpuk dokumen.
“ini bahan yang bapak minta.” Ucap Dika. Harry tersenyum mengangguk
“oke, terima kasih, nanti aku pelajari. Sekarang kau boleh pulang.”
“Terima kasih pak.”
Dika cepat cepat beranjak pergi dari situ. Harry tersenyum lebar. Dia suka sekali rencananya sukses. Karena mendengar dia tadi berbohong ke Ai tidak bisa menjemput karena lembur, maka...Harry mengabulkannya. Meski kesal, Dika tidak bisa berbuat apa-apa.
Harry mengambil jasnya langsung melangkah keluar, dan di lift dia bertemu dengan Dika lagi. Sampai akhirnya Harry mendengar HP Dika berbunyi,
“Halo...aku baru mau pulang,kita ketemuan di tempat biasa ya...aku kangen.” Ucap Dika setengah berbisik meski itu snagat jelas terdengar, apalagi di lift Cuma ada mereka berdua. Harry melihat jam nya, Ai tidak mungkin menghubunginya, apalagi bertemu semalam ini. Tapi...
Harry memencet beberapa nomor yg sudah dia ingat di luar kepala, dan hasilnya dia 4 x menghubungi tapi tidak nyambung, ketika mau menutup panggilan kelima, terdengar ada suara ogah ogahan di seberang.
“kamu ngimpiin aku ya...selarut ini telp aku.”
Harry tersenyum mendengarnya “Cuma memastikan...” sebelum dapat protes, dia menutup telp nya.
“hari ini tampaknya bapak cukup senang.” Sapa Dika, yg membuat Harry tersadar masih adamakhluk menyebalkan itu bersama dia di lift., dan pintu lift terbuka,Harry menatap Dika, “ ya...aku sangat mencintai tunanganku.”  Lalu Harry berjalan meninggalan Dika yang tampak kaget.tapi yg jelas, Dika tidak tahu siapa tunangannya.

*menjelang siang, kantor Farel*
Farel dan Harry berjalan berdampingan meu menuju kantin
“aku dengar beberapa hari yg lalu kau menyuruh Dika lembur.?” Tanya Farel . Harry menatap kakaknya dan tersenyum “tidak perlu kan...Dika bukan orang yg malas.”
“aku tahu. Aku hanya merealisasikan ucapannya, jika tidak dia akan berdosa karena berbohong, apalagi itu sama pacarnya sendiri.”
“kalau toh dia berbohong pada pcarnya...bukan urusanmu juga kan?”
Harry tersenyum “jika pacarnya adalah tunaanganku, apa kakak akan bilang bukan urusanku?”
Kakaknya menatap Harry kaget,Harry menepuk bahu kakaknya, tampak sekali kakaknya itu belum tahu apa-apa.
“aku mau cari angin saja kak...aku tidak lapr.” Harry keluar dari kanti dan berjalan ke lobi dan mau naik ke ruangannya ketika dia melihat wanita yg sangat tidak asing baginya. “Ai...” gumam Harry kaget. Di lihatnya Ai sedang duduk di kursi lobi, seakan menunggu seseorang, dan dilihat dari dandanannya, seperti mau kencan..dan kenapa bisa dia secantik itu bukan untuknya. Harry jadi kesal, ditelpnya Ai.
“Halo...”
“dimana?”tanya Harry dengan melihat Ai dari kejauhan.
“di kantor kak Farel, ternyata Dika satu kantor dengan kak farel...dunia sempit ya.
Harry pura pura terkejut. “Oh ya...dan tumben sekali kau menemui Dika.”
Ai tersenyum “hari ini ulang tahun hubungan kami yg ke-8,kami sudah janjian pergi makan siang bareng di tempat pertama kali kami merayakan hub kami.”
“Oh...”Mata Harry tidak melepas tatapannya sekalipun dari Ai.  “Trus..Dika sudah datang?”
“Belum...tadi kutelp katanya aku suruh menunggu sebentar, kerjaannya belum selesai,”
Harry kesal sekali yg mendengar, lalu tiba tiba dia teringat, dia tadi berpapasan dengan Dika ketika keluar dari kantin. Apa urusan dia di kantin kalau tidak makan. Ingin sekali Harry memukul Harry.
“Oh...hari ini...kamu harusnya berpenampilan cantik donk.” Ucap Harry dengan menatap tingkah Ai yang sedikit lebih salting. Harry tersenyum.
“sebenarnya sih...aku memang agak sedikit berdandan.”
Sedikit dan bisa menjadi secantik itu...bahkan bebrapa lelaki yg lewat meliriknya terang terangan.
“aku cemburu.”
“Ha?!”
“aku ini tunanganmu...dan kau bernampilan cantik di depan pacarmu, dan aku selalu menemukanmu dalam keadaan kusut. Gak adil kan?”
Ai tersenyum “aku kan pernah berpenampilan cantik di acara pelantikanmu pak direktur.”
Harry mengangguk angguk dengan memasukkan tangannya ke saku. Badannya dia sandarkan ke tangga di sebelahnya.
“Ya...dan itu membuatku jatuh cinta.”
Ai kaget yang mendengar, tangannya erat memegang HP nya. Tapi dia ingat siapa Harry. Tidak mungkin seorang playboy sepertinya jatuh cinta. Dia yang berlaku sesuka hatinya itu...tidak mungkin jatuh cinta padanya.
“baguslah...aku membuat seorang playboy jatuh cinta. Sudah ya ...sebentar lagi Dika datang”
Harry tersenyum...tidak gampang membuat Ai percaya. “Terima kasih ya...”
Ai mengurungkan niatnya untuk menutup telp “untuk apa?”
“untuk meminjamkan bahumu kemarin. Benar benar efektif untuk meringankan pikiran dan hatiku.”
Ai tersenyum, dia sendiri entah kenapa menyukai cowok sombong itu tertidur di bahunya.
“jika kau membutuhkan, kau juga boleh meminjam bahuku.”
Ai tidak tahu harus mengatakan apa...kata kata Harry seperti mengetahui apa yg dia rasakan akhir akhir ini. Lalu dia melihat Dika setengah berlari ke arahnya
“terima kasih.”ucap Ai singkat dan menutup telp nya.
Dari kejauhan Harry melihat Ai berdiri tersenyum menyambut Dika, dan mereka bergandengan tangan keluar kantor. Harry menelfon Pak Dahlan
“Pak...aku minta tolong.”

*14.00, ruang Rapat *
Harry melihat kegelisahan kakaknya karena Dika sudah terlambat hampir satu jam, padahal hampir gilirannya untuk mempresentasikan iklan salah satu produk mereka. Berkali kali juga Harry melihat kakaknya menelfon, dan tampaknya tidak tersambung. Panik kesa campur jadi satu.
Harry sendiri melirik HP nya...pak Dahlan belum memberitahu apapun. Dengan tenang dia mengikuti presentasi di depannya, dan tiba tiba pintu terbuka dan Dika masuk dengan sedikit ngos ngosan dan minta maaf kepada yg hadir kalau dia terlambat. Dan langsung menempati posisi yg bersebrangan dengan harry dan kakaknya.
Satu menit kemudian Dika mulai presentasi. Baru 5 menit presentasi berjalan, Harry mendapat sms dari pak Dahlan, ekspresi wajah Harry yg tenang berubah panik. Dia langsung berdiri.
“maaf...saya ada urusan mendadak, rapat akan dilanjutkan oleh pak farel.”
“Harry...” Harry tidak peduli protes kakaknya dia langsung melesat keluar kantor,membuat semua yg rapat disitu bertanya tanya tak terkecuali Dika.
“Pak Dahlan, dimana alamatnya”
Ucap Harry di telp begitu sudah di dalam mobil. Harry mengangguk angguk “oke...tunggu disana.”
Harry melajukan mobilnya secepat mungkin, dia teringat kembali sms dari pak Dahlan.
‘Maaf Pak Harry, tapi nona Ai hanya duduk di teras meski hujan selebat ini. Dia tidak peduli pelayan memintanya untuk berteduh.’
Harry menggebrak stirnya “sialllll!!!” teriaknya.
“pasti telah terjadi sesuatu” gumam Harry
Begitu sampai di resto yang dimaksud, Harry langsung mengambil payungnya dan melesat masuk. Disana tidak banyak pengunjung, hanya satu dua, tapi bebrapa pelayan tampak bingung menghadap ke luar teras, Harry berlari kesana, dilihatnya pak dahlan menghampirinya, Harry mengangguk dan kemudia dia melihat Ai yg duduk menatap pemandangan di depannya yg tampak laut yg sangat indah. Harry membuka payungnya dan berlari mendekati Ai, dipayunginya gadis itu. Tatapan itu, sikap itu membuat Harry ingin memeluknya
“Ai.” Sapa Harry pelan
Ai tidak menoleh, terdiam beberapa saat “aku tidak tahu...kalo tempat di teras ini akan basah jika hujan...jika aku tahu...aku tidak akan memilih tempat ini untuk merayakan hubungan kami.”
Harry terdiam berdiri di sampingya dan hanya menatap Ai
“dan hujan ini harusnya bisa menyembunyikan airmata, tapi kenapa rasanya air mataku lebih deras dari hujan ini.” Ai menangis keras.  Harry menatap pemandangan di depannya, dia paling tidak suka melihat Ai menangis. Hatinya ikut sakit.
“tanpa alasan bosan, dia memutusku. dengan alasan dia sekarang seorang yg harus memikirkan pendamping yang pantas dengan jabatannya sekarang, dia memutusku. Dengan alasan 8 tahun adalah masa pacaran yag menggelikan, dia memutusku.dengan alasan dia tidak suka aku berterus terang aku tunangan, dia memutusku”
Harry melotot mendengar penjelasan seperti itu
“dan...dia pergi.” Air mata Ai makin deras mengalir...mewakili seluruh hatinya, dan hujan masih tetap deras mengguyur. Harry memutuskan untuk tetap diam, dia merasa Ai tidak butuh dihibur, disemangati atau apalah itu namanya. Dia hanya butuh didengarkan.

