Tuesday, April 4, 2017

Pantai dan Dia

07.00 malam, pantai

Tergesa gadis itu turun dari mobil dan membuka pintu belakang mengambil kardus cukup besar dan membawanya ke arah pantai.

Sorang lelaki ikut turun dan mengejar langkah gadis itu yang lumayan cepat. Apa dia tidak sadar kalau sekeliingnya sangat sepi. Ya...mana ada orang datang ke pantai jam segini. Tapi gadis itu dengan setengah memaksa memintanya untuk mengantarnya ke pantai, tadinya dia mau menolak jika tidak melihat mata yang selalu ceria itu menguap tertutup air mata.

“Fe..pelan pelan” ucap lelaki itu ketika berhasil mengejar gadis itu dan memegang lengannya. Fe menghentikan langkahnya dan menatap ombak di depannya. Diletakkannya kardus itu.

“bisakah kak andre duduk dan diam?”

“Ha?” Andre menatap adiknya dan melepas pegangannya “oke”

Andre mundur selanghkah dan duduk di pasir putih. Dilihatnya punggung Fe yang tampak bergetar. Dia tahu Fe menangis lagi.

Fe membuka kardus besar itu, ditatapnya isi kardus tanpa kedip, lalu diambilnya foto seorang lelaki yg tampan. Dipandanginya kosong.lalu diambilnya korek dan membakarnya. Andre hanya menatapnya.

Lalu Fe mengambil jam tangan yg pernah diberikan lelaki itu padanya, dan di lemparnya ke depan sejauh jauhnya

“Aoooo!!!” Fe dan Andre terkejut, dari asal suara terlihat seorang lelaki berjalan ke arah Fe dengan memegang bahunya. “ini pantai yang sangat bersih,dan kamu mau mengotorinya dengan membuang barang barang, bisa kau cari pantai lain hah???!!!” teriak lelaki itu begitu sudah beberapa langkah di hadapan Fe.

Fe menatapnya tanpa kedip “kau...manusia?”

Lelaki itu melotot “manusia? Apa kau sendiri manusia? Malam malam di tempat seperti ini dengan membuang barang barang.”

“kau sendiri...kenapa malam seperti ini di tempat seperti ini ?”

“aku menyukai laut di malam hari, dan aku sedang menikmati suasana penuh damai disini dengan tiduran di pasir putih, tapi...kau menggangguku. Untung kena bahuku, jika kepalaku...sudah kupastikan kau akan bertanggung jawab.”

“Pantai ini bukan milikmu.”

Lelaki itu menatap Fe kesal.

“Oh ternyata benar...hai Iko.” Sapa Andre yang entah sejak kapan sudah diantara mereka. Lelaki itu menoleh mencoba mengenali siapa yg menyapanya.

“Andre?” Andre tersenyum mengangguk.

08.00, malam, pantai

“kapan kau kembali dari Amerika?” 


Iko yang akhirnya pilih memilih duduk bersama Andre daripada melanjutkan bertengkar memperhatikan Fe yang sekarang duduk membawa buku yang diambil dari kardus dan menimang nimangnya dan yang tidak lama kemudian dia bakar. 

“Tadi sore jam 5 dan langsung menuju kesini.”

Iko menatap Andre “apa...adikmu selalu melakukan ini setiap putus cinta?”

Andre tersenyum “tidak...dia baru kali ini seperti itu.” Andre mendesah kesal “dia cinta pertama dan pacar pertamanya sejak 7 tahun yang lalu.”

Iko melongo “Ha?!” Iko menatap Fe yang masih sibuk membakar kenangannya. Andre tersenyum beranjak dari duduknya dengan menepuk bahu Iko “aku ingin beli minuman, tolong jaga dia ya...”

“kau takut dia bunuh diri?”

“apa dia terlihat seperti itu? Dia sangat sakit hati saat ini. Tapi di tempat sepi dan gelap seperti ini, bukan tidak mungkin ada orang jahat di sekitar sini.”

Iko mengangguk setuju “oke.”

Sepeninggal Andre, Iko beranjak dari duduknya menghampiri Fe lebih dekat. Fe yang sedang memandang foto lelaki itu tidak menyadari Iko di belakangnya. Iko sedikit mencondongkan tubuhnya ke depan karena penasaran dengan wajah lelaki itu. Keningnya berkerut...dia merasa mengenal lelaki di foto itu. Untuk memuaskan rasa penasarannya, dia mengambil foto itu dari tangan Fe.

“Hei!!” seru Fe kaget dan makin kaget melihat Iko sudah di belakangnya dengan ekspresi seirus memandang foto itu, Fe beranjak dari duduknya

“Kembalikan.”

“Bagaimana jika aku menolak?” sahut Iko tanpa melepas tatapannya ke foto itu. Dia benar benar merasa tidak asing dengan wajah itu...tapi siapa... 


Fe merasa dia salah dengar, sehingga dia perlu mengulang permintaannya “kembalikan, oke?” 

Iko menatap Fe sekilas dan melihat foto itu lagi, dan menaruhnya di saku jaketnya yg sebelah dalam “ bisa kau ambil disini jika mau.” Ditunjuknya saku jaketnya. 

Fe melotot kesal. “kamu bisa ambil foto lelaki lain, tapi jangan itu, oke?” 

“kenapa?toh mau kau bakar juga?”

 Fe makin kesal, baru kali ini ada lelaki mengambil foto lelaki lain. Apa dia pecinta lelaki, jika iya dia akan senang sekali. Biar menjadi pembelajaran lelaki tidak berperasaan itu. 

“terseralah...kamu bisa simpan foto itu, kamu bingkai dan kamu peluk tiap hari juga boleh. Dan...” Fe tidak melanjutkan bicaranya,melirik Iko yang sedang menantikan kelanjutan omongannya. Fe menarik nafas...”jika kau ingin biodatanya, aku akan senang hati memberinya.” 

Iko baru sadar...apa yang dia lakukan menyebabkan persepsi yg salah. Tapi dia tidak peduli, dia masih sangat penasaran dengan lelaki itu. Dia tidak suka dibuat penasaran. Dia selalu menuntaskan rasa penasarannya. Dan setelah itu dia akan memutuskan apa sudah puas atau belum. “siapa namanya?” 

“Erwin” jawab Fe dengan melanjutkan membakar barang barang yang tinggal sedikit. Dan Iko cukup terkejut ketika Fe mengeluarkan barang terakhir yang akan dibakarnya adalah cincin. Iko tahu itu bukan cincin murahan. 

“cincin itu akan kaubakar juga?” 

Fe terdiam. “saat memberi cincin ini padaku, dia berkata bahwa hari ini perayaan terakhir hubungan kami, dia tidak bisa menolak perjodohan yg diatur orang tuannya, dia berkata masih sangat mencintaiku tapi tidak bisa melanjutkan hubungan ini karena aku bukan wanita yg tepat untuk mendampinginya yang sudah mencapai posisi sebagai direktur utama. Cincin ini dia berikan karena sebagai kenang kenangan hubungan kami.” 

Iko tidak mampu berkata apa apa, dia tidak menyangka ada lelaki sejahat itu. Dilihatnya Fe mengembalikan cincin itu pada tempatnya, dan menaruh di tasnya. 

“cincin itu pantas dibakar.” ucap Iko

Fe menatap Iko dan tersenyum. “aku bukan orang yang menerima penghinaan begitu saja.” 

Iko cukup terkejut dengan ucapan Fe, lalu senyumnya terbias. Cewek sok kuat di depannya ini benar benar sakit hati. Dan itu sangat menarik hatinya. 

 07.00, pagi, rumah Iko 

“Aduh anak mama jahat sekali, pulang dari Amerika setelah 7 tahun disana bukannya langsung pulang ke rumah malah ke pantai.” 

Iko langsung disambut omelan mama nya ketika menampakkan batang hidungnya di meja makan. 

Iko hanya nyengir dan mencium pipi mamanya “mama kangen ya...” 

“semalaman mamamu tidak tidur mondar mandir di kamar, membuat papa jadi tidak bisa tidur,” Iko tersenyum mengambil duduk di sebelah mamanya 

“ maaf ma..pa..,hanya sedikit menghilangkan penat saja setelah perjalanan jauh.” 

Papanya mengangguk. “permulaan yang bagus, karena kau harus segera mulai berfikir untuk pindah ke Indonesia.” 

Iko terdiam, dia paling tidak suka topik perusahaan. Jika boleh memilih dia tidak ingin jadi bos perusahaan milik ayahnya.dia suka bekerja dari nol. Tapi papanya yg saat itu memberikannya pilihan mau sekolah ke negara mana karena papanya ingin dia bisa menggantikan posisinya kelak. 

“oke pa...tapi papa harus menghargai apa keputusanku.” 

“oke” sahut papanya “dan jangan lupa besok lusa kita diundang pertunangan sepupumu, Erwin.”

Iko mengangguk,lalu ingat sesuatu. Sepertinya ada yang pernah menyebut nama Erwin sebelumnya. Oh ya...gadis patah hati itu.

“Aku tidak menyangka, dia tunangan dengan wanita lain.padahal sudah pacaran 7 tahun.” ucap mamanya, Iko meletakkan sendoknya. Lalu dia ingat foto yg dia ambil. Meski sepupu, bisa dibilang mereka hampir tidak saling mengenal, setahun mungkin hanya bertemu sekali ketika hari raya. Dan sudah 7 tahun ini dia di Amerika jadi makin tidak pernah bertemu.

Apakah Erwin sepupunya adalah mantan pacar gadis itu, sangat membuatnya penasaran.

“kenapa putus?” tanya Iko berusaha tidak terlihat penasaran.

“mama juga tidak tahu,katanya sih wanita itu memutusnya karena hal sepele, dan ketika dijodohkan, menurut saja.”

 “padahal papa dengar, tantemu menyukai mantan pacar Erwin dari pada yang mau ditunangkan sekarang ini.”

Iko mengerutkan kening, tapi cukup menarik,karena ceritanya mirip dengan gadis patah hati Cuma versinya dibalik balik.

10.00,kantor cabang Ardhan Group

Santai Iko melangkah ke kantornya, beberapa wanita terang terangan melihatnya. Meski itu sudah menjadi hal biasa, tapi cukup risih juga. Dia kemudian melihat orang yg tak asing baginya sedang berbincang dengan para bos bagian. Dikeluarkan foto di sakunya untuk menyakinkan. Dan Iko tidak percaya ada cerita kebetulan seperti ini.

“Iko?!!” Erwin setengah berlari menuju ke arah Iko, wajahnya sangat terkejut. “Kapan kau balik dari Amerika?”

Iko menyambut uluran tangan Erwin dan membiarkannya menepuk bahunya.

“kemarin.oh ya selamat ya...direktur.” Erwin tertawa,

“aku hanya direktur cabang, sedangkan kau sudah dipastikan direktur utama” Iko tersenyum sekilas

”aku belum memutuskan.” Iko memasukan kedua tangannya ke saku melihat sekeliling. Lalu dia ingat sesuatu “oh ya...wanita mana yg berhasil kau rebut hatinya sampai mau tunangan denganmu?”

Kembali Erwin tertawa, dan Iko entah kenapa tidak menyukai cara tertawanya.

“mungkin aku kalah tampan denganmu,tapi aku berhasil menaklukan wanita”

“Baguslah...”

14.00, kantor utama ardhan group

Iko hampir melangkah ke ruang ayahnya ketika dia melihat serombongan orang melintas di hadapannya yg salah satunya dengan cara tak sengaja telah membuat hari harinya penasaran dengan wanita itu.

‘dia...disini?berarti dia kerja disini.’ Batin Iko.lalu masuk ke ruang ayahnya dengan bergumam “semakin menarik.”

16.00,perjalanan pulang

“memikirkan sesuatu?”

Iko yg hanya memandang jendela menoleh, reno yg berada di belakang stir menatapnya sekilas. Iko kembali memandang ke luar dari jendela samping. reno adalah org kepercayaan keluarganya. Dan sejak kembali dari Amerika, reno menjadi sketaris dan sopir pribadinya.

“bisa minta tolong bawakan aku data tentang seseorang?” reno tersenyum

“oke”

“dan hanya kau yg tahu.mengerti?” Iko menegaskan.

“Siap.”

Iko menghela nafasnya...dia benar-benar tidak sabar ingin melihat hasilnya.

10.00, acara tunangan

Fe berjalan masuk ke ruangan, sudah banyak tamu disana, dia jadi sedikit kesulitan mencari tempat duduk, padahal acara sudah mulai. Akhirnya Fe melihat ada tempat duduk di belakang, segera dia menuju kesana. Nafasnya terdengar lega karena sudah duduk. Kemudian dia melihat sekelilingnya...ruangan dihias sangat megah.

 ‘gile...tunangan saja mewah begini’ batin Fe tapi Fe tidak kaget, Rina sahabatnya adalah seorang putri tunggal pengusaha yang sangat kaya. Acara seperti ini tidak akan mengurangi jumlah uang mereka.

Fe mencoba mencari sosok Rina, dan dia melihat sahabatnya itu memakai gaun merah muda dan sangat cantik disebelahnya seorang lelaki. Mata Fe melotot...bahkan dia hampir berdiri dari kursinya jika pembawa acara tidak mengumumkan acara tukar cincin. Semua orang berdiri ketika acara tukar cincin itu berlangsung. Fe menatapnya tanpa kedip.

Dulu dia sangat menyukai senyum Rina, tapi senyum itu serasa mengejeknya. Dan ...senyum tunangannya lebih memuakkan di matanya.

“selamat buat Erwin dan Rina.” Ucap pembawa acarnya seolah mencoba meyakinkan Fe kalau penglihatannya tidak salah, pendengarannya masih normal, dan ini bukan mimpi.

Jika dia ingat Rina sangat antusias mengundangnya ke acara ini, bahkan ketika perjalanan kesini, dia sempat menelfonya untuk memastikan kalau dirinya berangkat. Bahkan dia dengan nada merayunya bilang kalau acara tunangannya tidak akan seru kalau dirinya tidak datang.

‘jadi...ini maksud serunya...’batin Fe kesal.

“ah ternyata benar gadis patah hati.” Fe kaget dan menoleh ke asal suara, entah sejak kapan lelaki pantai itu sudah disampingnya, memandangnya dengan tersenyum.

“kau...kenapa kau disini?” Iko menyilangkan kedua tangannya di dadanya

“aku saudara sepupu lelaki yg baru aja tunangan itu.” Fe terkejut,dia tidak menyangka dunia sesempit ini.

 “Oh...”

“Dan kau?” tanya Iko penasaran.

 “bisa dibilang hubunganku dengan wanita yg tunangan itu sahabat,dan ... sebagai seorang sahabat dia sangat profesional.”

Iko kaget...dia tadi mengira Fe sepupu Rina, atau teman rina. Dia tidak menyangka hubungan mereka lebih dari itu. Lalu dia melihat ibunya seperti celingukan mencarinya. Mamanya tidak akan mencarinya jika dia sudah menyapa tuan rumah atau yg punya acara

“kau jangan kemana mana, tetap di sini.”

Fe menatap Iko “siapa kamu menyuruhku seperti itu?”

Iko sedikit kaget mendengar bantahan Fe, selama ini tidak ada yg membantahnya seperti itu.

“menurutmu?” Iko tersenyum dan beranjak dari duduknya...apa yg dikatakan Fe benar, siapa dia menyuruhnya. Mereka hanya dua orang yg kebetuan bertemu di pantai dan disini.

Fe menghela nafasnya ketika mengikuti Iko dengan padangannya. Iko terlihat menghampiri seorang ibu setengah baya, mungkin ibunya. Ya...Erwin kan sepupunya.bukan tidak mungkin semua saudaranya diundangnya. Tak jauh dari Iko dia melihat Erwin dan Rina bercanda. Mereka saling tertawa, tersenyum, dan berpegangan tangan. Sejak kapan mereka bermain di belakangnya? Fe kesal sekali. Dia beranjak dari duduknya dan mengambil minuman.

“ah ini Iko...semakin tampan saja.” Sapa mama Erwin dengan menepuk lembut pipi Iko. “cepat nyusul erwin...atau malah tanpa tunangan mau langsung nikah?”

Iko tersenyum. Matanya melirik Erwin dan Rina yang berdiri tidak jauh darinya terlihat sangat mesra. Padahal kata mamanya kemarin mereka dijodohkan. Tapi sepertinya tidak ada kecanggungan sama sekali diantara mereka.

“dia ini susah cari yang cocok.”ucap mama Iko.

Iko membiarkan para mama ngobrol sendiri, perhatiannya teralih ke erwin dan rina ketika kedua orang itu melewatinya.

“ayo..kau harus bertemu dengan tamu spesialku.dia sahabatku.” Iko mengerutkan kening mendengar ucapan rina, dan diikuti dengan pandangannya, dia melihat kedua orang itu berjalan ke arah Fe yang berdiri di dekant meja snack. Dia baru asik minum jusnya.

“maaf ma, tante...saya permisi sebentar.” Tanpa perlu mendengar persetujuan mamanya, Iko berjalan ke arah Fe juga.

“Halo Fe...”Fe yg asik memilih snack membalikan badannya, dilihat Erwin dan rina sudah di depannya. Dilihatnya tangan rina melingkar erat di tangan erwin.