*1 jam kemudian, di dalam mobil Harry.*
Harry menatap Ai yang duduk di sebelahnya, dengan basah kuyup dna jasnya yg dia pinjamkan pun mulai basah. Sejak tadi hanya menatap keluar jendela, diam dan diam
“aku..tidak ingin pulang ke rumah.” Harry sedikit terkejut, lalu tersenyum mengerti, Ai pasti tidak mau dilihat orang tuanya seperti ini, mereka pasti sangat sedih dan marah.
“oke..kita ke suatu tempat.” Harry memutar balik laju mobilnya.

*30 menit kemudian,rumah Harry.*
Ai menatap rumah di depannya. “Rumah siapa ini?”
Harry tersenyum, menggandeng tangan Ai dan membukan pintu. “Ayo...ini rumah luar angkasamu.” Ai mengerutkan kening, tapi sedikit tersenyum.
Harry membiarkan Ai memndangi isi dalam rumah, sementara dia masuk ke kamar untuk mencari handuk bersih. Dan dia menggandeng Ai menuju kamar tamu.
“ini kamarmu, dan ini handukmu.”
Ai menatap harry “ini rumah siapa?”
Hary tersenyum memencet hidung Ai gemas, dengan mata sembab, dan basah kuyup seperti itu, dia masih terlihat menggemaskan di matanya.
“ini hasil jerih payahku selama bekerja.”
“jadi...ini..”
“ya...ini rumahku pribadi.”
“tapi...”
“bisakah kau mandi dulu? Kita masih punya banyak waktu berdebat...oke”potong harry dengan mendorong Ai masuk kamar mandi. “pakaian sudah di dalam,pak dahlan baru saja mengantarkannya.”
Ai hanya menggeleng tak percaya, apa Harry sudha memprediksi, oh tidak...apa pak dahlan yg sudha memeprediksi? Entahlah...pikirannya terlalu kusut hari ini.
Setelah mandi, ai keluar kamar dan melihat Harry sedang sibuk di meja makan, dilihatnya sudah banyak makanan disitu. Rasa lapar melanda Ai seketika.
Harry yg tahu kedatangan Ai tersenyum, “ayo makan”
Ai duduk di depan Harry,membiarkan Harry mengambilkan makanannya. Dia pilih menikmati perlakuan Harry malam ini.
“kenapa kau bisa tiba tiba ada di resto itu?”
Harry yg sedang asik melahap makanannya, berhenti seketika “ kebetulan aku disana, dan sempat marah karena pelayanan mereka lambat,ternyata pelayan itu baru asik melihat wanita yg sedang menikmati pemandangan panti di waktu hujan.”
Harry lega dia bisa mencari alsan dengan cepat. Tidak mungkin dia mengatakan ke Ai kalau dia menyuruh pak dahlan mengikuti Ai dan Dika sejak keluar dari kantor tadi.
“dan bajuku?” selidik Ai,
“aku sejak awal megira kau tidak mungkin pulang ke rumah, maka aku minta pak dahlan untuk ke rumahmu mengambil baju, mama dan papa tahunya kamu sednag ada acara kantor di hotel.”
Ai mendesah lega. Dia tidak suka ortunya tau keadaannya sekarang. Mereka pasti akan sangat sedih.
Lalu dia ingat sesuatu lagi “dan makanan ini...apa kau sudha meprediksi aku akan kesini?” karena tidak mungkin dalam sekejap Harry bisa memasak makanan sebanyak ini, dan Harry memaska? Itu tidak mungkin.
“Ini pembantu yg memasak. Di rumah ini ada 2 pembantu, yang bersih bersih dan yang memasak, merekan jam 5 sudha sampai sini dan jam 7 baru pulang dari sini.kecuali pas aku di luar kota, mereka menginap disini. Apa cukup menjelaskan ?”
Ai mencibir “ benar benar bos sombong.”
Harry tidak mendebat. Dia sudah suka Ai di sini dihadapannya, dan berusaha baik baik saja.

*1 jam kemudian di ruang santai depan TV, rumah Harry*
Harry yg sedang merebahkan bdannya di sofa menatap Ai yg duduk di seberangnya. Ai hanya menatap acara TV dengan melamun. Harry bangundari tidurnya,
“tidurlah...”ucap Harry.
Ai menatap Harry “selama ini kamu yg selalu meintaku menurutimu...bolehkan hari ini aku memintamu sesuatu?”
“Apa?”tanya Harry dengan tersenyum
Ai terdiam tampak ragu “katanya tidur dibahu orang lain itu cukup efektif untuk membuat pikiran dan hati kita tenang..bisakah aku pinjam bahumu sebentar?”
Harry tersenyum,mengangguk dan tangannya menepuk sofa dismapingnya, meinta Ai untuk menghampirinya, Ai langsung duduk di sebelah Harry, dan Tangan Harry memegang kepa Ai untuk disandarkannya kebahunya.
Ai memejamkan matanya, tapi tiba tiba sja tangisnya memecah.
Harry hanya diam membiarkan, matanya menatap acara TV yg sudha dia pelankan suaranya.

*pagi hari, rumah Harry*
Harry terbangun, ada terasa beban di bahunya, dilihatnya Ai masih bersandar di bahunya dan tertidur setelah semalaman menangis.  Ternyata dia ikut ketiduran. Jadi mereka berdua tidur di sofa dengan keadaan duduk.
Harry pelan memegang kepala Ai dan disndarkannya ke sofa dan setelah berhasildia  berdiri, dia menaikkan kaki Ai ke sofa, lalu diselimutinya. Harry menatap Ai, dirapikannya poni rmabutnya, dan dielus pipinya lembut. Dia beranjak menuju kamar mandi den melihat bibi yg sedng bersih bersih.
“maaf pak Harry...saya tidak berani membangunkan bapak.”
Harry tersenyum. “tidak apa apa bi, aku mau ke kantor, tolong layani dia, buatkan sarapan.”
Bibi itu mengangguk tersenyum.
“Terima kasih.”ucap Harry dengan menepuk bahu bibi itu.

*10.00,kantor Harry*
Harry sibuk menndatangani berkas berkas, di depannya ada Dika. Ingin sekali dia melempar semua dokumen itu ke wajahnya yg tanpa dosa, apa dia tidak sadar efek perlakuan dia kemarin.
“karena presentasimu kemarin aku belum sempat melihat,hari ini rapat untuk melihat presentasimu, meski kakakku sudah mengusulkan punyamu yg akan digunakan untuk iklan salah satu produk nanti.”
“Jam berapa pak?”
“jam 13.00 di sini.”
Harry tahu ada kegelisahan di mata Dika
“kenapa?ada acara dengan pacarmu?”
“saya janjian makan siang dengannya, karena saya pikir tidak ada rapat hari ini.”
Harry menatap kesal. “aku tidak suka keterlambatanmu seperti kemarin.”
“saya minta maaf pak, kemarin saya harus menyelesaikan masalah.”
Harry ingin sekali memukul wajah itu. “terserah apapun alasanmu, kita rapat disini jam satu.silahkan pergi.” Ucap Harry dingin, dan setelah melhat Dika pergi, Harry langsung meminum air putih di gelas di sampingnya sampai habus, tiba tiba HP nya berbunyi, sms dari Ai
‘aku sudah bangun, makan,dan mandi’
Harry tersenyum dibalasnya sms itu
‘enak sekali baru bangun, aku sudah bekerja, meski bahuku sangat pegal.’
Harry diam berdebar debar menunggu balasan dari Ai
‘tenang saja...bibi yg memasak disini,punya keahlian memijit, tadi kakiku sedikit kram, dipijit dia sudah lumayan sembuh.’
Harry melotot yg baca “kram?” gumam Harry, segera ditelp nya gadis itu.
“apa tidurmu sambil menendang nendang meja, atau perabotan di rumahku?kok bisa kram?” tanyanya begitu terdengar nada halo di seberang.
“jika kau ada disini sekarang pun kau ikut kutendang.”
Harry tersenyum yang mendengar. “sudahlah, aku nanti pulang telat, kamu bermainlah sesukamu di rumah luar angkasamu itu.oke.”sebelum dijawab, Harry sudah menutup telpnya.senyumnya mengembang membayangkan Ai yg ngomel ngomel tidak jelas.
“Kayaknya adikku yang palyboy ganteng nan sombong ini sedang bahagia.” Harry melihat kakaknya sudah di depan pintu ruang kantornya. Harry berdehem, dan menatap kakaknya santai
“ada yang ingin kakak tanyakan?”
Farel menutup pintu ruang dan duduk di depan Harry yg memainkan ponsel di mejanya.
“kenapa kau meminta Dika presentasi lagi, sudah jelas diputuskan iklan dia yang akan dipakai.
Harry mendesah...apa kakaknya punya hutang milyaran sampai sangat membela Dika, dan apa dimatanya dia hanya seorang adik yg arogan karena mengetahui pacar tunangannya anak buahnya.
“aku hanya meminta dia mempresentasikan di depanku dan kakak. Aku harus paham betul alurnya, aku tidak bisa hanya membaca dokumen tanpa penjelasan dia.”
“Dia sudah menjelaskan, dan kau pergi.” Ucap Farel Dingin.
Harry beranjak dari duduknya. Dan berbalik menatap ke luar jendela. Farel ikut beranjak dari duduknya.
“aku akan minta Dika untuk tidak usah membuang waktu untuk menjelaskan kepadamu ten..”
“Aku berlari dan melajukan mobilku seperti orang gila di tengah hujan selebat itu.” Potong Harry. “anak buah kesayangan kakak itu telah meninggalkan tunanganku di tengah hujan lebat sendirian, dia duduk terdiam menatap kosong dan basah kuyup.” Harry berbalik menatap kakaknya yg tertegun. “Kemarin perayaan 8 tahun usia pacaran mereka. Sejahat apapun, haruskah meninggalkannya sendirian seperti itu? Aku tadi ingin memukulnya ...sangat ingin, dia telah membuat tunanganku menangis semalaman...dia bahkan tidak peduli saat itu tunanganku sudah berusaha keras untuk tampak cantik di hadapannya...”
Harry menatap kembali keluar jendela.
“Jika kakak di posisiku...apa kakak akan berkata aku sangat tidak profesional karena status dia yg pacar tunanganku?”
Farel terduduk lagi
“Dia...memutuskan hubungan karena Ai tidak pantas untuk dia yg sudah memiliki jabatan di perusahaan, dia memutuskan Ai karena Ai jujur padanya tentang tunaangan yg terjadi diantara kami, dia...memutuskan Ai karena dia sudah bosan dengan hubungan yg terlalu lama ini.”
Harry berbalik menghadap Kakaknya yg menatapnya penuh sesal. Harry tahu kakaknya hanya tidak ingin Dia tidak bisa membedakan mana masalah pribadi dan mana masalah kantor.
“Maaf...” ucap Farel.
Harry hanya diam dan mengangguk. Dia tidak perlu ucapan lainnya. Dia hanya ingin kakaknya tahu, siapa Ai, siapa Dika dan siapa adiknya ini.