“terima kasih ya kau mau datang...aku senangggg sekali.” Rina bermaksud memeluk Fe tapi Fe memundurkan badannya. Meski menjadi canggung, rina berusaha tidak menanyakan kenapa menghindarinya. Sedangkan erwin hanya menatap fe tanpa berkata apapun.dia tidak tahu rina akan mengundangnya. Dan dia penasaran apa yg dirasakan fe sekarang.

 “fe tadinya tidak mau datang, tapi aku memaksanya, bahkan kupastikan tadi fe sampai sini dengan selamat, karena kalau fe tidak hadir rasanya tidak seru, iya kan Fe?” Fe menatap keduanya gantian. 

“Kenapa kau melakukan ini?”tanya Fe...”apa yang ingin kaubuktikan?” Rina memasang wajah sok polos

“aku tidak mengerti maksudmu, jika kau merasa tidak nyaman karena erwin mantan mu tapi kita kan sahabat. Tidak ada yg salah mengundang seorang sahabatnya sendiri kan?” Fe tersenyum kesal 

“rina..kita harus menyapa tamu lain. Fe...maafkan aku karena tidak bilang kalau aku dijodohkan dengan rina.”

“Oh...jadi kalian dijodohkan” Fe kaget Iko sudah disampingnya. “melihat sikap kalian yg sangat mesra tidak ada yg percaya loh...kalian dijodohkan, padahal kudengar kalian dijodohkan baru seminggu yang lalu.” Iko tersenyum menikmati wajah merah padam mereka, diliriknya Fe yang hanya menatap kedua orang itu kesal.

“siapa dia?” tanya rina ketus Erwin sedikit gelagapan

“kenalkan dia sepupuku, Iko.”

“ah...sepupumu...hai...terima kasih sudah datang di pesta kami. Dan...kau sangat tampan.” Ucap Rina tanpa malu. Fe saja sampai tidak percaya rina akan mengucapkan hal seperti itu. Memuji lelaki lain di depan tunangannya. Apakah dia sedang memakai topeng atau memang inilah wajah asli Rina.kalau iya...salut sekali Fe.

“bukankah kita ada acara lain, Fe?” ucap Iko tidak mneghiraukan uluran tangan rina yang bermaksud menjabat tangannya. Fe menatap iko yang tampak di matanya tajam menatapnya seolah memkasanya untuk tidak menolaknya atau membantahnya. Dan fe hanya mengangguk. Iko tersenyum lalu menatap pasangan itu.

“maaf ya...kami pamit dulu.” Fe mau protes ketika Iko tiba tiba menggandeng tangannya, tapi Iko sangat erat memegangnya.

“ah iya...catatan buatmu erwin, aku tidak akan memperbolehkan Fe berhubungan lagi dengan rina. Jadi pastikan tunanganmu tidak mendekati Fe, oke?” Erwin seperti dihantam batu besar di wajahnya. Iko sendiri dengan sikap tenangnya, menggandeng Fe keluar dari gedung itu.

Fe menyentakkan tangan Iko begitu mereka sudah di parkiran di depan mobil Iko. “cukup. Aku mau naik taksi.” Ucap Fe “dan tidak perlu mengancam Erwin seperti itu.”

Iko merasa salah dnegar “bukannya pertama yg harusnya kau ucapkan padaku adalah ucapan terima kasih?”

“Aku tidak meminta bantuanmu. Aku bisa mengatasinya meski kau tidak disana.” Iko tersenyum kesal

“oh ya...aku percaya. Dan paling kau akan keluar dari situ dan menangis, dan jika itu dilihat rina, dia akan sangat senang melihatnya.” Iko membuka pintu mobilnya “masuk, dan akan kuturnkan di tempat dimana kau suka. Tapi tidak disini. Akan sia sia usahaku tadi jika sampai erwin atau rina melihatnya.”

Fe menatap Iko. “aku tidak peduli. Kita toh juga bukan teman dekat. Kita hanya dua ornag yg bertemu di pantai dan kebetulan bertemu disini.”

Iko menatap Fe tajam,lalu tangannya bersedekap. “oh ya...hanya seperti itu?”

“iya.”

“kau harusnya mengatakan bahwa kita hanya kebetulan bertemu dipantai, kebetulan aku teman kakakmu, kebetulan aku sepupu erwin dan kebetulan kita bertemu di tunangan sahabatmu.” Fe terdiam dan melengos ketika tatapan tajam Iko tidak melepasnya. “terlalu banyak kebetulan diantara kita.”

“kukira Cuma sampai disini.” Ucap Fe meski entah kenapa dia tidak yakin.

“kau yakin?” Iko mendekatkan bdannya ke arah Fe dan kepalanya sedikit menunduk dan berbisik di telingan Fe “aku sangat yakin kita akan bertemu lagi.”

 Wajah Fe merah padam, parfum maskulin Iko membuatnya sedikit berdebar debar. Dia tidak pernah berhadapan sangat dekat dengan lelaki lain selain Erwin.

 “pintuku masih terbuka, cepat masuk.” Fe pilih menurut

15.00 taman rumah rina

“tidak kusangka...Fe cepat sekali move on, apa sepupumu itu tidak tahu Fe siapa, dan apa jangan jangan selama ini mereka sudah berhubungan, atau...dia sengaja memanfaatkan sepupumu itu hanya kelihatan dia baik baik saja melihat kita bertunangan?”

Rina mengungkapkan semua prediksinya tapi di hatinya masih merasa kesal. Rencana dia melihat Fe shock tidak terjadi. Dan ini semua gara gara sepupu erwin yg tampan itu. Kenapa harus setampan itu. Erwin yang duduk disampinganya hanya terdiam melihat ikan ikan yg berlarian di depannya

 “Iko baru 3 hari yg lalu kembali dari amerika. Dan...kau sudah bersahabat berapa lama dengan Fe? Kau dan aku tahu pasti Fe tidak akan memanfaatkan Iko seperti itu. Fe sangat terkejut kau bertunangan denganku, kau sudah membuatnya benar benar kaget. Apa itu tidak cukup?”

“tidak...aku ingin melihat apa kau sudah benar benar tidak mencintainya, begitu juga dia. Kita tahu persis Fe tidak gampang jatuh cinta dan melupakan orang. Jadi...hubungan seperti apa antara Fe dan Iko aku akan menyelidikinya. “

“kita sudah tunangan.”

“tapi iko sepupumu yang mungkin akan dimanfaatkan Fe untuk mendekatimu lagi.”

Erwin menghela nafasnya...kecumburuan rina kadang tidak bisa dia mengerti. Dan Iko...dia bukan orang yg bisa dimanfaatkan siapapun. Apa yang dia lakukan adalah apa yg ingin dia lakukan. Sejak kapan dia kenal Fe juga sangat menganggunya.

 *10.00 kantor pusat ardhan group*

Fe melotot tidak percaya kalau direktur utama perusahaan tempat dia bekerja adalah Iko. Dia memang sudah mendengar gosip kalau akan ada pengangkatan direktur utama yang baru, dia adalah anak dari pemilik perusahaan , dan baru pulang dari amerika. Tapi...itu hanya informasi umum yg tidak mengarah ke Iko.apa ini kebetulan lagi?

Saat gilirannya menjabat tangan Iko menjabatnya erat dan ada kertas ditangannya. Fe memandangnya tapi Iko mengalihkan pandangannya ke orang di belakangnya. Setelah agak menjauh Fe membaca sobekan kertas di tangannya. Sebuah nomor hP yang tidak ada penjelasan milik siapa, dan apa yang harus dilakukan dengan nomor ini. Di lihatnya Iko masih sibuk melayani jabat tangan orang orang yg berebut mengucapkan selamat padanya. Dia sendiri tadinya tidak mau jika tidak dipaksa oleh kepala bagiannya untuk ikut barisan antri mengucapkan selamat. Tiba tiba HP nya berbunyi. Pesan di whatsup ‘setelah ini datang ke ruangku.penting’ Fe menatap pesan itu bingung, lalu dilihat foto profil, dan dia ingat nomor di kertas g dia pegang dia cocokkan. Ternyata cocok. Milik Iko.

Dilihatnya lagi Iko sudah beralih sedang mengambil minum dan memegang HP nya, sekilas dia melihatnya dan mengalihkan mengobrol dengan kepala bagian administrasi. Fe menghela nafas, diamatinya pesan itu. Dan dia berjalan keluar ruangan,

“Fe...tidak makan dulu?” sapa desi teman seruangnya di bagian produksi.Fe menggeleng

 “aku tidak lapar, aku duluan ya.”

"oke.” Desi hanya menatap Fe...akhir akhir ini sejak putus dari erwin Fe seperti seorang yg kehilangan arah, dia jadi suka sampai larut malam di kantor, melewati waktunya hanya untuk bekerja dan bekerja.

 *13.00, ruang direktur utama *

Iko sedang meneliti berkas di tangannya, tapi matanya lebih suka melirik HP nya. Pesan yg dia kirim hanya dibaca oleh Fe. Baru kali ini ada wanita yg mengabaikan pesannya. Posisi dia sebagai direktur utama disini tampaknya tidak berpengaruh padanya. Setidaknya kan dia membalasnya karena sekarang dia adalah bos nya. Ahhh... Iko meletakkan berkasnya dan menyandarkan kepalanya ke belakang. Dipejamkan matanya. Tiba tiba dia mendengar pintunya di ketuk. Dan dia melihat sekretarisnya masuk.

“direktur cabang pak erwin ingin bertemu bapak.” Iko hanya mengangguk dan menatap sekretaris itu dari atas sampai bawah.

 “aturan pertama, selama kau tidak kuperlukan masuk, kau cukup mengabari aku lewat iphone, aturan kedua, perbaiki selera memakai bajumu.” Sekretaris itu tampak kaget. Dia mengira Iko akan suka dengan penampilannya yang atasan putih dengan dada sedikit terbuka dan rok yang super pendek.bukannya Iko dari amerika.

 “silahkan kembali ke tempatmu.”

“eh iya pak.” Begitu sekretaris itu keluar, erwin masuk dan Iko menangkap mata erwin yang menelanjangi sekretarisnya.

“Halo Iko, selamat ya akhirnya kau terima juga jabatan direktur utama.” Iko menyambut uluran tangan erwin dan menyuruhnya duduk.

“aku menemukan sesuatu yg menarik disini, dan kupikir tidak ada salahnya aku terima jabatan ini.”

“sesuatu yg menarik?” Iko tersnyum melihat erwin yg sangat penasaran. “apa itu wanita?” Senyum Iko makin melebar

“kenapa?ini bukan suatu hal yang mengganggumu kan?” Erwin tampak gelagapan

“oh tidak, aku tidak bermaksud untu ikut campur.” Iko meletakkan tangannya di meja, menatap erwin tajam

“apa kau penasaran kenapa aku mengenal Fe?”

“Ha?!” erwin kaget ditembak seperti itu.

“itu...aku hanya sedikit terkejut kalian saling mengenal, dan tampak akrab. Aku tidak masalh fe dekat dengan siapapun, karena aku sudah selesai dengannya, tapi...” Iko tertarik menunggu kelanjutannya jadi dia hanya diam menatap Erwin yang semakin gugup. “Fe bukan wanita yang gampangan dan bukan wanita yang pantas dipermainkan.”

“Oh ya...lalu menurutmu siapa yg sedang mempermainkan dia?” Iko tahu benar, erwin mengira dirinya sedang mempermainkan Fe,entah apapun alasannya. Dan fakta erwin mengatakan Fe bukan wanita gampangan dan pantas dipermainkan, cukup membuktikan erwin belum bisa melupakan Fe. Lalu..kenapa dia melepas wanita itu dan tunangan dengan rina yng jelas jelas sahabatnya.

“oke..mungkin aku berfikir hal yg negatif tapi seberapa jauh kau sudha mengenal Fe?”

“seperti kau lihat di pesta itu.” Sahut Iko, dia bukan orang yg terpancing emosi. Sudah jelas erwin mempermaikan Fe, tapi disini dia bisa dengan gampangnya menuduhnya yg sedang bermain main. “aku masih banyak kerjaan, bisa kau keluar?”

Meski tahu sifat ketus Iko, tapi erwin masih sering kaget mendengarnya. Dan tanpa berkata apa apa di beranjak keluar. Tapi belum sampai pintu Iko memanggilnya

“satu yg perlu kau ingat...jangan dekati Fe lagi. Hanya aku yang boleh mendekatinya, paham?” 

*17.00 ruang produksi cabang utama*

Fe masih sibuk di depan laptopnya. Sebenarnya bukan pekerjaan yg mendesak, tetapi dia pilih merampungkannya. Tiba tiba HP nya berbunyi,nomor yg tidak dia kenal. Ogah ogahan dia angakat

“halo, maaf ini siapa ya?”

“nomorku belum disimpan? Apa kau kira gampang mendapatkan nomor direktur utama seganteng aku?” Fe memang belum sempat menyimpan nomor Iko,

“ada apa?” tanya Fe menganggap omelan Iko angin lalu.

“ke ruangku sekarang.ini perintah.” Fe menghela nafas kesal begitu telp ditutup begitu saja,dilihat jam dinding, kenapa dia bisa tahu dia masih di kantor, teman teman seruangnya sudah pulang semua karena memang jam kerja sampai jam 16.30.

Fe beranjak dari duduknya dan menuju ruang Iko Tanpa ketuk pintu dia masuk ke ruang kerja Iko.dilihatnya Iko masih berkutat dengan kerjaannya di depan laptop. Begitu tahu dia datang dirinya langsung menyuruhnya duduk.

“sedang mengerjakan ?” tanya Iko lnagsung.

“presntasi untuk rapat minggu depan”

“oke...seblum rapat bisa kau diskusikan denganku dulu?”

“biasanya kepala bagian produksi yg akan mendiskusikan dnegan bapak.”

“itu bukan kebiasaanku. Aku suka berhadapan langsung dengan yg mengerjakan.” Iko melihat arlojinya “aku sudah memintamu kesini tadi siang, dan kau tidak memperdulikannya.kau pikir untuk apa aku memintamu ke ruangku?” Fe terdiam, perkataan Iko ada benarnya. Tapi dia masih belum bisa menyesuaikan diri dengan bos baru nya ini.

“sudah sore, dan aku lapar. Ayo kita cari rumah makan yg enak.” Fe mengerutkan keningnya

“maaf, aku masih kenyang.” Iko tahu Fe menghindarinya. Dari informannya dia tahu betul Fe belum makan sejak siang tadi. “tidak baik menolak ajakan seorang teman.”

“teman?” Iko benar benar gemas melihat pertahanan Fe. Dia beranjak dari duduknya, dan menghampiri wanita itu, lalu duduk di meja di depan Fe. Wanita itu menunduk.

“dalam kamusmu, bisa disebut teman itu yang bagaimana? Aku sudah melihatmu menangis, aku sudha menenmanimu membakar barang barang berhargamu, aku sudah menggandeng tangnmu dan mengantarmu pulang. Apa itu kurang menjelasakan arti teman di kamusmu?” Fe menghela nafasnya. 

“atau...kita mulai dengan jabat tangan dan mengenalkan nama masing masing,atau mau kutunjukkan kamus teman yang kupelajari di amerika?” Fe menatap Iko yang sedang menatapnya. Fe melengos dengan beranjak dari duduknya.

“aku hanya tidak mau menjadi bahan gosip di kantor ini.” Iko menarik tangan Fe dan menarik tubuh wanita itu mendekat di tubuhnya, wajah mereka saling berhadapan cukup dekat sampai Fe bisa mendengar nafas Iko.

“jadi...kita teman?” Fe melotot kesal dihentakkan tangan Iko dan berbalik berjalan ke arah pintu keluar.

“beritahu aku kita kemana, aku naik mobilku dan kau naik mobilmu.” Fe menutup pintu dengan sekeras kerasnya Iko tersenyum kecil. ‘kata orang senyum Fe snagat manis,dan aku ingin melihatnya’ batin Iko dengan mengambil Hp nya dan berjalan keluar.

 *22.00 kamar Iko*

Iko asik mempelajari dokumen yg dia minta ke reno. Dan dia menemukan bebrapa fakta menarik. Lalu dilihatnya foto di dokumen itu. Senyumnya terbias.

 “sibuk?” Iko kaget ketika mamanya sudah diambang pintu kamarnya yg memang tidak dia tutup rapat. Iko memebreskan dokumen dan menjadikannay dalam satu tumpukan.

“tidak ma..” Mama iko mendtangi anaknya dan duduk di kasur di samping anaknya.

 “apa sangat banyak kerjaanmu smapai kau bawa ke rumah?” tanya mamanya dengan melirik tumpukan dokumen di depan Iko

“begitulah ma, banyak yang harus kupelajari dnegan cepat, supaya bisa segera mengambil keputusan yg tepat.” Mama Iko tersenyum mengacak rambut anak semata wayangnya sayang.

“di amerika kau sangat playboy, dan disini kau tidak ada waktu mengenal wanita. Padahal...sudah saatnya kau punya isteri.”

“Mama kawatir aku tidak akan menikah?” +

“bukan itu...mama dan papa punya rencana mengenalkan beberapa anak teman papa dan mama, barangkali kalian jodoh...tapi itupun harus seijinmu.”

“mama dan papa melihat peluang itu berhasil karena mendatangi tunangan erwin kemarin? Mama sudah minta metode nya ke tante?”

“ah...sudah kuduga kau akan sewot seperti ini.” Iko merengut. Gimana tidak sewot...kayak anaknya ini tidak tampan. Dan mereka tidak tahu kalo erwin dan rina sudah menyakiti hati seorang wanita yang akhir akhir ini membuatnya penasaran.

“1 bulan” Iko mengerutkan kening “ 1 bulan kau kenalkan ke mama wanita pilihanmu. Jika tidak bisa, maka kau harus menuruti mama dan papa untuk dikenalkan ke anak teman mama atau papa.gimana?”

Iko tidak bisa berkata kata..ini sangat mendadak.

 *07.00, perjalanan ke kantor*

“anda terlihat tidak sehat ?” Sapaan reno membuatnya bernafas kesal. Semalaman dia tidak bisa tidur karena mamanya. Kalo wanita yg mau menikahinya itu sangat gampang, dengan wajah tampan, pekerjaan mapan, dan keluarga jelas sepertinya tidak akan sulit mencari pendamping.tapi...masalhnya dia tidak gampang cocok terhadap wanita. Dia sudah mengenal banyak sekali jenis wanita di hidupnya.dan tidak ada yg bisa menarik hatinya kecuali...wanita dari luar angkasa itu.

 “aku akan dijodohkan, jika dalam 1 bulan ini tidak membawa seorang wanita ke rumah.”

“bukankah itu maslah gampang buat anda?”

“mama papaku mengenalku sama seperti mereka mengenal telapak tangan mereka sendiri. Mereka akan tahu apa wanita yg kubawa ini bersifat sementara atau hanya membantuku supaya tidak dijodohkan”

“berarti itu masalah yg berat buat anda.”

“hah...itu bukan kalimat yg bisa menghiburku.” Reno tersenyum. Lalu dia ingat sesuatu “oh ya..2 hari ini nona Fe selalu pulang larut. saya pikir anda harus memaksanya pergi ke pantai.” Memang dua hari ini Iko tidak ke kantor, dia lebih banyak berurusan dnegan kantor cabang.

“dia punya hubungan yg jelek dengan pantai.” Ucap Iko “tapi akan kupikirkan.”

“anda sangat tertarik padanya bukan?”

“kenapa kau menanyakan hal seperti itu?”

“maaf...mungkin lancang, tapi ... jika anda ingin mengenalkan wanita dihadapan orang tua anda, kukira nona Fe cocok.” Iko terdiam.dia memang sudah memikirkan itu, tapi menaklukan hati Fe dalam 1 bulan...itu mustahil.

*13.00, ruang direktur utama*

Fe menatap Iko dan surat tugas ditangannya. “aku yang berangkat?”

Iko menatap Fe sekilas lalu melanjutkan membuat presentasinya “iya”

“biasanya direktur cabang...”

“dan itu bukan kebiasaanku. Aku punya keputusan sendiri. “ Iko paling tidak suka orang beralasan di luar kebiasaannya. “segala sesuatunya sudah disiapkan, kau tinggal berangkat.”

“oke...” Fe beranjak dari duduknya.

“mulai saat ini , kau harus belajar menghadapi orang yang mengganggumu.”

“termasuk kamu?” Kali ini Iko menatap Fe, lalu tersenyum

“ kalau kau terganggu denganku, biasakanlah.” Fe melotot. Dia benar benar tidak mengerti jalan pikiran org satu ini, daripada mendebat dia pilih pergi dari situ.

Dan begitu pintu ditutup. Iko menyandarkan badannya kebelakang ‘ah...susah sekali bersikap formal dengan dia.’ Gumam Iko.

*10.00 hotel sarina, jakarta*

“Fe?” Fe yang sedang mengambil kunci kamarnya di resepsionis berbalik. Dia tidak menyangka akan melihat Rina yang tidak ingin dia lihat lagi. Terlihat Rina mendengus kesal

“jadi kau yang dikirim?” Fe mengerutkan kening, lalu dia mengerti. Selama ini memang Erwin yang selalu ditugaskan dinas luar jika menyangkut produksi, dan berarti...Rina selalu mewakili perusahaan ayahnya.dan tidak mungkin mereka tidak bertemu. “kau pikir ini pertemuan main main ? apa rayuan yg kau pakai sampai direktur utama menyuruhmu yg berangkat?” ucap Rina ketus

“aku sempat heran kenapa memutuskan siapa yg berangkat sangat lama.biasanya 1 bulan sebelumnya sudha diputuskan.” Fe menghela nafasnya. Dia benar benar tidak mengenal Rina.

 “kau kecewa bukan erwin yang berangkat?” Seperti diingatkan, rina tampak salah tingkah.

“maksudku...”

“aku tahu maksudmu.” Potong Fe tidak sabaran “ kau ingin memberitahuku kalau sudah sangat lama kalian sering bertemu di pertemuan dinas luar seperti ini.” Fe berlalu menuju kamarnya. Rasanya dia ingin mengguyur kepalanya dengan air.

Membayangkan sejak kapan mereka main belakang pun sudah membuatnya mual. Dan juga...kenapa Iko memaksanya berangkat, apa Iko sudha tahu semua ini. Jika iya, apa maksudnya.

*13.00 ruang rapat, hotel sarina*

Fe sengaja melewatkan makan siangnya. Dia pilih tidur daripada melihat Rina dengan segala kelakuannya yg seperti telah terbentur dinding kepalanya sehingga di matanya terlihat seperti orang lain. Fe memeriksa presntasinya sembari menunggu acara dimulai, karena meski semua orang sudah berdatangan,tetapi entah kenapa belum juga dimulai, dia melihat Rina duduk di kursi dekat orang yang akan memimpin rapat. Itu memang ciri khas Rina, percaya dirinya yg terlalu tinggi itu yang kadang membuat Fe bertanya tanya bagaimana jika suatu saat dia jatuh dari sepatu hak tingginya.

Ini adalah rapat perwakilan dari seluruh perusahan terkemuka di Indonesia untuk membicarakan kemajuan apa yg bisa dilakukan utk meningkatkan perekonomian di Indonesia. Kemudian Fe melihat menteri perdagangan masuk, Fe tidak percaya bisa melihatnya dari dekat. Fe jadi bertanya tanya apa dia pantas berada di ruanngan ini., lalu dia melihat ayah Rina datang dan duduk di sebelah Rina setelah menjabat tangan menteri dan sedikit berbincang. Gila...jika memang yg hadir tidak hanya staff tapi juga pemilik perusahaan, dimana cowok menyebalkan itu.

“Kau mencariku?” Fe menoleh. Iko sudah duduk disampingnya entah sejak kapan. Karena dia sbuk melihat ke menteri yg sedang memberi sambutan. Seperti tidak melakukan hal buruk, Iko tersenyum tanpa dosa.

“apa kau ingin membunuhku disini?” bisik Fe kesal. Iko makin melebarkan senyumnya. Dan langsung berdiri memperkenalkan diri dan presentasi. Fe mengakui Iko sangat menguasai bidangnya,presnetasi yg dia buat dan baru dia email pagi ini langsung bisa dia pahami. Dan...dia menjadi sangat tampan sampai tidak bisa melepas tatapan. Baru ketika Iko melihatnya dia tersadar...hatinya langsung berdebar 2 x lebih cepat. Fe tahu betul perasaan apa ini. Perasaan ini sudah lama tidak dia rasakan selama bersama erwin. Fe langsung menunduk memandang ke laptopnya. Tapi debaran hatinya makin terasa.

 *15.00, ruang rapat *

Fe membenahi laptopnya dan beranjak dari duduknya, dilihatnya pak menteri berjalan mendekati ke arah Fe dan Iko. Dan menjabat tangan Iko erat.

“presentasi anda sangat bagus, materinya sangat berbobot.”

“terima kasih, saya tidak mengerjakannya sendiri. “ Iko menarik lengan Fe yg berdiri di sampingnya tapi agak belakang. “saya dibantu dia.” Fe manyambut uluran tangan pak menteri dnegan sedikit gemetar. Seumur umur dia tidak pernah memimpikan menjabat tangan seorang menteri. Dan lagi dia sedikit banyak mengidolakannya.

“presentasi kalian membuat saya terkesan.” Ucap pak menteri tersenyum

“terima kasih pak.” Sahut Fe dengan menundukkan kepala.

Pak menteri hanya mengangguk dan kemudian menepuk bahu Iko dan pergi ke luar ruangan. Fe langsung merosot terduduk di kursi. Kakinya serasa tidak punya daya.Iko menatapnya geli, dan ikut duduk disampingnya. Ditatapnya Fe yang menghela nafasnya. Tersenyum. Fe yang tahu sedang diperhatikan menoleh. Iko menahan senyumnya.

“kenapa? Kau pikir ini lucu.” Iko menggeleng “lalu kenapa kau tersenyum seperti itu?”

“ingin tahu saja reaksi bertemu idola.” Fe mendelik

“darimana kau tahu...” Fe teringat sesuatu.”ah kak andre...aku tidak tahu sedekat apa kalian sampai membicarakan aku.”

Iko tersenyum melihat kekesalan Fe, dimatanya sikap Fe menjadi terlihat semakin manis. Iko berdiri, tangannya dimasukkan ke dalam saku celananya “ayo...kita makan, perutku lapar sekali.” Fe jadi teringat kalau dia juga belum makan karena Rina. Dia mengikuti Iko tanpa protes. Iko tersenyum. 

*12.00 ruang makan hotel sarina seblum rapat*

Iko sudah duduk di meja makan ketika dia mulai mengedarkan pandangannya tapi dia tidak menemukan Fe. Dia sengaja tidak memeberi tahunya kalau dia juga ikut pergi. Bahakan peswat mereka hanya selisih 1 jam.

Dia yakin Fe sudah sampai hotel, karena tadi dia sudah bertanya ke bagian resepsionis. Fe bukan orang yang melewatkan makannya tanpa alasan yg jelas. ‘jangan jangan ketiduran’ batin Iko Lalu dia melihat Rina. Dan Rina juga melihatnya. Dibiarkannya wanita itu duduk di depannya

“hai...kau Iko sepupu erwin kan?” Iko tersenyum mengangguk “ada acara apa?”

“oh...aku hanya jalan jalan.” Sahut Iko. Ternyata erwin tidak cerita kalau dia direktur utama di perusahaannya.

“apa kau bertemu Fe?” Iko meletakkan sendoknya. Ditatapnya Rina

“Fe?”

“Iyaaaaa...Fe, kalian kan kelihatan dekat di tunangan kami, jangan-jangan kau hanya dimanfaatkan Fe? Ah...dia memang orang seperti itu.”

“memanfaatkan?”

“iya...begitu melihat aku tunangan dengan mantannya,entah dengan cara apa dia berhasil memanfaatkanmu sehingga dia terlihat shock di depanku. Tadi aku juga melihat dia di hotel ini, dia mengahdiri acara yg harusnya bukan dia. Aku yakin, dia pasti merayu direktur utama. Karena biasanya Erwin yg datang.”

Iko mengerti sekarang kenapa dia tidak melihat Fe di ruang makan. “kau sangat mengenalnya?”

“jelas donk...kami bersahabat.” Iko menatap Rina tajam. Rina sendiri ngomong dengan asik memakan salad.“menjauh dari Fe...dia tidak pantas untukmu.”

Iko sudah tidak tahan lagi,dia beranjak dari duduknya. “diamlah.”

“ha? Apa?” tanya Rina dengan mulut penuh makanan. Iko hanya menatapnya kesal

 “aku bilang...diamlah. jika kau bicara lagi...aku tidak tahu apa yg akan kulakukan padamu.” Rina tersedak dan Iko berlalu meninggalkannya menuju resepsionis. Dia harus memastika Fe tidak check out, karena orang yg paling tidak ingin dia temui ada Rina.

*16.00, restoran *

Iko geli melihat Fe yang tampak kelaparan. Dia jadi semakin yakin tadi pagi memang Fe bertemu Rina.

“Kau tidak makan?” Iko menggeleng

“aku tiba tiba kenyang.” Fe tidak menanggapi, sudah sering Iko seperti itu, mengajaknya makan tapi dia sendiri tidak makan, hanya memesan minuk dan snack. Tapi tiba tiba Fe ingat sesuatu. Jus yg sudah sampai mulutnya, gelasnya dia turunkan lagi di meja.menatap Iko yang sibuk memakan roti bakarnya.

“katakan padaku.” Iko mendongak

“Ya?”

“kenapa kau memintaku yg berangkat, apa yg ingin kau ketahui? Dan...kenapa kau tahu seharian ini aku belum makan?”

Iko tersenyum “lalu apa menurutmu?”

“aku...memiliki berbagai prasangka padamu. Dan aku sangat tidak menyukai ini. “ Fe menatap Iko tajam “kau tahu benar hubungan antara aku, erwin dan rina. Kau tahu rina akan datang ke sini, kau ingin melihat tontonan seperti apa reaksiku melihatnya, kau tahu pemimpin rapat hari ini adalah orang yang aku idolakan dalam beberapa hal,dan kau ingin melihat reaksiku.”

Iko menghela nafasnya. “yang aku tahu selama ini yg datang selalu erwin, aku tidak tahu ada rina. Dan..aku juga baru tahu siapa pemimpin rapat hari ini. Terserah kau percaya atau tidak. Dan..aku tahu kenapa seharian kau belum makan itu karena kupikir kau tidak mau bertemu rina di ruang makan.”

Fe meminum jusnya. “kenapa aku?kau bisa menugaskan orang lain jika kau tidak suka erwin yg berangkat.”

“bahan presentasi yg kau buat sudah dipuji oleh pak menteri. Itu belum cukup kenapa aku memilihmu?” Iko mengahbiskan jus jeruknya.”ayo kita jalan jalan, kita masih disini sampai besok.”

Fe tahu Iko tidak mau membahasnya lagi, dalam beberapa hal dia mulai memahami Iko. “gimana ya...aku ingin ke temapt yg romantis....tapi,tidak cocok jika denganmu.”

“Apa? Kau sadar ? tidak ad yg menolakku, mereka rela antri utk jalan jalan denganku, dan kau...dingin sekali.”

Fe melotot “dingin? Aku hanya harus waspada dengan org sepertimu.”

“kau yang harus membiasakan diri.” Fe pilih tidak menanggapi , karena bisa bisa mereka tidak jadi jalan jalan. Karena dia sendiri butuh udara segar.

 *12.00, Bandara*

Fe sedang asik membaca majalah di ruang tunggu ketika dia mendengar suara koper yang sedikit diletakkan dengan tenaga yg berlebihan di depannya. Dia mendongak. Rina

“sayang sekali, kita bertemu lagi.” Rina duduk di depannya, kopernya di dorong di samping badannya. Kakinya disilangkan meski sedang memakai rok pendek, dan tanganya besedekap. Matanya seakan menelan Fe hidup hidup. Fe tidak berkomentar. Dia memilih kembali ke majalahnya.

“kamu mau memanfaatkan Iko sampai kapan? Aku tidak percaya dia direktur utama, dan dia mengajakmu yg amatiran. Apa yg sudah kau tawarkan padanya, sampai dia mau menuruti keinginanmu.?”

Fe menghela nafasnya. Ditatapnya Rina “bisakah kita saling tidak mengenal?”

Rina melotot “apa?” Rina menghela nafas kesal “kau tahu...bahkan Iko menyuruhku diam. Siapa dia berani membuatku diam. Dia memang direktur utama, tapi...dia perlu disadarkan siapa kamu sebenarnya. Suatu saat dia pasti akan berterima kasih padaku.”

Fe terdiam. Dia menyadari sesuatu. Iko telah bertemu rina.kenapa dia tidak menceritakan padanya. Apa yg mereka bicarakan.

“kau...bertemu Iko?”

“Hah!jangan pura pura tidak tahu, kau pasti menyuruhnya pergi ke ruang makan dan mempermalukanku. Bego banget dia...membelamu seperti itu.”

Fe menutup majalahnya “apa yang kauinginkan Rin?”

“keluar dari kantor erwin. Aku tidak suka kau masih disana. Harusnya kau tahu diri.” Fe tersenyum sinis.

Tiba tiba terdengar panggilan untuk boarding. Rina berdiri dan langsung ngeloyor pergi. Fe celingukan mencari Iko. Tiket dia dibawa Iko. Dan menurut Iko karena dia takut Fe akan kabur. Tapi...sudah terlalu lama dia di toilet.Dia beranjak dari duduknya dan ikut antri.

“aduh...sori Fe...perutku agak trouble nih...” Fe yang mau menelfon, menoleh. Iko terliht ngos ngosan di belakangnya sambil memegangi perutnya.

“sekarang sudah tidak apa-apa?” Iko bukannya menjawab tapi malah memgang bahu Fe dan mendorongnya maju ke depan karena jarak ksoosngnya terlalu lebar.

“masih banyak yg antri di belakang kita.” Fe menurut saja. Dan kaget ketika kepala Iko berada di samping kepalanya dan bibir iko tepat di telinganya. “kau bertanya tentang perutku, apa kau kawatir perutku atau tiket ?”bisik Iko membuat Fe langsung mengambil langkah ke depan. Iko geli melihatnya. Dia tidak perlu jawaban, dia hanya suka melihat reaksi Fe yang canggung.