*19.00 WIB, rumah Harry*
Harry pulang kantor dan menemukan Ai asik melihat acara TV dengan kaki dia dudukan dia ats bantal dan di perban, Harry kaget dan menghampiri Ai. Dan duduk di tepi meja, Ai tampak kaget.
“Aduh...aku kira bibi ternyata dirimu.”
Harry tidak menjawab, hanya memegang kaki yg di perban itu.
“katanya hanya kram?”
Ai teriak kesakitan ketika tangan Harry memegangnya agak kencang.
“Mbak Ai tadi ngotot dengan kaki yg kram berjalan di atas lantai yg sedang saya pel, langsung jatuh dan terkilir.” Ucap bibi iyem yg masih disitu.
“kok bibi belum pulang?”
“saya takut terjadi apa apa dengan mbak Ai.”
Ai tersenyum “bibi takutsekali aku akan menyakiti diriku sendiri.” Bisik Ai ke Harry yg masih memegang kaki Ai yg terkilir, lalu mendesah kesal dan menatap Ai, meski wajahnya masih sembab, tapi Ai matanya sudah tidak ada rasa sedih seperti kemarin.
“Aku juga berfikir seperti Bibi. Hubungan 8 tahun bukan hal yg mudah kan? Begitu juga melupakannya.”
“aku masih punya kewarasan di otakku.”
“oh ya? Aku tanya padamu, kau ditinggal pacarmu yg 8 tahun, dan kau mennagis semalaman, kram dan terkilir. Lalu apa yg terjadi jika kau ditinggalkan tunanganmu yg sangat tampanyg berusia 3 bulan ini, apa yg akan terjadi padamu.kau akan merasa sedih mana?”
Ai melotot dengar pertanyaan tidak masuk akal ini. “pertanyaan macam apa itu.aku tidak mau menjawab.”
Harry tersenyum. Menepuk kaki Ai lembut, dan beranjak dari duduknya, “aku mandi dulu, dan kita akan keluar makan.”
“Aku tidak mau, aku sudha kenyang, bibi mirna sudah memasak banyak makanan, jadi makan saja di rumah.”
Harry mengentikan lanhkahnya dan menoleh ke Ai
“aku ingin makan di luar.”
“kau boleh makan diluar, tapi makan dulu masakan yang sudha dimasak untukmu, masakan itu bukan tanpa arti, masakn itu dimasak dengan tulus dan membayangkan bagaimana komentarmu nanti, sukakah, kurang asinkah atau sangat enak.”
Harry menatap Ai yg tidak mngalihkan pandangannya dari TV cukup lama, dia tidak percaya Ai berkata seperti itu. Dia tersenyum lalu mekangkah ke kamarnya, dan melihat bibi iyem sedang menyapu depan kamarnya
“pulanglah bi, ini sudah malam, besok masih bisa menyapu.”
Bibi iyem tersenyum mengangguk, “terima kasih, dan...hari ini mbak Ai yang membuat makan malam untuk anda.” Harry terkejut. Ditatapnya bibi iyem yg mengangguk meyakinkan, lalu permisi pergi. Harry menghela nafasnya...Ai benar benar penuh kejutan.

*1 jam kemudian, meja makan, rumah Harry.*
Harry melahap makanan yg tersaji di meja, dengan pura pura tidak melihat Ai memandangnya dari sofa tv, dan tersenyum kecil. Apa dia juga selalu melakukan ini pada Dika, membuatkan makanan seenak ini, akh...dia jadi kesal.
“Apa rencanamu?”
Ai menatap harry “sebenarnya aku hari ini mau pulang, besok aku mau masuk kantor.”
Harry hampir tersedak mendengarnya “ini sudah malam, dan kenapa tiba tiba sekali?”
Ai tersenyum, dan mencoba berdiri, dan tertatih mendekati Harry, Harry beranjak dari duduknya tapi Ai memajukan telapak tangannya.
“Jangan Harry, aku masih bisa berjalan kesitu tanpa bantuan...oke?” pinta Ai, Harry kembali duduk dan menatap usaha Ai yg berjalan ke arahnya, apakah ini caranya untuk mengurangi rasa sakit hatinya, apa dia tidak sadar apa yg dia lakukan ini membuatnya semakin hari semakin terlihat cantik.
Harry minum air putih untuk menutupi debaran jantungnya.
“Nah...apa yg akan kau katakan?”
Ai yg sudah berhasil duduk di depan Harry tersenyum “ terima kasih...”
“Hanya itu?” harry mengambil cumi cumi goreng dan melahapnya tanpa nasi. Ai melihat tidak ada sisa makanan yg di meja.
“Enakkah?” Harry menatap Ai dengan berfikir enaknya akan komentar apa untuk masakan dia yg seenak ini.
“Aku lapar sekali.”
Ai tersenyum “baguslah...”
“Aku sudah pesan taksi.”
Harry pura pura tidak mendengar, dia tetap melanjtkan makannya dengan santai. “ada 2 pilihan, pulang hari ini kuantar, atau pulang besok pagi kuantar, soal baju,pak dahlan bisa mengambilnya di rumahmu. Toh...kedua orag tua kita tahu benar...dimana kau dan dengan siapa.”
Ai menatap Harry tidak percaya, bahkan dengan gaya sombongnya, dia meninggalkan meja makan dan menuju dapur mengambil minumnya yg sudah habis.
“dan...jika kau memilih malam ini, terserah aku mau mengantar jam berapa, karena aku mau tidur sebentar. Bahuku sangat pegal setelah semalaman untuk bantal orang putus cinta.”
Harry berjalan santai ke sofa dan berbaring dengan nyamannya. Ai masih menatapnya kesal.
“apa...kau selalu mengatur semua wanitamu untuk mengikuti semua perkataanmu? Dan apa kau pikir aku sama dengan mereka?”
Harry menutup matanyanya dengan lengannya. “tidak.”
Tiba tiba HP Ai berdering dan ternyata dari mamanya. Setelah bebrapa menit Ai menutupnya dnegan kesal.
“Apa kau juga memperngaruhi orang tuaku?” Ai kesal sekali mamanya bilang kalo rumah sekarnag sedang kosong karena mereka baru ke temapt saudara yang akan menikah di luar kota. Sehingga sudah dipastikan dia tidak akan pulang malam ini.
“apa kau pikir aku suka memakai berbagai cara?aku hanya berlaku sebagai layaknya tunanganmu, dan kita punya perjanjian, aku dengan keinginanku, dan kau dengan batas batasmu.”
Ai mengeluh kesal, tangannya bersedekap. “kita bukan tunangan yg saling jatuh cinta, jadi jangan bersikap seolah seolah kau sangat sangat mencintaiku.” Ucap Ai ketus. Lalu melangkah tertatih menuju kamarnya. Tapi dia terkejut ketika tiba tiba bdannya melayang digendong Harry, “apa yang kau lakukan...turunkna aku!!!”teriak Ai histeris dengan memukul badan Harry, tapi Harry hanya diam dan melangkah menuju kamar AI, dan langsung menghempaskan tubuh Ai ke kasur. Meski kasurnya empuk, tapi rasanya tetap sakit.
“aku melakukan ini karena aku tidak tahan melihat orang sok kuat sepertimu, berjalan sekuta tenaga ke kamar, padahal seharian kau ditolong bibi iyem dan bibi mirna, dan kata dokter kau tidak boleh berjalan secara berlebihan.”
“tapi kau tidak perlu mengendongku!” protes Ai hampir frustasi, dia takut tadi Harry akan melakukan hal yg seharusnya tidak boleh dia lakukan. Pikirannya hmapir gila.
“karena aku ingin menjadi tunangan yg seolah oleh sangat mencintai tunaangannya. Dan...itu tidak mempengaruhimu kan? Jadi itu tidak melanggar batasanmu.” Harry melangkah keluar. Dan menutup pintunya cukup keras, hatinya sendiri sangat kesal. Jadi inikah cinta bertepuk sebelah tangan...kini dia merasakan apa yg dirasakan pacar pacarnya yg dulu...mungkin ini hukuman, tapi Harry tidak akan menyerah begitu saja.
“tubuhnya cukup ringan juga” gumam Harry tersenyum kecil.