“Apa?!! Tidak mungkin!!! Dilihat lagi donk Mbak...aku tidak memundurkan jadwal pesawat.” Fe melihat Rina yg lumayan jauh didepannya teriak teriak sama petugas boarding. Fe menatap Iko yg menghendikan bahu tanda tidak tahu.

“mbak bisa kutuntut!!.” Teriak Rina histeris Dan Fe melihat dua petugas menarik Rina untuk keluar dari barisan dan Fe hanya menatapnya ketika Rina berjalan melewatinya. Rina pun menatapnya dan sangat kaget ketika melihat Iko. Dia tidak tahu Iko satu penerbangan dengan Fe.

“loh..itu tadi Rina kan?” tanya Iko, Fe menagngguk “tampaknya kau kawatir dengan sahabatmu itu...apa perlu kucari tahu apa yg terjadi?” Fe menggeleng

“tidak.” Tapi ketika sampai ke petugas boarding Fe tidak bisa menahan rasa penasarannya

“maaf mbak...wanita yg tadi dibawa petugas kenapa ya?”

“dia lupa kalau dia membatalkan penerbangannya sekarang dan diundur mnjadi nanti malam peswat terakhir.” Fe tertegun dan diabiarkan Iko mendorongnya dari belakang

 “ terima kasih mbak.” Ucap Iko “sudah kubilang...banyak orang yg antri di belakangmu.” Fe nyengir...

”sori...” Iko tersenyum penuh arti. Dia tersenyum puas jika ingat 15 m3nit yg lalu. *

15 mneit yg lalu*

Iko menghentikan langkahnya ke arah Fe ketika melihat Rina. Dia berjalan memutar arah dan berhasil mengambil duduk di dekat Rina dan mendengar percakapan mereka.

“kamu mau memanfaatkan Iko sampai kapan? Aku tidak percaya dia direktur utama, dan dia mengajakmu yg amatiran. Apa yg sudah kau tawarkan padanya, sampai dia mau menuruti keinginanmu.?” Fe menghela nafasnya. Ditatapnya Rina

“bisakah kita saling tidak mengenal?” Rina melotot

“apa?” Rina menghela nafas kesal “kau tahu...bahkan Iko menyuruhku diam. Siapa dia berani membuatku diam. Dia memang direktur utama, tapi...dia perlu disadarkan siapa kamu sebenarnya. Suatu saat dia pasti akan berterima kasih padaku.” I

ko beranjak dari duduknya dan melangkah ke petugas boarding. “Aku ingin mengubah jadwal pesawat” Hampir petugas itu mau bertanya kenapa kalau Iko tidak menunjukkan kartu VVIP nya. 

“Atas nama siapa?”

“Rina damayanti Diganti peswat paling terakhir hari ini.”

“maaf bapak, tapi apa bapak sudah seijin ibu rina damayanti?” Iko terlihat kesal

“anda hanya perlu melakukan permintaan VVIP dan...jika masih tidak bisa aku harus menelfon pak daniel...”

“Oh iya bapak...maaf menunggu sebentar.” Sahut petugas yg lain yg langsung melakukan apa yg diminta Iko.

“Bagus.” Sahut Iko ketus. Dia penasaran dengan reaksi Rina.

 *13.00, dalam pesawat*

“bukannya anti di klas ekonomi?” ejek Fe ketika tahu mereka duduk sederet dan tempat duduk paling ujung tidak ada orangnya. Jadi hanya mereka berdua.

“daripada aku berdebat utk memintamu duduk manis di klas bisnis?”

“aku tidak meminta kita duduk berdua seperti ini.”

“ahh...terserahlah...” Fe kaget Iko tiba tiba menyandarkan kepalanya di bahunya.

“He i...Iko...” “Iko menangkap tangan Fe yg ingin menyingkirkan kepanya.

“ Bisakah kau meminjamkan bahumu sebentar, aku ngantuk sekali, kemarin setelah menemanimu pergi belanja aku harus menyelesaikan dokumen dokumen yg harus selesai hari ini, dan pagi jam 7 tadi sudah rapat lagi .” Fe terdiam. Lalu menarik tangannya dari genggaman Iko. Wajahnya di palingkan ke jendela

 “aku tidak memintamu menemaniku jalan jalan.”

“tapi..aku tidak bisa melepasmu.” Fe tertegun,dilihatnya Iko yg sudah tertidur. Fe menghela nafas. Dia tidak tahu kenapa ungkapan itu membuatnya berdebar debar. Dan semoga tidak terdengar oleh Iko.

Dia kemudian ingat Rina. Kenapa seorang seperti Rina bisa lupa kalau telah merubah jadwalnya. Ini sangat aneh. Apa perubahan Rina juga membuat kebiasaannya pun ikut berubah. Entahlah.

 *14.00, bandara*

Iko sedikit berlari mengetahui Fe jalannya sangat cepat “hei...apa kau dikejar penagih hutang...tidak bisakah kau pelan sedikit?” tanya Iko begitu sudah berhasil menjajarinya.

Fe menatap Iko kesal dan makin cepat jalannya

“ Fe...”

“apa kau tidak malu sampai dibangunkan pramugrari karena kita berdua bisa ketiduran seperti itu?” Ucap Fe kesal.dia benar benar malu ketika dia membuka matanya, dia sedang di pesawat dibangunkan pramugari dan kepalanya sedang bersandar di kepala Iko. Serasa sepasang orang yg sedang jatuh cinta. Kalo ingat senyum penuh arti pramugrari dan penumpang lain, rasanya dia ingin loncat dari jendela. Tapi...iko hanya tersenyum dan berjalan santai.apa malunya ketinggalan di awan.

“apa salahnya ketiduran, dan juga, kita kan gak kenal mereka. “ Fe melototi Iko kesal dan makin mempercepat jalannya. Iko tersenyum...dia suka sekali dalam 3 hari ini melihat bermacam macam ekspresi Fe.

 Tapi Iko kali ini yang harus mengalah ketika Fe dengan tegasnya akan naik bus ke rumahnya, padahal di depannya sudah menunggu mobil dan sopirnya, Reno. Iko menatap Fe yng melenggang ke arah halte bus.

“biasanya bus yg dari bandara tidak pernah kosong, dan mbak Fe pasti akan berdiri berdesak desakkan....”

“cukup.” Iko memotong bisikan Reno. Iko menatap Reno “ikuti bus.”

Iko berlari mengejar Fe. Reno tersenyum.

*16.00 wib, turun dari bus.*

Fe berulang kali menatap Iko.

“kenapa menatapku seakan akan baru sadar kalau aku sangat tampan?” Ucap Iko dengan berjalan santai di samping Fe. Dia sendiri lumayan kaget dia akan berlari mengejar Fe dan ikut berdesak desakan di dalam bus , dan sekarang...jalan kaki menuju rumah Fe yang dibilang tidak dekat.

“direktur utama di perusahaan tempatku bekerja, naik bus dan jalan kaki, seakan akan anak buahnya ini perlu diawasi 24 jam, dan hanya sebagai bentuk tanggung jawabnya meyakinkan anak buahnya selamat sampai di rumah.” Fe menggelengkan kepalanya geli.

“di Amerika aku sudah terbiasa naik bus dan jalan kaki. Ini bukan pertama kali bagiku. Aku hanya ingin merasakan yg pernah kurasakan saja.” Fe tersenyum. Dia baru pertama kali mengenal orang seperti Iko. Pikirannya tidak bisa ditebak. Tapi entah kenapa dia tidak merasa terganggu.

 *09.00 wib, kantor*

Iko berjalan santai menuju ruangnya, bisikan bebrapa ibu ibu dan para wanita wanita single yang mengagumi ketampannya sudah dia anggap musik pagi. Apalagi yang terang terangan menyapanya seolah ingin menunjukkan mereka menarik untuk diperhatikan. Iko melihat Whatsup nya, 5 kali pesannya tidak dibalas, oh mending dibalas...dibaca saja belum. Baru kali ini ada yang terang terangan tidak memperhatikannya. Dan itu jurus yg ampuh membuantnya tidak memperdulikan wanita lain selain dia.

“Pagi pak,ada tamu yg sedang menunggu anda.” Sapa sekretarisnya. Iko merasa tidak ada janji dengan siapapun hari ini.

“siapa?”

“pak erwin”

 “oh.” Iko tersenyum sinis, tidak menyangka reaksi saudara sepupunya secepat ini. Begitu masuk, dia melihat Erwin sedang berdiri melihat ke luar jendela. Pemandangan di ruangannya memang sangat bagus apalagi di posisi lantai 5.

Iko merasa tidak perlu menyapa ketika Erwin menoleh ke arahnya. Ekspresinya sangat marah. Kedua tangannya dimasukkan ke dalam saku celananya. Iko pura pura tidak melihat. Dia duduk di kursinya.dan meletakan HP di mejanya.

“kenapa kau memundurkan pesawat Rina?”

“Rina?” Erwin bergerak cepat ke arah seberang meja menghadap Iko Brakk!! Tangan Erwin menggebrak meja Iko.

“jangan pura pura tidak tahu....tidak ada yang bisa dan mampu melakukan hal seperti itu kecuali dirimu.” Iko menatap Erwin santai.

“hal apa?”

“Iko!”

“jangan teriak padaku. Pagi pagi kau sudah teriak disini dengan alasan tidak jelas.”

“tidak jelas maksudmu?”

“bagiku...iya.” Iko tahu Erwin makin emosi. Tapi dia tidak akan berani padanya.

“kemarin...pesawat rina jadwalnya jadi mundur paling terkahir. Rina merasa tidak pernah melakukan pengunduran jadwal, karena dia tidak akan bisa. Dan kenapa aku yakin itu kau, karena rina bilang melihatmu di sana bersama Fe.”

“hanya dengan itu kau mengira aku?”

“tidak...Rina cerita sebelumnya bertemu Fe, mereka bertengkar hebat, dan kau pasti mendengarnya.”

Iko tersenyum sinis “lalu?”

“kau tidak menyukainya dan kau melakukan itu.” Iko menyandarkan punggungnya, menatap Erwin.

“itukah laporan Rina?”

“Oh ayolah Iko...aku tahu benar siapa kau.” Erwin sangat kesal dengan sikap berbelit Iko “Fe...dia pasti belum tahu kan? apa kau tahu Apa yg terjadi jika dia tahu ? dia akan pergi darimu, dia akan sangat membencimu.”

Iko tersenyum “mengancamku?”

“aku hanya ingin kau tahu...kau berhadapan dengan siapa.”

“aku tahu benar dengan siapa aku berhadapan. Kau boleh memberitahunya jika itu sangat kauperlukan agar kau terlihat keren di matanya. Silahkan..kau melakukan apa yang kau suka, dan aku juga akan melakukan hal yang aku suka.”

“oke...kita lihat saja nanti. Kau akan menyesal.” Erwin berbalik menuju pintu

“oh ya..sampaikan pada Rina, dia akan menyesal seumur hidup dia jika berani menyentuh Fe.” Erwin menoleh tapi Iko mengatakannya dengan asik melihat dokumen, seakan ucapan seperti itu hanya suatu yg biasa buatnya. Erwin jadi makin yakin memang Iko yang melakukannya.

 22.00 penerbangan terakhir kemarin malam, bandara

“yakin kau tidak mengganti jadwalmu?” Erwin tidak percaya Rina bisa selupa itu. Rina meliriknya kesal

“ aku tidak punya akses untuk memundurkan atau memajukan jadwal terbangku sesuka hati.”

“lalu...kau tidak kroscek?”

“sudah...mereka seakan tidak bisa ditembus informasinya. Tapi lumayan...aku tidak jadi satu pesawat dengan Fe dan Iko.” Erwin yang menyetir segera menepikan mobilnya.

“apa kau bilang? Satu pesawat dengan Fe dan Iko?” Rina mengangguk.

“aku bertemu Fe dan aku sedikit bermain kata dengannya. Dan ternyata Iko juga ada, tapi aku melihatnya ketika akan boarding.” Rina menatap curiga ke arah Erwin “mengapa kita berhenti di tepi jalan seperti ini? Kan aku sudah telp jika yg datang itu Fe dna Iko. Kau tidak pernah mengatakan Iko direktur utama di perusahaanmu. “

Erwin kembali menjalankan mobilnya “iya..aku ingat, dan kau bertemu Iko di ruang makan?”

“iya...dan dia menyuruhku diam, tatapannya ingin menelanku saat aku bicara tentang Fe. Dia mengancmaku untuk tidak menjelekkan Fe. padahal aku hanya ingin mengungkapkan kenyataan yang ada agar dia tidka dimanfaatkan oelh Fe hanya untuk memansi dirimu yg sebenarnya tidak perlu” Erwin serasa ditembak peluru di dadanya.

“ dan apa yg kaubicarakan dengan Fe di bandara?”

“aku menyuruhnya keluar dari perusahaan, Iko tidak pantas dia manfaatkan.” Hati Erwin makin loss rasanya...dia seakan bisa membaca apa yg terjadi saat itu.

“bisakah kau hentikan usahamu ini?”

“kenapa?jngan katakan kau mulai menyukai mantanmu lagi?” Erwin menggeleng...

”aku mengatakan ini karena mengkawatirkan dirimu. Aku yakin...Iko yg melakukan pemunduran jadwalmu.”

“Apa?!” Rina sangat tidak percaya “tidak mungkin...kenapa dia melakukan?”

“sangat jelas bukan? Dan jika Iko masih sepeti yg kukenal dulu, dia bisa melakukan lebih dari itu. “

“aku tidak terima.” Rina sangat sewot

 12.00, kantor ,

sekarang Fe tidak menyangka aka melihat Erwin berdiri bersandar di kap mobilnya. Dulu dia selalu melakukannya. Tapi kenapa sekarang... Fe tidak membalas senyum erwin.

“Hai Fe...lama tidak jumpa?”

“bisakah kau minggir dari mobilku ?” sahut Fe tanpa menghiraukan sapaan erwin.

“aku sengaja menunggumu, ada yang ingin aku katakan padamu.”

“oh...masih ada yg tersisa ? bisa kau katakan di sms atau email atau wa.aku tidak butuh bicara langsung seperti ini.” Erwin menghela nafas.

“ini soal Iko.”

Fe terdiam. Kenapa diantara semua hubungan yg terjadi anatara dia dan Iko, seorang erwin harus rela datang disini menunggunya untuk bicara tentang Iko. Kenapa ? apa karena iko mengirimnya ke rapat kemarin.

“kau sama sekali tidak mengenal Iko. Dia tidak seperti yang terlihat.dia...”

“cukup” potong Fe “siapa Iko kau tidak perlu membantuku memberi penjelasan. Biar aku mencari sendiri dan aku bisa bertanya padanya.”

“kau akan dibohonginya.”

“dia pembohong seperti dirimu atau tidak, biar aku yang memutuskan.” Ucap Fe dengan menatap tajam Erwin, lalu berjalan ke arah pintu mobilnya.

“aku hanya tidak ingin kau kecewa.”

“jika dibandingkan apa yg telah kau perbuat padaku, kukira tidak mengecewakan. Bisa kau minggir?”

Fe masuk ke mobilnya dan melaju keluar parkiran. Begitu sampai jalan yg sudha agak jauh dari kantornya dia menghentikan mobilnya. Dan menangis.

13.00,warung makan, sekarang

Iko melihat Fe baru mengaduk aduk makannya, dia melihat wajah Fe tidak seperti biasanya. Dan ketika dia duduk di hadapannya dia tahu Fe habis menangis.

“kau sakit?” Fe menggeleng.

Begitu sampai warung, dia langsung menjawab telp Iko yang mengatakan kalo dia sedang makan dan dimana tempatnya.

“kenapa?”

Fe tidak menjawab,hanya menatap Iko. Sejak dia duduk di warung ini, dia mulai mencoba mengingat pertama kali dia bertemu dengan Iko sampai kemarin. Sekarang ada yang aneh ketika Iko meminta foto erwin, dan pemunduran jadwal penerbangan rina. Erwin tidak akan menunggunya seperti itu jika tidak serius. Tapi kenapa erwin...

“Iko...kenapa kau meminta foro erwin saat itu?” Iko paham. Entah kapan dan dimana Erwin pasti telah bertemu Fe sejak dari ruangnya tadi. Oke..Erwin mencoba bermain dengannya.

“karena aku merasa kenal dengannya, dan ternyata benar.dia sepupuku.”

"Rina tidak punya akses untuk mengubah jadwal penerbangan dia.” Iko tersenyum.

“kau ingin mencari tahu dengan bertanya padaku?” Fe mengangguk.

“aku tidak suka mendengar dari orang lain.” Iko jadi makin suka sama wanita di depannya ini 

“Oke...aku yang membuatnya. Jika aku ingin, aku bisa lebih dari itu, karena apa ? aku sudah memperingatkannya ketika beretemu di meja makan. Dia malah menganggap itu lelucon. Aku tidak suka. Karena...segala yang berhubungan denganmu buatku bukan lelucon.” Fe tertegun.

Jadi benar Iko yg melakukan, dan itu karena dia. Fe jadi ingat, kakaknya pernah cerita Iko di Amerika tidak hanya sekedar belajar. Dia juga berusaha mengelola emosinya. Saat itu Fe tidak mengerti, tetapi dia mulai paham.

“Iko...apa semua temanmu kaulindungi dengan cara seperti ini?”

Iko tersenyum menatap Fe. tangannya mencubit hisung Fe gemas. “menurutmu?” Wajah Fe merah padam. Dia tidak mau berspekulasi.

“aku bukan orang yang mempunyai ilmu kebatinan yg bisa membaca batin orang.” Iko setengah tertawa geli mendengarnya.

“Fe...aku tertarik padamu. Aku tidak bisa melepas tatapanku padamu. Aku...tidak bisa melihat ke arah orang lain selain dirimu. “ Fe tertegun...dia sekan mendengar orang sedang berpuisi dengan hatinya. Nadanya, tatapannya, ekspresinya tidak ada yang menunujukkan dia hanya sekedar main main menggodanya, merayunya. Caranya mengungkapkan lebih indah dari cara Erwin dulu meski erwin memakai embel embek bunga dan di tempat yang dia pesan khusus. Dengan pelayan yg khusus pula. Tapi entah kenapa...lelaki di depannya ini telah membuat sesuatu yg berbeda di matanya. Dia memiliki cara yang mungkin oleh sebagian orang lain tidak bisa menerimanya.

“Iko...”

“Aku tidak memintamu untuk memberi jawaban, karena aku hanya mengungkapkan isi hatiku. Dengarkan saja.oke?” Potong Iko. Dia tidak mau wanita ini merasa canggung atau malah menghindarinya. Karena dia yakin...hati Fe belum sepenuhnya bisa menerima kehadiran orang lain. Fe masih membutuhkan waktu untuk mempercayai seorang lelaki lagi. Fe tersenyum mengangguk.

“terima kasih.” Iko mengangguk

“ayo kita balik ke kantor.”

“Kau duluan saja, aku masih ingin mampir ke suatu tempat.” Iko menghela nafasnya

“oke...aku temani.”

“Tapi...”

“jangan berfikir yang tidak tidak, aku kesini hanya diantar, Reno sudah ke kantor lagi. Jadi aku terpaksa numpang.” Fe melotot, dan menggeleng

“Iko...apa yg kau rencanakan?” Iko sedikit kesal, tapi dengan begitu dia merasa bebas mengungkapkan apa saja dengan Fe.setelah sekian lama, ada orang yang membuatnya bebas bicara apa yg dia pikirkan

“kau yg mulai.aku telpon kau dan kau langsung memberitahu sedang apa dan dimana, itu bukan kebiasaanmu. Aku yakin pasti sudah ada yg terjadi. Ternyata benar.kau habis menangis. Karena apa, ternyata Erwin. Aku tidak akan membiarkanmu membawa mobil sendirian, jadi Reno kusuruh balik kantor..” Fe tertegun,Iko sangat tidak terduga.

Iko yg melihat tidak ada protes lagi, dia beranjak dari duduknya. “ayo...” Fe tidak bisa menolak

*10.00, kantor, ruang rapat*

Iko mempelajari dokumen laporan yang diberikan para kepala cabang. Semua kepala cabang menunggu dengan harap cemas. Tak berapa lama Iko meletakkan dokumen itu di meja. Ditatapnya satu persatu orang di ruang rapat itu., termasuk Erwin. Dan ketika melihatnya da ingat wajah sembab Fe.

“satu minggu dari sekarang aku ingin melihat ide yang dituangkn dalam presentasi. Jika kemarin ide hanya dari kantor cabang, kali ini dari pusat juga akan presentasi. Aku nanti yang akan memutuskan ide mana yang akan kita ambil.”

“menurut saya, Ide pak erwin selama ini sudah bagus.” Ucap salah satu pimpinan cabang.

“anda boleh tidak memberikan ide dan presentasi.” Sahut Iko dingin. Membuat semua yg hadir sedikti shock, selama ini mereka memang malas untuk menyumbang ide. Dan bagi Iko itu jika diteruskan hanya akan menjadi monopoli satu orang, dan membuat perusahaan hanya memelihara pemimpin malas bekarya., tidak kreatif.

“rapat selesai.” Iko beranjak dari duduknya dan keluar ruangan. Jalan ke ruangnya melewati ruang Fe, dia sengaja jalan perlahan, ketika dia melihat Fe keluar dari ruangan dan berjalan ke arahnya. Iko tersenyum melihat Fe sedikit kaget melihatnya dari kejauhan. Dia lebih suka lagi ketika Fe terlihat bingung memutuskan harus terus jalan melewatinya atau kembali ke ruanngan,tidak ada belokan, tidak ada tangga turun atau ke atas. Dan lift tidak berada di jarak antara mereka. Akhirnya Fe pilih berjalan ke arahnya. Iko tidak melepas tatapannya meski di belakangnya banyak yg mengikuti sambil ngobrol. Fe menunduk. Iko meregangkan tangan kanannya dan ketika Fe melwatinya, dia menyentunh jemari Fe dengan jemari tangan kanannya, dan langsung melepasnya. Seperti seorang yg kebetulan berpapasan dan tidak sengaja bersentuhan.

Tidak ada yang memperhatikan, kecuali Erwin yg saat itu tepat keluar ruangan dan melihat ekspresi Fe.

 *11.00, kantin kantor*

Fe mengipasi wajahnya dengan tangan. Jika karena dia sangat haus tadi, tidak mungkin dia keluar ruangan, dan tidak mungkin bertemu Iko, dan Fe kesal...Iko sengaja tadi. Dia yakin.dia sempat melihat senyumnya. Itu membuat wajahnya sangat merah sekarang dan rasanya sangat gerah. Diminum lagi jus jeruknya.

“Hari ini sangat panas?” Fe kaget. Erwin duduk di depannya dengan memegang jus jeruk juga di tangannya.

 “kenapa kau disini?” Erwin setengah tertawa.

”ini tempat umum.”

“Kau tidak suka tempat umum. Kau tidak pernah menyukai kantin ini.”

Erwin sangat kikuk mendengarnya. Dia juga tidak akan menginjakkan kakinya di tempat ini kalau tidak melihat Iko dengan sengaja menggoda Fe tadi. Entah kenapa dia sangat penasaran.

“apa Iko suka?” Fe menatap Erwin tajam. Dia tidak mengerti apa tujuan Erwin

“Kau bisa tanya langsung padanya.” Erwin mendengus kesal.

“dengar Fe...kau boleh dekat dengan siapapun,karena aku sudah bukan siapa siapmu, tapi jangan Iko. Oke? Dia bukan ornag yg baik.”

“dan kau orang yg baik?” balas Fe membuat Erwin gelagapan. Fe meminum jus jeruknya sampai habis. Kenapa Iko lagi yg membuat seorang erwin datang kesini.

“Fe...kok tidak ajak ajak kalau kesini?” Fe melihat Sinta, teman seruangnya mengambil duduk di samping Fe. “aku lapar nih.” Ucapnya dengan menaruh mangkok bakso dan es teh., dan seperti menyadari Fe tidak sendirian, Sinta menatap ke arah Erwin “loh...pak Erwin.” Sinta orang yg paling tahu apa yg terjadi diantara Fe dan Erwin selama ini.jadi bukan hal mengejutkan melihat Erwin di antara mereka. “aku...tidak mengganggu kan?”

“tidak kok Sin..., Erwin mau pulang.masih banyak kerjaan di kantornya.” Ucap Fe dengan menatap tajam Erwin. Erwin mendengus kesal

“aku ... hanya tidak ingin melihatmu terluka. “ ucapnya dengan beranjak dari duduknya “ ayo Sin...aku duluan.”

Sinta mengangguk “oke Pak.”

Fe menatap Sinta “benarkah kau lapar?” Sinta hanya mengangguk dna memasukan bakso ke mulutnya.

“kalau begitu thanks ya...”

“sama sama.”

 *11.30, ruang direktur utama*

Iko memainkan HP nya, dia tersenyum melihat wajah Fe tadi. Memang jarang mereka bertemu langsung. Di kantor ini tidak ada yg tahu hubungan mereka kecuali orang orang tertentu. Lalu dia ingat dia sempat melihat Erwin berjalan ke arah Fe pergi ketika masuk ke ruangnya. Jika arahnya kesana...Fe pasti ke kantin. Dipencetnya beberapa nomor di Hpnya.

 “halo...Sinta? bisa aku minta tolong? Cari Fe dan sedang apa dia, segera aku tunggu infonya.Oke?” 

*11.45, kantor *

Iko keluar ruangan ketika mendapat Info dari Sinta kalau Erwin sudah keluar dari kantin. Jalan satu satunya adalah melewati ruangannya, dan sangat pas Erwin sedang berjalan kearahnya. Dan sedikit kaget melihatnya.

“belum balik ke kantormu?”

“aku ada urusan.” Sahut Erwin dengan melangkah cepat,tapi tangan Iko dengan cepat pula memegang pundak Erwin.

“jika kau lakukan lagi, aku bisa menelfon Rina. Dia pasti dengan senang hati berlari kesini.” Erwin tertegun.dia baru sadar... ditatapnya Iko dengan emosi yg tidak bisa digambarkan.

“apa kau pikir aku akan menyakiti Fe?”

“aku tidak tahu...tapi...” Iko menatap Erwin tajam “aku selalu melihatnya menangis karenamu.”

Iko masuk kembali ke ruangannya. Erwin terkejut mendengarnya.

 *17.00,kantor*

Iko melirik Fe yang duduk di depannya dengan asik memainkan HP nya. Senyum terbias di bibir Iko.
“Aku penasaran...kenapa Sinta bisa tiba tiba merasa lapar dan menyusulku ke kantin, padahal sebelumnya dia menolak ajakanku dengan alasan masih kenyang.” Iko tetap membaca dokumen di hadapannya. Iko tahu Fe pasti akan menanyakan ini.

“Kebetulan aku melihat Erwin mengikutimu. Dan yang kutahu Erwin tidak suka kantin disini. Dia sangat pemilih dalam hal tempat makan.”

“bisakah kau tanyakan dulu, apa aku setuju atau tidak dalam setiap tindakanmu yg khusus ini?” Iko menatap Fe sekilas, dan melihat komputernya dan membaca email.

“tidak. Aku tidak akan meminta persetujuanmu.” Fe mengeluh kesal

“apa kau pikir aku tidak bisa menyelesaikannya?” Iko kali ini memperhatikan Fe. senyumnya terbias lembut.

“aku hanya berfikir kau akan menangis.” Fe tertegun. Lalu mengalihkan padangannya ke HP nya kembali.

Iko geli melihat ekspresinya yg membuatnya semakin cantik. Lalu diserahkannya bebrapa dokumen ke Fe. “lihat dulu” ucap Iko melihat keheranan Fe.

 Fe mengambil dokumen itu. Dia sangat terkejut “ini...”

“Hasil karyamu?”

“iko...”

“aku ingin kau membuat presentasi produk lagi. Seminggu dari sekarang kita presentasikan dengan hasil cabang. Aku yg menentukan mana yg terbaik.”

“Tapi...biasanya sudah ada yang membuat dan semuanya langsung setuju termasuk pusat.”

Iko menyandarkan tubuhnya “aku tidak suka ‘biasanya’ . aku memintamu karena sudah melihat presentasimu di Jakarta kemarin, dan dari dokumen itu.”

“Tapi ini presentasi bukan milikku.” Iko tersenyum beranjak dari duduknya dan membalikan badanya ke jendela membelakangi Fe

“tentu saja bukan...karena itu presentasi setengah jadi yang kauberikan ke Erwin.” Iko mengambil dokumen di laci dan menyerahkan ke Fe. “dan ini presentasi full version milikmu.” Fe tertegun. Dia tidak tahu harus bicara apa.

“aku mencoba kembali ke masa lalu, lalu aku mengetahui bahwa dulu Pusat memintamu mengerjakan Presentasi, tapi pada hari H, presentasimu hilang, dan tiba tiba saja Erwin memiliki dan mempresentasikan dengan percaya diri. Saat itu kau pasti sangat shock. Tapi kau hanya diam dan mengambil keputusan untuk membuat lagi tapi setengah jadi. Dan sellalu kau kehilangan pada hari presentasi. Dan Erwin yang mempresentasikannya. Berulang seperti itu, sampai akhirnya kau tidak diminta lagi membuat karena selalu hilang. Dan...meski hanya presentasi setngah jadi...Erwin bisa menutupinya. Akhirnya dia mendapatkan jabatan yg dia inginkan. “

Fe menghela nafasnya mendengar kemungkinan yg terjadi yg diucapkan Iko. “aku tidak percaya Erwin melakukan itu, saat itu dia bilang terpaksa karena ditekan Bosnya. Tapi entah kenapa dia selalu mendapatkan bahan presentasiku. Aku memang mebuat 2 file, setengah jadi, dan full version aku simpan ditempat lain. Kemampuan Erwin menutupi presentasi setengah jadiku snagat mengagumkan...dia benar benar mempelajarinya.”

“dan kau bahagia dia mendapatkan jabatannya sekarang?” Fe mengangguk

“aku seperti orang bodoh, dibutakan cinta sehingga menganggap angin lalu perbuatannya yg sangat ambisi itu.”

“jika aku katakan orang yg membantunya adalah Rina kau percaya?” Fe terkejut, ditatapnya Iko yang sudah duduk di meja di depannya

“apa?”

“Rina yg mengambil file presentasimu, dan memberikannya ke Erwin. Erwin sangat berhutang budi dengan Rina, jabatan di dapat dan mungkin...itu alasan dia memutuskan hubungan kalian.” Fe beranjaka dari duduknya dan berjalan ke arah kaca yg memperlihatkan pemandangan menakjubkan.

“itu tuduhan yg berlebihan.”

“kau bisa membuktikannya.”

Fe menatap Iko yg sudah berdiri di sampingnya.

“buatlah presentasi untuk minggu depan.” Fe diam tidak menjawab hanya berlalu ke luar ruangan Iko. Iko mengehela nafasnya.

 *19.00, perjalanan menuju rumah*

“hari yang berat?” Sapaan Reno membuyarkan lamunan Iko yang hanya menatap kosong ke luar jendela.

“lumayan.”

“anda yakin melakukan ini?” Iko meangangguk. Reno menghela nafasnya.  “jika dia mengetahunkenyataan Erwin tunangan dengan Rina karena terpaksa, Fe bisa kembali padanya.”

“aku tahu...tapi Fe berhak untuk tahu. “ Reno melihat wajah kawatir Iko lewat spion. Selama ini dia yg mencari informasi tentang Fe, dan semakin dia tahu,dia jadi mengerti kenapa Bos nya ini snagat menyukainya. “

18.00, KANTOR , JAM PULANG”

Iko keluar dari ruangnya, dan berjalan santai dan mau belok ke kanan ketika dia melihat Rina masuk ke ruang Fe. dia jadi berjalan ke arah ruang Fe. tapi dia ingat, dia butuh ijin dari Fe untuk boleh mencampuri urusannya. Tapi kan dia tidak menggiyakan...ah..sudahlah, jika hanya Rina, Fe pasti bisa . Iko masuk lift dan berjalan menuju lobby dan hampir masuk ke mobil ketika HP nya berbunyi. ‘Sinta.’ Iko mengangkatnya

“Maaf pak Iko menelfon anda, tapi Fe...dia terluka..”

“apa...aku akan kesitu.” Iko menutup telponnya menatap Reno,” ikut aku, dan bawa satpam. “

Iko berlari ke arah lift dan begitu terbuka dia berlari sekencnag mungkin menuju ruang Fe. begitu sampai dia melihat Rina teriak teriak seperti orang gila. Dengan kedua tangannya dipegangi Sinta yg hampir kewalahan. Dilihatnya Fe menangis dan Iko shock melihat darah di kaki Fe yg cukup banyak. Iko menghampiri Rina dan menamparnya

“diam!!!” Teriak Iko. Di ruang itu ternyata tinggal Fe dan Sinta. Semua sudah pulang.tahu begitu dai tadi tidak memutuskan membiarkan saja.

“Iko...”sepertinya Rina tidak menyangka Iko datang. Iko menatapnya tajam dan marah. Lalu berbalik dan bersimpuh di depan Fe yg terduduk dengan kaki berdarah. Dan tanpa pikir panjang Iko menggendong Fe. tepat sat itu Reno dan 2 orang satpam menerobos masuk, dan tanpa perlu instruksi 2 x, satpam itu langsung mengamankan Rina yg memberontak. Reno dan sinta berlari mengikuti Iko yg keluar ruang.

 *perjalanan menuju rumah sakit*

Fe hanya menangis tidak henti, tangannya memegang baju depan Iko yang memangkunya.Iko merengkuh punggungnya dan menepuk nepuknya berusaha menenangkan. Dia sendiri merasa kesal dan marah...kenapa dia tidak berfikir pasti Rina tidak hanya sekedar menyapa. Dia pasti mendengar soal akan diadakan presentasi produksi itu.

 “dia gila...” gumam Sinta. “dia tadinya melempar gelas besar itu ke arah wajah Fe, dan Fe berhasil menghindarinya tapi kaki Fe tersandung kursi dan gelas itu mengenainya. “

Iko merasakan gemgaman Fe di bajunya mengencang. “terima kasih menghubungiku Sin...”