*06.00,perjalanan dari rumah Harry*
“pulang dulu atau langsung kantor?”
Harry mencoba memecah kebisuan di antara mereka. Tapi Ai tetap diam.
“oke...berarti kita ke kantorku dulu.”
“kantor.” Sahut Ai malas. Harry tersenyum. “menggendong wanita tanpa ijin, apa kau juga melakukan itu pada wanita wanitamu?”
“tidak...mereka yang menggunakan berbagai cara agar supaya aku menggendong mereka. Kadang kalau melihat kegigihan mereka, aku geli.”
“bagimu yg tidak begitu menyukai mereka akan terlihat lucu, tapi bagi mereka yg menyukaimu, itu mereka anggap hal yg wajar.”
“Bagimu yg tidak bisa sungguh sungguh mencintai wanita, seharusnya aku tidak masuk daftarmu untuk kau coba menunjukkan pdaku pura pura mencintaimu itu.  Aku tidak tertarik.”
Harry merasa kesal, ditatapnya Ai yg hanya menatap keluar dari jendelanya.
“aku hanya berbuat baik, dan kau hanya membahasnya berulang ulang, sejak kau bangun tidur sampai sekarang sudha hampir sampai kantormu.apa kamu tidak bosan?”
Ai terdiam
“atau jangan jangan inipertama kalinya kau digendong laki laki? Dika tidak pernah menggendongmu?”
“tidka ada alasan untuk melakukan itu.”
“oh ya?dan jika dia melihatmu sekarang, apa dia tidak menggendongmu? Kalau itu aku, aku akan mengendongmu setiap saat, tapi sayang seklai...aku bukan mantan pacarmu, aku tunanganmu.”
“kau pikir aku mendambakannya?kau pikir aku tersanjung dengan apa yg kau lakukan padaku kemarin?
“tidak, aku tahu benr, kau wanita dingin.”
Ai melotot kaget dengan pernyataan Harry. Tapi tidak mampu membalasnya.

*10.00 wib, mall*
“model seperti apa sinh yg kau cari, kita sudah keluar masuk toko hampir seluruh lantai mall ini, dan kau baru membeli 1 pakaian.”
Ai kesal sekali, dia pikir tadinya akan bersenang senang dan sempat memilih beberapa pakaian untuknya. Tapi Harry lebih heboh dair yg dia kira, dia mencoba banyak baju tapi tidak ada yg dibeli, semenatara judul hari ini adalah menemai Harry membeli baju, sehingga dia tidak akan bisa kemana mana sebelum Harry mendapatkan baju.
“ayo kita cari makan dulu.”
“aku pilih minum saja, aku tidak lapar. Dan aku masih ingin membeli bebrapa baju.”
Harry tersenyum, “oke” lalu mereka menuju foodcourt, dan menuju salah satu stand, Harry meminta Ai menunggu di luar, karena hanya Cuma beli minuman, Ai mengangguk, dan dia berdiri di depan pintu dengan main game di HP nya, sesekali di lihatnya Harry yang sedang antri, dan melihat orang orang yg sedang asik makan dan minum di dalam,
Dan Ai melihat dia. Ai menempelkan wajahnya ke jendela untuk membuktikan dia salah lihat, tapi memang benar Dika dan seorang wanita yg dia tahu. Ai menggigit bibir bawahnya ketika mereka saling menyuapi bahkan tanpa malu berciuman. Ai mebalikan badanya. Hatinya mendidih, dia beberapa hari ini instropeksi diri kenapa dia bisa diputuskan oleh Dika, bahkan dia berencana untuk mengaak Dika bicara lagi, apa selama 8 tahun ini tidak berarti sama sekali baginya. Ternyata...bukan dia yg perlu mengevaluasi diri, tapi Dika.
“ayo...”Ai kaget Harry sudah disampingnya dengan 2 gelas moccacino dingin. Ai mengambil salah satu,
“bisa kau tunggu disini sebentar?”
Tanpa menunggu jawaban, Ai masuk ke dalam, dan menghampiri pasangan yg tidak tahu tempat itu.
Ai berdiri di belakang mereka yg masih ciuman, meski sekitar mereka sampai malu sendiri melihatnya, memenagnya mereka di hutan. Ai merasa jijik sekali, ciuman mereka sangat bernafsu, dan...Dika tidak pernah menciumnya seperti itu.
“Dika” panggilan Ai  cukup efektif menghentika mereka berciuman, dan Ai sangat muak melihat ekspresi kaget Dika, tanpa perlu mendengar pembelaan Dika, Ai langsung mengguurnya dengan mocacion dingin di tanganya padahal Harry membeli yg jumbo. Ai berbalik keluar.sempat mendengar wanita itu mengumpat. Sesampainya di luar di melihat Harry yang menatapanya tajam,
“Ai...kau tidak..”
“10 langkah” Harry kaget
“apa?”
“10 langkah dariku.” Ai melangkah mendahului Harry. Harry mencoba mengerjar, “ini batasanku. 10 langkah” ucap Ai seakan bisa membacca pikiran Ai. Dia tidak ingin dikasihani, dia tidak ingin terlihat lemah, meski rasanya kaki sangat lemas.
Harry menatap gelas di tangannya, lalu menatap Dika yg sibuk membersihkan dirinya dan Ai yg berjalan di depannya bergantian, akhirnya Harry pilih berjalan 10 langkah di belakang Ai, dan dia lihat jalan Ai tampak mulai sempoyongan dan dia menuju pintu keluar mall, padahal mobilnya dia parkir di basement. Dan begitu di luar Ai langsung menghadang taksi, harry langsung tidak peduli batasan 10 langkahnya, ditariknya tangan Ai yg mau masuk kedalam taksi.
“maaf pak, tidak jadi.”
Ai yg tersdar langsung mencoba melepaskan pegangan Harry, tapi Harry semakin erat memegangnya.
“Harry...lepaskan kumohon...aku perlu naik taksi.”
“Oke...kita naik taksi.” Ucap Harry dengan menarik Ai menuju basemant dan menuju mobilnya, dibukanya pintu depan dan dipaksanya Ai masuk.dan mengambil satu boks tisu dan ditaruhnya di pangkuan gadis itu. Capucino yg masih dia pegang, dia taruh di samping gadis itu. “ini taksimu. Kau boleh menangis sesukamu. Kutunggu di luar.”
Harry menutup pintu mobilnya, dan bersandar di pintu. Dan seperti malam itu...Harry mulai mendengar Ai menangis sejadi jadinya.