“sama sama pak.”

*depan ruang operai, rumah sakit.*

Iko mondar mandir tak karuan saat tahu kaki Fe harus dioperasi karena pecahan kaca yg menusuk kakinya sangat banyak. Reno dan Sinta hanya duduk termangu di bangku tunggu. Iko melihat HP nya berbunyi. Erwin

“Hei!!!apa yg kaulakukan pada Rina?”teriak Erwin, membuat Iko memegang erat Hpnya “ini masalah antara kita berdua, kenapa kau libatkan Rina.”

“libatkan? Hei sebelum kau membela tunangan gilamu itu, tanyakan dia apa yg dia perbuat kepada Fe!!! jika sampai terjadi apa apa dengan Fe...siap siap saja...dia menikmati hidup di penjara.” Iko menutup telfonnya. Dan kakinya di tendangkan ke tempat sampah di depannya. Lalu terduduk dan memegang kepalanya.

“Iko?” Iko mendongak, dilihatnya Andre dan kedua orangtua Fe sudah berdiri dihadapannya.

 *1 jam kemudian, ruang tunggu operasi*

Iko menyandarkan kepalanya, menutup matanya. Andre yang duduk disampingnya terdiam setelah mendengar cerita Iko. Dialihatnya orangtuanya sesekali menatap pintu operasi cemas. Karena sudah 2 jam belum ada tanda tanda sudha selesai.

“apa rencanamu?” tanya Andre

“aku tunggu hasil operasi, dan apa yg diinginkan Fe.” Andre suprise yg mendengar. Kalo dia tidak mengenal Iko dulu yg pasti akan melalukan suatu rencana yg di luar perkiraan orang, dia bukan org yg mudah mendengar pendapat apalagi permintaan orang lain. Dia bukan orang yg sabar ketika ada yg menyakitinya. Fe telah mengubah temannyanya...menjadi orang yang lebih baik.

“kau sangat menyukai Fe?” Iko membuka matanya dan menatap Andre

“apa kau akan memukulku jika aku katakan aku lebih dari menyukainya? Aku mencintainya.” Andre tersenyum, menepuk bahu Iko bersahabat

“kalo aku bilang akan membunuhmu pun...kau tidak akan menyerah bukan?” Iko tersenyum

“jelas.”

 *2 jam kemudian, ruang tunggu operasi.*

Iko menatap Fe yg masih tertidur pengaruh obat bius. Melihat kaki yg diperban itu membuatnya sakit. Mamanya Fe mengenggem tgn Fe erat,air matanya menetes. Ayah Fe memegang pundak istrinya menguatkan. Dokter bilang operasi berjalan lancar, tapi untuk sementara Fe tidak bisa berjalan karena sakit di kakinya, meski banyak serpihan kaca dan kaca yg menancap tapi tidak ada yg sampai menembus tulangnya. Andre yg tadinya berdiri di samping Iko, berjalan ke arah orang tuanya.
“sebaiknya ayah dan mama kuantar pulang. Biar Sinta dan Iko yg menjaga Fe. nanti aku juga balik kesini.” Mamanya mengangguk dan menghampiri Iko yg menunduk.

 “terima kasih ya nak...dan tolong jaga Fe.” Iko menatap mama Fe yg berlinangan air mata.

“iya tante...” Ayah Fe menepuk pundak Iko, mengangguk tersenyum dan mengikuti istrinya keluar ruangan.

Iko mendekati Fe dan duduk di sampingnya. Sinta yg mau masuk tidak jadi. Dan memilih ke kantin . membiarkan mereka berdua untuk sementar waktu.

 *2 jam kemuadian*

Fe membuka matanya. Dia mencoba mengingat dimana. Dan dia menyadari dia di rumah sakit, dia mencoba menggerakkan tangannya, tapi seperti ada yg menggenggamnya, di lihatnya kesamping. Iko tertidur di sampingnya dnegan tgn memegang erat tangannya. Lalu dia perlahan mulai ingat. Rina datang, mengamuk dan Iko menggendongnya keluar. Dia juga sangat ingat ekspresi wajah Iko yg saat itu anatar marah, panik, dan kawatir. Dia tidak pernah melihat ekspresi seperti itu di wajah erwin ketika pernah dia jatuh dari sepeda dengan luka di tangan yg cukup parah. Tiba tiba, Iko mengerakan kepalanya, dan mengangkatnya. Dia tersenyum melihat ekpresi Iko yg menatapnya tanpa kedip.

“menjga orang atau tidur?” sapa Fe karena Iko hanya menatapnya. Iko bukannya menjawab tapi langsung berdiri dan memeluk Fe.

 “syukurlah...aku sudah hampir putus asa melihatmu tidak bangun bangun.”

“memangnya aku tidur berapa jam?”

“2 jam...itu sudha membuatku stresss.” Fe tersenyum.

“dan bisa kau lepaskan pelukkanmu?” Iko tersadar dan langsung melepasnya. Dan duduk kembali menatap Fe senang.

”kau lupa? Kau saat itu kugendong, kupangku, dan kau menarik bajuku erat erat.takut banget aku lari.” Fe mendelik digoda Iko

“hei...itu diluar kendaliku.”

“oh ya...aku jadi penasaran...” Goda Iko lagi. Dia bahagia melihat Fe sudha kembali, dia beranjak dari duduknya. “aku akan memanggil Sinta dan Andre. Mereka tidak kuijinkan masuk sebelum kau sadar. “ Fe geleng geleng kepala.Iko mengacak rambut Fe lembut “ kita bicaara lagi besok. Oke...” Belum sempat protes Iko sudah keluar. Fe menghela nafasnya. Iko pasti tahu ada banyak pertanyaan di kepalanya. Tapi...dia pasti juga butuh istirahat,

 *22.00, rumah Iko*

Iko menatap tajam Erwin yg berda di rumahnya dengan snatai minum teh bersama orang tuanya. Begitu menyadari kehadirannya. Erwin terlihat pura pura menampakkan wajah kawatir.

“Iko...tumben lembur sampai jam segini, Erwin sudah menunggumu sejak tadi.” Ucap mama Iko

 “Oh ya...aku capek sekali.dan jika masalah kantor,bisa dibicarakan di kantor.” Erwin berdiri berjalan menghampiri Iko tapi Iko langsung menganggakt tangannya “tetap disitu, jika kau tidak ingin aku melakukan hal yg membuatmu menyesal.” Orang tua Iko tampak kaget. Dipandangnya kedua lelaki itu bergantian. Mama Iko lalu mneydari anaknya tampak snagat lelah, dihampirinya anaknya. dan dia mencium bau seperti bau rumah sakit. Mamanya menatap ke arah ayah Iko, ayah Iko berdiri dari duduknya dan memegang bahu Erwin.

“sudah malam,sebaiknya kau pulang.”

“rumah sakit mana?” tanya Erwin tidak tahan. Iko mendengus kesal, menunggunya hanya karena ingin tahu Fe di rawat di rumah sakit mana. Dia pasti sudah dengar cerita komplinta dari satpam.

“apa yang akan kau lakukan? Memaksanya untuk memaafkan tunangan gilamu?”

“Fe...tidak akan sekejam dirimu.”

“dan aku tidak segila tunanganmu.” Erwin hampir menghampiri Iko kalo tidak dicegah papanya Iko. 

“Iko...pergilah ke kamarmu.” Tanpa diminta ke dua kali Iko langsung menuju ke kamarnya.

 “om...Iko harusnya...”

“Aku dan tantemu yg paling mengenal Iko,jadi pulanglah.” Potong ayah Iko. Dan Erwin tidak mamepunyai pilihan lain.

 *07.00, rumah sakit*

Fe menatap Iko yg asik mengupas jeruk untuknya. Tadi malam dia sempat berfikir apa yg akan Iko lakukan setelah pulangnya dari rumah sakit setelah mendengar cerita dari Sinta. Bukan tidak mungkin Iko hanya pulang ke rumah dan tidur.

“jika kau menatapku terus seperti itu, bukan tidak mungkin aku akan menciummu.” Fe tersdar dan kaget

“ha?” Iko memasukkan sepotong jeruk ke mulut Fe yg setngah terbuka. Fe jadi setengah cemberut, mengambil potongan itu dan memakannya sedikit demi sedikit. “aku hanya penasaran...apa rencanamu terhadap Rina.”

Iko menatap Fe, tersenyum “ belum tahu. Aku akan memberitahumu untuk meminta persetujuanmu....tapi ...terakhir aku pikir kau bisa menyelesaikan sendiri, berakhir di sini.” Fe menatap Iko tak mengerti “aku sedang menuju lift untuk pulang saat melihat Rina masuk ke ruangmu. Tadinya akan kuikuti, tapi aku ingat protesmu tentang sifatku yg kaubilang khusus ini. Jadi kuputuskan tetap menuju lift. Dan sebelum aku masuk mobil Sinta menelfonku.”

Fe menghela nafasnya “aku pun tidak menyangka dia bisa segila itu.”

“kata dokter, sore ini kau boleh pulang, tetapi rawat jalan. Meski tidak terlalu prah, kakimu belum boleh buat jalan.”

“aku jadi tidak bisa menyelesaikan presnetasiku...” Iko tersenyum “bisa...masih ada 3 hari lagi, dan aku yakin...sekrg kau sudah setengah jadi.aku akan membantumu.” Fe tersenyum, dia tidak tahu harus apa. Sikap Iko membuatnya selalu diatas langit. “oke...aku mau ke kantor dulu. Sore nanti tunggu aku ya...”

“aku tidak janji.” Iko beranjak dari duduknya, dan mendekatkan wajahnya ke wajah Fe. “kupastikan kau menungguku.” Fe memalingkan wajahnya. Iko dengan tenang mencium kepala Fe. dan secepat mungkin pergi dari situ seblum kena amuk Fe.

 *10.00, rumah sakit.*

Ornagtua Iko sudah hampir masuk ke kamar tempat Fe dirawat ketika tiba tiba Andre keluar dari kamar.

“Hai...Andre...lamatidak jumpa.” Sapa mama Iko. Dia sangat mengenal sahabat terdekat Iko sebelum Iko ke Amerika. Andre terkejut dan menangguk hormat.

*10.30 kursi tunggu depan kamar , rumah sakit*

“kita harus memberitahu kak vika mas...tentang kelakuan tunanangan anaknya.” Ucap mama Iko ke suaminya setelah mendengar cerita Andre. Mereka bisa sampai kesini karena berhasil menginstogerasi Reno, dan mereka sangat penasaran kenapa Iko bisa sangat perhatian sekali dengan staff nya sampai menjaganya hampir semalaman, dan...Erwin tampaknya sangat akrab. Dan ternyata selama ini ada cerita di luar sepengetahuan mereka.

“aku lebih kawatir apa yg akan dilakukan Iko.” Sahut papa IKo Mama Iko terdiam membenarkan. Sudha jelas, Iko sangat mencintai adik Andre. Dan Iko bukan ornag yg memaafkan dengan mudah.

“Loh...Rianti?” mama Iko menoleh. Dilihatnya ornag yg snagat dikenalnya

“Ratih?” Andre terkejut mama Iko berdiri dan memeluk mamanya.

 *16.00, rumah sakit.*

Fe lupa...Iko bisa melakukan apa saja,termasuk menunda dokter untuk masuk ke ruangannya, sehingga keputusan dokter memperbolehkan pulang hanya terjadi ketika Iko sudah datang. Fe menatap kesal ketika dokter dan Iko berbincang akrab. Andre yg melihat tersneyum geli. Ditepuknya pundak adiknya.

“keberitahu satu hal...” bisik Andre

“apa?”

“Iko belum pernah jatuh cinta selama ini kecuali dengan adikku ini.” Fe menatap Andre

“bohong...dia belum pernah pacaran?perayu ulung itu? Ah tidak mungkin.”

“kau ini...kenal siapa aku dan dirimu?” Fe mencibir tidak percaya. Baru mau membantah lagi, Iko masuk ke kamar setelah mengantar sang dokter keluar.

“Oke..ayo pulang.” Ucap Iko ketika melihat semua siap.

“kurang kursi roda, Fe kan belum boleh menggunakan kaki kanannya sat ini.” Ucap Andre.

“Oh itu...terlalu lambat pakai kursi roda.” Tanpa persetujuan, dnegan sekali gerakan Iko membopong Fe. “begini lebih cepat.”

“hei!!!!turunkan aku!!!”

“tidak...aku tidak suka membawa barang barang, apalagi mendorong kursi roda, jadi...kuputuskan menggendongmu.” Ucapa Iko dnegan masuk ke lift yg terbuka

“kau pasti sudah merencanakannya.”

“tidak juga...terlintas baru saja ketika suster mau ngantar kursi roda tadi.” Fe terbelalak.

“kau lihat kak...kelakuan seperti dia kau bilang belum pernah pacaran...tidak mungkin.” Andre hanya tersenyum geli dan keluar dari lift duluan begtu terbuka. “apa kau suka sekali jadi tontotnan?” ucap Fe kesal karena sepnajang meuju pintu keluar, hampir semua mata memandang mereka dnegan tersneyum.

“mereka bilang, kita suami istri yg mana suaminya snagat mencintai istrinya, smapai pilih menggendongny adari pada mendorong kursi roda. Mereka iri padamu karena mmpunyai aku yg sangat romantis ini.” Fe melotot menatap Iko. Lalu menatap Andre yg tidak tahan tertawa

“kakak!!! Apa kaupikir ini lucu.” Andre menggeleng dnegan terus tertawa. Iko hanya tersneyum cuek, dan begitu sampai mobil, reno sudah membuka pintu, dengan hati hati Iko mendudukan Fe di belakang.

”kau mau duduk sendiri seperti ini, atau kupangku...?”

“aku yg sakit, atau kau yg sakit?” Iko tertawa. Dan masuk ke tempat duduk di sebelah sopir.

 *16.30 lobby rumah sakit*

“kalo kita ke kamarnya, kita pasti bertemu Iko ma, tadi aku lihat Reno memarkir mobilnya di depan.” Ucapa papa Iko, mereka ingin bertemu Fe, tdan katanya sore ini boleh pulang.

“lalu..apa kita harus menunggu Iko pulang,?” Belum sempat memutuskan, tiba tiba mama Iko melihat Iko keluar dari lift dengn menggendong seorang wanita. Baru kali ini Iko memperlakukan wanita semesra itu. Mama iko menarik narik lengan baju suaminya, dan langsung ikut melihat adegan anaknya menggendong wanita. Dimana wanita itu hanya menatapnya kesal.

“itu pasti Fe.” Papa Iko mengangguk angguk “dan...tampaknya Fe tidak menyukai perlakuan Iko.”

“iya...ekspresinya kesal campur malu. Kalau begitu...kita harus melakukan sesuatu pa...”

“tentu.”

 *07.30, suasana pagi hari di kantor Ardhan Group*

“aku tidak mau kena sanksi kalau pak Iko sampai tahu aku menuruti kemauanmu.” Fe Cuma meringis dengan tangannya menggandeng lengan Sinta.dan satunya yg lain pake tongkat. Memang sudah ada perintah dari Iko kalau dia tidak perlu ke kantor, sampai sembuh.pekerjaan bisa dikerjakan di rumah. Tapi..dia tidak suka diistimewakan. Mereka hampir masuk lift ketika meilhat Iko di dalam. Seketika Fe menghentikan Sinta untuk masuk, tapi Iko pun melihat mereka. Fe pura pura tidak tahu ekspresi super kaget dan kesalnya Iko melihatnya. Iko menekan tombol lift agar tetap terbuka.

“masuk.”

Sinta terpaksa mengikuti meski harus menarik Fe. dia tidak mau membuat bos nya tambah kesal. Akhirnya Fe berdiri di depan Iko , menuju lantai 2 banyak orng yg masuk sehingga membuat Iko terdorong ke belakang termasuk Fe. Fe berusaha untuk memajukan badannya,karena punggungnya menyentuh Iko. Tangan kirinya makin erat memegang lengan sinta, dan tangan kanannya erat memegang tongkatnya.dan ketika sampai lantai 4, orang di depan Fe kakinya tidak sengaja menendang kaki Fe yg sakit karena terdorong temannya yg mau keluar dan orang yg mau masuk ke lift. Seketika Fe menjerit

“Aooo...” Fe berusaha tetap berdiri. Org yg tidak sengaja menendangnya menoleh, dan sedikit terkejut melihat kaki Fe

“maaf...aku tidak sengaja, maaf ya.” Orang itu keluar lift begitu saja dengan setengah berlari. Fe merasa Iko mendesak ingin mengejar orang itu. Seketika tangan Fe yg memegang lengan Sinta ganti memegang tangan Iko. Lantai 5 terbuka,dan di dalam lift tinggal bertiga. Saat itulah Fe tidak kuat dia merosot turun. Sinta berteriak

“Fe...!” dia jongkok di sebelah Fe, bersamaan lift terbuka di lantai 7. Iko dengan satu gerakan mengankat tubuh Fe, menggendongnya keluar dari lift. Sinta mengikuti dengan membawa tongkat Fe

“Iko...tolong..”

“jangan sok kuat. Lihat apa akibatnya...kakimu jadi berdarah lagi.itu yg kamu inginkan?apa kau tidak mau menuruti ucapanku sekali saja?!” Nada suara Iko meninggi.Fe terdiam.mereka lalu masuk ke ruang kerja Iko, dan Fe di turunkannya di kursi tamu yg panajng. Iko dengan hati hati mengangkat kedua kaki Fe ke kursi. Tanpa berkata apa apa dia menghubungi dokter. Fe yg merasa tidak tahan dengan sakitnya menangis. Sinta memegang tangannya, menguatkan.

“sudah....jangan dimasukan hati ucapan Iko...”bisik Fe, meksi Iko tetap jelas mendengar karena berdiri di belakang Sinta. Tapi dia pura pura tidak mendengar.

“aku menangis bukan karena dia,tapi ...kakiku ini sakit sekali rasanya...” ucap Fe dengan makin menangis. Iko tidak komentar. Dia antara kesal, marah, dan kawatir.jadi dia memilih diam. Tak lama kemudian dokter datang. Iko menceritakan kejadiannya, dan menuju mejanya, dia membiarkan dokter bekerja. Dia mengambil bebrapa map. “aku rapat dulu.” Ucapnya dengan keluar ruangan.

Sinta menghela nafasnya. Ditatapnya Fe yg masih menangis. Meski ditutupi, dia tahu benar...Fe menangis bukan hanya karena kakinya.

 *11.00, wib, selesai rapat*

Iko bergegas menuju ruangnya. Dan dia melihat Fe tertidur di sofa, dan Sinta duduk melihat TV.

“ah..dokter memberinya obat tidur, biar dia sedikit tenang karena kau hanya diam.” Iko mengangguk mengerti. Iko duduk di pinggir sofa di samping Fe.

“apa terluka parah?”

“tidak...tapi karena ini luka baru,jadi tetap saja membuat sakitnya luar biasa.”

“oke...biar aku yg menjaganya.”

 *13.00, ruang kantor Iko*

Fe membuka matanya, dia menantap langit langit yg tampak asing, dia mencoba mengingat dimana, dan langsung bangun terduduk ketika sadar dia di ruang direkur utama.

 “Kau sudah bangun?” Fe menoleh,dilihatnya Iko di meja kerjasnya dengan setumpuk dokumen untuk ditandatangani. Fe mencoba menggerakkan kakinya tapi rasanya sakit. “aku harus membereskan bebrapa hal, jadi...tetap tenang disitu. Oke?” Fe menatap Iko kesal yg hanya menatapnya sekilas dan sangat tajam. Lalu dia hanya dia menyandarkan badannya ke bantal sofa. Didengarnya Iko sibuk menerima telepon, bukan rencana dia untuk duduk disini dan melihat Iko bekerja. Tapi sudahlah...dia sendiri masih merasa ngantuk, jadi dia memilih memejamkan mata sebentar saja.

 *14.00, ruang kantor Iko*

Fe membuka matanya dan langsung terbangun melihat Iko duduk di depannya, menatapanya dengan snagat dekat. Iko yg juga kaget melihat Fe bangun segera menarik wajahnya dan bersedekap.

 “apa yang kau lakukan?” Iko tersenyum jahil

“ aku baru ingin membangunkanmu.”

“tapi tidak perlu mendekatkan wajahmu seperti itu.”

“putri tidur hanya bisa dibangunkan dengan ciuman.”

“Hah?!” Iko beranjak dari duduknya

“ah...aku malas berdebat. Aku sangat lapar. Ayo kuantar kau pulang.” Fe ragu ragu menerima tangan Iko yg terulur ke arahnya. “kau mau kugendong?”

“tidak.” Fe cemberut dengan memegang tangan Iko yg kemudian pelan menariknya berdiri, dan memapahnya keluar ruang.

“jika kugendong , kita sudah sampai rumahmu.”

“kau bisa memanggil sinta, jika kau merasa keberatan.”

“kakimu blm boleh bergerak banyak.”

“aku tahu.” Dan ketika lift terbuka, Erwin berdiri disana, mereka saling menatap, Erwin keluar dari lift. Iko merasa genggaman Fe makin erat di tangannya. Iko memapah Fe untuk masuk ke lift,tapi selangkah lebih maju Erwin berdiri di hadapan Fe.

“aku ingin bicara.” Ucap Erwin tanpa melihat Iko. “aku antar kau pulang, atau kita bisa mencari tempat yg cocok untuk bicara berdua.”

“aku pulang dengan Iko.”

“Fe...bisakah kau hentikan niatmu bersaing denganku? Dan...bisakah kau membatalkan tuntutanmu atas Rina? Dia tidak sengaja membuatmu seperti ini, dia lakukan ini karena sangat mencintaiku.” Fe terdiam, apa yg selama ini dia lakukan membuat Erwin berfikir seperti ini, dan seorang Rina sellau menjadi benar dimatanya. Tuntutan...dia belum berfikir untuk menuntutnya, kecuali... Fe menatap Iko yg hanya memberinya senyum sekilas.

“aku...tidak bisa.” Ucap Fe dengan masih menatap Iko yang membuat Iko menatap Fe yg mencoba tersenyum, lalu Fe menatap Erwin “bisakah kau minggir?” Dengan hati hati Iko memapah Fe menuju mobilnya, sejak di dalam lift Fe tidak mengatakan satu kata pun. Bahakan ketika sudah di dalam mobil pun Fe hanya terdiam. Iko menghela nafasnya. Dia tidak tahu harus berkata apa. Dia sendiri bertanya tanya perasaan apakah yg menghinggapi Fe saat ini, cemburu, marah, kecewa...

“apa kau berniat menggantiku untuk presentasi?” Iko yg mau menjalankan mobilnya, menoleh. Fe menatapnya tajam, ada perasaan terluka di sorot matanya.

“tidak, meski kau menginginkan.”

“dan...bagaimana caramu menuntut Rina atas namaku?” Iko tersenyum, tidak langsung menjawab tapi pilih menjalankan mobilnya.

“aku punya niat dan kusampaikan ke Erwin, tidak kusangka dia berpikir tuntutan itu sudah maju.” Fe terkejut,

”jadi?” Iko menatap Fe usil.

“aku bisa bertindak sendiri, itu sangat mudah.tapi...dia galak sekali, tidak menurut, dan sangat keras kepala, jadi...aku lebih baik tidak bertindak tanpa bertanya padanya dulu apakah boleh dituntut atau cuekin.” Fe yg tahu digoda hanya tersenyum.

“bagus.”

“dan ...suka atau tidak, kau harus menurut padaku, tapi..jika kau ingin tiap hari kugendong, kubiarkan kau ke kantor.” Fe melotot.

 “kau kira aku ...”

“aku tahu benar kau tidak bermaksud seperti itu, tapi jika kau ingin menang dari Erwin,kau harus menurut padaku. Ini bukan hanya untukmu , ini juga untukku. Aku mendapatkan bukti dia ingin menggeser posisiku.” Fe terdiam.

 *19.00, rumah Iko*

Iko menatap kedua orang tuanya bergantian, dia lupa...ada perjanjian tentang jodoh menjodohkan. Bahkan sudah sangat lewat harinya.

 “em..gini ma, pa...sebenarnya aku sudah mencintai seorang wanita. Tapi aku masih tidak yakin dia memiliki perasaan yg sama denganku.”

“lalu?sampai kapan?tegaskan pada wanita itu.” Ucap mama Iko.

 “itulah ma...untuk saat ini yg dia butuhkan adalah semangat. Aku tidak bisa memaksanya untuk saat ini.”

“jika dia menicntaimu dia tidak membutuhkan waktu yg lama.”

“jika dengan kondisinya saat ini, meski dia sangat mencintaiku, dia akan menolakku.” Papa mamanya saling memandang penuh arti.

 “tapi sesuai perjanjian, setidaknya kau menruti kami untuk menemui wanita yg menurut kami cocok untukmu, bagaimana?” Iko mengeluh kesal

“itu sia sia ma...aku tidak bisa melihat wanita lain, dan jika suatu hari aku membawa kesini, mama dan papa tidak boleh ada kata lain selain setuju.”

“iya iya...tapi kami boleh kan...mengenalkan wanita yg menurut kami cocok, hanya sekali ini. Oke?” Iko menatap orangtuanya dan akhirnya mengangguk pasrah

 *19.00, rumah makan *

Iko masuk ke rumah makan dengan ogah ogahan, apalagi seharian ini dia belum bertemu Fe. seharian rapat dan tidak bisa mengantarnya terapi, meski mengirimkan sopirnya untuk antar jemput. Dibacanya sms dari mamanya : baju pink dan di meja nomor 7. Setelah bertanya ke pelayan, dia bergegas menuju ke meja nomor 7, yang ternyata berada dekat kolam ikan dan taman yg sangat indah. Dia jadi ingin membawa Fe kesini. Tapi sekarang dia harus menyelesaikan kencan buta ini secepatnya. Dia melihat seorang wanita sedang duduk membelakanginya dan menatap kolam. Dia merasa dia mengenalnya, lalu dihampirinya.

“Halo.” Sapa Iko, dan wanita itu menoleh. Iko terbelalak “Fe?”

Fe sepertihalnya dirinya juga terlihat sangat terkejut “Iko...?”

Iko duduk di depan Fe. dilihat nomor mejanya benar nomor 7.jangan jangan meja no 17 atau 27, ah masa bodoh dia tidak akan mengkonfirmasi ke mamanya, melihat Fe disini, hal yg tidak bisa dia lewatkan hanya untuk bertemu wanita pilihan mama dan papanya.

“ada acara ya disini?” tanya Iko canggung karena Fe terlihat sangat cantik.

“aku diajak kak Andre makan disini, tapi dia baru ke toilet. Kau sendiri...ada rapat atau acara pa disini?”

“rapat, tapi baru saja kubatalkan.”

“oh...”

“memakai baju seperti ini melihatmu terlihat cantik.”

“ini...ah...aku tidak terlalu suka warna pink seperti ini, tapi mamaku memaksanya memakainya karena sudah dibelikan olehnya.”

“Oh...begitu...kau sudha pesan makanan?” Fe menggeleng.

”aku menunggu kak Andre.”

Tiba tiba Hp Iko berdering. Mamanya. Dengan sedikit gugup, dia mengangkatnya. “Iya ma...”

“sudah sampai restoran?”

“sudah.”

“sudah bertemu ?”

“sudah.” Iko menatap Fe yang kembali melihat kolam ikan yg penuh dnegan ikan koi

“cantik?”

“sangat cantik.”ucap Iko masih dnegan mengamati Fe.

“apa mama bilang, mama dan papa tidak akan sembarangan mengenalkan wanita padamu, meski..untuk saat ini kau harus bersabar memberinya semangat untuk bisa berjalan lagi. Tapi mama dan papa benar benar menyukainya.” Iko tertegun mendengar penjelasan mamanya.

“apa mama bilang?”

“loh...kalian belum saling mengenalkan diri?padahal dari sini mama lihat kau memandanginya tanpa kedip.”

“Ha?!!” Iko langsung mengedarkan padangannya dan dia melihat di pojok terlihat orangtuanya sedang duduk menatapnya,dan bukan mereka saja.ada orang tua Fe juga disana. “ma..jadi wanita yg ingin mama dan papa kenalkan adalah ...”

“Fe...itu panggilannya.” Iko tertegun.Fe yang melihat ekspresi aneh Iko bertanya

“ada apa Iko?”

“kau menyukainya? Atau kau memilih wanita yang...”

“mama...”potong Iko “jangan menggodaku, dan...tampaknya dia belum tahu.”

“kau bisa memberitahunya.”

“tidak mau.” Iko menutup telp nya. Senyumnya mengembang tapi seklaigus kawatir. Fe tidak suka halhal seperti ini.

Tiba tiba HP fe berbunyi. Fe mengangkatnya “kakak!!!mau sampai kapan di toilet?”

“sori Fe...aku ada acara mendadak. Kau bisa pulang naik taksi kan?”

“hei...adikmu ini kakinya baru sakit.”

“kalau begitu...kujemput 1 jam lagi gimana?”

“tidak usah.” Fe menutup telpnya “kakak ada urusan mendadak, menyebalkan seklai kan?” Iko tersenyum, jadi mereka pun tidak akan memebritahu Fe, karena Fe tetap akan merasa kesal jika tahu ini sudah diatur. Oke..dirinya pun tidak akan mengatakan apa apa, biarlah Fe mengira mereka bertemu disini tanpa sengaja.

“masih mau makan disini, atau memilih tempat lain? Atau kuantar pulang?” Fe menatap Iko tajam

”kau tidak merencanakan ini kan? kau tidak meminta kak Andre pergi kan?”

“Ha?aku? tidaklah...” Fe masih menatap Iko curiga “aku beneran ad arapat disini”

“tadi telp dari siapa?”

“mamaku...dia ribut kalo anaknya yg tampan ini jam segini tidak memberi kabar sedang dimana.” Fe melotot kesal. “ayo kuantar kau pulang, dan baru aku mencari makan.” Iko beranjak dari duduknya. Fe memandang Iko bimbang, antara ikut atau menunggu kakaknya, tapi kakaknya lebih sering sok lupa.

“oke.” Iko tersenyum lega Fe mau, dia memang sengaja menghindari orangtua mereka.

 *13.00, gedung latihan*

Fe mencoba melangkahkan kakinya yg sakit untuk berjalan, tapi rasa sakit yg luar biasa membuatnya jatuh terduduk. Ini sudah kesekian kalinya. Tangannya mencoba meraih palang, tapi dia sangat kaget ketika melihat tangan seseorang yg memegang tangannya, ketika mendongak. Ternyata Iko, segera dia melepasnya, tapi Iko selangkah lebih maju dengan menggenggamnya erat.dan jongkok di hadapannya.

“lepaskan Iko.” Iko menggeleng

“hari ini aku yg akan menjadi palang palang penyangga itu.” Fe menatap Iko tajam “hari ini aku lumayan banyak kerjaan, dan aku butuh udara segar.”

“kau ingin melihat leleucon?”

“tidak...melihatmu adalah udara segarku. Ayo berdiri. Ulang dari awal.”

“aku bisa melakukan tanpamu.” Iko menatap Fe lama lalu meletakkan tangan Fe di palang lagi. 

“oke...aku akan disini melihatmu.” Fe menatap Iko

“terserah”

 *13.00, ruang rapat.*

Iko masuk dan sedikit terkejut Fe sudah di ruang rapat tanpa memberitahunya dahulu, atau setidaknya mampir ke ruangannya. Dan di depan Fe ada erwin yang tidak melepas pandangannyya dari Fe. Iko duduk di paling ujung untuk memimpin rapat.

“siapa yang akan presentasi duluan?” tanya Iko tanpa basa basi. Dia cukup gerah melihat cara memandang Erwin yg seakan ingin menelan Fe.

“saya.” Ucap Erwin percaya diri. Iko hanya mengangguk. Fe seakan tidak terpengaruh hanya memandang laptopnya. Iko melihat presentasi sempurna erwin. Dia penasaran dapat ide dari mana dia, diliriknya Fe yg sempat terkejut. Tapi dia beruah menutupinya dengan kembali ke laptopnya.

“oke dari kantor pusat silahkan.” Ucap Iko setelah erwin sduah duduk kembali disertai tepuk tangan yg hadir dalam rapat kecuali dia dan Fe.

Fe berdiri dengan perlahan, kakinya masih cukup sakit. Tapi dia tahu...ini lebih penting. Dan dengan sekuat tenaga dia maju ke depan tanpa bantuan tongkat. Iko hampir berlari menghampirinya ketika hampir jatuh. Tapi dia sadar itu akan lebih memalukan Fe.

“prinsipnya sama dengan yg dikemukakan pak erwin, tapi saya sudah melakukan ujicoba terhadap sistem itu, dan ada kelemahan pada satu komponen yg cukup vital, oleh sebab itu saya mempunyai pengembangan sistem itu dan dengan hasik ujicobanya.” Iko tersenyum puas, Erwin sangat merah padam.

“kenapa anda bisa mempunyai ide pak erwin? Apa anda mencurinya?” tanya seorang yg sangat mendukung Erwin. Iko menatapnya tajam, dan hampir menjawabnya kalau Fe tidak bersuara lebih dulu.

“ide pak erwin? Jika saya menyampaikan itu ide saya, apa bapak tidak percaya?”

“buktikan.” Tantang orang itu. Fe tersenyum

“itu sangat mudah, tanyakan ke pak erwin apa kelemahan sistem dia, oh tidak...tanyakan saja ide sistem dia tahun kemairn yg sudah berjalan, apa kelemahannya, dan bagaimana mengatasinya, dan..jika dia masih bisa menjelaskan, tampilkan presentasi pak erwin, ada sesuatu yg selalu saya buat dalam suatu presentasi untuk megesahkan itu hak cipta saya.” Iko mengangguk angguk

 “bagaimana pak rudi? Apa pak erwin perlu menjelaskan dan menampilkan kembali presentasi dia?”

“boleh,saya tahu benar anda akan mendukung nona Fe, tapi...itu perlu dibuktikan.”