*14.00,rumah Harry.”
Tadinya Ai bingung dimana dia, ketika membuka matanya. Setelah dia mengingat kembali, dia sadar...dia berada di ruang luar angakasanya. Dia ingat ketika dia meminta Harry untuk membawanya kesini, dia tidak mau diberondong banyak pertanyaan jika pulang ke rumah. Ai tidak menyangka akan kembali kesini.
Dengan sedikit lesu dia mencoba bangun, dilihat sekeliling, masih sama ketika terakhir dia tingalkan. Ai kemudian mencoba berdiri dan keluar kamar. Dan menuju ke ruang keluarga. Tapi dia tidka menemukan Harry, hanya bi iyem yg sedang mngepel lantai.
“mbak Ai sudah bangun?” sapa bi mirna yg muncul dengan masakan yg sangat menggugah selera. Ai sadar dia sangat lapar.
“ah iya bi...Harry dimana?”
“mas Harry di atas, tidur.”
“oh...” Ai duduk di meja makan. Dia tersenyum ketika bi mirna membawakannya jus jeruk kesukaannya.
“makan saja dulu.”
Ai mengangguk, dan langsung melahap makanan di depannya.
“soal makan memang menjadi nomor satu di daftar hidupmu, itu bagus.” Ai mendongak, dan melihat harry turun dengan gaya maskulinnya. Ai baru sadar...Harry memang sangat seksi.
“aku tidak perlu membawamu ke rumah sakit karena tidak mau makan akibat putus cinta.”
Harry duduk di depan Ai dan mengambil nasi dan lauk di depannya. Ai hanya memndangnya. Alu kembali ke makannya. Dia baru malas berdebat.
“apa kau sudah tahu kalau dika selingkuh dengan wanita yg selalu mengejarmu?”
Harry menghela nafasnya, meminum jusnya.”menurutmu?”
Ai terdiam. Wanita itu yg hampir menamparnya di pesta pelantikan Harry, wanita itu selalu mendatangi Harry di kantornya dengan sepaket makan siang. Wanita itu yg selalu menelfon harry dengan mesranya. Dan wanita itu...selingkuhan Dika.
“kenapa tidak meberitahuku?”
Harry menatap Ai yg berusaha tenang “apa kau akan percaya?” tanya Harry balik.
“meski kau kuanggap mau merusak hubungan orang, atau otakmu kacau, atau karena cemburu, setidaknya kau tetap memberitahuku.”
Ucap Ai kesal, Harry hanya tersenyum.
“apa itu efektif?”
“tidak tahu!” seru Ai ketus. Dia meletakkan sendoknya kesal “dan wanita itu...dia terlihat snagat sangat tergila gila padamu, aku sampai kasihan padanya, tapi dia sangat tenang berciuman dengan orang lain di muka umum seperti itu.”
Harry hanya terseyum simpul, “hampir semua wanita yg mendekatiku seperti itu, karena itu aku tidak bisa benar benar mencintai seseorangampan, . Mereka mengejarku karena aku t ampan dan kaya. Tidak ada yg mencoba melihat sisiku yg lain, mereka dengan egoisnya mencoba menyita waktuku, mereka akan pamer ke orang orang kalau aku sangat menyayangi merkea hanya karena aku menunggui mereka perwatan di salon, makan di restoran mewah, dan berusaha mengaakku tidur agar bisa lebih mengikatku.”
Ai tertegun mendengar itu semua.
“bertemu denganmu, melihat kesetiaanmu, hubungan yg kau jalani selama 8 tahun, jujur...aku iri sama Dika. Dan aku mulai mengubah padanganku tentang hubungan berdaasarkan cinta. 8 tahun bukanlah waktu yg mudah juga kan?kau menjdai sekarang dan Dika menjadi sekarang...itu juga karena kalian saling menyemangati satu sama lain. Jadi...aku snagat marah ketika Dika selingkuh, dan aku tahu benar kau setia.”
Harry menatap Ai serius.
“hunbungan tunangan yg diciptakan orang tua kita ini, memberiku banyakpelajaran, dan..hari hari yg kita lewati ini..aku selau berusaha menyelamimu,memahaimu karena kupikir kita bisa menjadi teman, tapi entah kapan aku mulai menyukaimu. Aku bukan orang yg suka ikut campur urusan orang lain, tapi...aku tidak bisa mengabaikanmu...”
Harry beranjak dari duduknya “kau pasti terkejut dnegan pengakuan tiba tibaku bukan...?kau tidak perlu memikirkannya. Tapi jika kau ada waktu...pikirkanlah perasaanku.oke?” Harry beranjak pergi ke atas. Ai hanya terdiam terpaku. Apa yg dia dengar hari ini lebih mengejutkan daripada melihat Dika di mall tadi.

*09.00, kantor Harry*
Harry memandaang sekilas makhluk seksi di depannya. Dan melirik setumpuk kotak makan yg dia bawa. Dengan ekspresi datar dia melanjutkan kerjaannya.
“Harry...kau harus sarapan.”ucap Rita mencoba merayu Harry untuk memakan bekal yg dia bawa.
“aku sudah sarapan.”
“tapi ini kubuat dengan cinta.” Protes Rita dengan berlagak cemberut. Harry menatapnya kesal, perasaan dia tidak pernah memikirkan wanita ini, tetapi kena selalu saja muncul dihadapannya tanpa rasa berdosa.
“buat orang yg kaucintai saja,”
“kamu yg aku cintai...gimana?”
Harry meletakkan dokumen yg dipegangnya “tapi aku tidak mencintaimu.”
“kau mencintai tunanganmu? Ya ya ya...aku tahu,tapi apa kau tidak tahu kalau tunanganmu itu selingkuh?”
Harry mengerutkan kening, Rita tersenyum lebar”ahaaaa...pasti tidak tahu.”
“kenapa kau berkata seperti itu?”
“aku lihat sendiri...dia mengguyur laki laki dgn capucino dingin ketika lelaki itu sedang asik ciuman dengan gadis lain. Apa lagi kalau bukan laki laki itu selingkuhannya. Tapi sayang sekali ya...dia diselingkuhi gantian...kasihan sekali wanita itu.”
Harry menatap Rita lekat lekat. Dia tidak percaya ada manusia yg tidak tahu malu seperti Rita, yang masih berani ngomong hal yg jelas jelas dia tahu kejadian sebenarnya.
“dia tidak pantas untukmu...aku yg pantas, aku yg selalu disampingmu, aku tulus...”
“cukup!”  bentak Harry, kesabarannya mulai habis “siapa kamu menentukan siapa yg pantasa dna tidak pantas buatku?”
“Harry aku tahu, kamu shock mendengar berita ini...tapi aku hanya ingin kau tahu, tunanganmu itu seperti apa.”
“Shock?!!” seru Harry “oke...kutunjukan padamu apa yg namanya shock.” Harry memencet telpnya “sekretaris, tolong hubungi kabag produksi untuk menemuiku sekarang juga.”
Tak lama kemudian, kabag produksi yg dimaksud datang dan langsung berdiri di depan Harry di samping Rita. Rita menoleh penasaran kenapa Harry memanggil anak buahnya. Dan dia sangat kaget tahu siapa yg dipanggil Harry. Begitu juga Dika.
Harry sendiri menikmati ekspresi mereka. Sangat lucu ketika mereka ingin saling bertanya kenapa berada di ruangan ini tapi terhalang karena ada Harry di antara mereka.
“Apa lelaki ini yg kaumaksud dengan selingkuhan tunananganku?”
“eh Harry...”
“apa maksudnya ini?” tanya Dika. Harry melihat tatapan penuh mohon dari Rita.
“wanita ini datang kesini dengan membawa begitu banyak makann untukku, dan mulai membual kalo tunanganku selingkuh karena dia melihat dnegan mata kepalanya senidri kalo tunanganku mengguyur laki laki sedngan asik berciuman dengan wanita lain dengan capucino dingin.”
Dika menatap Rita tajam. Dan menurut Harry ini menarik
“dan aku ingin tahu apa lelaki itu anda pak Dika.”
Baik dika maupun rita tampak di posisi dan waktu yg salah,
“tidak mungkin pak...saya kenal tunangan anda saja tidak.”
“saya tidak bertanya ke anda, tapi tanya ke Rita. Ayo jawab sebelum kesabaranku habis.”
“kau yg aneh,kenapa kau berfikir orang ini?” jawab Rita dengan menghindari tatapan Harry. Harry tersenyum sinis.
“apa aku menganggu” Harry kaget meilhat Ai di depan pintu masuk ruangannya. Ini bukan rencanaya, dia tidak mau melibatkan Ai, dia ingin menyelesaikan ini sendiri. Ai sudha cukup sedih, dan dia tidak kuat melihat wanita itu menangis lagi. Dan harry melihat Dika sangat terkejut melihat Ai.
Ai melangkah ke arah mereka tanpa menunggu jawaban dari Harry, dilihatnya Dika dan Rita yang memandangnya tanpa kedip.
“apa kalian ingin memproklamirkan hubungan kalian?”
“omong kosong apa yg kau rencanakan?” tanya rita ketus, Ai menatapnya tajam sampai harry takut melihatnya, dia mendekati Ai.
“Omong kosong? Terakhir aku melihat kalian berciuman sangat panas.”
“Harry..itu tidak benar.”
“kenapa kau menyakinkan Harry? Dia tunanganku. Bukan tunanganmu, orang yg harusnya kau yakinkan dia.”
Ai menatap Dika ketus.
“Ai..jadi dia adalah..”
“ya...dia tunanganku, sudah ribuan kali aku mengajakmu untk mengenal dia kan?”
Dika terduduk. Dia tidak percaya tunangan Ai adalah Bos nya dan dia mutusin Ai karena Rita, dia mulai jatuh cinta dengan Rita, tapi ...apa yg Rita lakukan...dia merayu Harry.
“Harry...apa kau mempercayainya...dia baru saja kau kenal...”
“lalu..apa yg sudah berhubungan sangat lama pun bisa menjadi jaminan?’ Harry menatp Dika tajam, “aku sangat mempercayai Ai, karena kau tahu...saat Ai mengguyur Dika, aku ada disana bersamanya.”
Baik Dika maupun Rita sangat shock, dan tanpa pamit mereka pergi begitu saja. Bahkan Rita melupakan kotak  makannya. Begitu pintu tertutup Ai langsung merosot turun terjatuh duduk di lantai.
Harry berdiri di belakangnya dan kemudian ikut duduk di sampingnya. Dia tidak akan bertanya apa apa, tangannya coba menggapai kepala Ai, dan Ai langsung menyandarkan kepalanya di bahu Harry. Tangisnya mulai memecah lagi.

*sore, di kantor Harry*
Harry sibuk mengirim email dan membaca dokumennya ketika hp nya berbunyi. Harry hampir melompat kaget karena Ai yg menelfon, sudah hampir seminggu Harry berisaha mati matian untuk tidak mnegubungi Ai, dan Ai sendiri tidka pernah menghubunginya. Tapi Dia tetap menugaskan pak Dahlan untuk mengawasinya, apalagi setelah kejadian di kantornya waktu itu yg melibatkan Dika dan Rita.
“ya.?” Ucap Harry, tapi di seberang malah diam
“dimana?”
“kantor”
“boleh aku masuk?” Harry melongo kaget, berarti Ai sudah di depan ruang kerjanya.
“oke,” ucap Harry datar, dan dia melihat Ai dengan buku segunung di tangannya. Raut wajahnya tampak letih, memang menurut laporan pak Dahlan, Ai baru banyak banyaknya kegiatan sampai malam di kantornya. Ingin seklai dia memeluk gadis itu, dia snagat merindukannya.
“boleh aku duduk di sofamu, dan mengerjakan ini semua, aku sangat bosan di kantor. Dan berdasar pengalamanku aku bisa konsentrasi disini.”
Harry tersenyum, “oke...aku lanjutkan kerjaanku, dan kau lanjutkan kerjaanmu.”
“tks.”
Ai langsung menuju sofa, dan bukannya mulai bekerja, dia malah tiduran di sofa. Harry tersenyum, dia mengambil air putih dan beranjak ke arah Ai, dan menaruhnya di meja., dia lalu mengambil duduk di kusri depan Ai.
“apa kita perlu refresing”
Ai yg memejamkan matanya menoleh “ha?”
Harry tersenyum, “akhir kahir ini kita terlalu semnagat terjun ke dunia kerja. Mo ke pantai?”
“siang siang begini?panas.”
“perjalanan kan lumaya jauh juga, kita smapa sana pas gak panas. Bukannya aku masih tunanganmu yg mana kita punya perjanjian?”
Ai memejamkan matanya lagi. “aku benar benar lelah, dan solusi ke pantai bagiku tidak akan efektif.”
Harry tersenyum, “oke...silahkan tidur.” Dan Harry kembali ke mejanya dan melanjutkan kerjaannya, meski sekarang dia merasa lebih bergairah dari sebelumnya, dia bisa melihat Ai. Dia tahu...Ai sedang mencoba menyelami hatinya sendiri, mengajaknya ke pantai adalah ingin tahu apa yg ada di pikirannya, ternyata dia wanita yg bisa menjaga akal sehat tetap pada tempatnya

*19.30, di jalan*
Harry memacu mobilnya dengan kencang, dilirik arlojinya, dia sudah sangat terlambat untuk menjemput Ai. Hari ini adalah hari tepat 3 bulan mereka bertunangan, kedua orang tua mereka sepakat untuk mengadakan makan malam bersama sekaligus menanyakan akan dibawa ke arah mana hubungan mereka, berteman, musuh, atau tunangan?
Dan Harry ingin menemput Ai, dia ingin mereka datang bersama. Dan Harry berencana dia akan melamar Ai di acara nanti.
Tiba tiba ada sebuah mobil melaju kencang menyalipnya dan langsung berhenti, Harry langsung membanting stirnya ke kanan tanpa tahu ada mobil lain melaju snagat kencang.
*20.00, rumah Ai.”
Ai menganggti chanel TV nya tanpa berminat untuk memilih mana yang akan ditontonnya. Pikiran lebih ke Harry yg belum juga muncul. HP nya dia hubungi tidak dijawab. Dia sebenarnya ingin ikut orang tuanya, tapi mereka bilang kalo dia dijemput Harry sendiri. Ah...memangnya dia mau lari.
Dan Ai teringat semua kejadian akhir akhir ini,
“benarkah dia menyukaiku?’gumam Ai,lalu dia jadi tidak tahu jika nanti harus memutuskan apa yg dia inginkan selanjutnya.  Ai mendesah pelan, dia sangat gugup,lebih gugup daripada ketika Dika menyatakan cintanya. Ai berdiri menuju ke depan, tapi belum ada tanda tanda kemunculan Harry.
“kemana dia..ini sudha sangat terlambat.” Gumam Ai yg selamana ini dia tahu benar Hary tidak suka kata terlambat.
Tiba tiba ada mobil berhenti, Ai melihat kedua orangtuanya keluar dari mobil itu. Ai melihat wajah mereka tampak sedih, dan merkea sedikit kaget melihat Ai berdiri di pintu masuk
“ada apa?” tanya Ai curiga.
Ayahnya menggeleng “tidak ada apa apa, makan malamnya diundur, Hari ini Harry mendadak kedatangan tamu yang dari luar negeri, Harry tidak bisa mengabaikan hal tersebut.” Ayahnya menepuk bahu Ai dan melangkah masuk, Ibunya menatapnya dengan senyum yang menurut Ai dipaksakan.
“benarkah yg dikatakan ayah?”
Ibunya mengangguk dan meninggal Ai yg masih berdiri  di teras rumahnya. Pikirannya berkecamuk. Harry tidak akan melakukan itu tanpa pemberitahuan sekalipun, setidaknya SMS. Dilihat Hpnya, SMS yg dia kirim belum ada balasan. Apa dia sengaja melarikan diri? Atau sebenarnya dia memang sengaja tidak menjemputnya dan langsung mengambil keputusan yg mengecewakan orang tuanya.
Berbagai pikiran negatif berkelebat di otak  Ai, tapi tidak satupun yg menurut AI tidak cocok dilakukan oleh seorang Harry.

*09.00, kantor Harry*
Ai menatapa tajam sekretaris Harry yang sangat gigih melarangnya masuk ke ruang Harry dengan alasan Harry mempunyai pertemuan penting di ruangnya. Sejak kapan Harry suka mengadakan rapat di ruangnya, selama yang dia tahu, harry menganggap ruangnya hal yg cukup pribadi untuk tidak semua ornag bisa masuk kesana.
“kenapa...kau terlihat sangat berbohong dimataku?” ucap Ai, membuat sekretaris itu tertunduk. Ai menghela nafasnya dan pilih pergi dari situ.Pagi ini dia sudah 5 x menelfon Harry dan 5 kali sms. Tapi tidak satupun mendapat respon. Sehingga disinilah dia sekarang. Dia tidak peduli kalau sebenarnya dia sendiripun ada rapat di kantornya.
Lalu dia melihat pak Dahlan, segera dia mengejar lelaki setengah baya itu., dan tampak snagat terkejut melihat Ai menghadangnya.
“Mbak...Ai.”
“Harry...ada apa dengan Harry?”
“Maksud mbak?Pak Harry sedang rapat di ru...”
“kumohon....jangan memboohongiku.” Potong Ai “aku...tidak tahu lagi harus bertanya kepada siapa, seolah oleh dia di telan bumi begitu saja...ini...ini...” Ai tidak melanjutkan ucapannya, tangisnya memecah. Hatinya sakit sekali rasanya...
Pak Dahlan menghela nafasnya, “ayo saya antar.”

*10.00, rumah sakit*
Ai berlari seperti orang gila menyusuri lorong rumah sakit, hatinya terasa sesak mendengar Harry kecelakaan dalam perjalanan menjemputnya, dan sekarang kata pak dahlan sudah sadar tapi tidak menerima siapapun termasuk dia.dan ketika sampai di kamarnya ada 2 pengawal yg mencegahnya.
“maaf nona...”
Ai yang masih mengatur nafasnya berdiri di depan pintu kamar Harry yg sedang terbaring lemah. Hatinya makin sesak.
“aku tahu...aku tidak boleh masuk.” Ucap Ai “ Harry...”panggil Ai sekeras mungkin “Harry! Harry!”
Tiba tiba HP nya berbunyi, 1 sms dari Harry dan ketika dibaca Ai menangis tanpa henti ‘pergilah...aku baik baik saja.’
Dan menatap penuh mohon kepada kedua pengawal itu...Pak Dahlan memberi kode dengan anggukan ketika pengwal itu memandangnya. Maka kedua pengwala itu membiarkan Ai mendekati pintu kamar Harry
Ai mengatur nafasnya, dan menyeka air matanya. “Harry...jahat sekali kamu...menyuruhku pergi...dan kau bilang kau baik baik saja? Mengapa kau seangkuh itu.” Ai kembali meneteskan air matanya “kenapa...tidak kau katakan...kau tidak suka melihatku menangis, dan kenapa kau tidak mengatakan ingin meminjam bahuku? Bukankah bersandar di bahu orang lain sangat efektif menyembuhkan luka? Meski nanti aku menangis, kau bisa menutup telingan dan matamu...”
Ai merosot terduduk, tangannya memegang daun pintu di depannya.
“aku tidak peduli, kamu harus kembali padaku...kau harus datang padaku, karena itu...aku akan menunggumu. Kau dengar? Aku akan menunggumu, oleh karena itu...kamu harus sembuh. Apa kau tahu...” Ai terdiam “kamu telah membuatku jatuh cinta padamu,dan kamu harus bertanggung jawab untuk itu.”
Ai menangis keras...