“Oke..” Iko menatap erwin yg seakan ingin lari dari ruang rapat. “silahkan pak erwin. Tentunya anda tidak suka ditantang seperti ini bukna?” Erwin terpaksa menampilkan presentasinya lagi, dan dengan sigap Fe mengambil alih mouse erwin, dan mengunhide slide, hasilya ada tambahan 1 slide lagi yg menunjukkan itu milik Fe. karena ada nama, no hp, dan lebih banyak lagi. Erwin tidak pernah menyangka ada slide tersembunyi, selama ini yg dia tahu cukup presentasi,dia tidak pernah memeriksa.

Iko memainkan bolpointnya, dibiarkan ruang rapat sedikit gaduh melihat bukti nyata yg tertampil di depan mereka.Iko sendiri sudah tahu tentang slide tersembunyi itu, karena itu pula dia tahu siapa yg selama ini membuat ide ide cermelang untuk perusahaannya. Ditatapnya Fe yang menatapnya tersenyum mengangguk, Iko tersenyum. Baru kali ini dia melihat senyum Fe yang sangat puas. Tadinya dia kawatir Fe akan tetap melindungi Erwin. Fe sangat sangat hati.

“Oke...rapat penentuan siapa yg akan terpilih ide nya kita lakukan besok lusa, dan pak hendri, tolong softfile masing masing yg presentasi disimpan dan dipelajari lebih lanjut. Rapat selesai.” Ucap Iko dengan beranjak berdiri dan keluar ruangan.dia sengaja tidak akan menunggu atau bertanya ke Fe bagaimana perasaannya. Sampai disini usaha dia untuk Fe, selanjutnya dia akan menunggu.

Fe memberesi laptopnya dan beranjak keluar ruangan masih dengan sedikit tertatih. Sinta sudah menunggunya di depan dengan wajah cemas.

“kau tidak apa apa? Kulihat Erwin tampak sangat marah. Fe tersenyum menggeleng

“aku sudah tahu resikonya. Tapi dia sudah melewati batas.” Sinta mengangguk setuju dengan menggandeng lengan Fe.

“kau mau langsung pulang atau ke ruangan dulu, aku antar”

“aku pulang saja. Dan tadi aku sudah minta kakakku kesini untuk menjemputku.”

“oke deh...”

Tiba tiba HP nya berbunyi, dilihatnya nama Erwin “kutunggu di parkiran.” Fe menghela nafas. Dilihatnya Sinta dan menimbang apakah Sinta perlu menemaninya. Tapi selama ini dia sudah sangat merepotkan Sinta. “aku ke parkiran dulu.”

“loh...kak andre nunggu di parkiran?” Fe mengangguk,

“aku jangan dimanja, kakiku perlu latihan, jadi sampai disini saja, oke?” Sinta tersenyum mengangguk. Fe berjalan ke arah lift

 *parkiran*

Fe melhat Erwin duduk di kap mobilnya. Ekspresinya masih tampak marah. Fe mendekatinya, dan ketika dia menyadari kedatangannya langsung berdiri menunggunya mendekat.

“apa kau menginginkan jabatanku?’ Fe tertegun. “apa maksudmu membuka semua itu, tidak cukupkah kau mendukungku? Apa tidak cukup perlakuanmu terhadap Rina?”

“aku..sudah cukup mendukungmu.”

“apa?”

“sejak awal aku tahu kau mencuri ideku, tapi aku tidak tahu jika itu dibantu oleh Rina. Kau memanfaatkan persahabatanku atau kalian berdua memang tidak tahu malu.aku tidak tahu, tapi yg jelas...kalian sudah melewati batas.”

“kau pikir untuk siapa aku melakukan ini? Aku mencintaimu Fe. aku menfaatkan Rina untuk jabatanku dan Rina juga menjanjikan akan mejadikan aku bos jika suatu saat bisa menggabungkan perusahaan ini dan perusahannya. Aku setuju bertunangan karena demi memuluskan jalan itu. Dan setelah itu aku akan putus dan kembali padamu. Apa kau tidak mengerti hal seperti ini...jika ini kukatakan padamu sejak awal kau pasti tidak setuju. “

Fe menatap Erwin tajam. Dia bilang mencintainya, semua ini karena dia, tunangan itu juga hanya untuk jabatan dan dia akan kembali padanya, karena itulah dia memberinya cincin dia hari mereka putus. Fe benar benar tidak mengerti. Erwin mencoba meraih tangan Fe, tapi Fe menampiknya.

“Pergi..kumohon pergilah sebelum aku kehilangan kendali.kumohon...”

“Oke...kau pasti tidak percaya, tapi itulah kenyataannya.” Erwin menuju mobilnya dan pergi. Tangis Fe memecah.

 *16.00, ruang Iko*

Iko mondar mandir di ruang kerjanya, dia sedikit gelisah Fe belum menghubunginya, tapi...selama ini memang dia yg selalu memulai, tapi... Tiba tiba HP nya berbunyi, wajahnya nyengir gembira melihat nama Fe “Halo.”

“Sibuk?” tanya Fe di seberang Iko merasa nada suara Fe seoperti habis menangis.

“lumayan, ada apa?”

“bisakah Reno mengantarku pulang?aku di parkiran.“

“Oke..tentu.” Iko mengambil kunci mobilnya dan meluncur ke parkiran. Dilihatnya Fe sedang duduk di kap mobilnya. Fe melihat Iko, tersenyum . Iko sedikit berlari menghampirinya. “Reno sedang sibuk makan, jadi...” Iko tidak melanjutkan ucapannya ketika Fe tiba tiba memeluk pinggangnya dan menangis di atas perutnya. Iko tidak bertanya. Dibiarkan Fe seperti itu sampai berhenti menangis.

Baru kali ini Fe menelfonya, dan memeluknya “sudah? Yuk dilanjutkan di mobil nangisnya...” Fe menggeleng masih dengan posisi yg sama

“aku...aku tidak mengerti ketika dia memintaku mendukungku, ini semua dia lakukan untukku, dia pura pura bertunanngan dengan Rina hanya untuk bisa menduduki jabatan dan memiliki kesempatan menggeesermu dan menggandeng perusahaan ayah Rina, dan...ingin berkuasa atas itu juga. Untuk itu...dia memberiku cincicn di hari perpisahan kami. “ Tangis Fe makin deras. Iko terdiam. Jadi Fe telah bertemu Erwin. Dugaannya benar. Erwin tidak akan melepaskan Fe begitu saja.

Fe melepas pelukannya dan mengusap air matanya, kepalanya menunduk menatap kakinya sendiri. “aku melakukan ini karena dia sudah melewati batas, dan dia...mengatakan semua itu. Betapa sakit jiwanya.” Iko menghela nafas, menunggu kelanjutan ucapan Fe

Fe menatap Iko dengan wajah sembab “aku lapar.” Iko tersenyum. Dan dengan sekali ayunan, Iko mengangkat tubh Fe digendongnya.Fe terbelalk akget

“Hei...”

 “Kakimu belum boleh terlalu banyak aktifitas, sedikit demi sedikit. Apa kau lupa?” Fe jadi merasa akakinya sedikit sakit.

“tapi tidak perlu menggendongku.”

“aku lebih suka menggendongmu. Meski berat badanmu sepertinya bertambah.” Fe melotot, Iko tertawa dan membuka pintu dan mendudukan Fe dengan hati hati. Fe menunduk ketika wajah Iko mendekat ke wajahnya.

“boleh aku bertanya?” Fe tidak menjawab hanya mengangguk “kau yg sudah mengetahui semua ini, kepada siapa kau akan berlari sekarang?aku atau erwin?”

“harus sekarang?” Iko tersenyum mengacak rambut Fe

“tidak...tapi aku sudah tidak punya banyak waktu lagi.” Fe kali ini menoleh dan wajah mereka beratatpan sangat dekat.

 “kau...mau kemana?”

“amerika.” Fe merasa di hempas ke bumi dari langit 7, perasaan dia menjadi tidak menentu, campur aduk. Hari apa ini...dari semua peristiwa hari ini, ucapan Iko yang paling membuat hatinya berantakan. Fe jadi sadar apa arti Iko di hidupnya. Iko tersenyum melihat ekspresi kaget Fe dan berdiri dan menutup pintu mobil lalu masuk ke pintu yg satunya.

 *19.00, depan rumah Fe*

“Kapan?” Iko yang mau melepas sabuk pengaman Fe terkejut

“ha”

“kapan berangkat ke amerika?”

“minggu depan.” Fe menatap Iko tajam

“berapa lama?”

“cukup lama. Sebenarnya aku dirut cabang di amerika, tapi karena permintaan ayah yg menginginkanku menyelidiki masalah perusahaan di sini, aku kesini. Dan dalam seminggu ini aku sudah melaporkan dan memebreskan semuanya. Tinggal pelkasanaannya.ayah sendiri yg akan melakukan.”

“oh...”fe merasa kacau sekali. Iko menatap fe penasaran

“kau merasa kehilanganku?” Fe menatap Iko

“jika kau pergi sejauh itu...aku akan berlari ke siapa?” Iko terkejut mendengarnya

“apa?” bukannya mendengar jawaban Fe malah menangis

“hei...” Iko menarik tangan Fe tapi di tolak Fe.

“apa kau tidak pernah berfikir sebelum bertanya?” Iko makin tidak mengerti

“aku?”

“Iya!” teriak Fe kesal dengan air matanya terus mengalir, tersnyata tanpa dia sadari pula dia sudah jatuh cinta pada Iko “apa pernah aku berlari ke Erwin ? aku selalu ke arahmu...hanya ke arahmu, dan kau masih bertanya setelah semua masalah ini, aku akan berlari ke siapa? Dan lalu...kau mau ke amerika? Apa kau ingin menyakitiku?” Iko tertegun, tidak percaya dengan yg dia dengar, lalu di paksanya Fe ke pelukkannya meski memberontak. Dibiarkannya Fe memukul mukul punggungnya. Dia baru sadar, dia memang bisa jadi menyakiti hatinya dengan enambah masalah baru di saat dia sedang mengahdapi kenyataan tentang Erwin.

“maaf...maaf ...oke?” bisik Iko, Fe masih menangis tapi pukulannya berhenti.

 *12.00 wib, restoran*

“setelah ini apa yang akan kau lakukan?” Iko tidak langsung menjawab pertanyaan Andre, diseruputnya jus jeruknya.

 “masih di rencana awal, Cuma ada sedikit perubahan.” Andre tertarik

“oh ya, tidak biasanya kau mengganti rencana.” Iko tersenyum menatap Andre, dan menimbang perlu tidaknya dia beritahu apa rencananya.

“perubahan ini sudah kupikirkan sejak lama, dan ... aku yakin tidak mudah.” Andre tersenyum. Jika sejak awal, itu pasti berkaitan dengan perasaan dan itu pasti Fe. selama Iko kembali, tidak ada yg bisa menariknya seperti Fe. Andre yakin pasti Fe.

 “jika tidka mudah, apa kau akan berganti rencana?” Iko menggeleng

 “tidak. Aku pastikan berhasil.”

“jadi tidak sabar.” Ucap Andre penuh arti. Iko tersenyum, dia yakin Andre tahu maksudnya. Mereka memang tidak pernah berbncang secara gamblang tapi masing masing tahu apa yang merkea bicarakan.

“pastikan kau ikut membantu.” Andre tersenyum mendengarnya.

 *15.00, kantor*

Iko meneliti berkas berkas di mejanya, dan kemudia dia tumpuk dan dia bawa keluar. Di luar sekretarisnya sedang habis selesai menerima telp “aku mau keluar.”

“tapi pak, pak Erwin dalam perjalan kesini menemui bapak.”

“telp dia balik utk ketemu besok.” Ucap Iko yg langsung berlalu begitu saja dengan memanggil nama di HP nya. “dimana?” tanyanya begitu tersmabung.

“di kantor “sahut yg ditelp “kutunggu di mobil ya..depan kantor.”

“aku masih ada sedikit pekerjaan.”

“bisa diselesaikan besok. Aku sudah sampai di depan mobilku. Jika dalam 5 menit kau tidak muncul, aku akan datang ke ruangmu dan menggendongmu.” Dengan senyum kemenangan Iko menutup HP nya dan kepergok Reno.

“kasihan mbak Fe. punya pacar yg selalu memanfaatkan kelemahannya untuk tujuan pribadinya.”

“hei...dia duluan yg mengancamku untuk tidak mempublikasikan hubungan ini. Aku yg lebih tersiksa.” Reno tidak percaya dengan pendengarannya.

“ha?! Tersiksa?” Iko mengangguk cuek, dnegan melihat arlojinya apakah sudah lewat 5 menit belum. Dan hampir dia mau melangkah masuk ke dalam lagi ketika Fe dengan ngos ngos an muncul. Reno yang tidak ingin melihat pertengkaarn mereka, langsung membuka pintu mobil dan menarik Fe untuk masuk ke dalam. Dan kunci langsung diserahkan ke Bosnya.

 “selamat dapat omelan gratis Bos.” Ucap Reno dnegan berlalu secepatnya. Iko nyengir dang masuk ke dalam mobil. Selama perjalanan Fe hanya diam, Iko jadi merasa bingung sendiri.

“Fe...”

“Bisakah kita minggir sebentar, kakiku belum bisa utk berlari mengejar waktu 5 menitmu.” Iko tertegun dan langsung meminggirkan mobilnya dan keluar dari mobil, membuka pintu sebelah Fe, dan langsung jongkok, mengangkat kaki Fe untuk menghadap keluar. Dia benar benar lupa...kaki Fe masih perlu banyak latihan tapi bukan latihan seperti tadi.

“Fe...maafkan aku...” Fe meringis kesakitan ketika Iko memegang kakinya

“meski memaksa, suaramu sangat bersemangat, aku jadi penasaran, dan lupa jika kakiku belum bisa berlari seperti dulu. Aku ingin marah padamu, tapi...2 hari ini tidak melihatmu.” Iko tertegun mendongak menatap Fe. dan Fe langsung melengos. Iko tersenyum penuh arti, kemudian mencoba menggerakkan kaki Fe, dan Fe langsung meringis kesakita lagi.

“kita perlu ke dokter.” Iko mengangkat kaki Fe lagi ke dalam mobil dan menutup pintu, kembali dia masuk mobil dan menjalankan mobilnya.

“sebenarnya kita mau kemana?”

“pantai. Aku ingin mengajakmu kesana.”

“oke...kita ke dokter setelah dari pantai, gimana?” Iko menggeleng,

“kita ke dokter trus ke pantai.”

“nanti terllau malam kalo kita ke dokter dulu.” Iko tersenyum mengacak rambut Fe lembut

“kita pertama kali ketemu juga di pantai di hari yg gelap.” Dan akhirnya Fe mnegikuti Iko.

 *17.00, pantai*

Gelombang ombak yg tampak tenang, matahari yg sudah mulai turun ke peraduan, angin semilir yg menyapa kulit membuat Fe dan Iko menikmati suasana indah itu, hanya diam dan dengan pikiran masing masing.

“aku dulu sering melakukan ini sendiri, duduk memandang jauh ke depan, ternyata...jadi sangat menyenangkan jika disamping kita ada yg menemani.” Ucap Iko dengan memandang burung buurng yg mau kembali ke sarangnya. Fe menatap Iko, tersenyum.

 “kau tidak bisa melakukan di amerika”

“bisa.” Iko menatap Fe menggoda, Fe cemberut

“kau akan melakukan dengan wanita lain? Silahkan.” Iko tertawa

“siapa yg mengatakan aku akan dengan wanita lain? Di amerika aku akan melakukan hal seperti ini denganmu. “ Fe tertegun,

Iko menatap Fe lembut dan sungguh sungguh “ maukah kau ikut aku ke amerika?” Fe makin terdiam mencari kesungguhan di tatapan yang membuatnya jatuh cinta itu. Dibiarkannya Iko memegang tangannya. “jika kau mau, ayo kita menikah.” Fe semakin tidak mampu berkata kata. Iko tersenyum dengan menyentuh pipi Fe.

“kau harus menjawabnya sekarang Fe..., karena 2 bulan lagi aku dengan atau tanpa dirimu berangkat ke amerika. “ Fe merasa hatinya sangat penuh, sampai tidak terasa air matanya mengalir. Bahkan seorang Erwin pun belum pernah memperlakukan dirinya dengan penuh harga diri seperti ini. Iko menghapus air mata di pipi Fe.

“aku tahu ini mendadak, kau hanya akan bersamaku, kau meninggalkan orangtua, kakakmu, dan orang yg kaucintai disini, di rumahmu yg hangat. Tapi...aku janji, aku akan memberi rumah yang hangat dan bahagia padamu seperti disini.” Fe makin deras menangisnya. “2 x...ini yang kedua kau menangis karena aku, katakan padaku...apa arti menangismu ini...”

Fe menatap Iko yang terlihat sangat tampan dimatanya, dan tanpa keraguan, Fe mencium bibir Iko sedikit lama, membuat Iko kaget dengan reaksi Fe. Fe melepas ciumannya “Iya Iko...aku mau ikut dirimu.” Ucap Fe dengan senyumnya yg menurut Iko lebih pantas untuk dicium, dengan sekali gerakan Iko menarik kepala Fe, dan mencium bibirnya. Lama.

 *selesai*

No comments:

Post a Comment