*10.00,rumah sakit, dalam kamar Harry.*
Harry mencoba memeamkan matanya ketika terdengar suara Ai di luar memanggil namanya. Cepat atau lambat Ai memang akan tahu, tapi ...dia tidak ingin melihat airmata itu deras mengalir melihat kondisinya sekarang.
“bukankah sebaiknya kau membiarkan Ai masuk?” tanya mamanya yg selalu di sampingnya sepanjang waktu. Harry menggeleng, dan mengirim sms ke Ai. Ibunya menatap sendu, lalu membelai kepala anaknya penuh sayang.  Dan tiba tiba mereka mendengar suara Ai lagi.
“Harry...jahat sekali kamu...menyuruhku pergi...dan kau bilang kau baik baik saja? Mengapa kau seangkuh itu.”
“kenapa...tidak kau katakan...kau tidak suka melihatku menangis, dan kenapa kau tidak mengatakan ingin meminjam bahuku? Bukankah bersandar di bahu orang lain sangat efektif menyembuhkan luka? Meski nanti aku menangis, kau bisa menutup telingan dan matamu...”
Harry mulai menangis. Ibu Harry belum pernah melihat anaknya mengais seperti itu. Dia mau beranjak menuju pintu, tapi tangannya disambar Harry yg menatapnya penuh mohon ke ibunya.
“aku...aku ingin berlalri membuka pintu itu dan memeluknya...tapi...akan lebih menyedihkan dia melihatku seperti ini. Aku tidka mau tampak sangat lemah di depannya...mengertilah ibu...”
Ibunya tampak bimbang tapi pilih menuruti anaknya. dan mereka mendengar suara Ai lagi
“aku tidak peduli, kamu harus kembali padaku...kau harus datang padaku, karena itu...aku akan menunggumu. Kau dengar? Aku akan menunggumu, oleh karena itu...kamu harus sembuh. Apa kau tahu...”
“kamu telah membuatku jatuh cinta padamu,dan kamu harus bertanggung jawab untuk itu.”
Harry memejamkan matanya menangis sejadi jadinya, Ibunya pun ikut menangis dengan memegang tangan anaknya untuk berusaha kuat. Baru kali ini dia melihat Harry sangat mencintai wanita, begitu sangat mencintainya sampai harus menahan seperti ini.
“Ibu...aku harus sembuh...aku harus menemuinya dengan hati dan jiwa yg kuat...”
Ibunya mengangguk terharu.

*1 tahun kemudian, rumah Harry*
Ai tamapk menikmati sarapan  yg dibuat bibi mirna, di sela menikamti sarapannya, Ai mengirim sms ke nomor Harry
‘aku terbangun pagi ini di rumahmu. Nasi goreng bibi mirna sangat enak, pagi ini kau sarapan apa?’
Meski Ai tahu sejak dari rumah sakit setahun lalu sms dia tidak pernah dibalas sekalipun oleh Harry, tapi Ai tahu sms nya dibaca, dan itu sudah cukup bagi Ai.
Dia mendengar dari orang orang di sekitarnya Harry melakukan pengobatan dan terapi fisik yang tidak mudah, kakinya sebelah kanan retak dan hampir tidak bisa berjalan. Tapi dia tahu Harry tidak akan menyerah karena jika menyerah dia tidak akan berobat ke luar negeri untuk terapi kakinya. Dan akan sangat lucu kalau melihat seorang Harry berjalan dnegan bantuan kursi roda. Sangat tidak cocok menurut Ai.

*12.00 wib, rumah makan.*
Ai menatap Dika dari atas sampai bawah, dia tampak sehat.
“Harry...belum datang?”
“Kenapa?kau ingin minta maaf?”
Dika menatap Ai dengan sok polosnya “aku?kenapa?”
Ai tersenyum sinis...”apa tujuanmu mengajak ketemuan ?”
“bisakah kita mulai hubungan baru?”
Ai menatap Dika kesal “tidakah kau harusnya malu menghadapiku sekarang? Kau yg menabrak Harry sampai seperti itu. Selamat kau sukses membuatku sangat sedih dan terluka. Dan apa yg dilakukan Harry?dia tidak melaporkanmu ke polisi, hanya memintamu pergi dari kantornya. Apapun motifmu saat itu aku tidak akan bisa menerimanya. Dan sekarang kau memintaku untuk kemabi padamu?”
“sudah 1 tahun Ai, dia tidak mungkin kembali...”
“diam!” bentak Ai “sudah 1 tahun?kau tahu benar...aku bisa menunggu lebih dari itu.”
Ai beranjak dari duduknya.
“jangan...menghubungiku lagi.”

*14.00, rumah orang tua Harry*
Ada acara apakah , kok banyak sekali membuat makanan?” tanya Ai penasaran ketika ikut membantu ibu Harry membuat bumbu masakan.  Ibu harry tersenyum
“syukuran saja....”
“apakah ada yg ultah?”
Ibu Harry diam sejenak dan kembali mengiris daging di depannya “bisa jadi.”
Ai tersenyum. Lalu dia mengirim foto sedang asik memasak di dapur dan mengirim sms
‘hari ini ibu masak banyak makanan enak, tapi rasanya tidak seru tidak ada kamu disini.kamu...lagi ngapaian?’
Sejak kepergian Harry ke luar negeri, Ai sering datang ke rumah orang tua Harry karena permintaan ibu harry.
Ai baru mau meletakan Hpnya di meja makan, ketika HP nya berbunyi, 1 sms masuk. nafas Ai langsung terasa sesak ketika tahu sapayg sms
‘aku di kamar di rumah luar angkasamu.’
Ai memebaca berulang ulang untuk meyakinkan. Dan segara dia berlari ke dapur “ma...aku keluar sebentar.” Tanpa perlu jawaban Ai langsung berlari keluar dan hampir manabrak Ayah harry.
“semngat sekali Ai...mau kemana dia?’
Ibu Harry tersenyum “ di lihat dari ekspresinya dia akan bertemu Harry.”

*15.00, rumah Harry.*
Ai berlari masuk rumah Harry dan langsug menuju kamar Harry, dibukanya pintu itu. Dan...dia melihat lelaki itu berdiri memandang ke tembok yang penuh dengan banyak foto, kedua tangannya di saling bertautan di punggungnya, dan kemudian dia melihat lelaki itu menatapnya dengan senyum. Ai perlahan mendekatinya samapi jarak mereka hanya beberap langkah. Ai menatap penuh rindu pada Harry.
“apa maksudmu menempel semua aktivatsmu di dindingku yg suci ini? Apa kau ingin menunjukkan kau baik baik saja tanpaku? Dan...bagaimana aku bisa membalas sms mu yang hampir mencapai 200?aku sangat sibuk seklai di sana.”
Ucap harry dan Ai hanya mendengarkan dan tiba tiba tangisnya memecah.
Harry mendekatina sampai tidak ada jarak diantara ereka, di usapnya airmata yg mengalir deras di pipi Ai.
“apa..kau sangat sennag sekali melihatku?” Ai hanya mengangguk “apa...kau sangat merindukanku?” ai kembali mengangguk “apa kau sangat mencintaiku?” Ai menatap Harry dan mengangguk. Tanpa pikir panjang Harry memeluk Ai sangat erat.
“jangan menagis lagi oke...”
Ai memleluk pinggang Harry dan mengangguk.  Tapi mesti begitu Ai tetap tidak bisa menghentikan air matanya, dia sangat bersyukur sekali melihat Harry di hadapannya dengan berdiri di atas kakinya sendiri tanpa bantuan, dan menjadi sangat sehat dan tampan.
Harry pelan melepas pelukannya menatap Ai yg penuh air mata, diusapnya pelan. Melihat reaksinya begitu melihatnya membuat Harry sangat bersyukur telah bertemu dnegan gadis ini. Jika dia tahu, sms darinya yg memberi kekuatan, memberi harapan, dan memberi pelukan yang hangat.
Harry menatap dinding yg penuh foto itu lagi “kenapa kau menempel semua fotomu disini? Dinding kamarmu sudah sangat penuh?”
Ai ikut menatap dan tersenyum, di lepasnya pelukannya di pinggang Harry dan duduk di kasur Harry dengan menghadap didinding penuh foto itu.
“setiap selesai menempel foto, aku selalu memendanginya dengan duduk disini, dan bertanya apa komentarmu ketika melihat foto ini. Aku berfikir beberapa ucapan yg mungkin kau katakan saat melihat foto itu.” Ai menatap Harry “kamarku masih kosong, aku...belum mempunyai fotomu.”
Harry tertegun, dia tidak percaya Ai melakukan ini, menjaga hatinya dan hati dirinya sendiri. Ternyata dia juga kesepian. Harry duduk disamping Ai dan ikut menatap foto foto itu.
“aku punya beberap foto...tapi aku ragu akan memberikan padamu.”
“Kenapa?”
“Karena aku selalu menjadi snagat tampan ketika di foto, dan kau akan tidak bisa tidur karena fotoku.”
Ai melotot, Harry tersenyum usil, mengacak rambut Ai gemas.
“Hei!” protes Ai dengan menjauhkan kepalanya “batasku masih berlaku.”
Harry tersenyum penuh makna, “oh ya...kau baru saja memperbolehkan memlukmu?”
Ai sedikit kikuk, dan berusaha menguasai dirinya lagi “ tadi...terbawa suasana.” Ai beranjak dari duduknya tapi tangan Harry dengan cepat menyambar tangan Ai, membuat gadis itu terduduk kembali dan ketika menoleh ke arahnya untuk protes, bibirnya langsung dikunci oleh bibir Harry.
Harry melepas ciumannya tanpa melepas tatapannya ke Ai, dia suka sekali melihat ekspresi Ai yang merah padam karena malu.
“aku tidak bisa mengikuti batas batas yg kauberikan sejak kau mengatakan kau sangat mencintaiku ketika di rumah sakit itu.”
Ai terdiam
“apa kau akan mengatakan saat itu juga terbawa suasana? Aku tidak akan percaya. Karena kau tahu kenapa?”
Ai menggeleng pelan dan masih belumberani menatap mata Harry yg jelas jelas menatapnya tanpa kedip.
“karena aku terlalu mencintaimu”
Ai menatap Harry penuh senyum. Lalu tangannya memegang kedua pipi Harry. dan Harry langsung menarik gadis itu dan memeluknya. “ah...aku kangen sekali.” Ai tersenyum tidak komentar.

*10.00 wib, kantor Harry*
Harry sedang asik dengan dokumen di depannya ketika Farel menemuinya. Harry menghentikan seenak, tersenyum melihat kakaknya tampak sehat. Dan sedikit kaget ketika kakaknya menghampirinya dan memeluknya.
Harry tersenyum menepuk punggung kakaknya lembut. Farel melepas pelukannya dan menyembunyikan air matanya yg sempat terlihat oleh Harry. Harry tahu benar kakanya merasa sangat bersalah.
“jika aku tahu , Dika akan mencelakaimu seperti itu.”
“sudahlah kak.”potong Farel “aku suka kakak memecatnya saat itu juga, karena sebenarnya dia ingin merebut posisiku menggunakan kelemahan kakak.dan aku tidak terima.”
Farel mengangguk. “aku yg harusnya melindungimu...”
Harry tersenyum “yang penting aku sekarang sudah disini kak, denan berdiri di atas kakiku sendiri.”
Farel tersenyum jika Harry tidak kembali dnegan keadaan yg seperti ini dirinya akan semakin snagat bersalah.

*16.00 wib, rumah Ai*
Harry melihat arloinya, harusnya Ai sudah sampai rumah, tapi kemana dia. Di oencetnya beberapa nomor yg dia hapa di luar kepalanya “dimana?” tanyanya begitu tersambung
“di rumah.”
“oh ya?”
“iyaaaa....” tiba tiba pintu terbuka dan Ai masuk. Harry yg sedang duduk di salah satu kursi di ruang tamu menatapnya dan menutup telfonnya. Ai sendiri sangat kaget melihat makhluk tampan itu di rumahnya dan tidak sendiri...di ruang tamu sudah berkumpul orang tua Harry, kakak Harry, dan orang tuanya, yang semuanya itu sedang menatapnya.
“nah ini...yg ditunggu tunggu, Ai...ayo duduk sini.”Ibunya menghampirinya dan mengajaknya duduk di kursi depan Harry yg tidak lepas menatapnya. Ai tahu benar Harry sednag menikmati peranya saat ini.
“Harry tidak membritahumu kalau mau datang kesini?” tanya Ibu Harry, Ai menggeleng kesal. Ibu Harry tersenyum. “Harry?”
“aku sejak pulang tidak pernah santai, jadi...aku lupa.” Ucap Harry usil. Dan membuat Ai makin kesal. Dia tahu benar Harry sengaja, dan dia tidak bisa bebas protes di depan keluarga Harry, dia harus menaga sopan santunnya. Dan Harry tahu betul kalo dirinya akan bersikap seperti ini.
“Maafkan kedatangan kami pasti snagat membuat terkejut,kami sendiri juga sangat mendadak untuk tiba tiba datang kesini. Harry memang suka membuat acara yg penuh kejutan seperti ini.”
Ucap ayah Harry
“tidak apa-apa,” ucap papanya Ai dengan senyum
“terima kasih, dan maksud kedatangan kami kesini karena anak kami yang sombong ini memohon sampai menangis untuk melamar Ai.”
Harry melotot kesal, ayahnya selalu bisa saja mempermalukan dia. Kemarin dia memang memohon, tetapi tidak sampai menangis. Lebay banget. Dilihatnya Ai yang tampak kaget. Dia jadi penasaran apa yg sedang dipikirkan wanita dihadapannya ini.
“Oh...ini benar benar kejutan...kami pada dasarnya setuju, tapi keputusan ada di Ai.”
Ai yang tiba tiba ditodong seperti itu makin gelagapan, dia tidak pernah membayangkan Harry akan secepat ini melamarnya.
Lama Ai terdiam, meski semua mata menatapnya, dia berusaha tenang, lalu dia menatap Harry
“kenapa kau melamarku?”
Harry tersenyum, dia sudah menebak, Ai akan bertanya seperti itu. Dia tidak akan memberikan jawaban secara Cuma Cuma.
“Karena...kau memberikan bahumu meski saat itu kau lebih membutuhkan bahuku, karena kau meng sms ku hampir 200 sms selama kita tidak bertemu, karena kau percaya aku akan kembali padamu, karena kau memenuhi dinding kamarku dengan fotomu, karena kau berlari kepadaku dengan berucap syukur karena aku kembali dengan sehat dengan air mata memenuhi wajahmu, dan alasan terakhir karena...aku mencintaimu.”
“itulah alasan kenapa aku melamarmu, aku tidak berniat pacaran dalam jangka waktu lama, karena aku ingin menikahimu. Apa kau menerimanya?”
Semua terdiam, bahkan mama Harry menangis haru, dia tidak menyangka anaknya yang terkenal playboy sombong itu bisa mengatakan hal seromantis itu untuk seorang wanita. Dan Ibu Ai berulang menghapus air matanya, ditatapnya Ai seakan ingin mengatakan untuk tidak berlagak jual mahal lagi..apa yang dilakukan lagi jika sorang pria dengan tegas dan mantap melamrnya dan ingin menikahinya dengan mengutarakan alasannya di hadapan orang tua sang wanita. Tidak ada yg lebih membahagiakan dari itu.
Ai sendiri menatap Harry tanpa kedip, tapi air matanya mulai meleleh tanpa dia minta. Dan yang dilakukannya hanyalah mengangguk.
“aku sudah menjelaskan panjang lebar dna kau hanya mengangguk?ah...ini tidka adil”
Harry bersedekap dan pura pura kesal, dia melakukan ini untuk mencairkan suasana yg haru ini.
“Ya...”
Harry menatap gemas “ya? Hanya ya? Ya apa? Aku saja jelas masa kau tidak jelas? Orang tuaku bisa gagal paham nih.”
Ai cemberut, dia tahu Harry mulai menggodanya.
“Ya aku terima lamaranmu, puas?”
Kedua orang tuan Ai dan Harry mengulum senyum, bahkan Farel hampir tertawa.
“singkat sekali...katakan kau juga mencintaiku.”
“Apa?!” protes Ai “ aku tidak suka mengobral kata kata itu.”
“Obral? Kita ini dalam suasana lamaran, sakral...dan kau bilang obral?”
“Sudah sudah, Harry..jangan kau teruskan, oke?” lerai ayah Harry.
“Ya...biarkan kami menikmati makan malam dulu, dan kalian akan kami tinggal disini untuk melanjutkan diskusi kalian.” Sahut ayah Ai yg beranjak berdiri mengajak keluarga Harry untuk ke ruang makan.

*19.00 wib, rumah luar angkasa.*
Ai menatap Harry yg makan dnegan lahap.
“melanjutkan diskusi tidak harus keluar dari rumahku kan?”
“ah..kau tidak tahu orang tuaku, mereka akan menguping pembicaraan kita. Aku tidak suka.”
Ai geleng geleng kepala, tapi tersenyum. Memang seperti itulah Harry. penuh kejutan sejak awal mereka bertemu.
“dan apa yang akan kau katakan?”
“aku? Oh aku sudah cukup bicara tadi, kau yg harus bicara sekarang. Kenapa kau menerima lamaranku?”
Ai menopangkan dagunya di kedua telapak tangannya “karena aku sudah saatnya menikah, karena kau tidak jelek, karena kau cukup tampan, karena kau lumyan kaya, karena kau bukan pengangguran, dan karena kau sangat mencintaiku.”
Harry melotot “alasan macam apa itu?”
“bukankah itu alasan yg masuk akal.”
Harry makin kesal “ lumaya kaya?cukup tampan? Tidak jelek? Bukan pengangguran? Oh tidakkkkk...”
Ai tersenyum dikulum.  Harry meletakan sendok garpunya, berdiri dan mendekati Ai lalau duduk di meja di samping Ai di dekatkannya wajahnya ke wajah Ai, Harry tersenyum saat wajah manis itu bersemu merah, dan denbaran jatung Ai terlihat sangat cepat.
“Apa yang kau...”
Kalimat Ai dipotong oleh ciuman Harry. Ai rasanya ingin meleleh, tapi dengan sigap Harry memegang bahu Ai. Dilepaskan ciuman Harry begitu dia merasa cukup, ditempelkan dahinya ke dahi gadis itu
“tampaknya ini satu satunya cara untuk membuktikan.”
Ai mau mendorong Harry tapi dengan cepat tangan Harry menyambar tangan Ai dan tangan satunya mengeluarkan kalung. Ai menatapnya kagum melihat keindahan kalung itu.
“tanda aku melamarmu.” Tanpa diminta Harry memasangnya ke leher Ai. Dan tersenyum puas saat melihatny sangat cocok dipakai Ai. “kau bisa menambahkan alasanmu menerima lamaranku karena aku sudah memebri kalung ini.” Ucap Harry usil” dan...karena kau sangat menyukai ciumanku...gimana?”
Ai berdiri dari duduknya, dan kini mereka berdua sejajar. Dan Harry tidak sempat bernafas ketika tiba tiba Ai menciumnya.  Dan setelah Ai melepas ciumannya, dia menatap Harry dnegan tersenyum “kau juga bisa menambah dafatra alsanmu melamarku karena kau suka ciumanku.”
Harry tertawa dan memeluk gadis itu.
“Oke.”

* TAMAT *























Read More